Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.56 Balas Dendam?


__ADS_3

“Sekarang apa yang harus kulakukan? Ayo berpikirlah...”


Seorang wanita terlihat sedari tadi berjalan mondar-mandir kebingungan dengan tangan kanannya yang meremas kuat rambutnya dan menggigit kuku jari kirinya. Wanita tersebut terlihat sangat frustrasi, ia bingung harus bagaimana lagi agar bisa mendapatkan semua kekayaan Axel setelah rencananya yang sebelumnya ketahuan dan hancur berantakan.


“Sialan!”


Sheryl menarik seprei kasurnya dengan kasar dan membuangnya ke sembarang arah lalu berteriak seperti orang kesetanan. Ia sangat kesal bagaimana mungkin rencananya bisa gagal padahal Axel tidak mencurigainya sama sekali saat itu bahkan ia belum bisa melakukan aksi balas dendamnya.


“Lihat saja aku akan menghancurkan kalian semua!” pekiknya histeris “Arghh, brengsek!”


Sheryl menyeringai tatapannya tajam menatap pantulan dirinya di cermin “Kau Axel, tidak semua keluargamu tunggu saja pembalasanku!”


Tatapannya semakin dalam dan semakin menyeramkan seperti ia siap untuk membunuh seseorang “Kalian sudah salah bermain denganku, aku akan segera menghancurkan kalian. Aku akan membalas dendamku atas kematian mama dan papaku, tunggu saja kalian akan hancur di tanganku keluarga sialan!!”


Di sisi lain Axel dan Brandon berada di dalam mobil yang sama dalam perjalanan menuju stasiun kereta api, Brandon akan pulang ke tempat kelahirannya Pioner. Brandon mengajak Axel untuk menemaninya tapi Axel tidak ingin ikut karena ia harus fokus mencari Bianca dan lagi pula Axel tidak menyukai kampungnya itu karena tidak banyak penghuni dan terlalu sepi. Dan sebagai gantinya pria itu menawarkan diri untuk mengantar dan menjemputnya di stasiun kereta api saja, Brandon pun tidak terlalu memaksa karena mencari Bianca lebih penting daripada pergi menemaninya.


“Ya sudah, aku akan pulang” ucap Axel sembari tersenyum saat akan beranjak dari hadapan sahabatnya itu.


Brandon memegang bahu Axel “Aku yakin kau pasti akan menemukannya” ucapnya memberi semangat kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


Axel menghela nafasnya kasar “Entahlah, ini sudah lebih dari tiga minggu dan aku sudah keliling tapi tidak menemukannya bahkan jejaknya sekalipun”


“Kau sudah bertanya pada mertuamu?”


Axel menganggukkan kepalanya “Mereka bilang juga tidak mengetahuinya”


“Bersabarlah, aku yakin dia akan segera pulang karena rasanya tidak mungkin ia betah melarikan diri selama ini pasti dia juga ingin pulang” ucap Brandon


“Hem, itu benar kan lagi pula aku yang membuatnya pergi”


Brandon menepuk keras pundak Axel “Hah, ya sudahlah. Kau pulanglah keretaku akan tiba sebentar lagi” ucapnya.


Titik terang tentang di mana istrinya itu pernah berada pun tidak ia temukan, ia sempat berpikir bagaimana mungkin jika Bianca benar-benar berada di Jepang tapi pikiran itu ditepis oleh sekretarisnya yang ikut membantu mencari Bianca dan mengatakan bahwa tidak ada bukti perjalanan dari paspor atas nama istrinya itu.


Karena terlalu sibuk mencari istrinya Axel terlihat seperti pria yang tidak terurus, tidak ada lagi pria idaman para wanita jika menilai dari penampilannya. Rambutnya yang sedikit mulai memanjang, rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar dagunya dan penampilan yang sedikit urakan menandakan betapa frustrasinya ia sejak kepergian istrinya itu. Memang benar kata orang-orang 'penyesalan selalu datang belakangan'.


Axel merasa jengkel setiap harinya ia selalu mendapat laporan yang sama dari orang suruhannya yang terus dan terus mengatakan bahwa mereka tidak menemukan Bianca. Entah mereka mencari istrinya dengan benar atau tidak ia sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa tidak satu pun informasi ia dapatkan selama tiga mingguan ini.


“SIAL!” makinya sembari menggebrak meja kerjanya kuat

__ADS_1


Axel keluar dari ruang kerjanya tanpa sadar kakinya melangkah dengan sendirinya menuju taman belakang tempat yang biasanya selalu ada istrinya, sepertinya bahkan jiwanya sangat merindukan kehadiran istrinya itu. Pandangan matanya menyelusuri setiap sudut di taman itu dan ia dapat membayangkan kehadiran Bianca yang selalu ceria jika sedang merawat tanaman-tanamannya ini.


Hawa dingin perlahan menelusuk masuk ke kulitnya, ia menghela nafasnya “Kembalilah, aku merindukanmu” lirihnya.


Memang pada awalnya ia sangat tidak menginginkan pernikahan ini bahkan setelah menikah pun perasaannya terhadap Bianca masih kosong sama seperti awal. Tapi entah kapan pastinya ia hatinya perlahan mulai berdesir saat berada di samping istrinya itu, terlebih lagi ia sangat suka ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang malu-malu saat digoda. Mungkin terdengar basi mengatakan itu di saat semua sudah berantakan seperti ini tapi ia tidak akan menyerah karena hal itu, apa pun kata orang ia akan tetap mencoba untuk mencari istrinya dan memperbaiki semuanya menempatkan keadaan ke tempat yang seharusnya.


Kali ini Axel sudah sangat yakin dan juga terlihat sangat jelas jika hatinya kini benar-benar hanya tertuju untuk Bianca. Bukan hanya untuk menebus kesalahannya ataupun karena ia sudah di khianati dengan wanita dimasa lalunya itu tapi perasaannya ini sebenarnya sudah ada tapi ia yang bersikeras menyangkalnya.


“Aku akan mencarimu, di mana pun aku akan tetap berusaha untuk menemukanmu sampai ketemu. Jadi tunggu aku, aku akan datang kembali dan bersungguh-sungguh hanya untukmu”


...****************...


Seperti biasa tidak ada hal istimewa yang terjadi di kampung kecil sepi penghuni ini tapi Bianca berusaha untuk tetap bertahan di sana dan menikmati sepi dan kesendiriannya ini. Hal yang membuatnya merasa sedikit senang dan tenang di sini adalah memperindah kebun di halaman rumah neneknya ini, berbelanja di pasar dan memasak hanya itu hiburan yang ia miliki di sini.


Bianca tidur lebih awal hari ini karena besok kedua orang tuanya berniat akan datang menemuinya, ia sangat senang mendengar ayah dan ibunya yang akan datang menjumpainya. Bohong jika mengatakan tidak, ia juga sangat merindukan kota, keluarganya, mertuanya dan juga Axel tentunya.


Tidak tahu apa alasannya kenapa ia masih bersembunyi di sini tapi hatinya masih berada di tempat semula, ternyata tidak semudah itu untuk melupakan cinta pertama. Cincin pernikahan masih tersemat cantik di jari manisnya dan selembar foto pernikahannya itu kini sudah terbingkai cantik di samping nakas tempat tidurnya yang setiap paginya selalu ia bersihkan dan juga mengucapkan kata good morning, good night, have a nice day dan yang lainnya tak lupa ia juga selalu mendoakan kebahagiaan untuk suaminya itu.


Dan sepertinya perasaan yang ia miliki untuk cinta pertamanya itu akan bertahan lebih lama dari yang ia pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2