
Bianca berjalan memasuki rumah suaminya ini, terlihat semua pelayan yang ada di rumah itu tengah sibuk sore ini. Bianca menghela nafasnya kasar, masalahnya tak tuntas niat ingin meminta solusi dari Johannes yang di dapat justru kebimbangan. Ia melangkahkan kakinya gontai menuju ke arah taman belakang rumah mewah ini.
“Jika aku jadi nyonya, aku akan pergi meninggalkan tuan muda” ucap salah satu pelayan di rumah itu.
“Kau benar, nyonya Bianca terlalu baik untuk tuan muda”
“Sayang sekali bukan, Tuan muda menyia-nyiakan wanita seperti nyonya. Padahal jika di lihat dengan benar Nyonya Bianca jauh lebih cantik daripada nenek sihir itu” ucapnya lalu tertawa.
“Aku sangat ketakutan tadi melihat kekasihnya memerintah seperti itu, dia terlihat seperti akan gila saat marah. Lebih baik aku berhenti jika Tuan muda benar-benar akan menceraikan nyonya dan menikahi wanita gila itu”
“Apa ini alasannya kenapa kita di perkerjakan kembali?”
Bianca yang mendengar itu langsung berdehem, ia tersenyum sembari meletakkan tas selempangnya di bangku taman. Para pelayan itu tergagap saat melihat Bianca berada di sini juga, Bianca berjalan mendekati mereka dan mereka hanya bisa tersenyum kaku ketika mereka tertangkap basah oleh majikannya.
“N-nyonya dari mana saja?”
“Hem, aku keluar tadi” ucap Bianca tersenyum
“Apa nyonya menginginkan sesuatu?”
“Tidak jangan begitu santai saja, aku kemari hanya ingin melihat bungaku saja”
Pelayan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali “Ah, baiklah nyonya. Kami akan pergi ke dapur terlebih dahulu. Jika Anda butuh sesuatu katakan saja”
Bianca tersenyum lagi “Iya, terima kasih”
Senyuman itu menyusup kala para pelayan itu pergi menjauh dari hadapannya, ia memandangi lirih bunganya yang mengatup. Mengapa semua orang berkata begitu? Kenapa semua orang menyuruhnya untuk pergi dari sisi Axel dan kenapa tidak ada yang menyuruhnya untuk tetap bertahan dan meyakinkannya kalau semua itu akan baik-baik saja.
Kenapa? Apa karena hanya itu satu-satunya jalan dari semua masalah ini? Untuk ke sekian kalinya air mata itu jatuh membasahi pipi Bianca, ia tidak menahannya lagi rasa sakit dan kebimbangan ini memenuhi hatinya yang membuatnya terasa sesak.
Bianca bangkut dan meninggalkan taman itu, ia berjalan ke arah kamarnya lalu mengambil koper besarnya. Air matanya terus saja mengalir bersamaan dengan tangannya yang tak berhenti menaruh baju-bajunya di koper besar itu.
Bianca terduduk dan menangis terisak-isak, ia sudah memutuskannya. Ia akan pergi dan dirinya yang akan mengurus perceraian itu, matanya melirik ke arah jam yang bertengger di nakas tempat tidurnya. Ini masih sore dan ini waktu yang tepat untuknya jika ingin pergi karena Axel tidak pernah pulang di sore hari.
Bianca menghapus air matanya lalu membuka pintu kamarnya dengan koper besar yang ia tarik. Ia melihat mengamati rumah besar milik suaminya itu, meskipun singkat tapi memiliki beberapa kenangan indah. Keadaan berpihak kepadanya pelayan di rumah itu semuanya tengah sibuk dengan tugas masing-masing memudahkan Bianca untuk pergi secara diam-diam.
__ADS_1
Hatinya sangat sakit sekarang, jika memilih untuk tetap bertahan ia hanya takut jika akan di buat kecewa dan terus tersakiti. Mungkin ini jalannya, ini jawaban dari semua kesakitannya, satu hal yang pasti setelah keluar dari rumah ini ia tidak akan merasakan sakit sebesar ini lagi.
Pintu besar itu terbuka, Bianca terkejut ketika melihat suaminya yang sudah pulang. Sangat tidak biasa bukan pria yang selalu pulang larut kini sudah pulang di sore hari.
Axel mengernyitkan keningnya ketika melihat koper besar yang Bianca seret “Kau mau ke mana?”
“Bukan urusanmu”
Bianca tetap berjalan ke arah pintu mengabaikan keberadaan Axel dan menarik kopernya namun tiba-tiba Axel merebut kasar koper itu dengan paksa.
“Apa yang kau lakukan? Kembalikan koperku!” pekik Bianca tersentak kaget.
“Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini!”
“Kenapa? Apa karena aku masih menjadi istrimu? Aku akan mengurusnya dengan segera jadi biarkan aku pergi”
“Kau tidak boleh ke mana-mana”
“Tidak, aku tak ingin tinggal satu rumah denganmu lagi. Semua ini sudah cukup, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi” pekik Bianca frustrasi.
