Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.20 Maaf Aku Mencintaimu


__ADS_3

Kini semuanya terasa semakin rumit ada kalanya Bianca ingin menyerah namun ia tetap harus meyakinkan dirinya untuk bertahan hingga akhir karena satu tahun itu akan berjalan dengan cepat.


Setelah kejadian di rumah orang tuanya itu Bianca menjadi pendiam, ia menjadi cukup sadar diri bahwa pria itu dari awal sampai akhir tidak pernah menerimanya padahal selama ini Bianca selalu mencoba mendekati Axel meskipun pria itu tidak menanggapinya namun kini pria itu sudah membuat batasan jelas tentang hubungan mereka berdua.


Bianca menutup kembali hatinya agar tidak merasakan sakit hati lagi meski pun itu sulit namun ia berusaha untuk tidak membuka hatinya kembali. Pernikahannya tidak berjalan baik dan kini yang harus ia lakukan adalah berpura-pura di depan orang tua mereka dan menunggu hingga surat perceraian itu sampai ke tangannya dan mereka akan berpisah untuk selamanya.


Bianca menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya dan menatap langit-langit kamarnya dan kalau boleh jujur Bianca merindukan pria itu meskipun mereka tinggal satu atap namun Bianca hampir tidak pernah bertatap muka dengan pria itu.


“Apakah ini juga salah?” gumam Bianca mempertanyakan kerinduannya terhadap Axel


Bianca menghela nafasnya kasar dan melangkahkan kakinya malas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai ia memakai piamanya dan keluar menuju dapur untuk memasak hidangan makan malam


Hari ini ia akan makan malam sendiri lagi seperti biasanya pria itu selalu pulang larut dan pergi awal, Bianca memakai celemeknya dan memulai kegiatan masak memasaknya. Ketika sedang memasak bel rumahnya berbunyi beberapa kali dengan cepat ia mematikan kompornya dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu.


“Oh astaga, apa yang terjadi?” tanya Bianca kaget saat melihat pemandangan di depannya.


“Mari kubantu” ujar Bianca saat melihat Brandon kelelahan karena membopong tubuh suaminya.


Bianca membantu Brandon membopong tubuh Axel ke dalam menuju kamar tidurnya. Brandon keluar meninggalkan Bianca dan Axel di dalam berdua, setelah selesai membetulkan posisi tidur suaminya Bianca keluar menghampiri Brandon yang terlihat tengah merenggangkan otot-otot tubuhnya.


“Ah terima kasih, maaf merepotkan” ucap Bianca canggung


“Tidak, tidak apa”


“Mari akan kubuatkan sesuatu” tawar Bianca


Mereka pun turun ke lantai bawah menuju dapur, Bianca mengajak Brandon untuk makan malam bersamanya dan dengan cepat ia menyelesaikan masaknya yang tertunda tadi lalu mereka pun mulai menyantap hidangan makan malamnya.


“Wah, masakkanmu sangat enak” puji Brandon saat mencoba masakan Bianca


“Ah terima kasih” ucap Bianca tersenyum


“Beruntung sekali brengsek itu” ucap Brandon tertawa kecil

__ADS_1


Bianca hanya tersenyum kecil “Seandainya seperti itu..” ucap Bianca dalam hatinya lirih.


“Oh iya, apa aku boleh bertanya?” ucap Bianca ragu dan di angguki oleh Brandon “Axel kenapa bisa seperti itu?”


Brandon terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Bianca “Hem entahlah, saat aku datang ke bar dia sudah mabuk seperti orang gila meracau tak jelas” ucapnya sambil mengedikkan bahunya.


Bianca hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia ingin bertanya lebih banyak lagi tapi sepertinya Brandon pun tidak tahu alasan kenapa suaminya jadi mabuk-mabukan seperti ini karena pria itu tidak bersamanya sejak awal.


“Aku tidak ingin menolongnya lagi” keluh Brandon sambil memijat bahunya.


“Ah maaf merepotkanmu” ucap Bianca


“Kenapa kau yang minta maaf? Kau kan tidak tau ini bakal terjadi”


“Meskipun begitu menggantikannya aku yang minta maaf” ucap Bianca tersenyum ke arah Brandon


Brandon melihat ke arah Bianca yang tersenyum lembut ke arahnya di dalam hatinya ia sangat mengasihani wanita yang ada di hadapannya ini. Ia sedikit banyak tahu tentang Bianca dari Axel tapi menurutnya apa yang Axel pikirkan tentang wanita ini salah karena menurutnya Bianca adalah wanita yang baik, lembut, ramah dan juga wanita itu selalu tersenyum.


Brandon menggelengkan kepalanya “Bagaimana mungkin dia menyia-nyiakan wanita seperti ini?” pikirnya dalam hati.


Bianca menaiki tangga menuju kamar Axel namun saat berada di depan pintu kamar pria itu tangannya bergerak ragu ingin membuka pintu itu hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk saja ke dalam sana. Bianca melihat Axel yang tengah berbaring di ranjang besar itu, kakinya perlahan melangkah mendekati sisi ranjang itu dan ia pun duduk di sana.


