
Malam hari ini cuaca sangat dingin, angin menerpa masuk ke dalam tubuh seorang wanita yang tengah berdiri di balkon kamarnya sembari memeluk tubuhnya sendiri berupaya menghalau dingin.
Kini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia sedikit resah karena suaminya tak kunjung kembali dari kantornya. Ia tetap menunggu di balkon kamarnya sambil memerhatikan gerbang rumahnya hingga terdengar bunyi klakson mobil dan gerbang itu pun terbuka dan saat itu juga dengan cepat Bianca turun menuju pintu depan menyambut suaminya.
“Kau ingin makan atau mandi terlebih dulu?” tanya Bianca saat berada di hadapan Axel.
Axel melirik ke arah Bianca sekilas lalu menjawab singkat pertanyaan Bianca “Mandi”
“Baiklah, aku akan menghangatkan makanan untukmu” ujar Bianca
Axel berlalu pergi menuju kamarnya begitu pula dengan Bianca yang berlalu menuju dapur. Axel menghela nafasnya kasar, satu masalah telah selesai kini masalah lain muncul, ia harus menguras banyak tenaga dan pikirannya untuk menyelesaikan masalah ini.
“Aku harus segera berpisah” gumamnya
Axel pergi ke atas membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, setelah selesai ia turun ke bawah menuju dapur dan melihat Bianca yang tengah berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuknya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Axel
“Ah kau sudah selesai. Tunggu sebentar ini segera siap” ucap Bianca
“Bukan itu maksudku, kan pelayan sudah kembali kau tidak perlu melakukan ini”
“Tidak apa, hari sudah larut tidak enak jika harus membangunkan mereka hanya untuk menghangatkan makanan” jelas Bianca
Axel kemudian makan malam bersama istrinya itu dan setelah beberapa kali menyendokkan makanan ke mulutnya ia meringis kesakitan ia lupa mengganti perbannya dan kini itu terasa perih karena basah akibat terkena air saat mandi tadi, Bianca yang mendengar itu mengernyitkan keningnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Bianca khawatir mendengar Axel yang beberapa meringis kesakitan.
__ADS_1
“Ya”
Bianca pun melanjutkan makannya begitu juga dengan Axel namun tak lama kemudian kembali terdengar suara ringisan yang keluar dari mulut Axel yang membuat Bianca sangat khawatir dengan keadaannya.
“Apa ada yang salah, kau kenapa?” tanya Bianca khawatir
Axel menghela nafasnya kasar “Tanganku sakit, aku tidak bisa memakannya. Aku lupa mengganti perbanku” ucapnya sambil menunjukkan tangannya yang di perban itu.
“Astaga! Kenapa bisa? Apa kau baik-baik saja?” pekik Bianca tertahankan “Sejak kapan kau mendapatkannya? Aku tidak melihat perban itu kemarin malam” sambungnya.
“Tadi pagi”
“Kenapa bisa?”
“Aku meninju kaca”
“Astaga ada apa denganmu? Kenapa melukai tanganmu sendiri. Kau ini aneh-aneh saja” ucap Bianca mencerocos.
“Aa buka mulutmu” perintah Bianca
“Apa yang kau lakukan, aku bisa sendiri”
“Bukankah tadi kau yang mengatakan tidak bisa memakannya? Sudah, buka saja mulutmu”
Axel pun dengan malas membuka mulutnya, Bianca menyuapi Axel hingga makanan di piring Axel habis tak bersisa. Setelah makan Axel memanggil pelayan untuk membereskan meja makan, Bianca ingin membersihkan itu sendiri tapi pelayan itu memaksanya untuk kembali ke kamar saja.
Axel berlalu menuju ke arah kamarnya, ia sudah memberitahu semua pelayannya untuk merahasiakan tentang dirinya dan Bianca yang tidak tidur satu kamar. Ia duduk di tepian ranjang dan menghela nafasnya panjang hingga terdengar suara ketukan di pintunya dengan langkah berat ia menuju pintu dan membukakan pintu itu.
__ADS_1
“Kenapa kau kemari, ada perlu apa?”
“Apa aku boleh masuk?” tanya Bianca
“Katakan di sini saja”
“Tidak bisa, aku harus masuk”
Axel menghela nafasnya malas “Ya sudah, masuklah hanya sebentar”
Bianca menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Axel dan duduk di tepiannya.
“Cepatlah kemari” ujarnya sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
Axel menurutinya dan duduk di sampingnya “Berikan tanganmu” perintah Bianca.
Axel mengulurkan tangannya dengan cepat Bianca membuka perban yang melilit di tangan Axel, ia mencuci luka itu dengan air hangat lalu membersihkannya dengan alkohol. Cairan anti septik itu membuatnya sedikit meringis dan di detik itu juga Bianca meniup pelan lukanya dan Axel hanya terdiam melihat perlakuan lembut Bianca terhadapnya.
“Jika tidak di bersihkan lukamu tidak akan cepat kering” ucap Bianca sambil memfokuskan dirinya untuk memasangkan kembali perban yang baru.
“Selesai! Kau harus rajin mengganti perbannya dan jangan lupa untuk membersihkannya juga” ucap Bianca beranjak dari duduknya.
“Aku akan meletakkannya di sini” ucap Bianca sembari meletakkan kotak P3Knya di laci nakas samping tempat tidur Axel.
“Selamat malam” ucapnya lagi.
Bianca meninggalkan Axel yang hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun namun saat ia hendak membuka ganggang pintu dan keluar dari sana ia pun terhenti beberapa detik.
__ADS_1
“Terima kasih” ucap Axel
Bianca membalikkan badannya lalu tersenyum ke arah Axel dan setelah itu ia pun keluar dari kamar pria itu. Axel semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini? Bianca terlalu baik ia rasa ia tak akan sanggup jika harus menyakiti perempuan itu? Axel menghela nafasnya kasar.