
Malam ini Bianca merasa tidak enak badan, setelah menidurkan Ayana ia keluar kamar dan menuju ruang kerja suaminya itu, Bianca memegang kepalanya yang terasa pening lalu melangkah gontai ke arah ruangan Axel.
Ketika membuka pintunya Bianca tersenyum melihat Axel yang terlelap di kursi kerjanya, pria itu masih memakai pakaian kantornya mengingat tadi Axel pulang telat. Bianca dapat memaklumi itu dan tidak terlalu mengekang suaminya itu untuk selalu berada di rumah karena Axel adalah orang terpenting di perusahaannya maka dari itu ia bekerja keras.
Bianca menjadi kasihan pada Axel, pria itu benar-benar bekerja keras demi keluarganya kecilnya. Sebelumnya Axel pernah mengatakan semenjak memiliki Ayana bersama mereka entah dari mana asalnya tapi ia merasakan ada sesuatu hal yang besar yang harus ia pertanggungjawabkan. Seperti tadi ia bahkan menyempatkan dirinya untuk bermain dengan Ayana sebentar tadi padahal pria itu baru saja tiba, pasti melelahkan.
Bianca mendekati Axel yang terlelap di sana sebenarnya dirinya tidak tega untuk membangunkan Axel namun pria itu harus membersihkan tubuhnya dan tidur, Bianca mengusap pipi Axel pelan.
“Sayang, ayo bangun”
Axel menggeliat lalu membuka matanya perlahan, ia menatap Bianca dengan matanya yang menahan rasa kantuk dan tersenyum ke arah istrinya itu.
“Pasti lelah sekali ya” ucap Bianca lembut
“Hem, ada apa mommy?”
Bianca masih menangkup wajah Axel "Ini sudah malam, bersihkan tubuhmu lalu tidur kembali di kamar”
Axel menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya, ia menguap dan melonggarkan dasi. Ketika kesadarannya sudah terkumpul Axel menarik Bianca dan memeluknya, ia merasakan usapan di kepalanya begitu lembut.
"Aku butuh energi" ucapnya menyembunyikan kepalanya di perut Bianca.
Bianca terkekeh dan mengusap kepala Axel "Baiklah."
Cukup lama dalam posisi berpelukan akhirnya Axel menjauhkan tubuhnya dari Bianca, ia mendongak dan melihat Bianca yang sedikit pucat. Axel menarik Bianca sampai wanita itu jatuh di pangkuannya, tangannya bergerak untuk menangkup wajah Bianca dan matanya menatap istrinya itu dengan cemas.
“Kau kenapa, kau sakit sayang?” tanyanya mendadak cemas
Bianca menggelengkan kepalanya "Aku hanya tidak enak badan saja, besok juga bakal enakkan"
“Aku panggil dokter ya”
Bianca tersenyum "Tidak perlu sayang, aku hanya kelelahan saja” tolak Bianca.
“Kau yakin?”
Bianca menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan suaminya itu "Jika merasa tidak enak badan jangan lakukan apa pun, hem? Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, Mommy”
"Iya daddy" Bianca tersenyum “Baiklah ayo kembali ke kamar, kau harus membersihkan tubuhmu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu”
Axel berdiri dengan menggendong Bianca, ia tersenyum ketika Bianca memekik terkejut. Wajahnya memerah dan tatapannya menyorot rasa malu Axel menyukai wajah Bianca yang sedang seperti itu, terlihat menggemaskan.
"Kita sampai Mommy" ucapnya sembari menurunkan Bianca, entah kenapa rasanya ia selalu di perlakukan seperti anak kecil oleh suaminya itu.
Sebelum Bianca melangkah kakinya ke kamar mandi Axel mencuri satu kecupan di bibir wanita itu, ia tersenyum melihat Bianca melotot tajam ke arahnya. Di saat istrinya sedang menyiapkan air hangat untuknya Axel membuka pintu penghubung ia melihat anaknya sudah tidur di sana kemudian mendekat dan menatap Ayana, jarinya bergerak untuk mengusap pipi gembul anaknya itu dan memainkannya.
“Jangan coba-coba mengganggu tidurnya, daddy”
Axel menoleh ketika mendengar suara istrinya itu, ia tersenyum melihat Bianca berdiri di ambang pintu kemudian pria itu menunduk mencium Ayana.
"Good Night, My Little Angel” bisiknya
Axel menutup pintu penghubung itu juga mengecup kening Bianca dan tersenyum melihat wajah menenangkan istrinya itu "Tidurlah sayang, tidak perlu menungguku. Kau terlihat sangat lelah” ucapnya
Bianca menganggukkan kepalanya, ia benar-benar sangat lelah saat ini dan butuh istirahat. Kakinya melangkah ke arah ranjang besar itu, berbaring di sana dengan selimut yang menutupi tubuh kecilnya dengan matanya yang terpejam dan akhirnya terlelap.
Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan Axel yang mengusap rambutnya, ia melihat ke arah istrinya yang sudah terlelap di sana. Axel menaruh handuk tersebut dan naik ke atas ranjang, dahinya mengerut ketika melihat peluh di kening istrinya itu Axel mengusapnya lalu mengecup kening Bianca.
__ADS_1
"Kenapa sampai berkeringat seperti ini? Apa kau tidak apa-apa, sayang?" gumamnya cemas tak tega ingin membangunkan istrinya yang sangat kelelahan itu.
Axel berbaring di sebelah Bianca, ia menarik tubuh Bianca agar lebih dekat dengannya. Sebuah senyuman terpampang jelas di sana ketika Bianca menyelusupkan kepalanya di dadanya dan akhirnya mereka terlelap dengan Axel yang memeluk.
**
Paginya Bianca dibuat pusing oleh Axel, suaminya itu sangat cerewet ketika melihat wajah Bianca yang masih pucat. Bianca menghela napasnya kasar ketika pria itu berjalan mondar-mandir sembari menelepon seseorang.
Tak lama kemudian Axel memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, ia mendekati Bianca yang bermain di atas ranjang dengan Ayana dan menatap istrinya sembari berkacak pinggang.
"Nanti mama akan mengantarmu ke dokter, biarkan Ayana di temani papa dan pelayan saja di rumah”
Bianca memegang kepalanya yang pening "Tapi aku sungguh...”
"Bianca! Turuti ucapan suamimu, jangan mencoba membantahku lagi" tegasnya.
Bianca mengatupkan bibirnya ketika Axel berbicara tegas padanya, ia menciut melihat Axel yang sudah seperti itu. Ketika dirinya ingin membantah Bianca menjadi takut melihat Axel.
"Kali ini dengarkan aku ya? Kau sedang sakit, sayang”
Axel mendekati Bianca yang terdiam, ia mengelus wajah istrinya itu pelan kemudian mengecup kening Bianca "Aku tidak membentakmu karena marah, aku hanya tidak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk padamu”
Bianca menganggukkan kepalanya "Iya”
"Baiklah, aku harus pergi sayang. Aku akan terlambat meeting tapi jika kau ingin aku menemanimu aku bisa membatalkan..."
Meeting kali ini cukup penting dan perusahaannya akan mengalami sedikit kerugian jika ia sampai membatalkannya karena orang yang akan meeting bersamanya hari ini adalah calon investor baru.
"Jangan!" Bianca tersenyum "Tidak apa-apa, nanti mama ke sini bukan? Kau bisa pergi saja lagi pula tidak ada yang serius” cegahnya.
"Daddy pergi dulu, oke Princess? Kamu harus jagain mommy ya untuk hari ini kamu gantiin daddy”
Setelah Axel pergi, Bianca menggendong Ayana dan bermain, tubuhnya cukup lemah untuk membuat Ayana tertawa hingga akhirnya mertuanya pun datang.
"Sudah kuduga kau itu sakit nak” ucap Nyonya Kevlar.
Bianca tersenyum "Aku tidak apa-apa ma, dia terlalu berlebihan” ucapnya.
“Kau sudah sarapan, sayang?”
“Sudah ma”
"Baiklah, apa kau ingin pergi ke dokter sekarang?"
Bianca menganggukkan kepalanya "Iya ma, tapi aku takut jika Ayana menangis dan merepotkan papa"
"Tenang saja, ayah mertuamu itu adalah penakluk anak bayi” gurau ibu mertuanya itu.
Bianca tertawa dan berdiri, ia bersiap-siap untuk pergi ke dokter setelah itu Bianca dan ibu mertuanya pergi di antar oleh sopir.
"Apa yang kau rasakan? Bagian mana yang tidak enak?” tanya ibu mertuanya itu khawatir.
"Pusing dan tidak enak perut, sebenarnya ini biasa terjadi jika aku sakit dan ini akan baik-baik saja setelah beristirahat tapi Axel terlalu cemas sampai merepotkan mama dan papa begini” ucapnya lemah
"Kau itu terlalu sibuk mengurus Ayana sampai tidak bisa beristirahat dengan baik”
Bianca tersenyum "Itu sudah kewajibanku ma, ya terkadang aku juga kewalahan mengingat ini pertama kalinya aku menjadi seorang ibu"
__ADS_1
"Ya itu benar, mama juga pernah seperti ini ketika Axel lahir sebagai anakku”
Setelah melewati jalanan yang lumayan jauh akhirnya mereka sampai, mereka duduk untuk menunggu giliran Bianca mengusap peluhnya yang sedikit keluar.
