
Hari kelulusan telah tiba, Bianca sangat gembira akhirnya ia dapat menyelesaikan studinya namun ia sedikit sedih karena pria yang berstatus suaminya itu pasti tidak akan hadir karena sibuk bekerja. Ia menghela nafasnya kasar membuang perasaan sedihnya itu karena ia sudah sangat terlalu gugup untuk merasakan sedih di hari seperti ini, Bianca duduk di samping mahasiswa lainnya yang juga akan wisuda.
Setelah satu jam lebih acara kelulusan Bianca melangkahkan kakinya lemah menuju tempat favoritenya untuk terakhir kali. Hari ini dia benar-benar sendiri tidak ada teman maupun keluarganya, Alisya tidak lulus bersamanya begitu pula seniornya Johannes.
“CONGRATULATION!!”
Bianca tersentak kaget saat mendengar teriakan yang sangat meriah itu dari arah depannya, ia sangat terharu saat melihat orang-orang yang ada di hadapannya saat ini semua orang yang di carinya ternyata ada di sini bahkan orang yang tidak terpikirkan olehnya akan datang pun ada di sini.
Tak hanya Alisya dan Johannes di sini tapi kedua orang tuanya dan mertuanya serta sahabat-sahabat suaminya yang hadir sebagai kejutan tak terduga namun pria yang berstatus suaminya itu tidak terlihat sepertinya Axel benar-benar sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa ia sadari ekspresi wajahnya kembali berubah suram saat menyadari ketidakhadiran suaminya itu “Kenapa muram seperti itu nak?” tanya ibunya khawatir.
“Dia mencari suaminya, tante” celetuk Alisya. Bianca hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Selamat atas kelulusanmu anak bayiku” ucap Alisya membuat sebagian dari mereka tertawa kecil.
“Kenapa menantuku jadi anak bayimu? Kalo begitu apa tante harus memanggilmu besan?” tanya nyonya Kevlar yang juga membuat mereka tertawa
Ibu mertuanya berjalan menghampiri Bianca “Selamat ya sayang” ucapnya merangkul Bianca sebentar.
“Kenapa kau mendahuluiku padahal aku ini seniormu” ucap Johannes tertawa kecil
“Itu benar, seharusnya aku juga lulus hari ini” sambung Alisya
Bianca tersenyum meledek “Itu karena kalian sangat pemalas”
Keluarga dan teman-temannya semua sudah mengucapkan selamat kepadanya, matanya tertuju pada sahabat-sahabat Axel dan pikirannya kembali bertanya-tanya kenapa pria itu bisa setega ini sampai tidak hadir di acara kelulusannya sedangkan sahabatnya dan orang tuanya hadir di acara kelulusan Bianca.
__ADS_1
“Selamat ya kami datang untukmu” ucap Perrie istri mark yang kemarin di hari pernikahannya sempat datang.
“Terima kasih kak” ucap Bianca
Brandon mendekat lalu menepuk lengan Bianca sedikit keras “Whoa! Congratulation friends!” pekiknya bersemangat.
Bianca meringis pria itu terlalu heboh. Padahal seingat Bianca mereka tidak seakrab itu sampai boleh memukul seperti ini, tapi Bianca berterima kasih untuk kehadiran mereka semua. Hingga akhirnya Brandon di buat kaget saat seseorang memukul bagian belakang kepalanya.
“Kau mau mati?”
“Sepertinya yang di cari sudah datang, kalau begitu aku pamit dulu ya” ucap Johannes yang di ikuti oleh Alisya karena sepertinya mereka akan canggung jika berada di sana lebih lama.
Bianca menganggukkan kepalanya meskipun sedikit kecewa tapi ia tidak boleh menahan sahabatnya itu karena mungkin saja mereka sedang sibuk. Bianca sangat-sangat berterima kasih kepada Alisya dan Johannes karena sudah meluangkan waktu mereka untuk datang di hari yang sangat penting ini.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Brandon menatap sinis ke arah Axel yang baru saja tiba.
Axel mengabaikan Brandon semua orang yang ada di sana hanya tertawa, Brandon yang ditertawai hanya mendengus kesal.
Kedua orang tuanya dan mertuanya berlalu meninggalkan mereka dan membiarkan Axel dan sahabat-sahabatnya yang merayakan hari kelulusan Bianca. Axel mendekat ke arah Bianca yang terkejut dengan kehadirannya lalu memeluk lembut istrinya itu.
“Selamat atas kelulusanmu sayang” ucapnya memeluk erat Bianca.
Jantung Bianca berdegup kencang perlakuannya di lembut Axel membuatnya salah tingkah terlebih di hadapan teman-temannya “T-terima kasih” ucapnya.
Axel memberikan buket bunga mawar kesukaan Bianca, ia mengecup kening Bianca singkat. Bianca terkejut sekaligus malu sudah di pastikan saat ini wajahnya sangat merah seperti kepiting rebus apalagi sahabat Axel bersorak.
“Lihatlah manusia ini tidak tau malu sekali” celetuk Brandon si jomblo akut.
__ADS_1
“Makanya menikahlah jika tidak tolong berkencanlah” ledek Axel
Mereka semua tertawa begitu pula Bianca yang tertawa kecil. Banyak yang datang hari ini dan ada sekitar empat orang yang tidak ia kenali dan sepertinya ia juga tidak melihatnya di hari pernikahannya.
Seorang pria yang asing bagi Bianca menyadari tatapan Bianca mengulurkan tangannya lalu memperkenalkan dirinya “Meskipun terlambat perkenalkan aku Dave sahabat Axel dan ini istriku Sherena. Selamat atas pernikahan kalian, maaf saat itu kami tidak bisa hadir” ucapnya panjang lebar.
Bianca menerima uluran tangan tersebut “Ah Bianca, terima kasih” ucapnya sedikit canggung.
Istri Dave mendekat lalu menyalami Bianca “Aku Sherena” ucapnya.
Mereka berbincang dan bercanda banyak hal pada akhirnya pandangan mata Bianca tertuju pada Sherena yang sibuk mengelus perut buncitnya.
“Kak Sheren, berapa usia kandunganmu sekarang?” tanya Bianca berbinar. Satu fakta lagi tentang Bianca dia sangat menyukai anak kecil karena dia anak tunggal tidak ada kesempatannya untuk merawat anak bayi.
“Hem, tujuh bulan ini tidak lama lagi”
Bianca tersenyum ia juga berharap bisa mengandung dan memiliki anak yang lucu suatu saat nanti, ia masih menatap perut buncit Sherena itu dengan tatapan berbinar seakan itu menghiburnya dan menenangkannya.
Sherena yang menyadari itu menarik tangan Bianca dan meletakkannya di atas perut buncitnya “Peganglah”
Bianca terkejut dengan tindakkan itu tapi tetap mengelus perut Sherena dengan hati-hati hingga akhirnya janin yang ada di dalam sana memberi respons padanya “Wah! Dia menendangnya” ucap Bianca heboh sendiri.
Sherena dan Perrie tertawa melihat tingkah Bianca yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Axel yang melihat itu hanya terdiam, tubuhnya seketika kaku saat melihat istrinya menatap perut Sherena dengan tatapan yang berbinar-binar wanita itu terlihat bahagia.
“Semoga kau segera mendapatkannya” ucap Sherena menepuk perut rata Bianca.
Bianca hanya tersenyum canggung mendengar ucapan itu. Saat itu ia tersadar kalau memiliki anak itu hal yang mustahil untuknya bukan hanya Bianca saja tubuh Axel menegang seakan perkataan Sherena itu menampar keras dirinya, entah apa yang salah dengannya hari ini.
__ADS_1