Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.28 Sekilas Teringatmu


__ADS_3

Bianca kini berada di kafe biasa tempat ia nongkrong bersama teman-temannya setelah puas menangis tadi pagi yang menyebabkan matanya menjadi sembab kini ia dengan lahapnya menyantap es krim vanila stroberinya sampai-sampai mengabaikan Johannes yang berada di hadapannya.


Johannes tertawa kecil melihat tingkah Bianca, jika mengingatnya maka itu akan terlihat lucu padahal baru saja tadi pagi ia menangis tak henti-henti kini wanita itu sudah kembali seperti semula, seperti tidak ada terjadi apa pun sebelumnya kecuali mata sembabnya yang menjadi bukti bahwa tadi benar ada yang terjadi pada wanita itu. Bianca terlihat seperti orang yang berbeda.


“Hey makanlah dengan perlahan. Tenang saja, es krimmu tidak akan terbang” ucap Johannes tak bisa menahan tawanya.


Bianca mengangkat kepalanya lalu tersenyum ke arah Johannes “Aku sangat senang, Jo. Sangat-sangat senang” ucapnya ekspresi wajahnya sudah melihatkan bahwa ia benar-benar sedang bahagia.


“Iya aku tau itu. Tapi makanlah dengan perlahan kau terlihat lucu, seperti anak kecil saja” ucap Johannes tertawa kecil


“Biar saja. Aku tidak menyangka akan sidang secepat ini” ucap Bianca dengan mata yang berbinar-binar


“Jika sidangnya minggu depan apa upacara kelulusannya akhir bulan ini?” tanya Johannes


Bianca menganggukkan kepalanya. Ia sangat senang sekali karena berita kelulusannya itu sampai-sampai kejadian tadi pagi yang menyebabkan matanya sembab hilang dari pikirannya dan rasa sesak didadanya itu telah berganti menjadi kesenangan yang sangat berarti untuknya.


“Kalau begitu setelah lulus apa yang akan kau lakukan?”


Bianca menghentikan acara makannya “Hem, aku akan meneruskan butik ibuku dan setelahnya aku ingin membuka usahaku sendiri” jelas Bianca


“Itu bagus, semoga itu terwujud dan juga kuharap kau selalu bahagia” ucap Johannes menatap dalam Bianca dengan bibirnya yang melengkung tersenyum.


Bianca tersenyum getir ketika mendengar kata bahagia, entah kenapa kata itu sangat sulit untuk di dapatkannya.


“Terima kasih, kau juga”


Bianca memainkan ponselnya dengan gerakan tangannya ragu, ia sedang mencari kontak seseorang tangannya bergerak dan terhenti saat menemukan kontak yang ia cari.


‘Axel (Es Batu)’


Bianca tersenyum kecil saat melihat nama kontak itu, ia hanya melihat nomornya saja tanpa berani untuk menghubungi suaminya itu. Jujur saja ia sangat ingin memberitahukan kabar gembira itu pada Axel tapi jika mengingat hubungan mereka yang rumit itu membuat Bianca mengurungkan niatnya karena berita bahagianya belum tentu penting untuk suaminya itu.


Ya, itu semua akan sia-sia dan membuatnya sakit hati saja. Ia menghela nafasnya kasar lalu menyimpan ponselnya ke dalam tasnya lalu kembali berbincang-bincang dengan Johannes.


...***


...


Axel sedang berpikir di meja kerjanya tangisan Bianca masih terngiang-ngiang di pikirannya saat ini. Jam makan siang sudah tiba namun Axel tidak beranjak dari kursinya perhatiannya kini teralihkan oleh istrinya itu hingga lamunannya di buyarkan oleh sosok yang baru saja memasuki ruangannya itu.

__ADS_1


Axel tersenyum saat melihat sosok Sheryl kekasihnya yang datang menemuinya itu. Sheryl berjalan ke arah sofa di ruangan itu dengan elegannya seperti kebanyakan model biasanya berjalan dengan anggun sambil membawa sesuatu di kedua belah tangannya.


“Apa itu?” tanya Axel


Sheryl mengangkat kedua kantong belanjaannya itu “Kau belum makan bukan? Aku membawakan makanan, cepat kemari” ucapnya.


“Ya, aku belum makan” ucap Axel tersenyum.


Axel duduk di sofa bersebelahan dengan Sheryl, ia menatap lekat kekasihnya yang sedang menyiapkan makanan dengannya dengan senyuman yang tak luntur di wajahnya. Setelah lama menatap kekasihnya itu, tiba-tiba ia teringat jika istrinya tidak lagi menyiapkan bekal untuknya biasa setiap pagi Bianca selalu sibuk memaksanya untuk membawa bekal, pantas saja ada yang terasa kurang setiap kali jam makan siang.


“Nah sudah siap, ayo makan” ucap Sheryl membuyarkan lamunan Axel.


