
Sudah tiga hari ini Bianca belum membuka matanya dan Axel masih setia menunggunya terkadang ia bercerita tentang hari-hari yang di laluinya. Pria itu selalu saja mengajak Bianca berbicara, walaupun itu sia-sia karena Bianca masih saja memejamkan matanya.
Dan soal Sheryl, wanita itu di dakwa melakukan tindakan penculikan serta percobaan pembunuhan dan kini tengah mendekam di balik besi jeruji bersama kekasihnya yang juga di dakwa sebagai kaki tangan percobaan pembunuhan. Selain itu Sheryl juga di katakan memiliki gangguan mental sehingga dia harus dijaga oleh beberapa dokter kejiwaan dan kabarnya ia akan di pindahkan ke rumah sakit jiwa jika sudah sangat tidak terkontrol lagi kewarasannya.
Axel keluar dari ruang Bianca lalu melirik satu persatu ke arah sahabatnya itu kemudian tersenyum pahit, di saat seperti ini ia harus terlihat kuat bahkan jika hatinya berkata sebaliknya.
Sherena menatap Axel cemas "Bagaimana apa ada perkembangan?" tanyanya
Axel menggeleng lemah "Tidak, masih sama seperti sebelumnya”
Sherena bersandar di pundak suaminya lalu memeluknya sembari menangis, ia memukul dada suaminya itu pelan. Bagaimana tidak ia sesedih itu Bianca sudah ia anggap seperti adiknya sendiri apalagi setelah kejadian terakhir di Villa, ia menjadi menaruh perhatian lebih pada istri sahabat suaminya itu.
Dave mengelus pelan punggung istrinya “Tidak apa-apa, Bianca akan baik-baik saja”
“Tapi sampai kapan ia akan terbaring seperti itu?”
Dave memegang bahu istrinya sedikit kuat “Jangan khawatir kita semua juga tau kalau Bianca wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati ini. Jadi kita harus bersabar menunggunya dan berdoa yang terbaik untuknya”
Sherena menganggukkan kepalanya mengerti dan masih menangis dengan cepat ia menghapus air matanya lalu menatap ke arah Axel yang lebih rapuh dan terluka daripada dirinya itu.
“Aku yakin Bianca akan baik-baik saja karena itu kau juga harus kuat” ucapnya mengingatkan Axel untuk tetap pada akal sehatnya.
Axel menganggukkan kepalanya paham ke mana arah pembicaraan istri sahabatnya itu “Tentu aku akan berada di sampingnya selalu dan menunggunya karena akh tau dia wanita yang kuat” jelasnya.
Brandon mendekati Axel dan memeluk canggung sahabatnya itu “Kau harus kuat demi Bianca dan anakmu, jangan sampai kau lemah. Percayalah bahwa semuanya akan baik-baik saja”
Brandon melepas pelukannya, ia merasakan apa yang Axel rasakan Ia juga akan sama seperti Axel jika dirinya yang mengalami hal itu.
“Bagaimana dengan anakmu?” tanya Brandon
__ADS_1
"Dia sehat, kata dokter tubuhnya sangat kuat dan anakku cantik sekali” ucapnya tersenyum tipis.
Brandon memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat wajah Axel yang sedang berusaha tegar di depannya. Ia mengusap sudut matanya pelan dan berdehem kecil.
"Tubuhmu juga butuh istirahat yang cukup" ucap Brandon lagi tak tega melihat sahabatnya yang berpenampilan berantakan itu.
Axel menganggukkan kepalanya “Aku sudah beristirahat tadi di atas” ucapnya.
Mark datang dengan membawa makanan ke ruangan VIP yang dipakai oleh Axel untuk sekedar mandi dan tidur sejenak. Ia melihat di belakang Mark ada istrinya yang sedang menggandeng Mikha, anak mereka.
“Selamat sore semuanya” teriak Mikha menyapa semuanya dengan riang.
Mereka membalasnya dan tersenyum dengan kedatangan Mikha yang begitu ceria. Gadis kecil itu mendekati Axel dan memintanya untuk menggendongnya.
"Uncle, apa kau menangis?" tanya Mikha yang melihat mata Axel yang memerah.
Mikha memeluk Axel dan menaruh kepalanya di bahunya "Bianca Imo akan bangun" ucap gadis itu membuat Axel membulatkan matanya.
Ia menarik gadis kecil yang berada di pangkuannya dan menatapnya sembari tersenyum lega, pria itu menghapus air matanya dan memeluk Mikha. Ia tidak tahu bahwa ucapan Mikha itu benar atau tidak tapi setidaknya kalimat itu membuatnya tersenyum dan berharap bahwa Bianca akan bangun, entah kenapa saat gadis kecil itu yang mengatakannya ia menjadi sangat yakin jika semua akan baik-baik saja.
