
Setelah membersihkan tubuhnya Bianca berjalan menuju riasnya, ia memoleskan lipbalm untuk bibirnya yang kering itu sembari tersenyum bahagia. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya dan saat ia membuka pintu kamarnya itu alangkah terkejutnya ia saat melihat Axel yang juga berada di depan pintu kamarnya.
“Kau ingin ke mana?” tanya Axel datar
“Keluar”
Axel menyipitkan matanya “Sudah kukatakan aku tidak mengizinkanmu pergi dari sini”
“Aku tau, aku hanya akan berada di rumah” ucap Bianca memutar malas bola matanya.
Axel bersedekap lalu menatap Bianca dengan tajam “Tidak hari ini, masuklah kau belum sepenuhnya pulih”
“Aku sudah sarapan dan aku juga sudah meminum obatku. Sekarang aku benar-benar sudah baikan” bantah Bianca.
Axel mengalah, ia menghela nafasnya “Jangan mencoba melarikan diri, ingat itu” ucapnya.
Bianca mengedikkan bahunya, ia malas berdebat saat ini karena keadaan hatinya sedang sangat bahagia. Axel berlalu meninggalkannya ia memperhatikan suaminya yang sedang bersiap-siap untuk ke kantor dalam diam. Bianca beranjak pergi dari depan kamarnya, ia menyapa Bi Asih yang ia temui di dapur lalu kembali melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah mereka.
Bianca menarik nafasnya dalam “Wah, rasanya sudah lama sekali” serunya gembira.
Bianca melihat ke sekelilingnya lalu mengambil peralatan berkebunnya, ia memulai kegiatannya seperti biasanya mengamati dan merawat bunga-bunganya itu. Setelah keluar dari kamar pikirannya menjadi kembali jernih dan kini ia bisa menghirup udara segar entah kenapa seharian di kamar membuatnya merasa sesak.
“Apa Anda ingin teh hijau nyonya?” tanya pelayan yang merawatnya kemarin.
Bianca tersenyum “Boleh, apa cookies juga ada?” tanyanya.
“Ada nyonya, ingin saya bawakan juga?” tanya pelayan itu dan Bianca hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Pelayan itu pergi meninggalkannya dan Bianca kembali melanjutkan aktivitasnya, ia sedikit risih ketika pandangan matanya tak sengaja selalu menangkap sosok pria berbadan besar di sana yang sedang mengawasinya.
Bianca menghela nafasnya, ia heran kenapa pria berbadan besar itu harus mengawasinya juga padahal ia berada di dalam rumah kenapa tidak pergi saja pikirnya.
Axel mendekati pria berbadan besar itu “Tolong awasi dia dengan baik” ucapnya.
“Baik tuan” ucap kedua pria itu.
“GOOD MORNING, EVERYBODY!” teriak seseorang
Bianca menoleh di sana ada ibu mertuanya yang datang secara tiba-tiba tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Senyuman merekah di wajah Bianca dengan cepat ia melangkahkan kakinya menghampiri ibu mertuanya itu. Entah kenapa tapi setiap kali melihat ibu mertuanya itu ia menjadi sangat senang.
“Suaramu terlalu nyaring, nyonya” ucap Axel datar
Nyonya Kevlar mendengus kesal namun senyumannya kembali merekah saat Bianca menghampirinya “Mama” sapa Bianca.
__ADS_1
“Oh sayangku, aku merindukanmu” ucapnya lalu menarik tubuh Bianca ke pelukannya.
Pandangan Nyonya Kevlar tertuju pada pria berbadan besar di belakang Axel “Siapa mereka? Apa rumah kalian kemalingan?”
Bianca tertawa kecil mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu “Tidak, dia pengawal istriku” ucap Axel
Ibunya menyipitkan matanya lalu menatap ke arah Bianca dan Axel secara bergantian “Menantuku? Untuk apa kau berikan dia pengawal, membuatnya tidak bebas seperti itu” omel nyonya Kevlar.
“Mama kan juga tau, saingan perusahaanku semakin banyak. Aku tidak ingin terjadi menanggung risiko besar jika mereka sampai menargetkan istriku” bohong Axel.
“Oh astaga, itu benar! Kau harus berhati-hati sayang, mendengarnya saja sudah sangat mengerikan. Tetaplah bersama mereka, jangan terlalu jauh dari jangkauan mereka” ucap nyonya Kevlar kepada Bianca.
Bianca diam, ia hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia merasa kagum dengan kebohongan suaminya yang terdengar mulus, mungkin sudah di rencanakan sebelumnya.
“Mama datang sendiri?” tanya Axel mengalihkan pembicaraan
“Tidak, papamu ada di ruang tamu”
“Lalu apa yang kalian lakukan pagi-pagi di sini?”
Ibunya mendengus kesal “Apa kau tidak bisa menanyakan pertanyaan dengan baik? Kan besok peringatan kematian Alexa” jelasnya.
Axel seketika terdiam setelah mendengar ucapan ibunya itu. Bianca menyadari perubahan sikap Axel pikirannya melayang mengingat kembali percakapannya dengan ibu mertuanya kemarin, mungkin Axel kembali teringat sosok adiknya karena Alexa adalah orang yang sangat Axel sayangi.
