
Bianca terlihat elegan dan berkelas dengan dress cantiknya. Malam ini mereka berencana untuk makan malam di luar, Bianca menggunakan dress selutut berwarna putih dengan rambut yang di sanggul membuat punggungnya terekspos indah. Bianca juga memoles sedikit makeup di wajahnya, anting-anting yang menjuntai indah dan ia juga menggunakan high heelsnya.
Bianca berdiri di balkon sembari menunggu Axel yang masih berada di dalam kamar mandi dan tak lama kemudian pria itu keluar dari dalam sana sembari mengancingkan kemejanya.
“Kau sudah siap?” tanyanya yang masih fokus pada kancing kemejanya.
Bianca menganggukkan kepalanya “Hem, sudah”
Axel berlalu menuju meja rias untuk berkaca dan di saat yang sama Bianca masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Axel mengernyitkan keningnya, saat Bianca membalikkan tubuhnya menatap Axel pria itu justru menatap lekatnya dari atas ke bawah.
“Kau akan pergi seperti itu?” tanyanya
Bianca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Kenapa? Apa ini terlihat tidak bagus?”
“Gerai rambutmu”
“Rambutku, kenapa? Bukankah seperti ini terlihat lebih bagus”
Axel diam dan menatap tajam Bianca, wanita ini selalu membantah setiap perkataannya “Aku tidak suka, kau akan mempertontonkan punggungmu”
Bianca tertegun, ia diam melihat ke arah Axel. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu di bilang tidak peduli terhadapnya tapi Axel selalu memperhatikan hal kecil seperti ini. Bianca yang tidak ingin berdebat pun berjalan ke arah meja rias saat Axel sudah selesai bercermin.
Bianca membenarkan rambutnya kembali, jika di pikir-pikir lagi ini membuatnya sedikit kesal. Bagaimana tidak, ia butuh waktu lama untuk berias apalagi saat menata rambutnya tapi kini ia harus duduk lagi di depan meja rias untuk kembali menata rambutnya. Bianca dengan kasar membuka sanggul rambutnya dan menyisirnya asal, semakin di pikirkan itu membuatnya semakin kesal.
Axel duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya dan sesekali ia melirik ke arah Bianca, ia akui malam ini istrinya itu terlihat sangat cantik karena jarang sekali wanita itu berdandan seperti malam ini.
Axel memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan beranjak mendekati Bianca, ia mengambil alih sisir yang ada di tangan Bianca dan mulai menyisir rambut Bianca.
“Biar aku yang melakukannya” ucap Axel tiba-tiba.
Bianca kaget, ia menoleh ke belakang tapi dengan cepat pria itu menahan kepala Bianca agar tetap melihat ke depan “Apa yang kau lakukan?” tanya Bianca.
Axel hanya diam ia tidak menanggapi pertanyaan istrinya itu dan tetap melanjutkan menyisir rambut Bianca. Axel menyisir rambut istrinya dengan mahir seperti bukan pertama kali baginya menyisir rambut orang lain. Bianca? Jangan di tanya lagi pipinya memerah mendapat perlakuan seperti ini dari Axel.
“Kau punya jepitan?”
“Hem aku membawanya” ucap Bianca merogoh pouch make upnya untuk mengambil jepitan miliknya dan memberikannya pada Axel.
__ADS_1
Axel mengambil jepitan itu dan mulai menjepit rambut sisi kanan dan kiri Bianca yang ia tarik ke tengah untuk di jepitnya “Seperti ini juga terlihat rapi, jangan menyanggul rambutmu lagi” ucapnya.
Bianca tersenyum dan mengangguk ia menatap Axel dari pantulan cermin di depannya itu, pria itu setia dengan wajah datarnya. Saat mata Axek tak sengaja melihat wajah merah Bianca saat itu ia sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, ini pertama kalinya ia melakukan hal itu setelah sekian lama tanpa ia sadari ia memperlakukan Bianca layaknya Alexa.
Setelah semua sudah siap mereka pun pergi menuju salah satu restoran mewah tak jauh dari Villa. Setelah sampai mereka pun masuk menuju rooftop yang sudah sewa khusus rombongan mereka saja, pemandangan jauh lebih indah dari atas sana.
Axel memperlakukannya dengan baik mereka semua memiliki makan malam romantis bersama dan Bianca pun menjadi lebih dekat dengan sahabat-sahabat Axel terutama Brandon, Sherena dan Perrie.
Acara makan malam mereka sudah selesai tapi mereka belum beranjak dari sana karena memilih untuk bersantai melihat pemandangan kota dari atas sana. Udara dingin menerpa punggung Bianca yang terbuka ia melupakan cardigannya, Axel yang menyadari itu membuka jasnya memakaikannya pada bahu Bianca.
Bianca menoleh ke arah Axel “Pakai saja di sini cukup dingin” ucapnya.
Bianca menganggukkan kepalanya “Terima kasih”
Setelah menghabiskan waktu satu jam lebih di sana mereka pun memutuskan untuk kembali ke Villa beristirahat lebih awal karena besok mereka membutuhkan banyak tenaga. Sesampainya di Villa mereka masuk ke kamar masing-masing, begitu sampai Bianca langsung membersihkan tubuhnya setelah Bianca selesai barulah giliran Axel.