Axel melihat Mikha yang beberapa kali membuatnya tersenyum, gadis kecil itu selalu berhasil membuatnya tertawa. Mikha si gadis lincah yang selalu lengket dengan istrinya itu membuat Axel merindukan tawa Bianca.
Axel menatap ke arah ruangan istrinya itu “Aku akan melihat Bianca kalian boleh di sini atau jika ingin pulang, silakan saja. Terima kasih karena sudah berkunjung” ucapnya berlalu kembali menuju ruang ICU.
Axel membuka pintu itu dan menutupnya kembali. Axel kembali mendekati Bianca dan duduk. Ia menggenggam tangan Bianca dan menempelkannya di pipinya, Axel menatap Bianca dengan hati yang berkecamuk “Sayang, apa kau benar-benar tidak akan membuka matamu, hem? Gadis kecil itu sangat ceria sehingga membuatku semakin merindukanmu, apa kau tau? Dia bahkan meyakinkanku jika kau akan segera bangun, dia memberiku kekuatan” ucapnya sedikit tercekat
Axel pernah mengalami hal ini sebelumnya ketika adiknya terbaring di ICU tapi ternyata adiknya tidak terbangun lagi. Akankah Bianca melakukan hal yang sama pada dirinya?
Axel terisak ketika kembali mengingat kenangan-kenangan indah bersama istrinya itu dan hatinya sangat sakit "Maafkan aku karena menempatkanmu di posisi buruk seperti ini, maaf karena aku tidak bisa memberimu tempat yang nyaman. Aku selalu gagal menjagamu, maafkan aku" gumamnya serak
__ADS_1
Axel mengusap kasar rambutnya dan menangis "Aku sangat mencintaimu, sayang. Kumohon bangunlah jangan melakukan hal yang menakutkan seperti ini, aku mohon buka matamu" pintanya lirih.
Axel menggenggam tangan Bianca erat hingga akhirnya ia merasakan pergerakan jemari yang membuatnya terpaku, jemari itu bergerak lagi samar ketika ia mencoba memastikan apa itu hanya perasaannya saja atau benar-benar bergerak. Lalu jemarinya itu kembali bergerak menjadi lebih mantap gerakannya dan secara bersamaan mata itu terbuka perlahan dan membuat Axel cemas.
Mata lentik itu terbuka beberapa kali terbuka dan tertutup untuk menyesuaikan pandangannya, perlahan mata Bianca terbuka sempurna dan tatapannya jatuh pada mata Axel yang basah.
“K-kau menangis?” ucap wanita itu lemah
Axel tersenyum senang dan mengecup jemari Bianca "Astaga! Syukurlah..." serunya lega
Bianca memejamkan matanya lagi dan membukanya "Anakku?" tanyanya lirih
Axel menganggukkan kepalanya menatap haru istrinya itu “Dia perempuan cantik sepertimu, anak kita juga baik-baik saja dia sangat sehat dan kuat” ucapnya penuh haru.
Axel menekan tombol di samping ranjang Bianca yang terhubung dengan suster, tak lama kemudian pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan dokter berserta susternya. Ia bangkit dari duduknya dan mempersilahkan mereka untuk mengecek Bianca dan kemudian beberapa alat yang terpasang di tubuh istrinya itu di lepas begitu saja.
Dokter tersebut tersenyum lega "Kondisi pasien membaik dan mengalami peningkatan yang sangat drastis dan besok jika kondisi tetap stabil kami akan melepas beberapa alat yang tersisa dan kami juga akan memindahkan pasien ke ruang inap” jelas dokter itu sembari tersenyum.
Axel tersenyum dan membungkukkan badannya "Terima kasih... Terima kasih..." ucapnya menahan tangis.
Ketika merasa cukup dengan Bianca dan mengecek keseluruhan kondisi Bianca, dokter dan suster itu pun pamit pergi dan menyuruh Axel untuk menjaga ekstra istrinya dalam kurun waktu 24 jam ini karena takutnya kondisi Bianca kembali drop mengingat kondisinya yang kembali normal secara tiba-tiba kemungkinan untuk drop kembali bisa saja terjadi.
Axel mendekat dan melihat Bianca kembali memejamkan matanya, pria itu menangis dan mengecup tangan Bianca lagi “Terima kasih, Tuhan”
Bianca membuka matanya lagi "S-sayang, a-aku mencintaimu sa-sangat” ucapnya lemah seraya memejamkan matanya lagi.
Axel kembali meneteskan air matanya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku juga, aku sangat mencintaimu... Terima kasih karena tetap berada di sampingku” ucapnya.
Pernyataan cinta Bianca membuat dada Axel sesak oleh perasaan yang meluap-luap dan tak pernah terungkapkan sebelumnya. Ia bersumpah hingga akhir, hati dan cintanya hanya akan ia berikan untuk Bianca dan anak-anaknya nanti.
__ADS_1