Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.46 Liburan atau Honeymoon?


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak acara kelulusan Bianca, kini ia bekerja di butik milik ibunya. Tentu saja larangan keluar dari rumah itu masih berlaku dan sampai saat ini Axel masih menempatkan pengawal untuk mengawasinya di butik ini. Bianca tidak banyak membantah ia mengikuti semua perkataan Axel dan menjalani hidupnya seperti biasa dan kini sudah seminggu sejak peringatan kematian Alexa kehidupan rumah tangganya baik-baik saja dalam artian tidak ada perdebatan tapi masih dingin seperti biasa.


Axel melangkahkan kakinya memasuki butik tempat Bianca bekerja lebih tepatnya butik milik ibu mertuanya itu. Butik itu terlihat besar dan elegan, butik ibu mertuanya itu cukup terkenal dan memiliki beberapa cabang di Singapura. Keluarga istrinya itu memang terkenal di bidang fashion dan tidak heran jika Bianca juga hebat dalam menggambar dan merancang.


Langkah Axel terhenti saat melihat ibu mertuanya menyapanya “Oh menantuku, mau menjemput Bianca?”


“Iya ma, di mana dia?”


“Ada di ruang kerjanya, sepertinya kau baru pulang kerja ya, apa kau sudah makan?”


Axel menggelengkan kepalanya dan tersenyum “Ya sudah, makanlah bersamanya sebelum pulang ke rumah. Mama akan pulang terlebih dahulu. Tolong jaga anakku ya” ucap ibu mertuanya itu menepuk pelan bahu Axel dan berlalu pergi.


Setelah kepergian mertuanya itu Axel melangkahkan kakinya menuju ruangan yang di tunjukkan oleh mertuanya tadi. Ia mendekat dan berdiam diri di ambang pintu memperhatikan Bianca yang terlihat sibuk merancang sesuatu di atas kertas putih itu.


“Sudah kukatakan mama pulang saja, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat” ucap Bianca tanpa melihat seseorang yang melangkah masuk ke ruangannya.


“Aku bukan ibumu”


Bianca terkejut mendengar suara berat itu, ia menghentikan kegiatannya lalu mendongakkan kepalanya dan melihat sosok suaminya yang berdiri tak jauh dari hadapannya.


Bianca menghela nafasnya “Maaf, kukira itu ibu. Kau ada perlu apa ke sini?”


“Beliau baru saja pergi, apalagi yang bisa kulakukan di sini tentu saja menemanimu”


“Bukannya sudah ada pengawal mu di depan sana” ucap Bianca memutar malas bola matanya.


“Tidak ada, sudah kusuruh pulang”

__ADS_1


Axel mendekat dan duduk di sofa, Bianca hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Jujur saja berdua seperti ini membuatnya sedikit gugup sekaligus canggung karena keheningan yang menyelimuti mereka.


“Aku ingin mengajakmu liburan” celetuk Axel memecahkan keheningan itu.


Bianca tertegun kenapa tiba-tiba suaminya itu mengajaknya untuk pergi berlibur, apa liburan yang di maksud Axel adalah honeymoon? Tapi bukankah sekarang sudah sangat terlambat untuk melakukannya.


“Kenapa tiba-tiba sekali?”


Axel menghela nafasnya “Sahabatku yang ada di hari kelulusan mu memintaku mengajakmu liburan bersama” jelasnya.


Bianca menatap kosong Axel ternyata bukan honeymoon seperti yang ia pikirkan dan hanya sekedar liburan biasa bersama teman-temannya.


“Baiklah, itu terdengar menyenangkan”


“Akhir pekan ini kita akan berangkat”


Mereka turun dari mobil, Bianca mengikuti Axel yang berjalan dengan langkah besarnya itu. Axel membawanya ke salah satu restoran mewah berbintang di Singapura ‘Vianney Massot Restaurant’ tempat berkumpulnya para Crazy Rich Asian. Jantung Bianca berdebar ini pertama kalinya ia memasuki restoran mewah ini, meskipun ia mampu jika ingin ke sini tapi ia tidak melakukannya.


