
Bianca menyusul Johannes ke kafe ia berjalan di tengah derasnya hujan untuk menghampiri teman barunya itu. Karena jarak kafe dan kampus tidak begitu jauh dan lagi pula hari hujan seperti ini tidak ada terlihat taksi olehnya karena itu ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ia menggenggam erat payungnya yang melindungi tubuhnya dari guyuran derasnya hujan dan setelah tak lama kemudian akhirnya ia pun sampai di kafe tempat dia dan Johannes berjanji akan bertemu.
Bianca masuk ke dalam kafe tersebut lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan hingga akhirnya ia menangkap sosok Johannes yang tengah melambaikan tangan ke arahnya dengan cepat pun ia menghampiri temannya itu.
“Apa kau sudah lama menunggu? Maafkan aku hujan terlalu deras di luar sana” jelas Bianca merasa sedikit tak enak hati karena sudah membuat Johannes menunggunya lama.
“Itu tidak masalah, bajumu basah?” tanyanya melirik bahu Bianca yang basah
“Iya, sedikit”
“Duduklah, aku akan memesankanmu coklat panas dulu” ucap Johannes bangkit dari duduknya menuju bar kafe.
Johannes memesankan minuman untuk Bianca dan menunggunya di meja bar kafe sampai kopi itu siap di buatkan, dengan hati-hati Johannes membawa kopi itu menuju meja yang di tempatinya bersama Bianca.
Bianca meminum coklat panas itu dengan perlahan, ia menggenggam cangkir itu dengan kedua tangannya guna memberikan kehangatan pada tangannya yang terasa dingin.
“Jadi gimana hasilnya?” tanya Johannes penasaran
Bianca tersenyum menatap Johannes dengan mata yang berbinar “Tentu saja, laporanku di terima” pekik Bianca gembira tertahan.
Bianca menghela nafasnya lega “Aku bahagia sekali, sangat-sangat bahagia” ucapnya lagi.
Bianca tak dapat menyembunyikan senyumannya, ia merasa sangat bahagia saat ini, kini akhirnya ia bisa lepas dari kegiatan revisi, revisi, revisi lagi dan lagi itu. setidaknya satu beban pikirannya kini sudah lepas ia sangat bahagia untuk itu.
Johannes tertawa kecil kemudian mengelus puncak kepala Bianca “Syukurlah, akhirnya bebanmu sudah hilang” ucap Johannes tersenyum manis ke arah Bianca.
“Hem, lalu kau bagaimana?” tanya Bianca
Johannes menghela nafasnya kasar “Entahlah, skripsiku belum di terima. Ini tidak mudah, aku udah keburu muak mengerjakannya” ucapnya
“Kau benar. Aku juga sudah muak jika harus merevisi terus-terusan, setiap pulang selalu ada saja kertas yang di coret-coret” ucap Bianca menghela nafasnya
“Itu benar, tapi sekarang kau tidak perlu melakukan hal itu lagi” ucap Johannes
Bianca menganggukkan kepalanya setuju dan Johannes hanya tersenyum ke arah Bianca, sesaat ia terdiam lalu pandangannya mengarah pada cincin yang melingkar indah di jari manis Bianca.
“Kau sudah menikah?” tanya Johannes yang pandangannya masih terfokus pada jari manis Bianca.
__ADS_1
Bianca jadi gelagapan, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “I-iya... Itu benar, aku sudah menikah” ucapnya
“Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” tanya Johannes penasaran
“Karena kau tidak pernah bertanya soal itu”
“Ah itu benar, apa suamimu tidak marah jika kau berteman denganku?” tanya Johannes
“Hem, entahlah mungkin saja tidak. Apa kau tidak ingin berteman denganku karena sudah menikah?” tanya Bianca asal
“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tentu saja tidak, hanya saja kupikir suamimu tidak akan menyukai ini”
“Hem sepertinya dia tidak mempermasalahkan itu” ucap Bianca
Johannes menghela nafas lega “Syukurlah, sepertinya suamimu sangat menyayangimu” ucapnya tersenyum ke arah Bianca
Bianca terdiam, ia hanya tersenyum canggung membalas perkataan yang baru saja di lontarkan Johannes “Aku harap dia juga seperti itu, Jo” ucap Bianca lirih dalam hatinya.
Cukup lama mereka berbincang-bincang akhirnya Bianca pun pulang di sore hari, ia menolak tawaran Johannes yang ingin mengantarnya pulang karena tidak membuat masalah seperti yang terakhir kali. Ia pulang menggunakan taksi dan sebelumnya ia sempat singga terlebih dahulu di toko bunga untuk membeli bunga yang akan ia tanam di halaman belakang rumahnya.
