Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.81 Mengenalmu Lebih Jauh


__ADS_3

“Sayang, aku tidak mau makan”


Axel mengernyitkan keningnya tak suka dan tetap memaksakan istrinya itu agar memakan makanannya hingga akhirnya itu membuat Bianca berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ia memandang dirinya di cermin setelah membasuh wajahnya, ia menoleh dan menatap Axel dengan tatapan seperti ingin menangis.


“Aku tidak mau” lirihnya


Axel mendekati Bianca dan memeluk tubuh istrinya itu “Baiklah, jangan memakannya lagi tapi setidaknya makan buah-buahan ya untuk mengganjal perutmu, oke?”


Bianca memasang raut wajah cemberutnya belum sempat ia menjawab Axel lebih dahulu memotong pembicaraannya “Jika tidak memakan apa pun kasihan anak kita, nanti dia hanya akan sebesar tangkai sapu” ucap Axel.


“Kau mengatai anakku seperti sapu? Apa kau bercanda” ucap Bianca kesal


Axel dengan cepat menggelengkan kepalanya “Tidak bukan seperti itu, kau kan juga paham maksudku. Aku akan mengambilkan buahnya tapi kau harus memakannya, ya?” tawar Axel lagi dan disetujui oleh Bianca


Axel mengacak-acak rambut istrinya itu gemas dan menuntunnya kembali ke ranjang “Kau tunggu di sini ya”


Tak lama Axel kembali ke kamarnya dan meletakkan piring yang berisi buah-buahan yang sudah di kupas dan potong sebelumnya “Hem, ini lebih baik daripada yang sebelumnya” ucap Bianca ketika buah-buahan itu masuk ke dalam perutnya.


“Ya sudah, makanlah yang banyak” ucap Axel sembari mengelus puncak kepala istrinya itu.


“Terima kasih”


Bianca dengan lahapnya menyantap buah-buahan itu, ia merasa heran kenapa giliran memakan nasi perutnya bergejolak dan membuatnya memuntahkan isi perutnya tapi tidak dengan buah-buahan ini padahal perutnya sangat lapar. Setelah selesai Axel membereskan bekas makan istrinya itu dan kembali dengan segelas susu di tangannya, ia berjalan ke arah Bianca lalu memberikannya susu itu.


“Vitaminmu sudah diminum?” tanya Axel dan Bianca hanya menggelengkan kepalanya.


Axel mengambilkan vitamin istrinya itu yang ada di atas nakas lalu memberikannya pada Bianca “Ini, diminum dulu vitaminnya”

__ADS_1


“Apa kau mengantuk, sayang?”


Bianca menghabiskan susu itu dengan cepat lalu memberikan gelas kosongnya kepada Axel dan pria itu meletakkannya di nakas “Tidak, kalau kau mengantuk tidur saja dulu. Aku masih belum” ucap Bianca.


Axel menaiki ranjang tersebut dan menjatuhkan kepalanya di atas paha Bianca “Aku juga belum mengantuk” ucapnya sembari memalingkan wajahnya ke arah perut Bianca “Apa dia bisa mendengar kita?” tanyanya.


Seketika suara tawa keluar dari mulut istrinya itu, Bianca mengelus kepala suaminya itu dengan lembut “Bukankah dia terlalu kecil untuk mendengar kita?”


“Benarkah? Kalau begitu tumbuhlah dengan cepat, oke? Papa menunggumu” ucap Axel mencoba berkomunikasi pada janin yang ada di dalam perut istrinya itu.


Bianca memiringkan kepalanya sembari tersenyum dan tangannya masih setia mengelus lembut rambut suaminya itu “Hem, papa?”


“Iya, bukankah itu terdengar keren?”


Bianca hanya mengangguk setuju, itu terdengar keren dan sangat menakjubkan jika Axel adalah papa maka dia adalah mama bahkan memikirkan dan membayangkannya saja sudah membuat senang, bagaimana jika nanti mendengarnya langsung.


**


Keesokan harinya Bianca dikejutkan dengan kedatangan sahabat-sahabat suaminya itu dan satu lagi sifat tak terduga dari suaminya itu yang ternyata pria yang bermulut besar, padahal baru kemarin mereka memastikan kehamilannya dan hari ini sahabat-sahabat suaminya itu sudah datang berkumpul untuk mengucapkan selamat kepadanya dan meskipun begitu ia sangat menyukai ini.


“Aku melihat ini saat mencari hadiah dan sepertinya ini akan cocok untuk anakmu” ucap Brandon sembari memberi tas belanjaan berisi baju anak kecil dan beberapa mainan.


Bianca melihat sekilas ke arah tas belanjaan itu dan seketika mengernyitkan keningnya “Apa kau sungguh membelikan ini untuk anakku?” tanya Bianca sembari melirik ke arah perutnya yang masih datar itu.


“Hah, kau kan bisa menyimpannya” ucap Brandon paham maksud Bianca.


Bianca hanya tersenyum “Baiklah, terima kasih” ucapnya.

__ADS_1


Sheren mendekat ke arah Bianca dan mengajaknya untuk duduk “Akhirnya yang di nanti-nanti datang juga” ucapnya menatap perut dan wajah Bianca bergantian.


“Selamat atas kehamilanmu” ucap Perrie tersenyum, ia ikut bahagia atas kehamilan Bianca.


Axel datang dari arah dapur sembari membawa segelas susu di tangannya untuk Bianca, entah kenapa sikapnya yang tidak biasa itu membuat Bianca sedikit malu karena Axel bertingkah seperti itu bahkan di depan sahabat-sahabatnya sekalipun.


“Sayang, kau melupakan susumu” ucap Axel


Brandon hanya memutar bola matanya malas, rasa geli menjalari tubuhnya saat melihat perilaku Axel yang berbeda dan mendengar kata-kata manis keluar dari mulut sahabatnya itu.


“Rasanya aku ingin muntah” cibirnya


“Tolong pergilah berkencan atau jika itu sulit ingin kami bantu mencari pasangan?” ucap Axel tanpa melirik ke arah Brandon


Brandon menghela nafasnya kasar “Tolong urus saja istrimu itu” ucapnya kesal karena pembicaraan yang justru mengarah kepadanya.


“Aku akan mengurus istriku dengan baik karena itu cepatlah kau menikah, agar kau bisa sibuk mengurusinya juga” ucapnya sembari duduk di samping Bianca.


“Ah tidak, tidak. Sebelum menikah carilah pacar terlebih dahulu” ledek Axel lagi


“Hah, hentikan itu. Akh akan mengurus jodohku sendiri jadi tolong tutup saja mulutmu itu” kesal Brandon.


Seketika ruangan itu di penuhi dengan tawa, kedua sahabat sejati itu selalu saja berdebat hal-hal seperti ini dan membawa kebahagiaan untuk yang mendengarnya. Meskipun membicarakan hal serius sekalipun tetap saja di akhiri dengan tawa daripada pertengkaran orang dewasa lebih terasa seperti pertengkaran anak kecil yang tengah berebut permen.


Disisi lain seorang wanita mengepalkan tangannya mengepal kuat dan matanya memanas dengan mati-matian ia menahan emosinya “Hah, sialan. Kenapa semakin kubiarkan brengsek itu malah semakin bahagia?!”


Wanita itu menghela nafasnya kasar dan berusaha menenangkan dirinya “Tenanglah, sebentar lagi. Ya sebentar lagi, aku hanya harus menunggunya sebentar lagi” ucapnya

__ADS_1


“Aku akan pastikan kau membayar semua ini bahkan jika harus melukai wanita bodohmu itu sekalipun, akan kulakukan!”


__ADS_2