Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.12 Hari Pernikahan II


__ADS_3

Bianca terbangun dari tidurnya, ia mengerjap-kerjapkan matanya beberapa kali sebelum sepenuhnya membuka mata. Bianca berbalik badan ke arah sebelahnya dan terlihatlah Axel yang serang terlelap dan tanpa ia sadari bibirnya membentuk sebuah senyuman saat menatap pria itu.


Wajah Axel terlihat polos dan damai saat sedang terlelap sangat berbeda dengan Axel yang biasa selalu memperlihatkan wajah datarnya itu, Bianca mengatur posisi tubuhnya lalu kembali menatap lekat wajah damai pria itu.


“Seandainya perjanjian itu tidak ada pasti aku sudah menaruh hati padamu”


Ucapan itu terlintas di pikiran Bianca begitu saja secara tiba-tiba tanpa ia sadari entah apa yang salah dengannya. Saat menyadari ucapannya tersebut Bianca bangkit dari baringnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hah, Bianca apa yang baru saja kau pikirkan. Sadarlah” gumamnya pelan lalu menatap ke arah Axel sekilas sebelum turun dari tempat tidurnya.


Bianca melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh sore, ia pun memutuskan untuk ke kamar orang tuanya terlebih dahulu. Kurang lebih tiga puluh menit di sana ia pun kembali ke kamar hotelnya dan masih sama seperti saat ia meninggalkan kamar itu Axel masih tertidur.


Masih ada waktu dua jam lagi sebelum acara di mulai Bianca pun memutuskan untuk mandi terlebih dulu. Ia keluar dari kamar mandi setelah tiga puluh menit membersihkan dirinya dan bahkan saat itu Axel masih juga terlelap.


“Sepertinya dia sangat kelelahan”


Bianca berjalan mendekat ke arah tempat tidur lalu menaikinya ia mencoba membangunkan Axel dari tidurnya meskipun sedikit tak tega tapi ia bisa apa karena acara mereka akan di mulai dalam waktu satu setengah jam lagi dan mereka belum bersiap-siap.


“Hey bangunlah” ucap Bianca mengguncang tubuh Axel


Hanya dalam dua kali percobaan akhirnya Bianca berhasil membangunkan Axel dari tidurnya namun Bianca di buat tidak enak hati karena kini Axel tengah menatap tajam ke arahnya.


“A-aku tau kau lelah tapi kita tidak punya banyak waktu lagi” ucap Bianca sedikit takut “Ka-karena itu bangun dan mandilah” sambungnya lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Axel menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya kasar “Hah, aku tau”


Axel bangkut dari baringnya lalu berjalan menuju kamar mandi, beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Bianca berjalan ke arah pintu dan membukanya terlihat beberapa orang dari tim perias dan membawakannya gaun dan jas yang akan di pakainya dan Axel nanti.


“Apa kau menyukainya sayang?” tanya nyonya Kevlar yang juga datang bersama rombongan perias itu.


Bianca menganggukkan kepalanya “Iya ma, ini sangat cantik aku menyukainya”


“Syukurlah, mama memesan ini saat pertemuan kita yang pertama. Mama pikir itu akan sangat cantik jika kau yang memakainya” jelas nyonya Kevlar bangga.

__ADS_1


Bianca menoleh ke arah mertuanya itu, terkejut ia tak percaya dengan ucapan mertuanya itu. Ia tidak menyangka jika gaun ini di pesan langsung oleh ibu mertuanya itu pikirnya itu baju yang di sediakan oleh butik tempat ia memesan gaun pernikahannya yang ia pakai tadi pagi saat upacara pemberkatan.


Bianca memeluk mertuanya senang “Terima kasih ma, aku sangat menyukainya” ucap Bianca haru lalu mengeratkan pelukannya.


“Kau menangis sayang?” tanya mertuanya


“Tidak ma, hanya saja aku terlalu senang”


Bianca tidak dapat menahan harunya melihat ibu mertuanya yang memikirkan dirinya dengan tulus meskipun Axel tidak menerima kehadirannya setidaknya ia masih memiliki mertua yang benar-benar tulus menerimanya.


Di sisi lain terlihat pria yang sedang bersandar di depan pintu kamar mandi dengan tangan yang di lipat di depan perutnya, ia melihat Bianca yang memeluk ibunya sambil menangis.


Axel menghela nafasnya kasar “Apakah ini akan membebaninya? Hah, tapi aku benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini”


“Axel kemarilah nak” panggil ibunya membuyarkan lamunannya.


Axel berjalan ke arah ibunya “Kalian bersiap-siaplah waktu tidak banyak lagi, kalau begitu mama tinggal dulu” ucap nyonya Kevlar


...***


...