Sesampainya di rumah ia langsung berlari menuju kamarnya lalu mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai setelah itu barulah ia memulai menanam bunga-bunganya meskipun sempat sedikit berebutan dengan pelayan ingin membereskan taman belakang akhirnya pelayan itu membiarkan Bianca dengan hati yang tidak enak karena majikannya membereskan taman sendirian.
“Nyonya, saya membuatkan susu hangat dan kookies untuk nyonya” ucap pelayan itu.
“Wah! Ini pasti enak, terima kasih bi” ucap Bianca tersenyum kepada pelayan yang bernama bi Asih
Bianca memakan kookies itu dengan lahap “Ini sangat enak bi, sangat berbeda dengan buatanku” ucapnya
“Bi, apa aku boleh minta resepnya?” tanya Bianca tertawa kecil
“Tentu saja nyonya, nanti bakal bibi tuliskan” ucap bi Asih ramah
Bianca tersenyum gembira “Terima kasih bi”
Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah depan sana, Bianca mengernyitkan keningnya bingung siapa yang datang karena itu tidak mungkin suaminya karena sekarang masih jam lima sore.
Ia berjalan ke arah depan dan di buat kaget saat melihat Axel datang bersama wanita lain “Siapa wanita itu?” pikir Bianca
__ADS_1
Bianca hanya terdiam menatap lekat ke arah Axel dan wanita yang tengah bergelayut manja di lengan Axel, ia sangat bingung saat ini dengan situasi apa yang sekarang ini sedang terjadi.
Sheryl yang mengerti dengan tingkah Bianca akhirnya pun bersuara “Jadi kau istrinya?” tanya sinis
Bianca masih tidak mengerti dengan situasi yang terjadi di depannya saat ini, ia menganggukkan kepalanya “Lalu kau?”
“Aku? Oh, perkenalkan aku Sheryl kekasih Axel” ucapnya percaya diri lalu mengulurkan tangannya ke arah Bianca.
Bianca terkejut “A-apa? Kekasih?”
“Apa-apaan reaksimu itu, jangan berlebihan. Memang benar dia kekasihku” ucap Axel masih setia dengan tatapan datarnya itu.
“Kenapa kau tidak terima?” tanya Axel lagi saat melihat raut wajah Bianca
“Ada apa denganmu? Aku ini istrimu” ucap Bianca menatap tajam Axel
Sheryl tertawa meremehkan “Istri? Bukannya pernikahan ini hanya sandiwara bagaimana mungkin kau bisa dengan bangganya mengatakan kalau kau itu istrinya? Daripada istri bukankah partner lebih cocok untukmu” ucap Sheryl seenaknya.
Bianca mengabaikan perkataan wanita itu ia kembali menatap lekat Axel “Walaupun kau tidak menginginkan pernikahan ini kau tidak bisa seenaknya, jika kau ingin berkencan dengan wanita lain setidaknya tunggulah sampai pernikahan ini berakhir” ucap Bianca asal, hatinya sangat sakit saat ini.
“Sudahlah, kau tidak berhak mengaturku jangan memperpanjang masalah” ucap Axel malas berdebat.
Air mata Bianca mengalir begitu saja “Aku berhak! Selama aku masih menjadi istrimu tidak peduli apa pun situasi pernikahan ini aku berhak mengaturmu. Aku berhak untuk itu”
“Baiklah, itu terserah kau saja”
“Kau anggap aku apa?” ucap Bianca lirih
Bianca menatap ke arah Axel matanya saling bertemu, ini sangat menyakitkan untuknya karena ia tidak melihat sedikit pun rasa penyesalan di mata Axel. Pria itu benar-benar tidak merasa bersalah sedikit pun terhadapnya.
Axel tidak menanggapi ucapan Bianca “Kau tenang saja aku akan tetap membiayai hidupmu”
Axel pergi meninggalkan Bianca yang menangis dan Sheryl menatap Bianca remeh dan tersenyum penuh kemenangan “Sayang sekali, aku turut prihatin karena kau tidak di akui sebagai istrinya” bisik Sheryl berlalu pergi menyusul Axel masuk ke dalam.
“Sekarang apalagi Tuhan? Ini sangat menyakitkan” ucapnya lirih
Hati Bianca seperti tengah di tusuk ribuan pisau, ini sangat menyakitkan dan ini terlihat sangat tidak masuk akal. Keadaan pernikahannya semakin memburuk dan ia hanya menundukkan kepalanya menangisi takdir pernikahannya.
__ADS_1
Ia tidak menyangka bahwa suaminya akan bertindak seperti itu, karena Axel adalah pria yang bijak menurutnya jadi hal seperti ini tidak pernah terlintas di benaknya sekali pun. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu? Apa dia tidak sadar jika dia susah mempunyai istri? Bagaimana nanti jika media mengetahui ini? Lalu bagaimana dengan orang tuanya dan mertuanya?
“Apa semua ini? Apa ini salahku?” tanya Bianca lirih dalam hatinya.