Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.51 Berakhir Sampai Disini


__ADS_3

Axel telah mengurus beberapa kasus yang beredar di media sosial memang belum tuntas karena butuh waktu untuknya menyelesaikan semua ini. Ia berjalan keluar kantornya menuju mobilnya untuk pergi menemui sahabat-sahabatnya, ia sangat beruntung karena di saat seperti ini ia masih punya sahabat yang mau menolongnya.


Ia membuka ponselnya melihat lokasi yang dikirimkan Brandon tentang keberadaan Sheryl, setelah itu ia mengemudikan mobilnya dengan tergesa-gesa meskipun sulit dipercayai tapi bukti yang diberikan Brandon itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.


Setelah sampai dengan cepat ia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe dan menghampiri sahabatnya “Bagaimana?”


“Dia berada di hotel itu” ucap Kevin menunjuk ke arah hotel di seberang kafe tersebut.


Axel kembali mencoba menghubungi Sheryl namun gagal dan setelah dua kali percobaan akhirnya nomor itu bisa terhubung juga.


“Honey!” pekik


Axel memandang ke arah sahabatnya satu per satu, ia menghela nafasnya mencoba untuk tetap bersikap tenang “K-kau di mana? Kenapa tidak bisa dihubungi?” ucapnya sedikit bergetar.


“Maaf honey, tadi aku ada pemotretan jadi ponsel sengaja aku matikan. Maaf tidak mengabarimu sebelumnya” ucap Sheryl.


“Bisa bertemu? Aku merindukanmu dan ada hal penting yang perlu kuberitahu”


Sheryl tertawa kecil “Baiklah, aku juga merindukanmu. Aku akan tunggu di tempat biasa tidak perlu menjemputku aku akan segera ke sana bersama manajerku”


“Baiklah, sampai nanti”


Axel mengakhiri sambungan telepon itu, ia kembali menghela nafasnya kasar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya dan hanya mencoba untuk mempercayai sahabatnya itu, menyuruh Sheryl keluar dan bertemu hanya bagian dari rencana sahabatnya dan Axel hanya mengikutinya saja.


Setelah itu mereka menyusun rencana mereka, Axel melajukan mobilnya menuju kafe di depan kantornya dengan diikuti oleh sahabatnya di belakang sana. Setelah sampai Axel langsung keluar menemui Sheryl sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaannya agar semuanya tidak hancur berantakan.


“Hei” bisik Axel tepat di samping telinga Sheryl.


Sheryl sedikit kaget lalu menatap Axel dengan girang hingga pria itu duduk di hadapannya “Kau mengejutkanku, aku merindukanmu” ucapnya girang.


Sheryl menatap Axel dengan mata berbinar-binar “Apa itu yang perlu kau katakan? Apa itu berita bahagia?” tanyanya.


“Kenapa terburu-buru seperti itu? Setidaknya mari pesan makanan terlebih dulu, aku sangat lapar”


“Ah tidak perlu, aku sedang terburu-buru” tolak Sheryl.


“Kenapa, apa ada pemotretan lagi?”

__ADS_1


Sheryl menggelengkan kepalanya “Bukan, aku ada janji dengan temanku sebelum itu aku ingin melihat wajahmu sebentar karena aku butuh energi” ucapnya tersenyum.


Axel mengernyitkan keningnya “Aku harap itu bukan pria”


Sheryl kelabakan “T-tidak, tentu saja tidak mungkin. Jadi apa kabar baik itu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Axel menatap Sheryl lekat dengan senyuman manis khasnya “Aku sudah menceraikan Bianca” ucapnya.


“Benarkah?” ucap Sheryl terpekik bahagia “Jadi sekarang apa kau akan segera menikahiku?”


Axel menganggukkan kepalanya “Ya, setelah keadaan kembali normal”


“Tidak perlu terlalu dipikirkan berita itu, aku sudah sangat lama menunggu untuk ini” ucap Sheryl berbinar.


Obrolan mereka terus berlanjut dan hanya ditemani segelas minuman kesukaan mereka masing-masing. Hingga akhir Axel berusaha keras untuk menutupi amarahnya terhadap Sheryl, wanita itu benar-benar terlihat menjijikkan karena bisa berakting sebagus ini dan terlihat benar-benar mencintainya.


Sheryl beberapa kali melirik ke arah jam tangannya, ia mencari waktu yang tepat untuk menyela percakapan itu dan mengakhirinya ia harus segera pergi dari sini.


“Apa sekarang sudah waktunya?” tanya Axel yang juga melihat ke arah jam tangannya.


Sheryl menganggukkan kepalanya “Mm, maaf honey tapi aku harus segera pergi” ucapnya memasang wajah yang memelas.


Sheryl berdiri dari kursinya diikuti oleh Axel, wanita itu memeluknya sebelum pergi dari sana. Tepat setelah Sheryl meninggalkan tempat itu Brandon mulai mengikuti mobil Sheryl dan ia kembali duduk di kursinya untuk beberapa saat sebelum akhirnya juga pergi membuntuti Sheryl di belakang mobil Brandon.


Axel menghentikan mobilnya dan keluar dari sana dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh Sheryl. Dave yang juga ada di sana mendekati meja yang di duduki oleh Sheryl dan kekasihnya, Axel dapat melihat dengan jelas dari jauh sana wanita itu memeluk pria lain. Ia mengepalkan erat tangannya, dia benar-benar bodoh tanpa perasaan ragu sedikit pun ia kembali merangkul wanita itu.


