Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.41 Punya Rasa Terhadapnya?


__ADS_3

Bianca terdiam di atas tempat tidurnya, ia menyandarkan tubuh lemahnya. Tubuhnya terasa sangat lemas mengingat dirinya kemarin malam tidak makan, bibirnya kering dan matanya menatap sayu pintu kamarnya yang masih terkunci.


“Tolong buka pintunya” gunanya lemah


Bianca menangis untuk ke sekian kalinya, ia hanya ingin kebebasan saja. Kenapa suaminya itu harus mencegahnya? Kenapa Bianca terasa pening, ia memejamkan matanya sejenak guna menetralkan rasa sakit di kepalanya itu.


Hingga akhirnya pintu kamarnya pun terbuka, Bianca membuka matanya perlahan. Ia melihat seorang pelayan yang berjalan ke arahnya membawa makanan dan pelayan itu meletakkan nampan itu di dekatnya.


“Nyonya, Anda harus makan”


Bianca mengabaikan ucapan pelayan itu “Di mana Axel?


“Tuan ada di luar kamar in...”


Belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya Bianca dengan tubuh lemahnya itu beranjak dari ranjangnya dan berlari gontai ke arah pintu.


Pelayan itu terkejut dan mengikuti Bianca “Anda tidak boleh ke mana-mana, Nyonya” cegahnya.


Di waktu yang tepat Axel muncul di ambang pintu dengan setelan jas yang sudah rapi. Ia bersedekap sembari menatap Bianca dengan tajam.


“Pergilah” ucap Axel pada pelayannya itu.


Ketika pelayan itu sudah pergi menyisakan mereka berdua di sana, Axel melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Bianca yang sedikit berantakan itu dan Bianca refleks melangkah mundur menghindari Axel.


“Kau tidak akan bisa melarikan diri dari sini”


Bianca tak mendengarkan Axel “Aku mohon biarkan aku pergi dari sini” ucapnya lirih.


Rahang Axel mengeras, ia geram “Sudah kukatakan kau tidak akan pernah keluar dari sini”


“Kenapa bukankah kau tidak menginginkanku ada di sini?” ucap Bianca lirih, ia tidak punya tenaga untuk berteriak lagi.


“Ini demi nama baikku dan kau, jadi berhentilah membantah dan turuti saja apa kataku. Kau boleh pergi jika aku mengizinkanmu tapi jangan pernah mencoba untuk pergi jika aku tidak mengizinkanmu” ucap Axel dengan wajah datarnya.


Bianca sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu “Aku sama sekali tidak mengerti, sebenarnya apa yang kau mau?!” teriak Bianca tertahankan.


Axel menyeringai lalu memegang lembut pipi Bianca “Aku sudah selesai, makanlah makananmu jangan membuatku dan yang lainnya kerepotan”


“Aku pergi” ucapnya lagi lalu melangkahkan kakinya cepat lalu pergi keluar kamar dan kembali mengunci pintu itu dari luar.


Setelah beberapa detik pintu itu terkunci, masih sama. Bianca tetap menggedor-gedor pintu kamarnya itu sembari terisak. Ia beberapa kali memanggil nama suaminya itu tapi tetap saja tidak ada tanggapan dari luar sana.


Axel melirik ke belakang dan menatap pintu itu lekat, di balik tatapan itu ada rasa marah dan khawatir yang bersatu namun Axel tidak menyadarinya. Ia menggenggam erat kunci kamar itu kuat, ada rasa yang tidak ia mengerti yang memenuhi dadanya.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, kau tidak boleh pergi dari sini!” gumamnya penuh penekanan dengan rahangnya yang mengeras.


Axel mengendarai mobilnya dengan geram, ia tidak akan membiarkan Bianca pergi dari rumahnya bagaimana pun caranya wanita itu harus tetap bersamanya. Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengirim beberapa orang pengawal untuk menjaga rumahnya dan mengawasi Bianca.


Sedangkan di dalam kamar tersebut Bianca hanya bisa menangis, ia sama sekali tidak menyentuh makanannya. Yang saat ini ia inginkan adalah keluar dari rumah ini, Bianca kini sudah tidak ingin terikat lagi dengan Axel. Rasa sakit yang di dapatnya sudah cukup, ia akan membebaskan dirinya dan pria itu dari pernikahan ini.


Seiring berjalannya waktu, kini sudah menunjukkan pukul satu siang pintu itu kembali terbuka pelayan yang sama kembali masuk ke dalam kamarnya dengan membawa hidangan makan siang. Pelayan itu sedikit cemas melihat Bianca yang terlelap di atas ranjangnya dengan wajah sedikit pucat apalagi sarapan yang tadi ia bawakan tidak di sentuh sedikit pun oleh Bianca.


Pelayan itu menaruh makan siang Bianca di sana lalu mengambil nampan yang berisi sarapan Bianca yang masih utuh itu dan membawanya pergi. Beberapa saat kemudian pelayan itu menghubungi Tuannya itu dan memberitahukan tentang kondisi Bianca dan setelahnya ia pun menutup panggilan tersebut.


