
Axel menopang dagunya, alisnya bertaut senada dengan kening yang mengerut kebingungan dan heran memikirkan apa alasan sebenarnya sampai ia mendapat laporan jika salah satu karyawannya berniat untuk menghancurkan perusahaannya.
Axel memijit pelan pangkal hidungnya “Sialan! Sebenarnya apa alasannya sampai ingin melakukan itu?” gumamnya geram.
Axel berpikir keras kenapa sebenarnya karyawannya itu ingin menghancurkan perusahaannya? Tidak ada unsur dendam pribadi dan jika mata-mata perusahaan lain itu juga suatu yang mustahil karena karyawannya itu sudah cukup lama bekerja di perusahaannya. Axel sudah mengambil tindakan atas penggelapan dana yang di lakukan karyawan itu selain memecatnya Axel juga sudah menggugatnya.
Tak hanya sampai di situ, satu hal lagi terjadi padanya secara bersamaan ia mendapatkan sebuah surat yang berisi ancaman pembunuhan dan isi surat tersebut di tulis dengan darah 'Aku akan Membunuhmu'
“Axel”
Axel mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang sangat ia kenali itu memanggilnya dengan bergetar “Mama, Papa, ada apa kemari?” tanyanya.
Rasa kekhawatirannya semakin memuncak saat melihat kedua orang tuanya yang tiba-tiba mengunjunginya terlebih raut wajah gelisah dan khawatir terlibat jelas di wajah kedua orang tuanya itu.
“Apa kau baik-baik saja, nak? Mama dan papa sangat mengkhawatirkanmu” tanya nyonya Kevlar dengan suara yang masih bergetar.
Tuan Kevlar mendekat ke arah Axel dan tak sengaja melihat surat ancaman pembunuhan itu di atas meja Axel “Kau mendapat ancaman pembunuhan?” ucapnya kaget yang sontak membuat nyonya Kevlar ikut kaget.
Mereka tidak mengetahui tentang ancaman pembunuhan itu, alasan mereka kemari karena mendapat kabar jika putranya itu di khianati oleh karyawannya dan melakukan penggelapan dana yang jika terlambat ketahuan bisa saja membuat perusahaannya hancur.
“Apa yang sebenarnya terjadi nak?” tanya ibunya yang menjadi semakin gelisah “Lalu Bianca, ada di mana dia? Apa kau meninggalkannya sendirian?” tanyanya lagi.
Pertanyaan ibunya itu membuat pikiran Axel semakin keruh, ia ikut gelisah memikirkan bagaimana dengan istrinya tapi bukankah tidak akan terjadi apa pun? Karena kan istrinya itu berada di rumah, ia juga sudah melarang istrinya itu untuk keluar jika sendirian karena ayahnya ini juga sempat memperingatinya sebelum peresmian pembukaan cabang baru di Paris waktu itu.
Tuan Kevlar menarik tangan Axel dan membawanya untuk duduk di sofa, mereka duduk bersebelahan dan ayahnya itu menepuk pundaknya “Ini biasa terjadi nak, papa juga pernah mengalami hal seperti ini walaupun tidak sampai mendapatkan ancaman pembunuhan seperti ini” ucap ayahnya menghela nafas kasar.
“Papa akan berusaha melindungi kau lalu untuk mama, papa kami bisa mengatasinya sendiri. Yang penting kau harus waspada dengan sekitar dan jaga istrimu dengan baik, jangan sampai lengah bisa saja mereka menargetkan istrimu terlebih dahulu untuk menjatuhkanmu” jelas ayahnya.
Axel terdiam, ini pertama kalinya ia mendapatkan ancaman seperti ini dan yang membuat pikirannya semakin kacau adalah istrinya, apa ini benar-benar akan mempengaruhi Bianca juga? Tidak itu tidak boleh sampai terjadi, bagaimana pun ia harus melindungi istrinya itu segenap jiwanya dan tidak ada yang boleh menyakiti istrinya itu.
__ADS_1
Nyonya Kevlar menggelengkan kepalanya membuyarkan pikirannya yang lari ke mana-mana memikirkan hal buruk yang mungkin saja menimpa anak dan menantunya itu “Tidak bisa begini nak, untuk sementara mama dan papa akan tinggal di rumahmu menemani Bianca sampai tidak lagi ada ancaman itu” usul ibunya itu dengan raut wajah cemas.
“Apa mertuaku akan menjadi sasarannya juga?” tanya Axel pada ayahnya itu.
“Mungkin saja itu juga terjadi”
Axel mengusap kasar wajahnya, kenapa bisa terjadi seperti ini? Apa salahnya jika perusahaannya menjadi sukses setelah ia bekerja keras untuk semua ini? Kenapa ia harus mendapat ancaman seperti ini, apa salah dirinya?
Axel memejamkan matanya dalam “Tidak bisa di biarkan, aku juga akan meminta mereka untuk tinggal di rumahku sementara. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kalian” ucapnya menatap gelisah ayah dan ibunya itu.
