Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep 85 Check-up Baby


__ADS_3

Bianca kini tengah berada di depan meja riasnya bersiap untuk pergi kunjungan ke dokter kandungannya setelah memoles sedikit riasan di wajahnya, ia berdiri dan memastikan penampilannya sekali lagi dan setelahnya ia berjalan ke arah balkon sembari menunggu suaminya pulang dari kantor.


Suaminya itu kini sedang dalam perjalanan kembali ke rumah karena sudah berencana akan pergi kontrol bersama Axel pun mengurangi pekerjaannya dan pulang lebih awal dari biasanya. Tak sampai sepuluh menit berdiri di sana ia pun melihat mobil suaminya memasuki halaman rumah, Bianca tersenyum dan menatap lekat mobil suaminya itu dan ia bahkan memperhatikan suaminya itu saat turun dari mobilnya.


Bianca tertawa geli sendiri di teras balkon kamarnya itu dan tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan menampakkan sosok suaminya itu.


“Sayang, aku pulang” ucap Axel setengah berteriak


Bianca tak menjawab dan hanya tersenyum menatap ke arah suaminya itu dan saat suaminya itu berjalan ke arahnya ia pun merentangkan tangannya, Axel mempercepat langkahnya lalu mendekap istrinya itu ke dalam pelukannya.


“Bagaimana hari ini? Semuanya baik-baik saja kan, apa hari ini dia nakal?” tanya Axel sembari memeluk istrinya itu.


Bianca menggeleng pelan dan tersenyum dalam pelukan suaminya itu “Tidak, dia sangat pintar seperti biasanya”


Axel melepaskan pelukannya “Ingin pergi sekarang?” tawarnya


“Mandilah terlebih dahulu, aku akan menunggu”


Axel menganggukkan kepalanya setuju lalu memajukan bibirnya sembari menatap ke arah istrinya itu, Bianca yang mengerti itu hanya tersenyum gemas kemudian memegang lengan Axel untuk bergantung dan berjinjit untuk menggapai bibir suaminya itu.


Axel yang mengerti itu langsung menundukkan kepalanya lalu menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya, mereka saling menautkan bibir satu sama lain hingga akhirnya mereka melepaskannya dan saling menatap dengan mata yang berbinar-binar.


Axel mengacak gemas kepala istrinya itu dan kemudian berlari kecil menuju kamar mandi dan tak lama kemudian Axel telah menyelesaikan mandinya dan juga sudah berpakaian santai, kini mereka sudah siap berangkat untuk mengontrol kandungan Bianca.


“Ayo kita pergi sekarang” ajak Axel


Bianca berdiri dari duduknya, mereka keluar dari kamar tersebut dan saat sebelum menuruni tangga Axel menggendong Bianca, ia sangat takut jika Bianca harus menuruni tangga sendirian entah kenapa banyak hal buruk terpikirkan olehnya. Ia bahkan menawarkan Bianca untuk pindah ke kamar bawah agar ia tidak terlalu khawatir dan memudahkan Bianca untuk berjalan tidak hanya berdiam di kamar seperti sekarang ini, tapi Bianca selalu menolaknya dengan alasan ia lebih suka jika duduk diam di balkon karena itu memberinya inspirasi untuk membuat desain.


“Rumah ini sepi sekali, tidak ada mama dan papa” ucap Bianca ketika melewati ruang tengah.


Axel mengusap punggung tangan istrinya lembut “Nanti aku akan meminta mereka untuk menginap lagi” ucapnya.

__ADS_1


Sudah lama orang tua dan mertuanya tidak tinggal di sini, mereka tinggal di sini dengan alasan untuk melindungi Bianca dan Axel. Namun setelah dua bulan tinggal bersama dan tidak ada satu pun hal buruk yang terjadi mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing setelah memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Meskipun begitu yang namanya orang tua tentu saja masih merasakan khawatir dan waspada terhadap anak-anak mereka mengingat ancaman yang di dapat Axel tak main-main.


Bianca duduk mengantre dengan wanita-wanita hamil lainnya ia tertawa geli melihat suaminya yang duduk di sebelahnya menggunakan masker untuk menutupi wajah tampannya itu agar kejadian terakhir kali tidak lagi terjadi. Bianca tidak mempermasalahkannya malah dia sangat menyukai ide suaminya yang menggunakan masker itu karena dia benar-benar tidak suka jika suaminya di pandang wanita lain, ia tidak ingin berbagi pemandangan yang menyegarkan matanya itu kepada orang lain karena dirinya saja sampai sekarang tak pernah puas memandangi wajah suaminya itu dan yang pasti dia cemburu bahkan sangat-sangat cemburu dan takut jika suaminya di rebut wanita lain.


“Makanlah” ucap Axel memberi makanan ringan kepada istrinya itu yang sebelumnya sempat ia beli saat singgah di minimarket.


Bianca mengambil cookies itu dan memakannya mereka masih mengantre karena hari ini lumayan banyak ibu hamil lainnya yang juga datang mengontrol kandungan mereka. Melihat istrinya yang melirik kanan kiri membuat Axel kesal karena harus membuat istrinya menunggu lama seperti ini, sebenarnya mereka bisa saja tidak ikut mengantre tapi seperti biasa dengan alasan yang sama Bianca ingin menikmati mengantre dengan ibu-ibu hamil lainnya, ia menyukai suasana hangat saat ini.