Acara telah di mulai tamu undangan sudah memenuhi gedung ini, Bianca sangat gugup jantungnya berdetak sangat cepat. Bianca dan Axel menuruni tangga menuju bawah bersama saling bergandengan tangan seketika para tamu langsung tertuju kepada mereka berdua. Bianca semakin gugup kemudian ia merasakan Axel yang menggenggam tangannya.


“Tenanglah” ucap Axel pelan


Waktu berlalu cepat, kaki Bianca terasa pegal dan sakit ketika menggunakan high heels terlalu lama belum lagi sedari tadi ia harus berdiri menyalami tamu undangan yang datang menghampirinya dan Axel yang sebagian besar dari mereka adalah rekan bisnis Axel dan ayah mertuanya.


Axel menghela nafasnya kasar lalu membuka jasnya dan memakaikannya ke pundak Bianca. Bianca menatap Axel dengan dahi yang mengerut, ia bingung kenapa Axel melakukan itu padahal ia tidak kedinginan malah ia merasa sedikit gerah saat ini.


“Pakai saja, bajumu terlalu terbuka” ucap Axel saat menyadari tatapan Bianca.


Bianca tersenyum kecil, jantungnya berdegup sangat kencang. Dalam hati ia bersorak bahagia ternyata pria itu tidak sepenuhnya mengabaikan dirinya. Sudah satu jam lebih sejak acara di mulai tidak lagi tamu yang menghampiri mereka namun Bianca tetap tidak bisa duduk karena merasa tak nyaman karena Axel masih berdiri.

__ADS_1


Axel yang menyadari jika kini wanita itu berdiri dengan tidak nyaman pun menyuruhnya untuk duduk “Tapi, aku juga harus...” ucap Bianca terhenti.


Axel menghela nafasnya kemudian duduk lalu menarik tangan Bianca untuk mengikutinya “Jangan di paksa itu akan menyakitimu” ucapnya.


“Y-ya terima kasih” ucap Bianca gugup ketika Axel memandanginya.


Namun itu tidak untuk waktu yang lama. Bianca kembali berdiri ketika tiga orang pria datang menghampiri mereka dan sepertinya mereka adalah sahabat Axel.


Bianca tersenyum canggung kepada ketiga pria itu. Brandon, Kevin dan Mark adalah sahabat Axel mereka sudah bersahabat sejak masih di bangku sekolah menengah. Bianca terus tersenyum saat matanya bertemu dengan sahabat-sahabat Axel itu. Selama Axel berbincang-bincang dengan sahabatnya itu Bianca terus berdiri tak nyaman di samping Axel.


“Ah iya, selamat ...” ucap Brandon terhenti, ia tidak mengingat nama istri dari sahabatnya. Brandon mengedarkan pandangannya ke arah sahabat-sahabatnya itu meminta bantuan.


Bianca yang menyadari hal itu menyambut uluran tangan Brandon dan tersenyum ke arahnya “Bianca” ucapnya.


“Haha benar Bianca, aku melupakannya haha” ucap Brandon tertawa canggung.


...***...


Acara telah selesai, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Bianca tidak menyangka jika resepsinya akan selama ini. Bianca dan Axel kembali ke kamar mereka, ketika sampai di dalam kamar dengan cepat ia melepas high heelsnya lalu berlari ke tempat tidur merebahkan tubuhnya dan menghela nafasnya lega.


Axel yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Bianca menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup itu, ia sangat berterima kasih kepada Axel karena Axel yang memaksanya untuk tetap duduk dan ia tidak harus berdiri sepanjang acara. Tanpa sadar Bianca memejamkan matanya dan terlelap.


Axel keluar dari kamar mandinya dan melihat Bianca yang sudah tertidur tanpa mengganti pakaiannya dan membersihkan diri terlebih dulu. Axel melangkahkan kakinya mendekat ke arah tempat tidur dan mencoba membangunkan Bianca.


“Hey bangun” ucap Axel


“Bianca, bangunlah”


Bianca melenguh kemudian matanya terbuka, ia tidak sadar jika dirinya tadi tertidur.


“Bangunlah bersihkan dirimu terlebih dulu” perintah Axel.


Dengan malas Axel melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia tidak merendam tubuhnya dan hanya mandi biasa saja ia sangat lelah saat ini tidak ada tenaga yang bisa di kuras untuk berlama-lama di kamar mandi. Setelahnya ia keluar dari kamar mandi dan saat ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur ia melihat Axel yang masih terjaga dan sedang berkutat dengan tabletnya. Bianca mengabaikan Axel dan langsung menaiki tempat tidur menyelimuti tubuhnya lalu memejamkan matanya tanpa mengatakan sesuatu. Kini ia sudah sepenuhnya tertidur dan masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2