Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.57 Isi Hati Seorang Ayah


__ADS_3

Tadi pagi orang tuanya kembali mengabarinya jika akan sampai di sana pada siang hari dan Bianca dengan gembiranya pagi-pagi sudah pergi ke pasar membeli bahan dan setelahnya mulai berkutat di dapur membuatkan makanan untuk orang tuanya itu makan siang nantinya.


Setelah selesai Bianca memilih menonton televisi sembari menunggu orang tuanya agar nanti ketika mereka datang Bianca tidak terlihat menyedihkan karena hanya duduk termenung menunggu mereka. Di saat yang bersamaan hujan lebat turun tiba-tiba dan tidak terlihat ada pertanda sebelumnya.


Bianca menghela nafasnya “Sepertinya mama dan papa akan sedikit terlambat” keluhnya.


Bianca kembali menatap ke arah televisinya dan perlahan mulai mengganti siaran hingga akhirnya tak di sangka-sangka ia melihat sosok yang sangat ia kenal dan ia rindukan muncul di layar televisinya. Dan tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja pandangannya masih ter fokuskan pada layar kaca televisinya, dapat ia lihat dengan jelas sosok suaminya yang terlihat sedikit berbeda penampilannya tataan rambutnya, dan wajahnya yang sedikit di penuhi dengan rambut-rambut halus dan penampilan yang sedikit berbeda lebih tepatnya terlihat seperti orang tidak terurus dan tidak punya semangat sedikit pun.


Bianca penasaran apa yang sebenarnya terjadi kenapa pria itu bisa muncul di televisi dan itu terlihat seperti konferensi pers yang sering di adakan oleh artis-artis dan pejabat-pejabat negara, ia sedikit gelisah karena memikirkan takut jika Axel terlibat masalah.


“Ada apa dengan penampilanmu, apa yang sebenarnya terjadi?” gumamnya lirih pandangan matanya tak beralih dari layar kaca tersebut.


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku sudah berkeliling mencarinya tapi aku tak kunjung menemukannya dan aku pikir ini jalan terakhirku untuk bisa menemukanmu” ucap Axel dari dalam layar kaca itu.


“Bianca Shaenette, aku tau ini terlihat berlebihan dan mungkin kau juga tidak menyukainya tapi hanya ini yang bisa terpikirkan olehku saat ini setelah hampir sebulan mencari tapi tidak menemukanmu juga. Aku pikir dengan seperti ini di mana pun kau berada kau pasti akan mendengarkannya, aku sangat-sangat mencemaskanmu”


Bianca tertegun matanya tak berpaling dari sana dengan air matanya yang perlahan mengalir, ia tidak sedang melamun saat ini karena telinganya sedang mendengarkan dengan sangat jelas perkataan pria itu hanya saja tubuhnya terpaku oleh pria yang berada di layar kaca itu.


Pria itu menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkataan selanjutnya “Seperti yang kau katakan aku ini pria brengsek yang selalu menyakitimu, aku tau ini tidak pantas tapi aku akan tetap mengatakannya. Aku mohon kembalilah, jika tidak beri aku petunjuk biar aku bisa menemukanmu”


“Ini sudah lama sejak kau pergi, jadi kini sudah cukup dan kembalilah aku akan menebus semua kesalahanku. Mungkin ini terdengar konyol untukmu setelah semua yang kau lewati tapi aku ingin kau kembali ke sisiku tentunya menjadi istriku dan...”


“Aku mencintaimu”


'deg' jantung Bianca berdetak kencang bersamaan dengan air matanya yang mengalir semakin deras di temani oleh hujan deras yang mengguyur desanya.


Perasaan itu lagi, perasan goyah yang terus mengantarkannya kepada Axel dan terus menambah luka dihatinya. Perkataan pria itu terdengar tulus apalagi pria yang selama ini selalu mengatakan jika nama baiknya lebih penting itu justru mencoreng nama baiknya sendiri dengan melakukan hal seperti ini. Bianca terisak perasaannya kembali bercampur aduk ia ingin kembali tapi di sisi lain ia tidak ingin, ia masih takut jika pria itu hanya akan kembali menyakitinya lagi dan lagi.

