
Akhirnya hari yang paling di nanti-nantikan telah tiba, hari di mana Bianca akan menjadi istri dari seorang CEO dari salah satu perusahaan terkenal secara resmi. Kini ia berada di dalam ruangan dan sedang di rias, jantungnya berdegup sangat kencang tangannya kini tengah meremas kuat gaun pengantinnya.
“Anda baik-baik saja nona?” tanya wanita yang tengah meriasnya itu.
“Ya, aku baik-baik saja” ucap Bianca tersenyum lalu menghela nafasnya kasar. Semua tidak baik-baik saja, ia sangat gugup saat ini.
“Relaks saja nona” ucap perias itu sambil tersenyum ke arah Bianca, dia di buat gemas dengan tingkah Bianca yang sangat bertentangan dengan perkataannya.
Bianca menatap kosong pantulan dirinya di kaca setelah perias itu pergi meninggalkannya. Pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian yang tidak akan bertahan lama dan Bianca sangat mengetahui tentang hal itu. Lalu dua bulan bukan waktu yang sebentar dan sering kali jantungnya berdegup kencang saat sedang berduaan dengan pria itu.
Meskipun sudah saring bertemu namun Axel masih sangat misterius untuknya yang ia tahu Axel itu pria yang dingin, bicara seadanya dan seorang work a holic. Banyak hal kecil tentang Axel yang tidak ia ketahui seperti hal apa yang di sukai dan tidak di sukai pria itu.
Sebuah pernikahan tanpa cinta yang tercipta karena perjodohan lalu disetujui karena sebuah perjanjian membuat Bianca tidak sanggup membayangkan akan seperti apa nasibnya nanti. Apa yang akan terjadi jika nantinya sebelum perjanjian itu berakhir ia sudah terlanjut mencintai pria itu? Bianca adalah wanita yang tidak pernah mengenal apa itu cinta di hidupnya namun saat mengenal dan sering bertemu pria itu ada kalanya ia merasakan debaran di hatinya saat menatap pria itu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya saat menatap pria lain.
Apakah itu bisa di sebut cinta? Atau apakah itu hanya perasaan biasa yang bisa di rasakan ke siapa saja? Hah, entahlah apa pun itu ia harus berusaha untuk tidak menaruh hati pada pria itu selama satu tahun pernikahan mereka. Dan ia juga bisa melepaskannya dengan lapang dada jika nanti waktu itu telah tiba.
Pintu ruang tunggu yang di tempati Bianca terbuka, ia menoleh ke arah belakang dan terlihatlah ayahnya yang sedang berjalan ke arahnya dengan cepat ia mengubah raut wajahnya yang suram menjadi senyuman manis khasnya.
“Papa...” sapa Bianca berdiri dari duduknya dengan suara yang terdengar sedikit bergetar
__ADS_1
“Wah putriku terlihat sangat cantik” ucap pria setengah paruh baya itu menatap haru putrinya.
“Apa kau gugup nak?” tanya tuan Frans
“Sangat pa, aku takut”
Tuan Frans menatap lekat Bianca putri satu-satunya itu “Tidak apa nak, papa akan menemanimu. Lihatlah putriku sudah besar dan sekarang sudah akan menikah”
Tuan Frans menangkup wajah Bianca dengan lembut “Ini adalah hari terakhir aku menjagamu dan sekarang papa mempercayakan suamimu untuk menjagamu” ucapnya lagi dan tak sadar meneteskan air matanya.
“Maaf pa...” ucap Bianca berhambur ke pelukan ayahnya.
“Papa jangan menangis itu membuatku menangis juga” ucapnya.
Bianca hanya mengangguk dan tersenyum lirih “Maafkan Bianca pa, pernikahan ini tidak seperti yang papa harapkan” ucapnya dalam hati.
Kini tuan Frans dan Bianca tengah berdiri di depan pintu menunggu acara di mulai yang tinggal beberapa lagi. Di sisi lain, di dalam ruangan itu terlihat seorang pria yang gagah dan terlihat dewasa dengan setelan tuxedonya dan ruangan itu juga di penuhi banyak tamu undangan yang sebagian besar kolega-kolega keluarga Kevlar dan teman bisnis ayahnya.
Acara telah di mulai, pintu ruangan itu pun terbuka lebar dan terlihatlah seorang wanita yang tengah berjalan bergandeng tangan dengan ayahnya memasuki ruangan tersebut. Dapat Bianca lihat dengan jelas beberapa meter di depan sana meskipun jauh entak kenapa rasanya Bianca dapat mengetahui bagaimana penampilan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya secara resmi itu.
__ADS_1
Axel menatap lurus ke dalam menunggu mempelai wanitanya datang menghampirinya, para tamu undangan mengalihkan pandangannya ke arah mempelai wanita banyak orang yang berdecak kagum melihat kecantikan dan keindahan Bianca.
Axel menatap datar Bianca bahkan saat Bianca sudah berada di sampingnya raut wajahnya tidak berubah sedikit pun. Kini janji suci telah mereka ucapkan satu sama lain dan cincin pernikahan pun sudah melingkar di jari manis keduanya.
“Kau boleh mencium mempelai wanita sekarang”
Mereka berdiri berhadapan dan saling menatap. Axel maju selangkah lalu berhenti, ia menatap lekat Bianca dengan mata tajamnya yang terlihat tengah gugup sekaligus takut.
Axel mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Bianca “Maaf” bisiknya
Di detik selanjutnya Axel menekankan bibirnya pada bibir Bianca sontak saja itu membuat Bianca terkejut meski sudah di beri tahu sebelumnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia ingin memiliki kekuatan yang bisa menghentikan waktu saat ini, ia tidak menginginkan pernikahan ini. Bianca menutup erat matanya diiringi dengan cairan bening yang mengalir disudut matanya.
Terdengar banyak orang yang berteriak sekaligus tepuk tangan beberapa detik sesudahnya Axel melepaskan ciuman itu. Ia menatap ke arah Bianca yang baru saja membuka matanya lalu dengan gerakan cepat Bianca menghapus sisa air matanya yang masih yang jatuh di pipinya.
“Tersenyumlah” bisik Axel ketus.
Resepsi pernikahan mereka berjalan dengan lancar. Mereka memulai acara jam sepuluh pagi dan berakhir pukul dua belas siang. Namun tidak hanya sampai di situ karena di malam harinya mereka akan kembali menggelar acara pernikahan mereka.
Karena mereka akan melakukan resepsi malam nanti di tempat yang sama Bianca dan Axel pun memasuki salah satu kamar hotel dan menempatinya bersama, kedua orang tua mereka pun berada di hotel yang sama hanya berbeda kamar saja.
__ADS_1
“Istirahatlah, kau membutuhkan banyak energi malam ini. Karena sepertinya malam ini akan memakan waktu yang lama” ucap Axel saat melihat Bianca telah selesai membersihkan diri.
Bianca mengangguk setuju, ia naik ke atas tempat tidur saat Axel memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bianca tertidur lelap dan tak lama setelah itu Axel pun membaringkan tubuhnya di samping Bianca untuk mengistirahatkan tubuhnya hingga akhirnya ikut terlelap di sisi Bianca.