Dave menghubungi Brandon melalui ponsel hingga mereka bisa mendengar sedikit banyak apa yang sedang dibicarakan oleh Sheryl dan kekasihnya itu.


Sheryl tak henti-hentinya tersenyum, ia sangat gembira karena tujuannya satu per satu mulai tercapai “Apa sangat menyenangkan setelah bertemu dengannya?” tanya kekasihnya.


“Hem, apa kau tau dia menceraikan istri bodohnya itu” ucap Sheryl tertawa.


“Benarkah, bagaimana bisa?”


“Entahlah mungkin saja Axel sudah muak dengan wanita lugu itu, atau mungkin wanita itu terpancing olehku. Apa pun itu yang terpenting tujuanku sudah hampir tercapai” ucapnya tersenyum.


Pria itu hanya tertawa ikut bahagia atas apa yang dicapai kekasihnya itu “Sekarang kita hanya perlu menunggu setelahnya semuanya akan menjadi milikku. Ini bukan akhir karena dendamku belum terbalaskan semuanya” ucap Sheryl dengan santainya.

__ADS_1


Sheryl tak henti-hentinya membanggakan dirinya yang sudah berhasil menjalankan rencananya itu “Pria itu sangat mudah dibodohi, aku sudah menyebabkan kekacauan sebesar ini tapi dia tidak sama sekali menaruh curiga padaku” ucapnya tertawa.


Pria itu tertawa ia ikut bahagia atas apa yang telah terjadi pada kekasihnya “Baiklah, untuk kemenanganmu mari kita bersulang” ucapnya mengangkat gelas berisi wine diikuti oleh Sheryl.


‘Chaannn’ suara gelas yang saling beradu


Axel geram, ia tidak dapat menahannya lagi dengan amarah yang menggumpal ia berjalan mendekati meja Sheryl sembari bertepuk tangan, hal itu sontak membuat sahabatnya kaget. Hatinya sangat sakit ketika tahu bahwa selama ini wanita yang ia percayai itu benar-benar mengkhianatinya, membohonginya dan membodohi dirinya dengan mudahnya.


“Wah! Selamat atas kemenanganmu nona” ucapnya.


Sheryl tersedak dan menatap Axel dengan wajah yang terkejut “Honey...” ucapnya.


Axel mendengus tak suka “Ternyata aku salah karena terlalu membanggakanmu, tanpa kusadari kaulah yang menusukku seperti ini. Apa sudah puas bermain denganku? Apa lagi yang kau inginkan? Pasti menyenangkan bukan membodohi pria sepertiku”


Sheryl bangkit dari kursinya mencoba menjelaskan kepada Axel “Honey, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan dia hanya teman, dia juga salah satu rekan...”


“Cukup! Sampai kapan lagi kau akan membodohiku? Apa itu sangat menyenangkan ha?!” bentak Axel kasar.


Saat Axel berniat ingin meninggalkan tempat ini dengan cepat Sheryl menahan lengannya “T-tidak, kau tidak boleh pergi. Kau harus mendengarkanku terlebih dulu”


Axel melepaskan tangan Sheryl dengan kasar, ia menatap tajam ke arah kekasihnya itu. Ah bukan, sekarang tidak kekasihnya lagi “Aku tidak perlu penjelasanmu dan lagi mulai sekarang kau bukan siapa-siapa lagi untukku. Jangan pernah mencariku lagi karena aku tidak menginginkan wanita busuk sepertimu” ucapnya kasar.


“Honey, kau salah paham. Ini semua tidak benar bagaimana mungkin aku mengkhianatimu, kau kan tau aku hanya mencintaimu”


Axel menyeringai, wanita itu tidak tahu jika Axel sudah mendengar semua percakapannya. Sheryl tidak mengetahui tentang Dave, yang ia ketahui hanya Brandon dan Mark saja sahabat Axek sejak dulu.


“Ah, apa semua ini karena harta? Aku tidak mungkin memberikannya padamu karena kau hanya orang asing untukku” ucapnya sembari merogoh jasnya mengambil dompetnya dan mengeluarkan blackcard.


“Jika ini aku bisa memberikannya, ini tidak ada limit jadi jangan khawatir untuk kehabisan uang. Untung perusahaanku? Jangan pernah berharap sedikit pun!” ucap Axel sinis.


Axel mengetikkan sesuatu dari ponselnya dan tak lama kemudian ponsel Sheryl berdering “Itu sandinya, jangan terlalu menghamburkan uang karena jika kau hidup seperti itu mungkin kau akan menjadi miskin dan gila nantinya” ucapnya lagi sembari berlalu pergi dari hadapan Sheryl.


“Axel!” panggilan Sheryl frustrasi.


Axel melangkahkan kakinya menjauh dari sana, ia memasuki mobilnya dengan geram dan meninggalkan sahabat-sahabatnya di sana tanpa sepatah kata pun. Ia menancapkan gas pada mobilnya itu dan melaju dengan cepat menuju rumahnya dengan pikiran yang sangat berantakkan. Satu masalahnya sudah selesai, kini entah bagaimana caranya menyelesaikan masalah lainnya yang sedang menunggunya.


Sangat sulit untuk di percaya, ia merasa sangat-sangat bersalah dan malu terhadap ibunya, adiknya dan istrinya. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan semua ini, dalam satu kesempatan yang sama ia menghancurkan tiga hati wanita sekaligus.

__ADS_1


Kata ‘Brengsek’ memang sangat tepat untuknya.


__ADS_2