Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.17 Terus Memikirkannya


__ADS_3

Axel berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di lantai satu, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara isakan tangis yang berasal dari kamar Bianca. Ia tertegun sejenak, ia melangkahkan kakinya untuk semakin mendekat ke kamar Bianca, ia berdiri di depan pintu kamar istrinya itu tangisan itu terdengar sangat menyayat hatinya.


“Apa aku terlalu kasar?” gumamnya pelan.


Tangannya bergerak hendak membuka pintu itu namun ia hentikan, Axel hanya menatap ke arah pintu itu lalu bersandar di dinding sambil mendengarkan isakan tangis istrinya itu. Lama kelamaan isakan tangis itu berhenti secara perlahan, keheningan menyelimuti rumah mewah itu. Axel melirik ke arah jam tangannya sudah sekitar tiga puluh menit ia berdiri di sana mendengar tangisan wanita itu, Axel menghela nafasnya sebelum akhirnya berjalan menuju ruang kerjanya.


Axel membolak-balikkan beberapa lembar kertas yang berisi dokumen untuknya rapat besok, karena saat ini ia tengah di sibukkan dengan pembangunan cabang baru Axel mempersiapkan dirinya dengan sangat matang. Namun kini ia tidak dapat fokus sedikit pun, pikirannya terus melayang mengingat tangisan pilu Bianca. Ia tetap mencoba fokus hingga akhirnya menyerah lalu berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya itu.


Langkah kakinya kembali terhenti di depan kamar Bianca dengan ragu ia membuka pintu kamar tersebut dan akhirnya ia memutuskan untuk memasuki kamar istrinya itu yang tidak terkunci.


Kamar itu gelap gulita lampu tidak dinyalakan bahkan lampu tidur sekali pun namun Axel masih bisa melihat dengan pantulan cahaya dari luar sana terlihat Bianca tidur di kasurnya dengan tubuh yang meringkuk seperti bayi.


Axel melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke arah tempat tidur Bianca, ia duduk di pinggiran ranjang lalu menghidupkan lampu tidur yang berada di nakas di hadapannya. Saat lampu itu menyala ia dapat melihat dengan jelas wajah istrinya yang kini menghadap ke arahnya, ia dapat melihat air mata yang mengering di wajah istrinya itu seperti ia tertidur karena lelah menangis.


Hatinya semakin sakit dan rasa bersalahnya semakin besar, ia mendekatkan wajahnya ke arah istrinya itu lalu mengecup lembut kedua belah mata istrinya yang lagi terpejam itu.


**

__ADS_1


Di pagi harinya Bianca terbangun dan duduk dengan tatapan kosong, pagi ini ia terlihat sangat berantakan belum lagi matanya yang sembab akibat menangis malam tadi. Ia berjalan malas ke arah kamar mandi, ia membasuh mukanya juga menggosok giginya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca besar itu dan tanpa ia kehendaki air matanya kembali mengalir saat teringat kejadian tadi malam.


“Berapa hargaku? Bagaimana bisa dia berkata seperti itu” keluh Bianca di dalam hatinya yang kini sedang terluka itu.


Perkataan kasar Axel tentang dirinya semalam masih saja terngiang-ngiang di benaknya, rasa sakit itu bahkan tak ter gambarkan lagi. Ini pertama kalinya bagi Bianca di kasari dan dikatai seperti itu langsung di hadapannya terlebih orang itu orang yang memiliki hubungan dekat dengannya bahkan sahabatnya Alisya saat bercanda sekali pun tidak pernah melontarkan kata-kata yang menyakiti hatinya seperti itu


Bianca menghela nafasnya kasar, ia tidak tahu kenapa ia terus menangisi hal itu. Ia menghapus air matanya lalu berjalan menuju shower dan membersihkan dirinya karena hari ini ia tidak memiliki jadwal kuliah jadi ia memiliki waktu untuk beristirahat.


Hatinya yang sakit tapi rasanya seluruh tubuhnya ikut lelah. Setelah selesai membersihkan diri Bianca keluar dari kamarnya menuju dapur, keningnya mengernyit saat melihat sebuah memo di atas tudung saja dan ada beberapa hidangan di atas meja makan yang sudah tersaji saat ia membuka tudung sajinya.


