
Brandon dan Mark baru saja sampai mereka berhasil mengikuti Axel mereka mengernyitkan keningnya ketika melihat Sheryl yang di borgol dan seorang pria yang mereka kenal sebagai kekasih Sheryl dan jika memperhatikan lebih jelas pria itu adalah pria yang sama di saat mereka berkumpul di hari kelulusan Bianca.
"Bertahanlah kumohon" ucap Axel.
Brandon dan Mark terkejut mereka mendekati Axel yang menggendong Bianca yang bersimbah darah "Apa yang terjadi?" tanya Brandon.
Axel mendongak dan menatap mereka "Antarkan aku ke rumah sakit, cepat!" ucapnya dengan suara yang bergetar.
Mereka berbalik ke arah mobil milik Mark dan dengan cepat mereka masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan cepat, Axel mengelus kepala istrinya dan mencium Bianca ia terisak dan ketakutan.
“Kumohon Tuhan, kuatkan istri dan anakku” gumamnya lirih
Axel melihat luka di sudut bibir istrinya itu dan pipinya "Bertahanlah, kumohon..." Axel melihat ke arah jalanan "Mark cepatlah! Kebut saja" teriaknya cemas.
Setelah sampai Axel keluar dan membopong tubuh Istrinya itu, ia berteriak kesetanan memanggil dokter. Brandon tidak bisa berbuat apa-apa di situasi genting seperti ini secara dirinya bukan dokter ahli kandungan.
"Selamatkan dia!" teriaknya pada dokter itu.
Bianca di bawa ke ruangan dan suster menyuruh Axel, Mark dan Brandon menunggu di luar, pria itu mondar-mandir dan menangis. Axel bersandar pada dinding rumah sakit itu tubuhnya merosot dan tangisannya semakin pecah.
Axel mengusap kasar wajahnya berkali-kali "Kumohon jangan tinggalkan aku”
Mark mendekati Axel dan memegang bahu Axel "Tenanglah, jangan..." ucapnya terpotong
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa tenang di saat seperti ini? Istri dan anakku terancam di dalam sana!" teriaknya frustrasi sekaligus ketakutan.
"Aku gagal menjaganya, aku gagal menjadi suami yang baik untuknya” gumamnya tak henti-henti.
Brandon memukul Axel kesal “Sadarlah! Jika kau terus menyalahkan dirimu seperti ini, apakah itu akan membantu istrimu di dalam sana? Berhentilah menyalahkan dirimu dan doakan saja mereka” ucapnya sedikit membentak
Axel tertegun dan menangis kembali "Istriku... Hah, apa yang bisa kulakukan saat ini”
Tak lama kemudian Dokter yang menangani istrinya tadi bersama salah satu suster itu keluar dan menghampiri mereka "Apa salah satu dari Anda keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.
"A-aku, aku suaminya" ucap Axel bangkit dari duduknya.
“Kami harus melakukan operasi Caesar jadi kami butuh persetujuan Anda sebelum memulainya” jelas dokter tersebut
“Karena kondisi pasien yang sedang tidak sadarkan diri jadi kami memerlukan persetujuan Anda, kami akan melakukan yang terbaik jadi tolong urus dokumen-dokumennya di meja depan” ucap dokter tersebut.
“Lakukan apa pun itu tapi tolong selamatkan anak dan istriku, dok” ucapnya gelisah.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya dan menyuruh susternya mengarahkan Axel untuk mengurus surat-surat yang berhubungan dengan operasi di meja administrasi di luar sana.
...****************...
Axel duduk bersebelahan dengan Brandon yang sibuk membersihkan luka tembak di lengannya karena tidak terlalu dalam dan tidak begitu parah, ia pun menyelesaikannya dengan cepat dan ketika telah selesai Axel tersenyum lirih ke arah sahabatnya itu dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Axel kembali ke depan ruang operasi Bianca dan tak lama kemudian ia bangkit dari duduknya saat melihat kedua orang tuanya dan kedua mertuanya tiba di sana. Axel memeluk ibunya yang baru saja datang Ia tahu kedua orang tuanya itu mengurusi kasus Sheryl “Ma, istriku...”
Nyonya Kevlar menangis sembari mengelus-elus punggung putranya itu kemudian ia melepas pelukan Axel "Tenanglah, istrimu akan baik-baik saja, nak”
Axel mengangguk paham, ia menatap ibu mertuanya dan memeluknya erat dia menangis kemudian melepaskan pelukan itu dan berlutut untuk meminta maaf.
"Maafkan aku, ini salahku karena gagal menjaganya, aku terlalu menyepelekan bahaya yang kapan saja bisa menghampirinya. Aku salah, ini salahku maafkan aku” Axel menangis dan tubuhnya bergetar sangat hebat.
"Jika saja aku tidak meninggalkan kalian di butik kejadian ini mungkin tidak akan terjadi, seandainya aku tidak memberi harapan untuknya kembali ke butik semua ini pasti akan baik-baik saja” sambungnya semakin menyalahkan dirinya.
Nyonya Veronica menangis dan berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan menantunya itu, ia memeluk Axel dan ikut menangis bersamanya. Ia merasakan apa yang Axel rasakan, anaknya itu kini tengah mempertaruhkan nyawanya di dalam ruang operasi itu.
“Aku tau anakku pasti bisa bertahan dan kau tidak perlu seperti ini nak, kau tidak salah Berhenti untuk menyalahkan dirimu" ucap Nyonya Vero melepas pelukannya.
Hingga akhirnya di tengah suasa menegangkan dan penuh haru itu terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring di telinga Axel dan ia langsung membalikkan tubuhnya menatap ruangan operasi itu.
Dia menutup bibirnya “A-apa i-itu anakku?” lirihnya
Axel duduk dan menggenggam tangannya dengan erat, ia menangis dan memejamkan matanya. Tangisan bayi itu menyadarkannya untuk menjadi lebih kuat anaknya kini sudah lahir ke dunia, ia sudah menjadi ayah.
Axel memejamkan matanya dalam kini hanya tinggal menunggu kabar tentang istrinya, Axel menyatukan tangannya erat dan memohon di dalam hatinya dengan nyaring.
"Tuhan, aku mohon selamatkan istriku. Aku tidak akan sanggup jika harus tanpa dia, Tuhan. Aku belum sepenuhnya membahagiakan istriku jadi tolong berikan dia kekuatan yang banyak agar dia bisa bertahan” pintanya
__ADS_1