“Apa ada yang ingin kau makan sayang?” tanya Axel


“Tidak perlu, aku tidak lapar”


Axel melirik ke arah jam tangannya “Tapi sebentar lagi akan masuk jam makan malam” ucapnya


“Nanti saja, kita bisa makan setelah selesai check-up” tolaknya lagi kemudian menatap ke arah suaminya itu lekat “Apa kau lapar? Makan saja terlebih dahulu di daerah sini ada restoran, aku akan menunggu di sini” ucapnya


“Tidak aku hanya menawarimu saja”


“Kalau begitu nanti saja”


“Bayinya tumbuh dengan sehat, nyonya” ucap dokter tersebut sembari menutup kembali perut Bianca.


Bianca bangun dan turun dari ranjang lalu duduk berhadapan dengan dokter tersebut untuk mendengar lebih detail tentang kandungannya.


“Waktunya sudah dekat dan saya harap untuk tidak melakukan hubungan suami istri dulu” ucap dokter tersebut sukses membuat Axel malu.


Entah kenapa perasaan Axel saat ini seperti ketahuan melakukan hal tidak senonoh padahal selama istrinya hamil ia tidak meminta apalagi memaksa Bianca untuk melakukan hubungan badan karena tidak ingin menerima risiko buruk terhadap calon anaknya itu. Tapi meskipun begitu kenyataannya perkataan dokter tersebut membuatnya jadi sangat malu.


“Apa Anda melakukan saran saya untuk berjalan kecil selama beberapa menit untuk memudahkan saat persalinan nanti?” tanya dokter tersebut dan Bianca hanya menganggukkan kepalanya “Baiklah, tetap lakukan itu juga untuk ke depannya” ucapnya.


Dokter itu kembali menatap ke arah Bianca dan Axel secara bergantian “Apa Anda serius tidak ingin mengetahui jenis...”

__ADS_1


“Tidak dok, jangan katakan. Biarkan saja jadi kejutan nantinya” sanggah Bianca dengan cepat.


Dokter tersebut tersenyum sembari menganggukkan kepalanya mengerti “Baiklah, ini vitaminnya jangan lupa di minum sampai habis”


Axel menatap dokter tersebut dengan lekat “Apa istriku juga harus tinggal di rumah sakit sampai waktu melahirkan?” tanyanya dengan serius dan sukses membuat dokter itu tertawa pelan.


“Bisa saja tuan, tapi apakah Anda ingin membiarkan istri Anda berada di rumah sakit selama sebulan?” tanyanya dan Axel dengan cepat menggelengkan kepalanya “Lakukan setelah kandungan menginjak usia sembilan bulan saja tuan karena waktu kelahirannya tidak bisa di pastikan dengan tepat” jelasnya.


“Dan Anda tidak perlu terlalu khawatir juga, bayi akan lahir setelah sembilan bulan karena bayinya dalam kondisi baik-baik saja dan tidak ada juga tanda-tanda akan lahir prematur” tambahnya.


Axel menganggukkan kepalanya paham dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu “Ah seperti itu, terima kasih dok” ucapnya.


“Jika sudah memasuki sembilan bulan langsung saja bawa ke sini untuk saya cek terlebih dahulu karena waktu kelahiran bisa lebih cepat atau lebih lambat dari waktu prediksi jadi saat itu Anda bisa melakukan rawat inap”


Axel dan Bianca menganggukkan kepalanya mengerti dan setelahnya mereka pun pamit meninggalkan ruangan tersebut. Sebelum kembali ke rumah Axel melajukan mobilnya ke arah restoran terdekat untuk makan karena ia dan Bianca belum makan malam.


Kini Axel dan Bianca sudah sampai di depan rumahnya dan saat akan menaiki tangga Axel kembali menggendong istrinya itu. Axel menurunkan Bianca di ranjang dan setelahnya ia kembali turun ke bawah untuk membuatkan istrinya itu susu khusus ibu hamil.


Axel kembali ke kamar mereka dan mendekati istrinya yang terlihat sibuk dengan desainnya “Ini minum dulu” ucapnya sembari menyodorkan segelas susu pada Bianca.


Bianca menerima gelas itu dan meminum susunya sampai habis lalu kembali menyibukkan diri dengan sketsanya, Bianca menghela nafasnya.


“Aku merindukan butik, sudah lama sekali” ucapnya menghentikan sketsanya itu sebentar lalu melukisnya menggambarnya kembali.


Axel menatap Bianca tak enak hati, ia sudah terlalu lama menahan istrinya itu di rumah padahal Bianca sudah sejak lama merindukan suasana luar terlebih butiknya.


“Apa besok ingin bermain ke butik?” tawar Axel


Bianca menepikan sketsanya dan menatap suaminya dengan tatapan berbinar-binar “Bolehkah?” tanyanya


“Hem, tentu saja boleh” ucapnya menganggukkan kepala sembari merapikan sketsa istrinya itu “Jadi sekarang ayo kita tidur dulu” ajaknya.

__ADS_1


Bianca menganggukkan kepalanya dan kemudian berbaring dan membiarkan suaminya itu memeluk sembari mengelus perut besarnya itu.


“Good Night, Mommy” ucapnya sembari mengecup singkat kening Bianca.


__ADS_2