Setelah membaca memo itu Bianca baru menyadari kalau pria itu sudah berangkat kerja, ia menghela nafasnya kasar lalu duduk di salah satu kursi dan menyantap hidangan yang sudah di siapkan oleh Axel.


Bianca hari ini benar-benar free ia bahkan tidak memiliki rencana untuk pergi ke mana-mana. Setelah menyantap sarapannya, Bianca memutuskan untuk mengisi waktunya dengan membersihkan rumah mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian dan membersihkan yang lainnya.


Semua sudah selesai ia lakukan tapi ia masih memiliki banyak waktu hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk ke halaman belakang setelah mengambil beberapa peralatan kebun, ia mencabut dedaunan kering, rumput liar dan ia juga memberi pupuk ke beberapa tanaman yang masih tumbuh.


“Haruskah aku menanam bunga di sini?” tanya Bianca pada dirinya, sangat sayang rasanya jika halaman belakang ini di biarkan begitu saja.

__ADS_1


Bianca terus membersihkan dan membersihkan lagi hingga akhirnya ia pun mengakhiri kegiatan bersih membersihkannya itu saat ia sudah merasa lelah. Ia berjalan ke arah kolam, ia duduk di pinggirannya sambil memainkan kakinya di dalam air beberapa kali angin berembus menerpa wajahnya.


Ia menatap ke arah air kolam yang bergelombang akibat kakinya yang bermain di dalamnya tiba-tiba ia tersenyum lirih ketika mengingat betapa menyedihkannya dirinya saat ini. Tidak ada waktu untuknya bisa bersantai saat ia bersantai seperti ini pikirannya kembali melayang akan pernikahannya yang sangat rumit ini.


Jujur saja ia sangat bingung dengan kenyataan yang sedang ia jalani saat ini, menikah karena perjodohan sesuatu yang sulit untuk di terima tapi kini ia malah berakhir menikah dengan sebuah perjanjian. Kadang ia sempat berpikir seandainya pria itu tidak mengajukan perjanjian itu dan seandainya ia tidak menerimanya pasti sekarang pernikahan mereka akan terasa sedikit berbeda.


Saat pertama ayahnya mengatakan perjodohan itu ia menerimanya dan ia berpikir meskipun mereka menikah karena sebuah perjodohan tanpa adanya cinta pasti seiring berjalannya waktu mereka bisa membangun cinta namun harapannya seketika pupus saat pria itu mengatakan perjanjian seperti itu di pertemuan pertama mereka.


Bianca masuk ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya lagi setelahnya ia mengambil laptopnya lalu membawanya ke ruang tengah setelah meletakkan itu ia menuju dapur mengambil beberapa camilan dan segelas jus anggur.


Ia fokus mengerjakan beberapa tugasnya yang belum ia selesaikan dan ada juga beberapa yang belum ia kerjakan sama sekali. Setelah menyelesaikan beberapa tugas kantuk mulai menyerangnya beberapa kali ia terlihat menguap tubuhnya sangat kelelahan hingga akhirnya ia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa dan tertidur lelap setelah beberapa menit berbaring.


Di sisi lain seorang pria tampan dengan setelan jasnya terlihat termenung di dalam ruang kerjanya, sebuah rapat penting sudah ia selesaikan meskipun pikirannya sedang tidak bersahabat. Axel masih memikirkan kejadian tadi malam bahkan saat rapat pun ia teringat akan kejadian itu, ia melonggarkan dasinya lalu menghela nafasnya kasar.


Axel memijit keningnya saat merasakan pening di kepalanya “Kenapa aku harus merasa bersalah? Bukankah itu benar pernikahan ini nantinya akan berakhir lalu dia mendapatkan hartaku dan bisa saja bukan dia kembali kepada kekasihnya setelah berpisah nanti?” gumam Axel menerka-nerka.


Axel menghela nafasnya kasar “Hah entahlah, kenapa juga aku harus pusing memikirkan itu”

__ADS_1


__ADS_2