
Axel berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit, ia menggendong Ayana dan tersenyum sesekali Axel menjawab pertanyaan dari anaknya yang kini sudah berumur dua puluh bulan lebih tersebut. Ayana kini perlahan kata demi kata sudah mampu berbicara meskipun terkadang hanya bergumam tidak jelas Axel dapat mengetahui pasti apa yang di ucapkan putrinya itu.
“Daddy, itu apa?” tanya Ayana penasaran dengan logat khas anak keci sembari menunjuk ke arah poster anak-anak bayi di lorong rumah sakit tersebut.
“Itu dedek bayi, teman-temannya Ayana” jawab Axel
"Sebentar lagi Ayana akan punya adik dan teman main" Axel tersenyum frustrasi "Kamu ingatkan setiap pagi kita cium perut Mommy? Sekarang kita sudah bisa cium langsung dedek bayinya” ucap Axel
“Yeey! Aya munya dedek” pekiknya senang Axel ikut senang melihat putri kecilnya itu gembira.
Ayana terus bertanya setiap kali melihat hal yang baru untuknya dan sesekali ia bergumam panjang mungkin karena umurnya baru dua puluh bulan jadi masih belum waktunya untuk Ayana berbicara lancar.
Ketika sudah sampai ia dapat melihat kedua orang tua dan mertuanya yang sedang diam di luar ruangan istrinya, Axel menghampirinya dengan napas yang tersengal-sengal.
“Bagaimana pa, ma?” tanyanya cemas
Tuan Frans mengambil Ayana dan menepuk bahu Axel "Masih belum, temuilah dia di dalam”
Axel menganggukkan kepalanya “Aku titip Ayana, pa"
Axel membuka pintu ruangan itu ia melihat istrinya yang terpejam di atas ranjang rumah sakit, dengan langkah pelan ia mendekati Bianca dan duduk di sebelah istrinya tersebut. Axel mengambil tangan Bianca dan menempelkannya pada pipinya namun Bianca terbangun akibat pergerakan yang ia buat lalu mata mereka bertemu.
“Sayang”
Axel mengecup tangan Bianca dengan sayang "Aku kira aku terlambat" ucapnya cemas.
Bianca tersenyum dan mengelus perutnya dengan sebelah tangannya "Tidak, masih belum sayang”
Bianca terkekeh geli melihat keadaan Axel yang sedikit berantakan, dasi yang dilonggarkan, rambutnya sedikit tidak rapi, dan kemeja kantor yang kusut. Mata tajam Axel masih menatapnya dan hal itu membuat Bianca ingin tertawa, sungguh suaminya itu menatapnya dengan ekspresi setengah panik.
"Bi Asih meneleponku mengatakan kalau kau di bawa ke rumah sakit" Axel mengelus rambut Bianca pelan "Sebelum kemari aku menjemput Ayana di rumah Dave terlebih dahulu”
“Aku panik sekali”
"Kata dokter tunggu sebentar lagi” Bianca tersenyum dan mencoba menenangkan suaminya itu "Ayana di mana?"
__ADS_1
“Di luar dengan yang lainnya”
Axel bangkit dan mengecup kening Bianca kemudian ia melangkahkan kakinya membuka pintu lalu keluar. Bianca memintanya untuk membawa Ayana masuk dan tak lama kemudian Axel kembali dengan Ayana yang berada di gendongannya.
“Mommy” pekik Ayana senang
Bianca tersenyum ke arah anaknya itu "Halo, putri kecilku"
Axel duduk dan membiarkan anaknya di atas ranjang bersebelahan dengan Bianca, ia tersenyum ketika Ayana mencium Bianca lalu mengelus pelan perut ibunya itu.
“Ana dedekna, mommy?” tanya Ayana berbicara khas anak kecil.
"Mommy, Mommy... Atit ya?" tanya Ayana ketika melihat Bianca yang menahan sakit.
Axel langsung menatap Bianca cemas ia menekan tombol di samping ranjang Bianca agar tenaga medis menanganinya
“Sayang, kau tidak apa-apa?”
“Aw, sayang... ini sakit sekali”
Ayana masih menangis karena ketakutan berkali-kali ia memanggil ibunya terus-menerus sembari menangis. Dengan senantiasa Axel menenangkannya dan membawanya keluar, ia menitipkan anaknya itu kepada orang tua dan mertuanya karena mendengar tangisan putrinya membuatnya menjadi semakin cemas dan takut.
Axel kembali dan mendekati Bianca dengan cemas "Apa masih terasa sakit? Apa kau merasa tidak nyaman, sayang? Di bagian mana, katakan”
"Sayang? Kau tidak apa-apa?"