“Nyonya Bianca” panggil seorang suster
Ia membiarkan dokter memeriksa tubuhnya setelah itu Bianca duduk berhadapan dengan dokter, ia menunggu hasil diagnosa dari wanita berjas putih tersebut.
"Jadi bagaimana dokter? Apa ini kelelahan biasa atau bagaimana?" tanya nyonya Kevlar
Dokter tersebut tersenyum ke arah mereka berdua "Tidak ada penyakit apa pun”
“Maksud dokter?” tanya Bianca bingung jelas-jelas ia merasakan lelah, mual dan kepalanya yang bisa tiba-tiba pusing bagaimana mungkin tidak sakit apa-apa.
"Selamat Nyonya, Anda positif hamil dari gejala yang Anda katakan, itu seperti tanda-tanda orang hamil” dokter tersebut menunjukkan sebuah foto di komputernya "Oleh sebab itu, kami melakukan USG untuk memastikan dan benar di sana terlihat jelas kantung kehamilan Anda sudah terbentuk”
Bianca tidak bisa berkata-kata tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya kemudian memeluk ibu mertuanya dan menangis terharu, bukan Bianca saja yang senang ibu mertuanya pun ikut senang dengan kabar itu. Bianca melepaskan pelukannya dan menatap lekat ke arah ibu mertuanya.
Sama seperti kehamilan sebelumnya Bianca pun tidak menyadari tentang kehamilannya terlebih tidak ada perubahan pasti pada dirinya. Meskipun dalam waktu dekat ini ia tidak merencanakan untuk kembali hamil dan memiliki anak karena Ayana pun masih kecil, namun karena sudah di berikan Bianca dengan senang menerimanya.
"Ma tolong sembunyikan ini dari suamiku, setidaknya sampai hari ulang tahunnya”
“Iya sayang” ucap ibu mertuanya itu tersenyum senang
Setelah pemeriksaan itu Bianca dan ibu mertuanya kembali, ia memasukkan foto hasil USG-nya ke dalam tasnya. Hatinya sangat senang Bianca hamil untuk kedua kalinya, astaga dirinya akan memiliki anak kedua. Terima kasih, Tuhan.
Bianca terkejut ketika melihat Axel berada di rumah, ia mengerutkan dahinya bukankah Axel ada meeting hari ini? Pria itu masih memakai pakaian kantornya dan sedang asyik bermain dengan anaknya.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?"
“Kau sudah pulang, bagian mana yang sakit?”
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kan aku sedang bertanya”
Axel menghela napasnya "Aku batalkan, aku sangat khawatir padamu”
“Kenapa? Kan aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja” omel Bianca
"Tidak apa, itu bukan masalah besar sayang" Axel mendekat "Kau sakit apa, Mommy?"
Ayana merengek minta di turunkan dari gendongan Axel bayi itu menggeliat dan ingin berjalan di sana, ditemani ibunya gadis kecilnya tertawa dan berlari ketika Nyonya Kevlar menggodanya, Axel langsung menarik Bianca dan membiarkan anak mereka itu bermain.
Ayana termasuk bayi prematur yang cepat untuk dapat berjalan bahkan berlari-lari kecil meskipun sering kali terjatuh bahkan baru beberapa langkah saja sudah terjatuh. Namun hal itu tak mematahkan semangat Ayana untuk tetap berusaha bisa berjalan dan berlari secepat mungkin, jika melihat Ayana yang berdiri dan ingin berjalan itu kalian akan melihat gambaran Axel di sana.
"Biarkan mama yang menjaganya” ucap Axel sembari mengusap pipi Bianca "Jadi apa kata dokter?"
"Tidak ada hal yang serius, aku hanya kelelahan biasa saja”
“Sungguh?”
Bianca menganggukkan kepalanya “Kau pikir aku sedang menyembunyikan penyakit mematikan?” ucap Bianca sewot.
Axel mengabaikan perkataan Bianca karena itu sama sekali tidak lucu menurutnya kemudian ia memeluk tubuh istrinya itu dan bernafas lega "Syukurlah aku takut sekali terjadi sesuatu padamu, sekarang istirahatlah biar aku yang mengurus Ayana" Pria itu mengecup kening Bianca “Sekarang pergi ke kamar dan istirahat, oke?"
Bianca menganggukkan kepalanya, ia kemudian berjalan menaiki tangga langkahnya terhenti dan menolehkan kepalanya ke belakang. Suaminya tidak akan tahu hal ini biarkan saja ini menjadi kejutannya nanti, Bianca melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar ia menjadi tidak sabar untuk mengatakan hal ini.
Terima Kasih, Tuhan karena engkau selalu memberi kebahagiaan di keluarga kecil kami.
__ADS_1