Tidak ada yang istimewa yang terjadi di sana mereka memakan makan mahal yang rasanya tentu tidak perlu di ragukan lagi. Dan Axel juga mengajaknya berbicara seputar pekerjaan Bianca meski tidak banyak yang dipertanyakannya tapi setidaknya makan malam mereka tidak sehening biasanya.


...****************...


Beberapa hari berlalu akhirnya hari yang di tunggu-tunggu tiba, hari ini adalah hari di mana mereka akan berlibur bersama di salah tau Villa milik Axel yang tak jauh dari sini hanya memakan waktu satu setengah hingga dua jam perjalanan jika menggunakan mobil. Axel dan Bianca berada di mobil pribadi Axel dan teman-temannya yang lain menggunakan mobil pribadi mereka masing-masing.


Bianca bersemangat liburan ini sepertinya akan terasa sangat menyenangkan dan ia tidak akan merasa canggung karena sahabat-sahabat suaminya itu sangat baik dan ramah kepadanya.


Axel melajukan mobilnya, Bianca menyumbat telinganya dengan earphone ia akan bosan selama perjalanan secara seperti yang diketahui suaminya itu tidak pernah mengajaknya bicara. Bianca mengambil paperbag yang ada di kursi belakang dan mengeluarkan toples berisi cookies yang di berikan oleh Bi Asih sebelum ia pergi tadi.

__ADS_1


Cookies kesukaannya, ya setidaknya selama perjalanan ia tidak perlu menahan laparnya karena perutnya sudah terganjal dengan cookies buatan Bi Asih itu. Bianca memakannya sembari mendengar musik, ia memangku toples itu, setelah beberapa kali menikmati camilan kesukaannya itu ia menoleh ke samping.


“Kau mau? Aa...” ucapnya lalu mengulurkan tangannya ke depan mulut Axel.


Axel menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada jalanan “Ayo buruan, tanganku pegal” ucap Bianca.


Pria itu membuka mulutnya dan memakan cookies beberapa kali yang di suapkan oleh Bianca. Ia tidak menolaknya setidaknya ini cukup untuk mengganjal perutnya selama perjalanan. Setelah berjam-jam di perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Villa mewah milik suaminya, itu terlihat sangat besar dan itu hal yang wajar karena suaminya itu pengusaha yang sukses dan hebat membuat Villa seperti ini tidak akan membuatnya bangkrut.


Bianca turun dari mobilnya mengikuti Axel masuk ke dalam Villa mewah itu pandangan matanya tertuju pada Sherena yang mengeluh sembari mengelus perutnya dan suaminya dengan penuh kasih sayang juga mengelus perut buncit Sherena.


Bianca tersenyum melihat keluarga kecil itu dan melangkahkan kakinya mendekati Sherena dengan toples cookies yang berada di pelukannya.


“Kakak mau mencobanya?” tanya Bianca menyodorkan cookies dan duduk di samping Sherena.


Sherena menganggukkan kepalanya dan mencobanya “Hem, ini enak. Apa kau yang membuatnya?” tanyanya.


“Ah tidak, ini Bi Asih yang membuatnya”


Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan kamar yang mana. Setelah kamar tidur di putuskan mereka masing-masing memasuki kamarnya begitu pula dengan Bianca dan Axel.


“Biar aku saja yang bereskan” ucap Bianca


“Tidak perlu”


Bianca mengambil paksa koper Axel dan kopernya yang berada di dekat suaminya itu “Aku saja, kau istirahatlah pasti lelah mengemudi berjam-jam seperti itu”


Axel mengalah dan membiarkan Bianca membereskan baju-bajunya, ia berdiri di balkon dan melihat kolam renang yang ada di bawah kamarnya. Axel sangat tidak mengerti dengan perasaan yang ia rasakan saat bersama Bianca dan saat bersama Sheryl, ia tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan saat bersama Bianca tapi saat bersama Sheryl perasaan tidak ingin kehilangan itu terasa jelas di benaknya.

__ADS_1


Kenapa rasanya berat sekali dada ini, Axel dengan mudahnya membuat Bianca sakit hati bahkan bukan satu dua kali saja sudah sering kali tapi wanita itu tetap sabar menghadapinya hingga membuatnya terkadang merasa bersalah tapi di satu sisi ia tidak ingin kehilangan Sheryl lagi. Sebenarnya siapa yang hatinya inginkan?


__ADS_2