Bianca meringis namun detik selanjutnya ia tertawa sangat kencang saat melihat raut wajah suaminya yang terlihat sangat lucu di matanya
“Kenapa tertawa, apa kau barusan mengerjaiku? Itu tidak lucu, sayang” ucap Axel sedikit kesal
Di saat yang bersamaan dokter dan suster datang mereka mendekati Bianca dan memeriksanya, Dokter wanita itu tersenyum ke arah Bianca dan Axel.
"Sepertinya Tuanlah yang akan melahirkan bukan Nyonya Bianca" celetuk dokter tersebut ketika melihat ekspresi Axel
Dan detik selanjutnya Axel menatap dokter tersebut, ia kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu rasa cemasnya membuat ia ketakutan "Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Axel malu.
__ADS_1
Bianca tersenyum sembari menahan tawanya "Wajahmu terlihat konyol”
Axel mencubit gemas hidung Bianca "Kau ini, aku sedang mencemaskanmu. Jangan bercanda seperti itu lagi”
“Aku tidak bercanda, itu benar-benar sakit”
Setelah memeriksa Bianca dokter tersebut menyuruh susternya untuk menyiapkan ruang operasi, Bianca akan melakukan operasi caesar lagi. Sebelumnya ia harus berdebat terlebih dahulu dengan Axel karena ia ingin sekali melahirkan dengan normal dan mereka memutuskan untuk konsultasi. Dokter memberitahu bahwa melahirkan secara normal akan berisiko untuknya karena Bianca memiliki catatan operasi caesar sebelumnya.
Sebenarnya bisa saja untuk melahirkan normal namun hal itu sangat berisiko, entah itu pendarahan atau komplikasi pada anaknya dan Axel yang mendengar itu melarangnya dengan keras. Pria itu bersikukuh untuk melakukan operasi saja dibandingkan dengan melahirkan secara normal, ia mengatakan bahwa ia tidak menginginkan hal-hal aneh yang terjadi padanya ataupun anaknya dan Bianca menyetujui hal itu ia juga tidak boleh egois.
Axel menggenggam tangan Bianca erat ketika para suster membawanya ke arah ruang operasi, sebelum masuk Axel memakai jubah operasi karena ia akan menemani Bianca untuk melahirkan di sana. Langkahnya gemetaran ketika mendekati Bianca, ia melihat di bagian perutnya di beri penghalang.
"Semuanya akan baik-baik saja, sayang” ucap Bianca mencoba menenangkan suaminya itu, kecemasan Axel lebih besar daripada dirinya sendiri.
Axel menatap Bianca, ia tidak mengerti kenapa istrinya itu begitu tenang sedangkan dirinya terlihat sangat gelisah rasanya aneh dan takut.
“Apa ada bagian yang sakit? Atau kau merasa tak nyaman? Katakan saja, aku akan mengatakan pada mereka” ucap Axel
Bianca tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Tidak sayang, aku baik-baik saja”
Bianca menatapnya suaminya yang terlihat panik itu dengan penuh kasih sayang, setelah sekian lama perasaan Bianca semakin kuat memang Axel tidak berubah pria itu terlihat dingin dan datar jika bertemu dengan orang lain namun tidak saat bersama dengan dirinya terlebih dengan putri kecil mereka.
Terkadang suaminya itu masih mengeluarkan sikapnya yang pengatur dan keras kepalanya walaupun begitu perasaannya tidak pernah surut untuk mencintai suaminya itu. Axel menatap Bianca frustrasi rasanya ia ingin cepat-cepat meninggalkan ruang operasi ini.
Operasi sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu dan Axel dengan senantiasa berdiri sembari menggenggam tangan Bianca dengan erat, terkadang di kecupinya tangan Bianca dan mencoba menyemangati istrinya itu Axel semakin gelisah ketika Bianca tersenyum lembut ke arahnya.
"Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku...” ucap Bianca di tengah perjuangannya itu
Axel menganggukkan kepalanya kemudian ia mengelus kepala Bianca pelan lalu mengecup keningnya, ia tidak peduli jika dirinya di lihat oleh suster atau dokter di sana. Hingga cukup lama menunggu akhirnya suara tangisan itu terdengar memekak telinganya, Axel melihat ketika dokter menunjukkan bayinya.
“Owek... Owek... Owekk...” tangisan anaknya itu pecah memenuhi ruang operasi tersebut.
Axel menatap Bianca dengan senang ia menitikkan air matanya, ia meraih tangan istrinya itu dan menciumi punggung tangan Bianca lama "Terima kasih sayang. Aku sangat mencintamu, Mommy”
Bianca menganggukkan kepalanya dan matanya ikut memanas, untuk ke sekian kalinya Axel menangis di hadapannya. Pria itu menjadi pribadi yang berbeda setelah mereka menjalani kehidupan bahagia ini.
__ADS_1
Bianca sangat mencintai suaminya itu dari awal hingga akhir ia hanya akan mencintai suaminya dan anak-anak dari suaminya itu, begitu pula dengan Axel yang sangat-sangat mencintai istrinya dan juga anak-anaknya.