
Beberapa hari kemudian di rumah yang damai itu terdengar sedikit kebisingan yang memenuhi halaman belakang rumah tersebut, Bianca jingkrak-jingkrak kesenangan karena suaminya itu mengabulkan permintaannya untuk membangun rumah kaca di halaman belakang. Bianca mengeratkan pelukannya pada toples cookiesnya sembari memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang untuk membangun rumah kaca tersebut.
“Di mana suamimu nak?” tanya nyonya Veronica pada anaknya itu.
“Katanya ada rapat penting ma, jadi dia berangkat ke kantor”
Nyonya Veronica menganggukkan kepalanya mengerti, kini sudah tiga hari juga lamanya ia menginap di rumah menantunya itu. Ibunya itu menatap ke arahnya lalu mengelus lembut rambut Bianca, ia ikut tersenyum melihat anaknya yang tengah tersenyum menatap rumah kacanya itu.
“Apa kau sesenang itu, sayang?”
Bianca menganggukkan kepalanya sembari memakan cookies nya itu “Tentu saja karena suamiku mengabulkan permintaanku” ucapnya gembira.
“Ya sudah, mama tinggal ke dalam dulu ya” ucap ibunya itu dan berlalu pergi dari sana.
Tak lama setelah kepergian ibunya itu Bianca pun bangkit dari duduknya berniat untuk pergi ke kamar tidur namun setelah perjalanan ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya itu, ia membalikkan tubuhnya dan menuruni tangga. Ia berlari menuju pintu depan ketika sampai di ruang tamu ia melihat Axel yang berjalan masuk ke dalam dengan penuh semangat ia berlari menuju ke arah suaminya itu.
Pria itu tersenyum ke arah Bianca, ia menghentikan langkahnya lalu merentangkan tangannya dan dalam sekejap Bianca berhambur ke dalam pelukan suaminya itu dengan sigap Axel mengangkat tubuh Bianca yang kini berada dalam gendongannya.
“Astaga Bianca, apa yang kau lakukan nak?” pekik ibunya kaget melihat tingkah putrinya yang seperti anak kecil itu.
Axel tertawa pelan “Tidak apa ma, sepertinya dia sangat merindukanku” ucapnya menggoda istrinya itu.
Ibu mertuanya itu hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu menuju dapur. Axel mendongakkan kepalanya menatap istrinya itu sembari tersenyum.
“Ada apa, hem? Apa kau merindukanku?” tanya Axel tersenyum gemas pada istrinya itu.
Bianca hanya tersenyum lalu menenggelamkan kepalanya di pundak suaminya itu, ia juga tidak mengerti kenapa ia seperti ini tapi yang pasti dia sangat merindukan suaminya itu meski hanya di tinggal beberapa jam saja tapi rasa rindunya sebesar itu.
“Mau pergi keluar denganku?” tanya Bianca pada Axel
__ADS_1
“Kau ingin pergi ke mana?”
Bianca berpikir sejenak “Tidak tau, terserah ke mana saja yang penting harus keluar denganku” pintanya.
“Ya sudah, biarkan aku mandi dulu oke?” tanya Axel dan istrinya itu hanya diam sembari menganggukkan kepalanya.
Axel menuruti permintaan istrinya itu karena sepertinya Bianca sangat bosan jika terus berada di rumah lagi pula sudah lama istrinya itu tak keluar dan istrinya akan aman karena pergi bersamanya. Bianca mengeratkan pegangannya pada leher Axel ketika pria itu membawanya menuju kamar dalam posisi yang masih menggendongnya itu.
Kini Axel dan Bianca berada di mobil dalam perjalanan membeli wafel karena istrinya itu tiba-tiba menginginkan wafel. Ketika sudah sampai dan menunggu beberapa waktu akhirnya wafel itu sudah berada di tangan Bianca dan Axel pun kembali melajukan mobilnya berkeliling.
Ia melirik ke arah istrinya yang hanya memegang wafel itu tanpa memakannya “Hey, kenapa tidak di makan? Nanti wafelnya dingin akan sulit untuk di makan” ucap Axel pada Bianca.
Bianca mengerucutkan bibirnya “Aku tidak ingin lagi, kau terlalu lama mengantrenya” cibirnya tak suka.
“Sayang tapi ini kan masih hangat” ucap Axel menyentuh wafel itu.
Bianca menyodorkan wafel itu ke arah Axel “Ya sudah kalau begitu kau saja yang makan, aku tidak ingin itu” kekehnya.
