
“Ini pesanan Anda, Nona”
Bianca hendak membayar tagihan itu namun dengan cepat Axel mengeluarkan kartu dari dompetnya dan menahan tangannya yang baru saja hendak mengambil kartu miliknya.
“Pakai ini saja”
Kasir tersebut tersenyum malu pada Axel dan hal itu membuat Bianca memutar bola matanya jengah. Setelah selesai ia berjalan dengan mengentak-entakkan kakinya keluar dari toko itu dan masuk menuju mobil meninggalkan suaminya itu.
Axel membungkukkan kepalanya sedikit dan tersenyum ramah kepada penjaga toko itu lalu pergi menyusul Bianca yang sudah berada di mobil. Ia duduk menghadap ke arah istrinya yang sedang bersedekap sembari memalingkan wajahnya menghindari tatapannya.
“Bianca, hey sayang...” panggil Axel sembari mencolek lengan istrinya itu.
Bianca tetap mengabaikan Axel, ia tidak mau bicara pada suaminya itu dan tetap memandang ke arah luar. Axel di buat semakin tidak mengerti lalu ia menghela nafasnya kasar kemudian menarik paksa tubuh Bianca untuk menatap ke arahnya.
Bianca menatap Axel dengan tatapan tidak suka “Wah, apa kau baru saja menarikku?” kesalnya
“Maaf apa aku terlalu kasar? Aku hanya ingin tau kenapa kau jadi seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya lembut.
“Dasar pria menyebalkan!” cibir Bianca pada suaminya itu.
Axel mengerutkan keningnya ia tidak mengerti dengan perubahan emosi Bianca yang sering berubah-ubah ini “Aku minta maaf jika aku salah. Tapi sayang, bisakah kau memberitahuku apa kesalahanku?”
Bianca memutar matanya jengah kemudian memukul lengan Axel bertubi-tubi “Lalu kenapa minta maaf kalau tidak tau apa salahmu? Apa kau memang pria yang berhati lembut seperti ini?”
Axel hanya diam dan membiarkan istrinya itu melampiaskan amarahnya “Sejak kapan kau tersenyum seperti itu pada orang lain? Aku tidak tau jika kau bisa tersenyum seperti itu, lalu dulu kenapa sulit sekali untuk tersenyum kepadaku juga? Kenapa selalu memasang wajah dat...”
Axel menghentikan ucapan Bianca, ia tak suka jika masa lalu mereka kembali di ungkit “Karena itu katakan di mana salahku, aku akan memperbaikinya dan kau tidak perlu mengungkit yang sudah berlalu itu” ucap Axel.
“Wah! Yang benar saja, kenapa kau malah memarahiku? Seharusnya kan aku yang marah” kesal Bianca menggebu-gebu.
__ADS_1
“Apa tidak ada yang mengatakan padamu kalau wajah kau saat tersenyum itu sangat jelek, bahkan kasir tadi akan meledekmu karena saking jeleknya” ucap Bianca panjang lebar.
Bianca kembali pada posisinya, ia memalingkan wajahnya ke samping dengan nafas yang tak beraturan karena meluapkan emosinya. Jujur saja ia sangat kesal dengan Axel yang tersenyum kepada wanita lain, ia tidak menyukainya karena suaminya itu hanya boleh tersenyum kepadanya saja bukan perempuan lain.
Tiba-tiba terdengar gelak tawa suaminya itu dan seketika Bianca menoleh sembari menatap tajam Axel. Bukannya berhenti Axel semakin meledeknya hingga membuat Bianca kesal dan hendak menangis.
Axel kembali menarik tubuh Bianca untuk menghadap ke arahnya lalu menangkup wajah mungil istrinya itu “Hey, apa kau sedang cemburu?” tanyanya.
“T-tidak, kenapa aku harus cemburu? Aku tidak peduli silakan saja tersenyum dengan wanita itu sepuas hatimu” elaknya.
Axel menatap Bianca dengan senyuman menggodanya sedangkan Bianca yang di tatap seperti itu dengan cepat memalingkan wajahnya yang masih cemberut. Gengsi di dalam dirinya membuatnya tidak mau mengakui yang sebenarnya.