Axel menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya setelah beberapa kali kunyahan ia mengerutkan keningnya memaksakan makanan itu untuk di telannya lalu dengan cepat meminum airnya.


“Kau membeli ini di mana?” tanya Axel


“Kenapa, apa itu tidak enak? Aku yang membuatnya...”


“Ini terlalu asin, kau terlalu banyak menggunakan garam” ucap Axel terang-terangan.


Sheryl sedikit kecewa dengan cepat ia membereskan kembali makanan yang ia bawa itu “Hah aku gagal untuk ini, ya sudah jangan di makan” ucapnya kesal.


“Tidak hanya saja aku kecewa kenapa tidak bisa melakukannya, itu sangat sulit. Aku menghabiskan banyak waktuku tapi tetap gagal” keluhnya


Axel tertawa geli lalu mengelus lembut kepala Sheryl “Sudah tidak apa, kau tidak perlu hebat dalam hal ini” ucapnya


“Baiklah, aku akan pesan makanan saja” tawar Bianca dan Axel menganggukkan kepalanya menyetujui itu.


Mereka bercanda gurau sembari menunggu pesanan mereka datang, Axel tak henti-hentinya tertawa karena tingkah konyol yang di tunjukkan Sheryl. Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang dan keduanya menikmati hidangan itu tapi Axel tidak menikmati hidangan itu dengan lahap karena perutnya terasa sesikit tidak enak.


Dan setelah selesai menyantap hidangan makan siangnya, Axel kembali bekerja dengan Sheryl yang menunggunya di sofa. Axel tersenyum ketika melihat kekasihnya yang terlihat bosan menunggunya dan beberapa kali Sheryl terdengar mengeluh kemudian memainkan ponselnya.


Beberapa jam kemudian Axel menyelesaikan pekerjaannya, ia memandang ke arah Sheryl yang menatapnya dengan jengkel. Dengan cepat Axel menutup laptopnya dan berjalan mendekati kekasihnya itu.


“Kan sudah kukatakan kau akan bosan jika menungguku” ucap Axel mengelus lembut pipi kekasihnya itu.


Sheryl cemberut “Aku tidak menyangka akan sebosan ini”


“Maafkan aku” ucap Axel sembari mengecup pipi kekasihnya itu “Kau ingin pergi ke suatu tempat?” tawar Axel

__ADS_1


“Aku ingin pergi ke kafe”


Axel menganggukkan kepalanya setuju “Ya sudah, ayo” ajaknya.


Axel merapikan meja kerjanya sekilas lalu menggandeng kekasihnya yang terlihat sudah sangat bosan mereka pun berjalan bersama-sama menuju basemen. Mereka pun naik ke mobil mewah milik Axel dan mobil itu terlihat berjalan meninggalkan kawasan kantor Axel.


Setelah beberapa kilometer jauh dari perusahaannya, Axel di buat penasaran dengan Sheryl yang terlihat fokus dengan ponselnya sejak saat mereka meninggalkan kawasan perusahaannya.


“Kau sedang apa?” tanya Axel


Sheryl tersenyum salah tingkah “T-tidak, aku hanya melihat tas keluaran baru” ucapnya


“Oh, lalu kau ingin ke kafe yang mana?”


Sheryl mengubah raut wajahnya menyesal “Maaf sepertinya tidak jadi, aku lupa kalo aku ada janji dengan temanku. Maafkan aku honey” ucapnya lirih.


“Apa perlu kutem...”


Sheryl dengan cepat menyela ucapan Axel “Tidak usah! Aku bisa sendiri, honey haha” ucapnya tertawa canggung saat menyadari jika ia berteriak di awal ucapannya.


“Kau yakin?”


“Ya, aku akan baik-baik saja”


“Baiklah, kalau begitu biar kuantar saja”


Sheryl menganggukkan kepalanya setuju “Terima kasih, honey”


Axel mengantar kekasihnya menuju tempat yang akan di kunjungi Sheryl dengan teman-temannya. Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan setelah berpamitan Sheryl dengan cepat keluar dari mobil Axel.


Sheryl melambaikan tangannya menyuruh Axel menurunkan kaca mobilnya lalu mengecup singkat bibir Axel “Hati-hati di jalan, honey”


Axel tersenyum manis menatap kekasihnya itu “Kau juga, kalau ada sesuatu hubungi saja aku”


“Oke” ucap Sheryl lalu pergi menjauhi mobil Axel


Axel pun menjalankan mobilnya setelah beberapa langkah kekasihnya itu menjauh dari mobilnya. Setelah menyadari bahwa mobil Axel sudah pergi dari sana akhirnya Sheryl bisa melangkahkan kakinya dengan enteng ia bernafas lega.


“Untung saja dia tidak memaksa ingin ikut” ucapnya sembari memasuki tempat yang di tujunya itu.

__ADS_1


__ADS_2