__ADS_1


Sepasang tangan menyentuh bahunya sontak membuatnya terlonjak kaget dan menoleh ke belakang, ia dapat melihat kedua orang tuanya yang sudah hadir dengan senyumannya dapat terlihat jelas di wajahnya jika mereka merindukan putri malangnya itu. Orang tuanya itu berdiri di belakangnya dengan tenang hingga ia sama sekali tidak menyadarinya belum lagi suara hujan yang sedikit mengganggu pendengarannya tapi entah bagaimana ia bisa mendengar jelas setiap kata yang dilontarkan pria di layar kaca.


Ah benar pria itu, dengan cepat Bianca memalingkan wajahnya dan mematikan televisinya dengan cepat. Bianca bangkit dari duduknya dan menghampiri kedua orang tuanya itu “Kalian sudah datang, aku merindukan kalian” ucapnya sembari memeluk ayah dan ibunya.


“Kami juga merindukanmu dan sangat mengkhawatirkanmu, apa kau baik-baik saja nak?” tanya ibunya lembut sembari mengelus rambut panjangnya.


Kedua orang tuanya itu datang sejak tadi satu menit sebelum mereka mengganggu acara menangis putrinya itu, mereka juga tahu apa yang membuat anaknya itu menangis dan merek juga mendengar dengan jelas setiap perkataan yang dilontarkan menantu mereka itu di layar kaca televisi tersebut.


Bianca melepaskan pelukannya sembari menganggukkan kepalanya “Hem, aku baik-baik saja” ucapnya serak


Bianca melangkah ke belakang tubuh kedua orang tuanya dan mendorongnya perlahan “Ayo kita makan siang dulu, aku sudah membuatkan hidangan kesukaan kalian masing-masing” ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Nyonya Veronica melirik ke arah suaminya ia sangat mengerti bagaimana perasaan anaknya itu namun tuan Frans yang mengerti maksud lirikan istrinya itu hanya menggelengkan kepalanya mencegahnya untuk membicarakan tentang itu terlebih dahulu.


Bianca menyiapkan segala peralatan makan untuk kedua orang tuanya dan juga untuk dirinya “Selamat makan” ucapnya riang.


Bianca kini tengah berdiri di balkon menatap rintikkan gerimis yang satu per satu turun dari langit, ayah dan ibunya berada di kamar bawah Bianca menyuruh mereka untuk beristirahat. Pikirannya kembali melayang mengingat setiap ucapan Axel sebelumnya di layar kaca tadi hingga akhirnya lamunannya di buyarkan oleh seseorang.


“Apa kau tetap ingin berpisah, nak?”


Bianca menolehkan kepalanya ke belakang di sana terlihat ayahnya yang perlahan berjalan mendekat ke arahnya “Papa...”


“Papa tau kau juga masih mencintainya karena kita sudah lama hidup bersama bahkan dari kecil papa sudah mengawasimu jadi papa paham betul perasaanmu” ucap tuan Frans berdiri di sampingnya dan menatap lurus ke depan.


Bianca terdiam dan menunduk ia menggigit bibir bawahnya, itu benar ia tidak akan bisa membohongi ayahnya ini “Entahlah pa, aku sendiri juga bingung” ucapnya lirih.


Mungkin di luar ia terlihat baik-baik saja karena masih bisa tertawa, tersenyum dan bahagia tapi di saat-saat tertentu ia kembali menangis mengingat pria itu di setiap harinya. Kekuatan cinta pertama sebesar itu pikirnya, tapi ia selalu meyakinkan dirinya untuk tidak goyah lagi karena seiring berjalannya waktu semua akan kembali seperti semula dan ia pasti akan melupakan pria itu sepenuhnya.

