Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.32 Dasar Wanita Aneh


__ADS_3

Bianca benar-benar menyesali perkataannya “Berhentilah bersikap manis padaku, bersikap saja seperti biasanya karena itu terasa aneh” ucapnya


Bianca menghela nafasnya kasar “Pergilah, kekasihmu akan marah jika kau terlambat menjemputnya” ucapnya lagi mengalihkan pandangannya kepada tanamannya dan kembali mencabuti dedaunan layu itu.


Rahang Axel mengeras ia merasa tersinggung dengan ucapan Bianca, ia menghela nafasnya lalu tersenyum miring “Kau benar, aku tidak ingin membuat kekasihku marah hanya karena membuang waktu berdebat denganmu seperti ini”


Bianca terdiam, ucapan itu sangat menyakitkan untuk mendengarnya “Sia-sia aku bersikap lembut padamu, dasar wanita aneh”


Axel meninggalkan Bianca di sana, ia melangkahkan kakinya cepat rasa kesal menumpuk di dadanya. Axel memasuki mobilnya lalu membanting pintu itu dengan keras, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Rasa kesalnya memuncak amarahnya tidak bisa di toleransikan lagi, ia sudah muak dengan semua ini.


Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan hidupnya? Ia pikir dengan menikah setidaknya sedikit bebannya akan menyusut, ternyata itu semua salah malahan itu membuat bebannya semakin banyak dan stresnya meningkat.


“Aku harus segera mengurus surat perceraian itu” gumam Axel lalu menghela nafas kasar.


Dering ponsel membuat perhatiannya teralihkan dan terlihat di sana nama kekasihnya tertera dan ia langsung menerima panggilan telepon tersebut.


“Honey” pekik Sheryl dari seberang sana


Axel tersenyum kecil “Ya? Aku sebentar lagi sampai” ucapnya


“Ah, maaf honey kau tidak perlu menjemputku. Temanku tiba-tiba datang dan menjemputku” ucap Sheryl.


“Kenapa tidak mengatakannya dari tadi?”


“Maaf honey” ucap Bianca lirih


Axel menghela nafasnya “Ya sudah, tidak apa berhati-hatilah”


“Makasih honey, sekali lagi maafkan aku. Byee honey” ucap Sheryl sebelum akhirnya sambungan itu terputus.

__ADS_1


Axel memutar balik arah mobilnya menuju kantor, ia masih berusaha meredam amarahnya hampir saja ia melampiaskan amarahnya kepada kekasihnya karena membatalkan janji tiba-tiba namun suara lirih kekasihnya itu berhasil membuatnya mengurungkan niatnya, ia tidak tega jika harus melampiaskan semua itu kepada kekasihnya.


Mobil yang di kendarainya melesat cepat meninggalkan jalanan Axel keluar dari mobilnya dan berjalan menuju lift, ketika sampai di depan ruangannya ia menghampiri meja sekretarisnya dan memintanya untuk memberitahukan jadwalnya hari ini.


Axel memasuki ruangannya terlebih dahulu setelah duduk selama beberapa menit pintu ruangannya di ketuk oleh sekretarisnya dan Axel mempersilahkannya untuk masuk.


“Anda akan melakukan pertemuan siang ini, hanya itu tuan jadwal hari ini”


“Baiklah, tolong siapkan untuk siang ini” perintah Axel


“Baik tuan, Ada lagi tuan?” tanya sekretaris itu dan Axel hanya menggelengkan kepalanya “Kalau begitu saya permisi tuan”


Axel diam menatap layar laptopnya, ia berpikir sejenak guna meluruskan pikirannya yang sedang kusut berantakan. Ia menghela nafasnya kasar lalu meraih ponselnya yang berada di sampingnya kemudian menghubungi pengacaranya.


“Aku ingin kau urus surat perceraianku, segera” ucapnya langsung saat sambungan itu terhubung.


“Hubungi aku secepatnya” ucapnya lagi.


Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya, ia menghela nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya dengan kasar dan beberapa kali terdengar suara helaan nafas.