Nyonya Kevlar dan tuan Kevlar mengangguk setuju, setidaknya ini harus di lakukan untuk pencegahan saja karena pikiran dan hati seseorang tidak ada yang tahu.
Axel mengepalkan tangannya kuat, jantungnya berdebar sangat kencang, kepalanya terasa panas dan ia terus memikirkan istrinya yang berada di rumah. Ia harus mengusut siapa dalang di balik ancaman pembunuhan ini, jika tidak mungkin akan semakin membahayakan untuknya dan keluarganya nanti.
Tak lama setelah kedua orangnya itu pulang Axel langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja kerjanya lalu mencoba menghubungi istrinya itu namun tidak di jawab, setelah mencoba beberapa kali tak juga di jawab dan membuat Axel semakin cemas ia pun mencoba menghubungi telepon rumahnya.
Axel menutup laptopnya dan berjalan keluar dari ruangannya dengan ponsel yang masih berada di telinganya menanti jawaban dari seberang sana. Setelah beberapa kali berdering akhirnya panggilan itu pun terhubung.
“Di mana Bianca?” tanya Axel langsung
“Nyonya sepertinya ada di kamarnya tuan, dari tadi pagi belum ada turun tuan” jelas bi Asih yang menjawab telepon itu.
“Baiklah bi, terima kasih” ucap Axel sebelum mengakhiri sambungan telepon itu.
Axel menancapkan gasnya tergesa-gesa, kenapa istrinya itu tidak keluar dari kamar seharian? Tak butuh lama untuknya tiba di kediamannya dan dengan cepat ia melangkahkan kakinya memasuki rumahnya itu.
“Sayang”
Axel berteriak dan membuka pintu kamarnya, ia dapat melihat istrinya yang kini tengah terbaring di atas kasurnya dan menatapnya lemah bahkan istrinya itu tidak berganti pakaian sejak pagi dan masih menggunakan baju tidurnya kemarin malam.
__ADS_1
“Kamu kenapa, hem? Aku menghubungimu berkali-kali tapi kenapa tidak di angkat? Apa kau baik-baik saja? Kenapa tidak keluar dari kamar, apa yang terjadi?”
Bianca hanya menatap lemah ke arah Axel yang terus mencerocos tak henti-henti itu lalu menghela nafasnya kasar “Aku tidak mendengar ponselku berdering” ucapnya sembari meringis.
Seketika Axel menjadi panik “Ada apa? Kenapa, apa yang terjadi? Kau sakit?” tanyanya.
“Tenanglah, perutku hanya kram saja” jelasnya.
“Ingin kupanggilkan dokter?”
Bianca menggelengkan kepalanya cepat “Tidak, jangan lakukan itu. Ini akan segera membaik” ucapnya.
“Kau pasti belum makan siangkan? Apa ini bentuk pemberontakan karena aku tidak mengizinkanmu kembali bekerja?” tanya Axel
Bianca menggeleng pelan “Tidak, aku bahkan sudah melupakan hal itu” ucapnya meringis sembari memegang perutnya.
“Kau pasti sangat kesal bukan? Maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa mengizinkanmu untuk kembali bekerja, aku bukan egois tapi itu semua kulakukan untuk kebaikan kita juga” jelasnya.
“Maaf juga jika perkataanku menyakitimu aku tidak akan mengulanginya lagi, tapi kau bisa mengertinya bukan? Jika sudah saatnya kau boleh kembali bekerja untuk sekarang tetaplah di rumah, boleh?” tanya Axel lagi dengan lembut.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia mengerti hanya saja tadi itu emosinya sulit di kontrol sehingga membuatnya jadi terbawa suasana dan berakhir seperti tadi. Bianca menarik tangan Axel menuju perut bagian bawahnya dan ia menempelkan tangan suaminya itu di sana.
“Biarkan seperti ini tanganmu hangat” ucapnya lemah sembari memejamkan matanya.
Axel menelan salivanya dengan kasar, ia kaget dengan tindakan istrinya yang tiba-tiba itu “Tapi ini kan masih sore kenapa sudah pulang? Apa terjadi sesuatu?” tanya Bianca dengan mata yang terpejam.
Axel mengusap rambut istrinya itu pelan dengan tangan kirinya “Tidak apa, sekarang tidurlah aku akan menceritakannya nanti setelah kau bangun” ucapnya.
Bianca menahan tangan Axel yang berada di perutnya itu “Tetaplah seperti ini, jangan di lepas” ucapnya saat merasakan kehangatan yang menjalar di kulitnya.
__ADS_1
Axel mengecup pelan kening Bianca yang terkadang mengerut itu, ia tahu jika perut istrinya itu sangat sakit. Melihat Bianca yang terbaring lemah seperti ini membuatnya semakin membulatkan tekadnya untuk menyelesaikan ini secepat mungkin dan menjaga istrinya itu segenap jiwanya bahkan tak peduli jika harus mengorbankan nyawanya.
Karena sekarang tidak ada yang lebih penting dari istrinya, Bianca.