Bianca menatap Axel yang juga sedang menatapnya, ia dapat melihat sorot mata suaminya itu yang terdapat luka di dalamnya namun pria itu berusaha menghilangkannya dengan tatapan tajam dan wajah datarnya itu. Axel tidak menanggapi perkataan ibunya itu, ia melangkah mendekati Bianca kemudian mengecup kening istrinya itu.
Axel menatap tajam Bianca seolah-olah melalui matanya ia berkata “Jangan coba-coba untuk melarikan diri”. Bianca mengangguk paham dan tersenyum setelahnya barulah Axel pergi menghampiri sopirnya dan pergi ke perusahaannya.
“Hah, lihatlah anak itu. Padahal ibunya ada di sini pamit pun tidak” gerutu nyonya Kevlar.
...***
...
Axel menatap kosong layar laptopnya dengan kedua tangannya yang menopang dagunya. Tak lama setelahnya tangannya perlahan bergerak membuka laci mejanya dan mengambil bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto seorang gadis kecil yang cantik.
Axel mengusap foto itu, matanya berkaca-kaca ketika mengingat kenangannya bersama Alexa adiknya itu “Aku merindukanmu” lirihnya.
Suara ketukan pintu membuatnya tersadar dengan cepat ia menaruh kembali foto itu lalu menghapus air matanya yang menggenang itu.
“Masuk”
“Semuanya sudah siap tuan”
__ADS_1
Axel mengangguk “Sebentar lagi aku akan ke sana” ucapnya.
“Baik tuan, permisi”
Axel berdiri dari duduknya lalu menghela nafasnya kasar kemudian ia melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk menghadiri rapat. Waktu berlalu, Axel sudah menyelesaikan rapat itu dan rapatnya pun berjalan lancar.
Ia kembali ke ruangannya sebelum memasuki ruangannya ia menghampiri meja sekretarisnya “Tolong periksakan jadwalku besok” ucap Axel.
Setelah mengatakan hal itu Axel melangkahkan kakinya kembali menuju ruang kerjanya, ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi mahalnya itu lalu menyandarkan kepalanya.
Sekretarisnya datang ke ruangannya memberitahukan jadwalnya besok dan untungnya besok ia tidak memiliki rapat penting dan pekerjaan yang mendesak. Tak lama pintu itu tertutup setelah sekretarisnya keluar pintu ruangannya itu kembali terbuka dan suasana ruangannya menjadi cerah kembali.
“Honey, i miss you” teriak seseorang dengan riang yang baru saja datang menghampirinya.
Axel tersenyum ke arah wanita itu “Kau sangat senang hari ini ada apa?” tanyanya.
Sebenarnya suasana hati Axel sangat kacau hari ini setelah orang tuanya mengingatkannya tentang hari kematian adiknya Alexa tapi entah kenapa saat melihat Sheryl suasana hatinya menjadi sedikit berubah, mungkin karena sifat riang Sheryl yang membuatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum.
“Aku selalu senang saat bersamamu” ucap Sheryl “Tapi aku sedikit kesal, mereka menahanku tidak membolehkanku masuk karena kau tidak bisa di ganggu” rengut Sheryl sembari duduk di sofa.
Axel tertawa kecil ia beranjak dari duduknya menghampiri Sheryl “Maaf, tapi tadi aku ada rapat penting jadi tidak mengizinkan siapa pun mengganggu”
Sheryl mengangguk mengerti, ia menatap heran ke arah Axel “Hem, kau kenapa?” tanyanya tiba-tiba.
Axel mengerutkan keningnya “Aku? Memangnya ada apa denganku?” ucapnya bingung.
“Apa terjadi sesuatu? Wajahmu terlihat tidak baik” ucap Sheryl kembali mengamati wajah Axel.
“Tidak ada yang terjadi”
“Kau bohong” celetuk Sheryl.
Axel tersenyum, memang hanya Sheryl yang mengerti dirinya “Tidak, hanya saja aku kembali teringat Alexa. Besok hari peringatan kematiannya” ucapnya lirih lalu menatap penuh harap kekasihnya itu “Apa kau bisa menghadirinya? Sepertinya besok aku akan sangat membutuhkanmu”
“Ah, maafkan aku honey”
Axel menatap Sheryl kecewa “Aku besok akan melakukan pemotretan untuk majalah baru, sepertinya itu tidak memungkinkan untuk aku hadir” ucapnya.
“Apa tidak bisa di tunda?”
Sheryl menggelengkan kepalanya ia memasang wajah sedih dan menatap sendu Axel lalu memeluk erat tubuh kekar pria itu “Maafkan aku honey”
Axel mengelus kepala Sheryl dengan lembut “Iya, tidak apa-apa”
__ADS_1
Sheryl masih memeluk Axel, ia menyeringai dalam pelukan itu. Bukan tidak bisa tapi ia tidak ingin menghadiri peringatan bodoh itu, itu sangat tidak penting untuknya dan itu hanya membuang-buang waktunya saja. Dalam hatinya ia tersenyum senang karena rencananya sejauh ini berjalan dengan lancar, sangat mudah baginya membodohi pria yang di butakan oleh masa lalu itu.
Benar seperti ini, teruslah berharap padaku Axel Kevlar.