Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.98 Rencana Ulang Tahun


__ADS_3

Kini usia pernikahan mereka sudah berlangsung selama dua tahun setengah dan kini umur si kecil Ayana sudah beranjak sebelas bulan, meski delapan bulan awal pernikahan mereka sangat tidak enak untuk di kenang namun akhir-akhir ini kehidupan rumah tangga mereka selalu di penuhi dengan kebahagiaan dan kehangatan.


Dan lusa adalah ulang tahun suaminya, apa yang harus Bianca lakukan? Bianca sedang berpikir hadiah apa yang bagus untuk Axel nanti. Berbeda dari tahun sebelumnya ia tidak pernah merayakan bahkan memberikan kejutan kepada Axel tapi kini karena situasi telah berbeda Bianca pun memutuskan untuk memberikan kejutan kepada suami tercintanya itu.


Bianca kini tengah menikmati langit cerah kota Singapura, ia duduk di teras balkon ditemani dengan sebuah kertas kosong di sana. Tangannya bergerak merancang gambarannya sembari menunggu Ayana bangun Bianca menyibukkan dirinya dengan merancang model baru untuk butiknya.


"Bagaimana jika aku membuatkannya pesta kecil?" gumamnya sembari menopang dagunya


Bianca menganggukkan kepalanya dan tersenyum "Baiklah, sepertinya memang harus”


Wanita itu menoleh ketika ponselnya berdering dan di sana tertera nama Brandon, ia tersenyum dan mengangkat panggilannya. Bianca menjauhkan ponsel itu dari telinganya ketika Brandon menyapanya dengan teriakan yang aneh


"Hey! Kau mau membuat gendang telingaku pecah atau bagaimana?"


Pria di seberang sana hanya tertawa "Bianca, aku butuh bantuanmu."


“Apa?”


"Lusa adalah hari ulang tahun Axel sebenarnya kami semua menyiapkan pesta untuknya”


"Benarkah? Itu bagus, jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkannya”


"Hem, aku ingin membuatnya senang di hari ulang tahunnya”


"Baiklah kita susun rencana kita"


Setelah mendengar ucapan Brandon di telepon tadi Bianca memutus sambungannya, ia menghela napasnya lega dan menjadi tidak sabar untuk memberi Axel kejutan.

__ADS_1


“Baiklah, daddy tunggu kejutan dari kita” gumamnya pelan


Bianca terkesiap ketika tangisan Ayana terdengar ia menaruh pensil dan kertas itu di sana, pintu penghubung terbuka dan melihat Ayana yang berdiri sembari memegang pinggiran box bayi tersebut dengan cepat Bianca menggendongnya dan mengusap punggung Ayana.


Anaknya itu selalu bangun di waktu yang tepat “Anak mommy sudah bangun ya” ucapnya sembari menggendong anaknya itu.


Bianca tersenyum melihat Ayana yang bersandar di bahunya dengan tenang, bayi itu tidak menangis lagi dan memilih diam ketika ibunya memeluknya. Suara ketukan pintu menyadarkan Bianca dari kegiatan mengamatinya, langkahnya mendekati ke arah pintu dan membukannya.


“Ada apa?”


"Nyonya, Anda dipanggil untuk menemui Nyonya besar di bawah”


Bianca tersenyum senang “Mama ada di bawah?”


“Iya nyonya, nyonya besar baru saja tiba”


“Baiklah aku akan segera turun” ucapnya sembari tersenyum


Bianca tersenyum dan membenarkan gendongannya “Ayo kita ke bawah, oma ada di sana sayang”


Ketika menuruni tangga Bianca merasa pusing melihat garis tangga di sana, ia merasa bahwa penglihatannya ini terganggu bagaimana bisa ia melihat tangga seperti garis yang terimpit satu sama lain wanita itu memegang pinggiran tangga dan turun dengan hati-hati.


“Sayangku” pekik ibu mertuanya di bawah sana


Ibu mertuanya yang tersenyum sangat lebar, ia berusaha untuk menuruni tangga dan tidak salah pijak agar ia tidak terjatuh dan mertuanya itu tiba-tiba mendekatinya dan mengerutkan dahinya di hadapan Bianca.


"Kau sakit, sayang?"

__ADS_1


Bianca menggelengkan kepalanya "Tidak ma, aku hanya pusing saja melihat garis tangga ini. Pandanganku sedikit buram mungkin karena terlalu lama berada di balkon"


Bianca tersenyum dan menuruni tangga dibantu dengan mertuanya yang menuntunnya sampai bawah, ketika sudah menginjakkan kakinya di bawah Bianca langsung berjalan ke ruang tengah di sana ada ayah mertuanya. Tuan Kevlar memeluk menantunya itu dan Bianca pun membalas pelukan Ayah mertuanya itu.


"Kenapa kalian tidak berkunjung waktu itu?"


Nyonya Kevlar tersenyum "Kau merindukan kami, sayang?"


Bianca menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, bahkan Ayana ingin bermain dengan oma dan opanya"


“Benarkah?” ucap ibu mertuanya itu gemas sembari mencubit pelan pipi cucunya itu.


"Ayana selalu bermain dengan boneka pemberianmu” ucap Bianca bercerita


Mereka berbincang-bincang cukup lama bahkan Bianca memberitahu soal rencananya yang ingin membuat kejutan untuk suaminya itu, tentu saja mertuanya itu menyetujuinya lagi pula ini jarang sekali dilakukannya.


Setelah menghabiskan waktu sampai sore mertuanya pamit pulang, mereka akan kembali bertepatan dengan hari ulang tahun Axel. Tidak hanya itu saja Bianca juga menghubungi orang tuanya untuk menghadiri pesta kecil-kecilan itu.


"Mama tidak akan menunggu Axel datang terlebih dahulu?"


Nyonya Kevlar berjalan menuju teras sembari menggendong cucunya dan menghela nafasnya “Anak itu... percuma saja jika aku ke sini, dia akan mengatakan bosan melihat wajahku. Dasar anak durhaka" desisnya.


Bianca tertawa dan mengambil alih Ayana dan tertawa mendengar ucapan ibu mertuanya itu, suaminya dan ibu mertuanya itu sangat santai bahkan rasa cinta mereka berdua dapat di rasakan oleh orang di sekitar mereka.


“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu”


“Iya hati-hati ma, pa”

__ADS_1


Mereka melambaikan tangannya pada Ayana "Nanti kita bermain lagi"


"Ayana akan menunggu kedatangan oma dan opa" ucap Bianca sembari melambaikan tangannya dan tangan kecil putrinya itu.


__ADS_2