Di sisi lain Axel mengacak-acak rambutnya kesal “Dasar wanita bodoh!” ucapnya.


Sheryl yang juga berada di sana mengerutkan keningnya “Kamu kenapa?” tanyanya


“Bukan apa-apa”


Wanita itu cemberut dan mendekati Axel “Apa ini tentang istrimu? Kenapa lagi dia?” tanyanya malas.


“Dia akan kabur dari rumahku” ucap Axel menghela nafasnya kasar.


“Tidak”


Sheryl menatap Axel tak suka “Kenapa menghela nafas seperti itu? Bukankah kau tidak memperdulikannya atau jangan-jangan kau menaruh perasaan pada wanita sial*n itu?”


“Benarkah?”


Axel tersenyum lalu mengacak-acak gemas rambut Sheryl “Apa ini, kau meragukan ku?” ucapnya


“Tidak, aku hanya tidak rela jika kau bersamanya. Aku akan cemburu, aku sangat tidak menyukai pemikiran itu”


“Tidak, itu tidak akan pernah terjadi”


Sheryl memeluknya erat “Jangan sampai kau mempunyai rasa kepadanya, sampai kapan pun aku tidak akan rela” ucapnya.


Axel tertawa pelan “Iya, akan kuingat itu”


Axel terdiam sembari memeluk kekasihnya itu, pikirannya melayang memikirkan ucapan Sheryl sebelumnya. Apa benar ia memiliki rasa kepada Bianca? Tapi bukankah itu terdengar konyol, bagaimana itu mungkin? Ia benar melakukan hal ini hanya untuk menjaga reputasinya saja.


Sheryl melepas pelukannya lalu menatap Axel dan bertingkah gemas “Honey, aku lihat ada keluaran tas baru dan itu limited edition. Aku menginginkannya, apa kau mau membelikannya untukku?” pintanya.


Axel mengerutkan keningnya, ia menatap kekasihnya itu sekilas lalu kembali mengerjakan dokumen-dokumennya “Bukankah aku baru membelikanmu tas?”


“Iya aku tau, tapi kali ini beda. Aku sangat menginginkannya, please honey, ya?” bujuknya bertingkah gemas sambil menunjukkan gambar tas merek Chanel keluaran terbaru.

__ADS_1


“Bukankah itu terlihat sama dengan yang terakhir kali? Yang kemarin itu juga limited edition” ucap Axel


Wanita itu cemberut lalu menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Axel “Ya sudah, tidak perlu membelikannya untukku. Aku akan membelinya sendiri”


Axel menatap kekasihnya itu sebentar “Ya baiklah, aku akan membelikanmu tas itu” ucapnya sembari menarik tubuh kekasihnya itu agar kembali mendekat ke arahnya.


Wanita itu tersenyum senang, ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Axel “Aku mencintaimu” ucapnya.


Axel tertawa kecil, ia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Sesekali ia melirik ke arah kekasihnya yang duduk di sofa menatap layar ponselnya sembari tersenyum dan terlihat gembira.


“Apa itu sangat seru?” tanya Axel


Sheryl terkejut, ia menetralkan senyumannya “Ada apa, honey?”


“Kau terlihat sangat sibuk, apa seseru itu?”


“Astaga! Apa sekarang kau cemburu dengan benda mati ini?” ucap Sheryl sembari menunjuk ponselnya


“Ya, aku cemburu lagi pula kenapa harus menatapnya sambil tersenyum seperti itu”


Sheryl tertawa lalu menatap lekat kekasihnya itu “Hey, Tuan Axel Kevlar yang terhormat saya ini wanita normal dan tidak memiliki obsesi terhadap benda mati ini” ucapnya formal.


“Lalu apa yang sedang kau lakukan dengan ponselmu itu?” tanya Axel menyelidik.


“Aah, i-ini bukan apa-apa. Aku hanya sedang mengobrol dengan sahabatku”


Axel mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi Sheryl yang terlihat sedikit tegang “Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Wah, itu sama sekali tidak. Lihatlah ini!” ucapnya sambil menunjukkan layar ponselnya.


Axel hanya menganggukkan kepalanya saja, ia tidak dapat melihat jelas isi percakapan itu tapi ia melihat profil teman chatting kekasihnya itu perempuan, ia hanya menghela nafas lega.


“Jangan berlebihan Tuan, aku tidak mungkin berpaling darimu kau itu terlalu berharga untuk di tinggalkan” ucap Sheryl menatap Axel dan tersenyum manis.


“Itu benar, maka dari itu tetaplah di sisiku”


Sheryl kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia membetulkan posisi duduknya dan kembali memainkan ponselnya itu dan mengetikkan beberapa kata lalu mengirimkannya pada seseorang.


Johannes💖


‘Sepertinya rencana ku berhasil, sayang’


Wanita itu tersenyum puas saat pesan itu berhasil terkirim kepada pria yang tengah mengisi hatinya saat ini, pria yang selalu mengerti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2