
Bianca kini sedang berkutat di dapur, ia merasa sedikit pening saat ini. Mata sembabnya sukses menarik perhatian orang-orang di rumahnya ini dan ia hanya tersenyum ketika mereka menanyakan apakah dirinya menangis atau tidak bahkan mereka menanyakan apa dia berantem dengan Axel atau tidak.
Bianca membawa makan siangnya ke kamar, ia membuat spageti dan air putih mungkin karena faktor kehamilannya yang membuatnya ingin memakan spageti di siang hari seperti ini. Bianca menutup kembali pintu kamarnya lalu berjalan menuju meja kecil yang ada di kamarnya itu dan menaruh makanannya di sana.
“Sayang, ayo makan siang dulu jangan kerja terus” panggil Bianca pada suaminya itu.
Axel menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, kini istrinya itu sudah mulai terbiasa mengomeli dirinya. Axel melepaskan kacamatanya dan menutup laptopnya, ia berjalan ke arah Bianca yang duduk menunggunya.
“Kenapa matamu? Apa kau habis menangis, sayang?” tanya Axel sembari menangkup wajah istrinya itu, ia baru menyadarinya.
“Tidak”
Axel memicingkan matanya tak percaya “Kau tidak mencoba membohongiku kan?” curiganya.
Bianca hanya tersenyum dan memegang tangan Axel “Sungguh, aku tidak berbohong” Bianca melepas tangan Axel “Makanlah, aku ingin ke kamar mandi sebentar.”
Axel hanya menganggukkan kepalanya, ia menatap punggung Bianca yang perlahan menjauh memasuki kamar mandi. Pria itu langsung memakan spagetinya dan memakan daging namun ketika hendak menyendok daging tersebut ia menyadari jika di piringnya itu ada tulisan dari saus 'wait for me daddy'
“Hem, apa ini?” gumamnya bingung.
Axel masih menatap piring tersebut sembari memakan spagetinya, ia tidak dapat mencerna tulisan itu dengan baik. Ia kembali menggumamkan kata-kata tersebut hingga akhirnya ia tersedak oleh spagetinya ketika menyadari maksud tulisan itu. Dengan segera ia meminum habis air yang ada di gelas itu dan hingga batuknya hilang karena tersedak.
“Astaga, apa ini benar?” gumamnya tak percaya
Di saat yang bersamaan pintu kamar mandi itu terbuka dengan cepat Axel bangkut dari duduknya dan berjalan ke arah istrinya itu, ada sorot kebahagiaan di mata Axel ketika menatap Bianca.
Axel menangkup wajah Bianca “Tulisan itu, apa benar seperti yang sedangku pikirkan saat ini?” tanyanya memastikan.
__ADS_1
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dan matanya kembali memanas, ia kembali ingin menangis ketika melihat reaksi suaminya itu.
“Sungguh? Apa aku akan menjadi seorang ayah?” tanyanya lagi pada Bianca, ia masih tidak percaya dengan semua ini.
Bianca tersenyum, ia tidak mengatakan apa pun dan hanya menganggukkan kepalanya. Rasanya ia akan menangis jika menjawab pertanyaan suaminya itu, selama ini Axel sangat menantikan sosok bayi di antara mereka dan kini itu terwujud tentu saja suaminya itu akan sangat senang.
“Astaga! Terima kasih sayang, terima kasih” ucap Axel dengan suara sedikit bergetar.
Axel mengecup wajah Bianca berkali-kali lalu memeluk erat tubuh istrinya itu dan terus mengucapkan terima kasih. Axel melepaskan pelukannya dan mengecup kening Bianca singkat lalu turun berlutut hingga perut istrinya itu, ia menatap perut datar Bianca dan mengelusnya pelan
“Tumbuhlah dengan baik” ucapnya kaku, Axel mendongakkan kepalanya menatap istrinya penuh haru “Aku berjanji akan menjagamu dengan baik, sayang. Ah tidak aku akan menjaga kalian dengan baik” ucapnya lagi.
Bianca menggeleng “Kau sudah menepatinya, kau menjagaku dengan baik” ucapnya tersenyum ke arah suaminya itu.
Bianca mengajak suaminya itu untuk melanjutkan makannya sebelum spagetinya menjadi lembek, Axel menyelesaikan makannya dengan cepat ia tidak sabar ingin memamerkan pada orang yang ada di rumahnya ini jika kini ia akan menjadi seorang ayah.
“Astaga! Apa kau gila? Kecilkan suaramu itu, kau itu sudah tua bukan anak kecil lagi kenapa berteriak seperti itu?” omel ibunya.
Axel tak mendengarkan perkataan ibunya itu, ia mendekat ke arah ibunya laku memeluknya erat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bianca yang melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya itu hanya tertawa sembari duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.
Nyonya Kevlar menepuk lengan anaknya itu sedikit kasar “Ayo lepaskan ini, apa kau tidak malu di lihat mertuamu” omelnya lagi.
Bukannya melepaskan Axel justru mengeratkan pelukannya “Istriku hamil ma, aku akan jadi seorang ayah sebentar lagi” ucapnya senang.
“Apa?” tanya ibunya kaget, ia menutup mulutnya sembari menatap ke arah menantunya itu
“Aku akan jadi seorang ayah” ucap Axel lagi.
__ADS_1
Nyonya Kevlar mendorong tubuh anaknya itu agar melepaskan pelukannya, ia mendekat ke arah Bianca yang sudah terlebih dahulu di interogasi oleh ibunya.
“Apa itu benar, nak?”
Bianca hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan kemudian ia mendapat pelukan dari ibu dan ibu mertuanya itu.
“Baik-baik di dalam sana ya nak, oma akan menunggumu” ucap kedua wanita paruh baya itu sembari mengelus perut datar Bianca.
Di sore harinya Axel membawa Bianca untuk berkunjung ke dokter kandungan dan dokter tersebut mengatakan bahwa kandungannya masih sangat baru dan sangat rentan, kantung kehamilannya sudah terlihat.
Dan saat setelah itu saat mereka kembali ke rumah Axel mendadak menjadi seorang pria yang over protektif, ia tidak membolehkan Bianca untuk banyak bergerak dan melakukan hal ini dan itu. Kata 'rentan’ berhasil mengubah Axel menjadi pria yang berbeda dari sebelumnya sembilan puluh tiga persen.
“Aku akan membawakan makan malammu, kau tunggu di sini sebentar jangan bergerak ke mana-mana” ucap Axel
“Tidak perlu, aku akan ke bawah saja”
Axel melarangnya lagi “Tidak, kau di sini saja. Kau tidak boleh sampai kelelahan”
“Aku hanya turun ke bawah itu tidak melelahkan sama sekali”
Axel menggelengkan kepalanya dan tetap melarang Bianca “Jika terjadi sesuatu saat kau turun tangga bagaimana? Sudah tunggu saja di sini” ucapnya.
Bianca menatap tak percaya ke arah suaminya itu yang tiba-tiba berubah “Jangan keras kepala, tetap di situ jangan coba-coba untuk turun dari ranjang tanpaku” ucap Axel lagi.
Pria itu turun ke bawah, Bianca hanya menghela nafasnya kasar “Sepertinya aku butuh sayap untuk terbang agar tidak kelelahan” keluhnya sembari memutar malas bola matanya.
Beberapa detik kemudian sebuah senyuman mengembang di bibir Bianca saat memikirkan sikap Axel berbeda dan kesigapan suaminya itu, meskipun terdengar menyebalkan namun ia menyukainya.
__ADS_1