__ADS_1


Membayangkan saja ia tidak ingin, bagaimana jika ia kembali saat ini dan perjanjian mereka juga sudah tidak lama lagi dan setelah empat bulan bersama bagaimana jika perasaannya semakin kuat dan mau tidak mau, terima tidak terima perasan itu harus ia akhiri karena batas waktunya sudah tiba. Memikirkannya saja membuat hatinya sangat sakit bukankah lebih bagus seperti ini? Siapa tahu sebelum empat bulan ke depan perasaannya sudah hilang sepenuhnya.


“Dia merobek surat perceraian itu”


Bianca terkejut, matanya membulat sempurna dengan cepat a menoleh ke arah ayahnya “Bagaimana bisa?”


Tuan Frans balik menatap anaknya penuh kasih sayang “Dia menolaknya, dia ingin kau kembali karena dia mencintaimu”


Tuan Frans berharap kali ini langkah yang ia ambil tidak lagi salah, tidak lagi menyakiti putri kesayangannya ini. Ia berharap setidaknya dengan melakukan hal ini kembali ia bisa memberikan kebahagiaan lagi untuk putrinya agar kenangan buruk itu tidak selalu mendekap di pikirannya.


“Kali ini kau bisa mempercayai papa lagi, ini yang terakhir jika kali ini tetap salah kau boleh tidak menganggapku ayahmu lagi. Dia benar-benar mencintaimu, papa yang menjamin itu”


Bianca kembali tertegun, ia sama sekali tidak mempercayai ayahnya akan mengatakan hal seperti itu padahal sebelumnya kedua orang tuanya itu yang sibuk ingin membantu mengurus sidang perceraiannya. Hatinya kembali berkecamuk tidak jelas, ini semua pasti bohong ayahnya pasti tertipu dengan sandiwara Axel bagaimana bisa pria itu mencintainya sedangkan ia memiliki wanita yang sangat ia cintai di sisinya.


Tuan Frans memegang tangannya yang berada pada tiang pagar balkon tersebut “Papa tau kau butuh waktu tapi papa juga tidak ingin melihatmu terus-terusan tersakiti seperti ini. Papa dan mama setiap harinya tidak tenang memikirkan putri cantik kami ini berada sendiri di tempat seperti ini dengan perasaan yang terluka seperti ini”


Tangan tuan Frans beralih menangkup wajah anaknya “Putri cantik papa ini juga berhak bahagia dan sudah seharusnya hidup bahagia. Papa minta maaf karena membuatmu berada di situasi sulit seperti ini, maafkan papa karena tidak pernah berpikir bahwa putri papa ini menanggung luka seperti ini” ucapnya.


Bianca menangis, ia menggelengkan kepalanya menatap sendu ayahnya itu “Tidak, ini bukan salah papa. Wajar papa tidak tau karena Bianca tidak pernah menceritakannya sedikit pun kepada papa dan Bianca melakukan ini karena keinginan sendiri jadi papa jangan menyalahkan diri seperti ini” ucapnya.


Tuan Frans menghela nafasnya kasar “Seharusnya papa menyadarinya sejak lama karena papa selalu mengatakan paling mengenal putri cantikku ini. Papa tau kau wanita yang kuat tapi jika sudah tidak sanggup lagi maka menyerahlah, putri cantikku ini tidak seharusnya memperjuangkan tapi seharusnya di perjuangkan”


Tangisan Bianca semakin deras, ia langsung memeluk erat tubuh ayahnya itu. Pria yang paling mengerti dirinya, ayahnya mengusap pelan punggung Bianca dan tanpa sadar matanya berair bahkan mengeluarkan air mata. Pria menangis untuk putrinya dan wanita yang ia cintai itu bukanlah seorang pria lemah justru merekalah yang di sebut pria sejati.


“Berjuanglah nak, tidak apa-apa. Setidaknya ini untuk terakhir kalinya jika tidak sama sekali mungkin kau akan menyesalinya nanti”


Kamu harus melakukannya, nak. Apapun hasilnya nanti kamu tidak perlu bersedih lagi karena papamu ini akan selalu berada di sampingmu bahkan papamu ini tidak akan segan-segan untuk menghancurkannya jika berani membuatmu terluka lagi.

__ADS_1


__ADS_2