Bianca menatap lekat wajah yang tadinya ia rindukan dan ia tidak bisa menghentikan tangannya untuk mengelus pelan pipi Axel. Jantungnya kembali berdegup kencang dan matanya seketika memanas.


“Apa yang aku harapkan darimu?” ucap Bianca lirih.


Bianca beranjak dari duduknya lalu mengusap air matanya yang belum sempat jatuh itu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan mengambil handuk kecil yang sudah ia basahkan dan ia juga membawakan piama milik Axel. Tangannya bergetar saat membuka kancing kemeja pria itu meskipun pria itu adalah suaminya namun tetap terasa aneh baginya untuk melakukan semua ini.


Ia mengganti baju kantor Axel dengan piamanya. Setelah selesai saat ia ingin beranjak pergi dari sana tangannya di tahan oleh Axel sontak saja Bianca membalikkan tubuhnya menatap Axel yang kini menahannya dengan mata yang masih terpejam.


“Kau, apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau kembali lagi?” racau Axel dalam tidurnya.


Bianca melepaskan genggaman tangan Axel namun tidak berhasil karena pria itu semakin mencengkeram lengannya kuat sontak itu membuatnya panik.

__ADS_1


“L-lepaskan ini Axel”


Axel menyentak lengan Bianca kuat hingga akhirnya ia jatuh tepat di atas tubuh Axel. Ia membulatkan matanya jantungnya berdegup kencang, seketika ia menjadi panik.


“Kau mau pergi ke mana lagi sayang?” ucap Axel menyeringai masih dengan mata yang terpejam.


Kedua lengan Axel mengunci pergerakan Bianca, ia tetap berusaha untuk lepas dari pelukan Axel “Stt.. Tenanglah aku tidak akan menyakitimu sayang”


Axel membuka matanya dan menarik Bianca agar lebih mendekat kepadanya lalu menggulingkannya ke samping dan kini ia berada di atas Bianca. Bianca takut, ia takut karena kini Axel dalam keadaan mabuk ini akan sangat berbahaya untuknya.


“Kau sangat cantik sayang” ucap Axel mengelus lembut pipi Bianca “Padahal kau secantik ini tapi kenapa kau sangat jahat padaku?” sambungnya.


“T-tolong sadarlah” ucap Bianca ketakutan.


“Kenapa kau kembali? Saat itu kenapa kau pergi? Kenapa kau pergi saat itu, kenapa menyakitiku seperti itu?”


Bianca mengernyitkan keningnya tidak satu pun dari ucapan Axel yang ia mengerti. Bianca berusaha sekuat tenaganya mendorong tubuh Axel meski itu tidak memungkinkan untuknya melawan tenaga suaminya itu. Namun tiba-tiba saja pria itu tertawa sontak membuat Bianca terkejut karena itu terdengar menyeramkan.


“Dasar wanita licik!” ucap Axel penuh penekanan di setiap katanya.


Perlahan Axel menunduk dan memejamkan matanya, tangannya menarik tengkuk Bianca dengan gerakan cepat ia mulai mencium bibir Bianca. Bianca terkejut dengan itu matanya membulat sempurna ketika Axel menciumnya ia mencoba memberontak namun Axel menahan tengkuknya.


Bianca menangis ia sangat takut, Bianca terus memberontak ia takut jika hal buruk terjadi kepadanya karena kini Axel dalam keadaan mabuk. Tubuhnya menjadi kaku seketika saat merasakan air jatuh ke wajahnya, pria itu menangis.


Axel melepaskan ciuman itu, ia menatap mata Bianca sejenak matanya menyalang dan kini ia masih berada di bawah pengaruh alkohol, senyuman kecil terbentuk di bibir Axel sebelum akhirnya ambruk di atas tubuh Bianca.


“Ya tuhan, aku takut sekali” gumam Bianca menangis.


Bianca memeluk erat tubuh Axel dan terisak kecil. Kini pikirannya masih di penuhi dengan kejadian barusan ia sangat takut jika terjadi hal tidak senonoh antaranya dan Axel apalagi tadi Axel menciumnya di bawah pengaruh alkohol.


“Kau brengsek” ucap Bianca masih memeluk tubuh Axel.


Bianca takut terhadap Axel saat ini tapi ia tidak bisa melepaskan pelukan itu karena ia merindukan Axel. Setelah beberapa menit berada di posisi itu saat mendengar suara nafas teratur dari Axel barulah Bianca mendorong tubuh Axel dari atas tubuhnya. Ia bangun lalu mengatur posisi tidur Axel ia menarik selimut hingga dada lalu juga menghidupkan lampu tidur.

__ADS_1


Bianca bangkit dari duduknya “Maaf karena aku mencintaimu” gumam Bianca lirih menatap lekat Axel.


Bianca melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tidur Axel ia mematikan lampu kamar Axel yang kini hanya di terangi oleh lampu tidur saja, ia menutup pintu kamar Axel perlahan sebelum akhirnya ia pergi ke lantai bawah menuju kamarnya.


__ADS_2