Bianca menggelengkan kepalanya “Tidak, aku ingin kau yang memakannya”
“Lalu untuk apa menyuruhku membeli ini?” tanya Axel yang kekeh menyuruh istrinya itu untuk memakan wafelnya.
Bianca menatap suaminya itu sinis “Cepat, makan saja!” kesalnya.
Axel mengerutkan keningnya dan mengambil wafel itu dari tangan istrinya bahkan saat ini ia sedang berkendara namun di paksa untuk memakan wafel milik istrinya itu. Kali ini dirinya benar-benar mengalah untuk menuruti perkataan Bianca dan ia pun memakan wafel itu perlahan sembari berkendara.
“Kau ingin ke mana lagi?” tanya Axel dengan mulut yang masih sibuk mengunyah itu.
“Korea”
__ADS_1
Axel tersentak kaget dan tersedak wafel yang ada di mulutnya itu seketika ia menghentikan mobilnya secara mendadak. Bianca melotot dan menatap Axel terkejut dengan tindakan Axel yang sangat tiba-tiba itu.
“Bagaimana bisa kau berhenti mendadak seperti itu? Jika kita kecelakaan gimana?” tanya Bianca mengomel.
Axel melongo, ia melihat istrinya itu yang marah-marah kepadanya “Korea? Kau benar-benar ingin ke Korea?” tanya Axel memastikan pendengarannya.
Bianca memutar bola matanya jengah “Kau punya telinga bukan?” cibir Bianca kesal.
“Kau serius sayang?” tanyanya namun dengan cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya “Ah tidak-tidak, sayang kau baik-baik saja bukan?” tanyanya heran sekaligus khawatir.
Bianca mendengus kasar, ia bersedekap dan mengalihkan pandangannya ke samping “Ya sudah, ayo pulang saja. Tapi sebelum itu belikan aku kelinci yang bulunya seperti singa” ucapnya sungguh-sungguh.
Axel menatap Bianca lagi dengan tertawa meremehkan “Yang benar saja, di mana kau pernah melihat kelinci seperti itu?” ledeknya.
Bianca berdecak kesal, ia memukuli Axel bertubi-tubi namun kemudian ia ikut tertawa saat terlintas bagaimana wujud seekor kelinci yang berbulu singa itu di pikirannya. Axel semakin tidak mengerti, ia hanya bisa diam menatap ke arah istrinya yang tiba-tiba tertawa padahal sebelumnya kesal kepadanya.
Semakin hari sikap istrinya itu semakin aneh menurutnya, apa ini bentuk perubahan yang dikatakan Dave dan Mark saat itu? Apa istrinya hamil? Tapi tidak mungkin bukan soalnya Bianca tidak mengatakan apa pun padanya dan istrinya itu juga terlihat seperti tidak tahu tentang perubahannya itu.
...****************...
Di tengah malam hari Bianca terbangun dari tidurnya saat ia membuka matanya ia dapat melihat suaminya yang tertidur lelap sembari memeluknya. Dengan gerakan pelan ia menyingkirkan lengan Axel hang melingkar di pinggangnya, ia mengambil sebuah testpack di laci nakas samping tempat tidurnya itu.
Sepulang dari jalan-jalan tadi sore bersama suaminya itu, Axel menceritakan sikap konyolnya kepada ibunya dan sebelum ia masuk ke kamarnya untuk tidur ibunya itu memberikan sebuah testpack kepadanya untuk berjaga-jaga siapa tahu itu tanda-tanda kehamilan.
Bianca mencoba testpack itu sebelumnya ia sudah merasa mungkin saja ia hamil tapi saat mengecek di internet keterlambatan datang bulan itu hal yang wajar bagi wanita karena selain kehamilan bisa juga karena terlalu stres. Karena ia tidak memiliki tanda-tanda kehamilan sebelumnya ia hanya menganggap itu bukan hal serius dan keterlambatan siklus menstruasinya di karena kan stres.
“Huh, oke tenanglah Bianca” ucapnya ketika jantungnya berdebar sangat kencang.
Bianca memberanikan dirinya untuk membuka matanya melihat hasil testpacknya itu, ia menghela nafasnya kasar dan mengusap air matanya yang mengalir dan kembali memejamkan matanya. Bianca menutup mulutnya agar tangisannya tidak kedengaran oleh Axel, ia menatap testpack itu berkali-kali.
__ADS_1
Hah, akhirnya...