...***


...


Setelah pertemuan selesai, Axel mengecek beberapa dokumen perusahaannya. Ia melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore dan ia melirik ke ponselnya lalu menggeser layarnya. Tidak biasanya sudah jam segini kekasihnya itu tidak menghubungi bahkan tadi siang pun kekasihnya itu tidak mampir untuk makan bersama dengannya.


Ia beberapa kali mengirim pesan kepada Sheryl tapi nihil, ia tidak mendapat balasan. Beberapa saat kemudian ia membereskan mejanya, menutup laptopnya lalu mengambil tas kerjanya dan melangkahkan kakinya menuju luar ruangan.


Axel pulang lebih awal hari ini. Ia memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke kediamannya, karena masih jam empat sore jalanan masih cukup lengang dan tak butuh waktu lama untuknya berada di jalanan Singapura akhirnya ia pun sampai di kediamannya.

__ADS_1


Axel masuk ke dalam rumahnya yang terasa hening “Di mana Bianca?” tanyanya pada pelayan


“Nyonya ada di taman belakang tuan”


Axel menghela nafasnya, wanita itu benar-benar keras kepala jam segini masih berada di taman “Suruh dia menemuiku”


Axel menaiki ke atas, ia memasuki ruang kerjanya dan menunggu Bianca di sana. Ia melangkahkan kakinya pasti menuju jendela besar di ruang kerjanya itu yang menghadap langsung ke arah taman belakang. Dari sana ia dapat melihat Bianca yang sedang menyiram tanamannya, harus Axel akui taman belakang kembali terlihat indah setelah sekian lama tak di urus dan itu berkat Bianca.


Ia juga melihat pelayan yang tadi berpapasan dengannya menghampiri Bianca, wanita itu terlihat menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Pelayan itu mengambil alih selang itu dan melanjutkan menyiram tanaman yang belum tersiram oleh Bianca.


Axel menghela nafasnya kasar, lagi-lagi perasaan itu. Setiap kali melihat Bianca ia selalu merasakan perasaan aneh yang ia sendiri tidak dapat memahami perasaan apa itu. Axel menundukkan kepalanya dengan tangan yang berada di saku celananya hingga beberapa menit kemudian ada suara ketukan dari arah pintu ruang kerjanya dengan terburu-buru ia duduk di kurai kerjanya.


“Masuk”


“Kau memanggilku?” tanya Bianca


Axel yang tadinya berpura-pura sedang membaca dokumen, mendongakkan kepalanya menatap ke arah Bianca yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya. Terlihat ekspresi wajah istrinya yang menatapnya dingin namun kelembutan masih menyelimuti wanita itu.


“Bersiap-siaplah kita akan pergi ke rumah ibuku” ucap Axel


“Apa ada acara penting?” tanya Bianca


“Kau akan tau sendiri nanti, bersiaplah cepat”


Bianca memutar bola matanya malas, ia dibuat jengkel dengan tanggapan Axel. Tidak ingin memulai pertengkaran ia pun hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruang kerja suaminya itu.


Ia menuruni tangga berjalan menuju kamarnya, ia membersihkan tubuhnya dan setelahnya ia berdandan seadanya saja. Setelah selesai, Bianca melangkahkan kakinya keluar menuju ruang tamu dan di sana sudah terlihat suaminya yang sedang menunggunya dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.


Axel menatap Bianca dari atas ke bawah, ia menggunakan dress selutut berwarna putih dengan desain yang elegan namun santai dan di padukan dengan flatshoes. Bianca terlihat cantik dan sedangkan Axel menggunakan pakaian yang terlihat formal namun santai.

__ADS_1


“Ayo berangkat” ajak Axel


Keduanya memasuki mobil, Axel tidak membawa sopirnya dan ia yang menyetir mobil sendiri. Mobil yang mereka kendarai perlahan meninggalkan kawasan rumahnya dan melesat ke jalanan Singapura diiringi dengan langit senja yang mulai menampakkan diri.


__ADS_2