“Kau tidak tidur?” tanya Bianca
“em, kau tidur saja”
Tak butuh lama untuk Bianca tertidur setelah beberapa menit memejamkan matanya wanita itu tertidur sangat lelap. Axel mematikan lampu kamarnya dan hanya lampu tidur saja yang menerangi kamar tidur itu, ia menaiki tempat tidur dan bersandar di sebelah Bianca sembari menatap istrinya itu.
“Tapi kau selalu berdoa untuk pernikahan ini, kau membuatku jadi bingung tentang apa yang seharusnya kulakukan” ucapnya sembari menyelipkan rambut Bianca ke belakang telinganya karena itu menutupi wajah Bianca.
Axel kembali menghela nafasnya, semakin di pikirkan bukan mendapat jawaban malah tidak ada satu pun jalan keluar untuknya. Axel pun menyerah ia memutuskan untuk tidur saja sebelum itu ia menarik selimut untuk Bianca dan mengecup singkat kening istrinya itu.
“Good Night” bisiknya.
...****************
...
Siang ini mereka semua sibuk menyiapkan bahan dan peralatan untuk pesta barbeque. Mereka membagi tugas secara rata, perempuan menyiapkan bahan makanannya dam pria menyiapkan peralatan panggangnya.
“Bianca, apa kau sudah ada isi?” celetuk Emma kekasih Kevin tiba-tiba.
Bianca mengernyitkan keningnya tak mengerti “Ah, maksudku hamil” jelasnya lagi.
__ADS_1
Bianca tertegun lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya “Ah itu belum” ucapnya salah tingkah.
“Tidak apa kan kalian belum lama menikah, tunggu sebentar lagi saja pasti akan berisi” ucap Sherena mengelus lengan Bianca dan tersenyum.
Bianca hanya tersenyum kaku dan kembali memfokuskan dirinya dengan menusuk daging dan sayuran untuk di jadikan satai ia menjadi diam.
“Kenapa, ada masalah apa?” tanya Perrie yang menyadari perubahan raut wajah Bianca.
“Tidak ada apa-apa kok” jawab Bianca tersenyum.
Setelah itu ia kembali diam, ia menyelesaikan tugasnya dengan cepat setelah selesai ia membawa itu ke halaman belakang. Mark dan Axel memanggang daging sedangkan para perempuannya hanya duduk menunggu sambil berbincang-bincang, sahabat Axel semua datang berpasangan kecuali Brandon yang tetap mau ikut meski tidak membawa pasangan.
Mereka berbincang dan mengerjakannya dengan serius hingga bunyi bel membuat mereka saling bertatap muka “Siapa yang datang?” tanya Mark pada Axel.
“Kau mengundang siapa?” celetuk Brandon.
“Tidak ada, hanya kita, sana lihatlah” ucap Axel kepada Brandon.
Brandon membawa minuman sodanya dan berjalan menuju pintu depan, betapa terkejutnya ia saat pintu itu terbuka melihat tamu yang tak di undang itu.
“Mau apa kau ke sini?” tanya Brandon tak suka.
Sheryl menyelonong masuk tak menghiraukan Brandon, pria itu geram menarik paksa tangan Sheryl “Apa yang kau lakukan di sini?!” tanyanya penuh penekanan.
Sheryl memutar malas bola matanya “Bertemu kekasihku jadi lepaskan tanganku” ucapnya
“Apa kau sudah gila? Tidak ada kekasihmu di sini. Pergilah!”
Sheryl tersenyum meremehkan dengan cepat ia melepaskan tangannya dari genggaman Brandon dan berlari menuju halaman belakang. Brandon mengikutinya berniat untuk menyeret wanita itu keluar dari sini tapi apa yang di dengarnya justru menghentikan langkahnya.
“Honey!” pekiknya
Bukan hanya Brandon semua orang yang di sana terkejut dan melihat ke arah sumber suara itu. Axel sama terkejutnya dengan semua orang yang ada di sana saat melihat Sheryl yang datang tiba-tiba, wanita itu berlari berhambur ke pelukannya.
“Aku merindukanmu, kenapa kau tidak membawaku kemari?” tanya Sheryl dalam pelukan Axel.
Brandon tertegun entah kenapa pemandangan di depannya itu membuatnya jadi geram. Di antara sahabat-sahabat Axel dia yang tau sejarah pernikahan Axel tapi ia sama sekali tidak menyangka jika Axel benar-benar menganggap pernikahan itu tidak penting dan memilih untuk kembali bersama kekasihnya.
__ADS_1
Rasa amarahnya semakin mendidih saat melirik ke arah Bianca yang hanya menundukkan kepalanya sembari memainkan jemarinya, wanita itu juga sudah mengetahui hal ini. Brandon tidak habis pikir dengan jalan pikiran Axel, apa yang sebenarnya dia inginkan? Ia geram sekali Axel membuatnya kecewa.
“Brengsek!” maki Brandon.