“Dengar, aku tidak akan pernah berpaling darimu lagi syaang. Cukup satu wanita saja yang ada di hatimu, hanya kamu”
Bianca menoleh dan menatap Axel tak suka “Bohong! Jelas-jelas kau tersenyum padanya, kau kan tidak tersenyum pada orang yang tidak kau sukai” kesalnya.
Setelahnya ia pun melepaskan ciuman itu ketika Bianca meremas bahunya “Apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku, sayang?” tanyanya lembut.
“Kau jelek karena itu berhentilah tersenyum pada wanita lain” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca “Kau bisa merusak image mu karena wajah kau yang terlihat bodoh itu, aku membencimu kau menyebalkan!” ucapnya melampiaskan semua isi hatinya dan perlahan mulai meneteskan air matanya.
Axel tertawa pelan, jari-jarinya bergerak menghapus air mata istrinya itu, ia terlihat senang jika melihat Bianca yang merasa cemburu kepadanya karena itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
“Oke, aku minta maaf. Akan aku ingat tidak boleh tersenyum pada wanita lain” ucapnya sembari meletakkan kedua telunjuknya di sisi keningnya.
Bianca menghentikan tangisannya, ia menatap Axel dalam diam dan tiba-tiba wajahnya mendekat lalu mengecup bibir pria itu. Axel terkejut dengan tindakan Bianca jarang-jarang sekali istrinya itu berinisiatif menciumnya terlebih dahulu, Axel tersenyum nakal ternyata ada untungnya juga membuat istrinya ini cemburu.
Axel menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah mewahnya, sepanjang perjalanan Axel tak henti-hentinya tersenyum senang karena Bianca yang terus-terusan mengingatkannya untuk tidak tersenyum pada wanita lain.
Ketika sampai di rumah Axel turun dari mobilnya dan membukakan pintu sebelahnya dan menunggu istrinya itu turun. Bukannya turun istrinya itu justru duduk manis sembari merentangkan tangan ke arahnya.
__ADS_1
“Kakiku sakit, gendong aku sampai kamar” pintanya
Axel tersenyum, ia menunduk kemudian menggendong Bianca dengan hati-hati Axel menutup pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia merasakan Bianca yang memeluk erat lehernya apalagi kini kaki wanita itu melingkar indah di pinggangnya, istrinya itu terlihat seperti monyet yang bergelantungan dengan induknya saat ini.
“Oh, mama papa” sapa Axel ketika melihat kedua orang tuanya bahkan mertuanya pun ada di ruang tamu rumahnya ini.
“Kenapa anakku?” tanya tuan Frans heran melihat Axel yang menggendong putrinya itu.
Axel tersenyum “Istriku sedang merajuk” ucapnya menggoda Bianca.
Bianca yang super pemalu itu, yang apa-apa wajahnya selalu memerah itu kini mengabaikan tingkahnya bahkan ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah ayahnya dengan raut wajah kesal.
“Biar saja pa, ini hukuman karena dia berani tersenyum pada wanita lain di hadapanku” kesalnya
Sontak ucapannya itu membuat semua orang yang ada di hadapannya itu tertawa dan itu malah membuatnya merasa semakin kesal padahal ia sedang serius tapi malah di tertawakan seperti ini. Bianca melampiaskan kekesalannya pada Axel, ia mengeratkan tangannya yang melingkar di leher suaminya itu sehingga membuat Axel sedikit tercekik.
“Hey, apa kau berusaha membunuhku?” tanya Axel sembari menepuk-nepuk pelan lengan Bianca.
Bianca melonggarkan pelukannya “Menyebalkan!”
...****************...
Di sisi lain terlihat seorang wanita yang tengah menatap lekat ke arah rumah besar milik Axel, ia menurunkan kacamata hitamnya dan masih menatap rumah itu. Seringaian tipis masih tercetak jelas di wajah kejamnya itu dan kemudian ia pun menyuruh sopirnya untuk menjalankan mobilnya.
“Baiklah, aku akan memberimu kebebasan terlebih dahulu” gumamnya tersenyum licik.
Wanita itu menatap foto keluarganya dan keluarga Kevlar, ia mengepalkan tangannya kuat lalu menyimpan kembali foto itu ke dalam tasnya yang ada di sampingnya.
“Benar, kali ini akan kubiarkan kau bersenang-senang Axel Kevlar dan setelahnya akan kutunjukkan bagaimana kehancuran yang sebenarnya” ucapnya sembari menyeringai.
__ADS_1