Bianca meringis kesakitan apalagi sekarang Axel menariknya dengan kasar, bahkan para pelayan yang mendengar teriakan Bianca pertama kali mengintip mereka secara diam-diam. Axel menyeret Bianca kembali ke dalam kamarnya lalu mendorong tubuh Bianca ke arah tempat tidurnya dan koper besarnya yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.
“Jangan coba-coba untuk meninggalkan rumah ini! Jika tidak lihat saja apa yang akan kulakukan padamu!” ancam Axel.
“Aku hanya ingin terbebas darimu, bukan itu juga yang kau mau? Lalu kenapa kau masih menahanku!” teriak Bianca ia tidak lagi memperdulikan jika teriakannya itu bisa terdengar oleh pelayan-pelayan rumah ini.
“Berhentilah bertingkah, diam saja di sana! Kau seharusnya sadar, aku telah memenuhi semua kebutuhanmu tanpa terkecuali dan kau seharusnya berterima kasih, bangga memiliki suami sepertiku”
Bianca menatap Axel menyalang “Kenapa aku harus bangga? Aku tidak butuh pria menjijikkan sepertimu”
Rahang Axel mengeras, berani-beraninya wanita ini mengatainya seperti itu dan ini pertama kalinya seseorang mengatainya seperti itu terlebih itu perempuan.
“Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini selangkah pun, aku akan mengawasimu! Ingat itu”
“Tidak bisakah kau membiarkanku saja? Kenapa kau tidak segera mengurus surat perceraian itu, sekarang itu lebih baik kau tidak akan melihatku lagi dan kau juga akan terbebas dariku sepenuhnya. Biarkan aku pergi kumohon, jangan terus-terusan menyiksaku seperti ini” ucap Bianca lirih dan menangis terisak.
__ADS_1
“Bukankah aku sudah mengatakannya, bukan hanya kau aku juga sama menderitanya denganmu!”
“Itu benar, kau juga menderita. Karena itu biarkan aku pergi dari sini kumohon”
Axel melonggarkan dasinya entah kenapa ia terasa mencekiknya “Kau hanya akan merusak reputasiku”
Bianca terperangah “Apa itu lebih penting di banding dengan pernikahan ini?”
“Apa kau perlu menanyakan itu, tentu saja reputasiku jauh lebih penting daripada pernikahan bodoh ini”
Bianca yang tadinya menangis terhenti lalu kemudian tertawa meratapi nasibnya “Jadi pernikahan ini hanya permainan. Kenapa aku bisa terjebak di sini? Aku pikir seiring berjalannya waktu semua ini akan baik-baik saja dan berjalan mulus tapi ternyata tidak”
Bianca memegang kepalanya, ia menangis sekaligus tertawa secara bersamaan. Emosinya tak terkontrol karena ia tidak percaya dengan ini semua ini, ia terduduk di tepi ranjang dan menangis sambil memukul dadanya yang terasa sakit.
Bianca tidak bisa berdiam diri seperti ini ia harus mencari cara agar bisa terbebas dari rumah ini. Ia tidak mau merasakan sakit lagi, ia akan pergi dari sisi Axel secepatnya.
“Jangan pernah berpikir untuk kabur dari rumah ini”
Axel mengetahui pikiran Bianca, dengan cepat ia mencegah agar wanita itu tidak pergi. Ia berjalan meninggalkan Bianca yang terisak, ia bahkan tidak memperdulikan keadaan istrinya itu.
Bianca terkejut sekaligus panik saat mendengar suara pintu yang terkunci, Axel menguncinya dari luar. Dengan cepat Bianca berlari mendekati pintu kamarnya lalu menggedor-gedor kayu putih itu sembari berteriak memanggil nama suaminya itu
“Buka! Axel buka pintunya!!” teriak Bianca sembari menggedor pintu kamarnya itu “Ini tidak benar, kau tidak boleh mengurungku di sini!” pekiknya.
“Kecilkan suaramu. Diamlah di dalam sana atau aku akan berbuat sesuatu yang lebih buruk daripada ini” sahut Axel yang masih berada di depan pintu kamarnya.
“Axel, kumohon buka! Axel...”
Bianca menangis, tubuhnya merosot ke bawah lalu menangis sejadi-jadinya. Kenapa suaminya menjadi sangat kejam? Bukankah ini yang di inginkannya lalu kenapa masih menahannya seperti ini? Reputasi? Alasan itu terdengar konyol meskipun begitu Bianca terlihat sangat menyedihkan karena reputasinya lebih penting daripada rumah tangga mereka yang berantakkan seperti ini.
“Aku mohon buka pintunya” ucap Bianca lirih sambil memeluk kedua kakinya dan menangis terisak-isak.
Sedangkan di luar sana pria yang baru saja mengunci pintu kamar istrinya itu hanya bisa terdiam sembari menatap pintu kamar itu. Ia sangat marah ketika melihat Bianca yang akan pergi meninggalkan rumah ini, entahlah tapi rasanya ia tidak rela jika Bianca pergi.
Ia dapat mendengar dengan jelas suara isakan tangis Bianca yang sangat kuat itu dari luar sini, ia tidak akan membiarkan Bianca pergi dari rumah ini sampai kapan pun, bagaimana pun caranya ia akan membuat Bianca tetap berada di rumah ini.
__ADS_1