Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.66 Memutuskan Untuk Kembali


__ADS_3

Axel mendorong kuat tubuh Mark yang berusaha menahannya agar untuk tidak turun dari ranjangnya, ia mengabaikan rasa sakit di kepala dan kakinya itu yang ia inginkan sekarang ini adalah menepati janjinya kepada Bianca.


“Menyingkirlah” bentak Axel pada Mark lalu mendorong pria itu.


Mark terpental ke belakang, ia tak habis pikir dari mana datangnya tenaga seorang pria yang baru saja mengalami kecelakaan itu. Melihatnya langsung membuat Mark menjadi iba atas apa yang terjadi pada Axel, pria ini benar-benar mencintai Bianca tidak bisa di bantah lagi.


“Jangan bawa aku ke tempat terkutuk ini lagi!” kesalnya sembari mencabut selang infus di tangannya.


Axel meringis ketika selang infus itu tercabut dari tangannya dan perlahan cairan merah mengalir dari punggung tangannya itu, Axel melangkahkan kakinya namun rasa sakit di kakinya itu menghantam kuat sekali bahkan ia hampir terjatuh.


“Kau harus tetap di sini, kau perlu istirahat” cegah Mark lagi.


“Menyingkirlah!” teriak Axel menatap marah ke arah Mark “Kubilang menyingkirlah, jangan membuatku marah” ucapnya.


Mark tidak memperdulikan perkataan Axel dan tetap memeluk tubuh Axel dan mencoba untuk menahannya lagi, ia kembali mengeratkan pelukannya saat Axel memberontaknya dengan sekuat tenaga.


Axel menitikkan air matanya terus mencoba melepaskan pelukan itu, ia tidak bisa seperti ini lebih lama lagi. Entah apa yang membuatnya sampai menitikkan air mata karena rasa sakit yang ia rasakan dan rasa ketakutan tentang hilangnya kepercayaan Bianca kepadanya bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Ini memang sakit tapi ia harus menyelesaikan semuanya, ia harus mendapatkan Bianca kembali setelah itu barulah ia akan memikirkan kembali tentang perawatan ini. Darah mengalir di sisi wajahnya hal itu membuatnya meringis kesakitan karena terlalu banyak bergerak ia menjadi mengalami pendarahan lagi.


“A-Axel...” panggil ibunya yang baru saja tiba bersama ayahnya juga.


Nyonya Kevlar menatap putranya dengan iba lalu berjalan mendekatinya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia menatap iba ke arah anaknya. Hatinya sangat terpukul ketika melihat anaknya menderita seperti ini meski ini bukan pertama kalinya ia melihat anaknya seperti ini tapi tetap saja ia merasa sangat takut hal yang lalu terulang kembali.


“Ma, bantu aku melepaskan ini” ucapnya menatap ke arah ibunya sembari memberontak “Ma aku menemukannya, Bianca ada di sini dan aku harus segera menemuinya jika tidak maka dia tidak...”


“Cukup! Cukup nak, hentikan semua ini” teriak nyonya Kevlar sukses membuat Axel terdiam.


Mark melepaskan pelukannya setelah tak lagi merasakan Axel yang memberontak, ia melihat Axel yang terdiam dan menangis. Ia membantu Axel untuk kembali ke ranjangnya, pria itu duduk di tepi ranjangnya dengan darah yang masih mengalir di sisi wajahnya dan punggung tangannya.


Axel menggelengkan kepalanya dan kembali menangis “Tidak ma, Bianca tidak menolakku dia hanya perlu waktu dan aku berjanji kepadanya akan menunggunya karena itu sekarang ini aku tidak boleh berada di sini” ucapnya


“Ma, aku mohon biarkan aku menemuinya jika tidak maka aku akan kehilangannya untuk selama-lamanya dan aku tidak ingin itu terjadi” ucapnya lagi.


Axel berdiri dari duduknya dan mencoba untuk melarikan diri lagi, saat Mark ingin mencegahnya ia menolaknya “Jangan halangi aku lagi!” ucapnya memperingati Mark.

__ADS_1


“Mama hanya perlu mempercayaiku saja” ucapnya lagi menatap ibunya sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu.


Tuan Kevlar hanya bisa diam memperhatikan anaknya itu meskipun dia sangat marah dan kecewa kepada Axel tetap saja sebagai seorang ayah ia tetap merasa terluka melihat putranya itu menjadi seperti ini. Ia tidak menyangka jika anaknya akan melakukan hal membahayakan seperti ini untuk istrinya itu, meski awalnya sulit untuk di percayai tapi kini ia yakin betapa besarnya cinta Axel terhadap menantunya itu.


Tapi tetap saja Axel tidak boleh terus-terusan seperti ini saat Axel berada di hadapannya ingin melewatinya Tuan Kevlar menahan bahu putranya itu “Sudah hentikan, jika dia tidak mau jangan memaksanya lagi” ucapnya.


“Tidak, dia masih mencintaiku dengan melihatnya saja aku bisa tau pa. Papa dan mama hanya perlu mempercayaiku saja jangan pikirkan hal lain” ucap Axel sembari melepas tangan ayahnya yang menahan bahunya itu.


Dengan susah payah ia mencoba melangkahkan kakinya pelan sangat pelan karena semakin lama berpijak kakinya menjadi semakin sakit, belum lagi darah yang mengalir di kepalanya itu membuatnya sedikit pening bahkan setiap detiknya terdengar suara rintihan darinya.


“Axel hentikan, nak!” pekik nyonya Kevlar.


Axel menoleh ke arah ibunya sebentar, ia juga tahu kenyataan itu tapi ia mencoba menyangkalnya karena ia yakin pasti jauh di lubuk hati Bianca pasti masih ada dirinya. Ia tersenyum sendu ke arah ibunya dengan air mata yang kembali jatuh hingga akhirnya suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya.


Axel menolehkan kepalanya ke arah pintu, ia meyakinkan pandangan matanya dan ketika benar ia menatap ke arah pintu dengan mata yang berbinar-binar yang digenangi air mata bahkan bibirnya tak bisa di sembunyikan untuk tidak tersenyum.


“Kenapa lama sekali?” tanya Axel lirih dan dengan susah payah kembali mencoba melangkahkan kakinya mendekati Bianca “Aku merindukanmu, aku terus menunggumu selama ini” ucapnya lagi.

__ADS_1


Bianca yang melihat Axel kesulitan untuk berjalan dengan langkah ragu ia mendekat ke arah Axel lalu memeluk erat pria itu, air matanya mengalir begitu deras sekarang ia tahu bagaimana pun inilah yang dari awal di inginkan hatinya. Ia mengeratkan pelukannya dan tangisannya tidak lagi bisa di hentikan, keadaan Axel sekarang sangat menyakitkan untuknya terlebih lagi dialah penyebab utama hingga membuat pria itu menjadi terluka seperti ini.


“Bodoh” gumam Bianca lirih di sela-sela tangisannya.


__ADS_2