
Bianca menggeliat dalam tidurnya dan semakin mengeratkan pelukannya mencari kehangatan dan kenyamanan dia mengerutkan keningnya saat merasakan seperti embusan nafas di wajahnya. Bianca berusaha membuka matanya saat merasakan ada yang aneh betapa terkejutnya dia saat melihat Axel berada di hadapannya.
Axel kini tengah memeluk tubuhnya, wajah mereka sangat dekat bahkan embusan nafas pria itu terasa menerpa wajahnya. Bianca di buat terkejut sekali lagi saat menyadari posisi tangannya yang juga sedang memeluk tubuh Axel. Lengannya melingkah indah di tubuh Axel sedangkan lengan Axel kini sedang ia gunakan sebagai bantalan untuk kepalanya. Tak ter bayangkan betapa kencang jantungnya berdegup saat ini.
Bianca menatap ke arah Axel, tampan. Cukup lama ia memandangi wajah Axel sehingga membuat perasaannya menjadi tak karuan. Bianca akan terlihat sangat menyedihkan jika ia membayangkan bahwa Axel itu suaminya yang sesungguhnya yang akan menemaninya seumur hidupnya. Dengan gerakan pelan Bianca menyingkirkan lengan Axel dari tubuhnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Bianca pun turun ke bawah untuk memulai paginya dan sangat kebetulan di bawah sana sudah ada ibunya dan calon ibu mertuanya yang terlihat sedang memasak dan mengobrol dengan bahagiannya bersama.
“Pagi” sapa Bianca menunjukkan senyuman manisnya, ia mengawali paginya dengan ceria.
“Oh pagi sayang” sapa kedua ibunya itu yang juga tersenyum ke arahnya.
“Kau sudah bangun nak? Di mana Axel?” tanya nyonya Kevlar.
“Axel masih tidur ma” jawab Bianca mendapat senyuman dan tatapan bahagia dari calon ibu mertuanya itu karena sudah bisa memanggilnya dengan sebutan mama.
“Apa ada yang bisa aku bantu ma?” tanya Bianca sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.
“Kau bisa masak sayang?”
“Bisa dong ma” ucap Bianca bangga.
“Kalau gitu kau gantikan mama membuat telur dadar ya” pinta nyonya Kevlar.
“Siap ma”
__ADS_1
“Apa di rumah kau juga biasa masak seperti ini nak?” tanya nyonya Kevlar di sela-sela acara masak memasak mereka.
“Iya ma, kadang Bianca juga bantu mama nyiapin makan malam” ucapnya.
Mereka berbicara banyak hal setelahnya. Bianca memotong sayur-sayuran yang nantinya akan ia campurkan ke telur dadarnya dan ia juga memotong sosis berbentuk gurita untuk di goreng nantinya.
Bianca memasak telur dan sosis itu dengan penuh perasaan agar nanti rasanya tidak mengecewakan. Setelah selesai menggoreng telur ia pun melanjutkan dengan sosisnya setelah itu barulah ia menata masakannya itu ke piring dengan cantik.
Bianca beranjak dari dapur menuju meja makan untuk meletakkan masakkannya di atas meja makan, setelah menata meja makan tersebut saat ia ingin berbalik ke kembali ke dapur namun langkahnya di hentikan oleh seseorang.
“Sudah kamu duduk saja di sana” ucap nyonya Kevlar sedikit berteriak.
“Tapi ma kan di sana masih banyak yang belum...”
Bianca pun menuruti perintah ibu mertuanya itu, ia pergi ke kamar utama rumah tersebut mengetuk pintu kamar yang di tempati tuan Kevlar setelah mencoba membangunkan calon ayah mertuanya itu saat mendengar jawaban dari dalam sana ia pun meninggalkan tempat itu dan beranjak pergi ke kamar tamu.
Bianca masuk ke dalamnya berhubung kamar itu tidak terkunci, di dalam sana terlihat ayahnya yang masih tertidur lelap dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya, ayahnya tidur dengan sangat tenang.
“Papa bangun sudah pagi” ucap Bianca menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya.
“Pa... Papa bangun ayo” ucapnya lagi sambil menarik selimut yang menyelubungi ayahnya itu.
Tuan Frans menggeliat dari tidurnya ia merasa terusik dengan apa yang baru saja di lakukan Bianca tapi bukannya bangun Tuan Frans malah kembali menyelimuti tubuhnya mengabaikan keberadaan Bianca yang mencoba membangunkannya.
“Papa ayo udah di tungguin, semua orang lagi nungguin papa pengen sarapan bareng” ucap Bianca berbohong yang sukses membuat ayahnya membuka mata sepenuhnya.
__ADS_1
Bianca tertawa geli saat kebohongannya itu sukses menipu ayahnya itu “Mandilah terlebih dulu pa, masih ada waktu. Mama dan nyonya Kevlar masih masak kok” ucapnya tertawa kecil.
“Kamu ini” rengut ayahnya.
“Ayo buruan” ucap Bianca menarik ayahnya agar bangkit dari tidurnya.
Setelah sukses membangunkan ayahnya dan calon ayah mertuanya kini tinggal satu orang lagi yang perlu ia bangunkan calon suaminya Axel. Dengan langkah cepat Bianca menaiki tangga menuju lantai atas menuju kamar tidur yang di tempatinya bersama Axel tadi malam.
Dan saat ia membuka pintu kamar itu terlihat pria itu masih tertidur pulas dengan posisi tidur ternyaman (menyamping). Bianca berjalan mendekati ranjang lalu naik ke atasnya dengan perlahan mencoba membangunkan Axel dari tidurnya.
“Hey bangunlah sudah pagi” ucapnya menggoyang-goyangkan tubuh Axel namun hasilnya nihil pria itu tidak terusik sedikit pun.
Bianca terus mengguncang tubuh Axel mencoba membangunkan pria itu hingga akhirnya pria itu bersuara “Ada apa?” tanya Axel dengan suara bangun tidur khasnya.
“Bangunlah sudah waktunya sarapan. Semua orang sedang menunggumu di bawah” ucap Bianca berbohong, ia menggunakan trik yang sama saat ia membangunkan ayahnya tadi.
Zonk, reaksi Axel sangat berbeda dengan ayahnya “Makan saja tanpa aku”
Bianca menghela nafasnya “Ayo buruan bangun, mandi terus ke bawah untuk sarapan masih ada banyak waktu” ucap Bianca mencoba membujuk Axel.
“Aku mengantuk, makan saja tanpa aku” kekeh Axel membuat Bianca menghela nafas kasarnya.
“Ya sudah terserah kau saja” ucap Bianca beranjak meninggalkan Axel dengan wajah cemberutnya.
“Pagi-pagi sudah bikin betek aja” rutuk Bianca sembari menuruni tangga.
__ADS_1