Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.83 Menggemaskan Sekali


__ADS_3

Bianca kini terlihat tengah duduk di tepi ranjangnya sembari mengelus perutnya dengan lembut, ada rasa bahagia tersendiri untuknya ketika mengandung buah hatinya dengan suami tersebut. Hal yang dulunya bahkan tidak bisa ia bayangkan justru kini memberinya kekuatan dan membuatnya memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi janin yang ada di perutnya itu.


Bianca kembali tersenyum ketika mengingat awal-awal kehamilannya, suaminya itu selalu sigap membantunya. Seperti ketika rasa mual menghantamnya Axel dengan sabarnya selalu membantu mengelus tengkuknya, tetap diam dan mengalah ketika Bianca marah-marah tak jelas kepadanya. Bianca juga ingat ketika Axel menuruti masa mengidamnya saat itu sudah larut malam Bianca terbangun lalu membangunkan Axel untuk membelikannya es krim, meskipun saat itu sempat berdebat kecil tapi mau tidak mau Axel terpaksa membelikan dan membiarkan istrinya itu memakan es krim di larut malam karena itu permintaan calon anak mereka.


Lalu saat pertama kali pergi ke dokter kandungan Axel menyuruh pihak rumah sakit bahwa yang memeriksanya haruslah dokter perempuan dengan alasan tidak ingin Bianca di pegang pria lain dan tidak boleh satu pun pria yang menyentuh perut Bianca karena tidak ingin anaknya salah mengenali ayahnya, konyol bukan? Tapi bagi pria over protektif seperti Axel itu adalah sebuah keharusan karena istrinya itu hanya miliknya dan calon anaknya itu tidak boleh mengenali orang lain, ia tak ingin jika calon anaknya itu justru memberi tanggapan pada orang lain bukan padanya saat mengelus perut istrinya.


Bianca tertawa kecil sembari mengelus perutnya “Papamu itu benar-benar konyol kan, sayang?” ucapnya mengajak janinnya itu berinteraksi.


Bianca pergi ke dokter kandungan dengan Axel senyumannya mengembang ketika suaminya itu benar-benar memperhatikannya dengan baik.


“Terima kasih”


“Untuk apa?”


“Hem... untuk semuanya, mungkin karena kau sudah mau menemaniku pergi kontrol” ucap Bianca sembari memainkan jari suaminya itu.


Axel mengacak-acak rambut Bianca gemas “Kenapa sungkan begitu, hem? Tidak apa lagian itu sudah jadi kewajiban ku” ucapnya.

__ADS_1


Bianca dan Axel duduk menunggu panggilan, Axel mengelus lembut tangan Bianca yang berada di genggamannya kemudian terdengar suara helaan nafas dari mulutnya “Apa kau baik-baik saja? Aku tidak tega melihatmu mengantre lama seperti ini” ucapnya


Bianca tertawa pelan “Tidak apa, aku suka seperti ini. Ini sangat menyenangkan” ucapnya tersenyum.


Sebenarnya setelah beberapa kali kontrol suaminya itu pernah menawarkan untuk memanggil dokter ke rumah saja tanpa perlu mengunjungi dokter kandungan dan mengantre seperti ini. Namun saat itu Bianca langsung menolaknya karena ia suka suasana mengantre seperti ini karena ia bisa melihat ibu-ibu lainnya yang sama sepertinya. Dan ia juga ingin melakukan yang biasa wanita-wanita hamil lainnya lakukan dengan mendatangi dokter kandungan bersama suami mereka masing-masing.


Bianca yang semulanya selalu tampak tersenyum itu tiba-tiba menjadi muram dan kesal bagaimana tidak seorang wanita yang juga mengantre sama dengannya terus menatap ke arah suaminya dengan tatapan kagum seakan terpesona dengan Axel tentu saja hal itu membuatnya marah.


Astaga menjengkelkan sekali, apa harus menatap suami orang dengan tatapan seperti itu? Padahal sudah punya suami bahkan sedang mengantre untuk mengecek anak dari suaminya tapi mata masih saja melirik ke suami orang lain.


“Itu giliranmu sayang” ucap Axel sembari berdiri lalu membantu Bianca berdiri juga saat nama istrinya itu di panggil.


Axel tersentak kaget dan mengerutkan keningnya bingung kenapa istrinya itu tiba-tiba kesal kepadanya? Apa salahnya namun Axel tidak mempermasalahkan lebih lanjut hal itu dan menyusul istrinya masuk ke ruangan dari belakang. Ia mencoba mengerti mungkin karena hormon kehamilan istrinya yang biasanya suka membuat mood istrinya itu berubah-ubah.


Ia melihat ke arah monitor itu dengan tatapan takjub, di mana di sana ada janin yang di kandung oleh istrinya meskipun terbentuk sempurna tapi itu sangat menarik perhatian Axel karena itu adalah buah hati mereka. Setelah selesai, Bianca dan Axel pun keluar bergandengan tangan tapi Bianca kembali melepaskan tangannya dari lengan Axel dan menghentikan langkahnya.


“Jangan menatap suamiku seperti itu! Apa kau ingin jika suamimu di tatap wanita lain seperti itu juga?! Turunkan pandanganmu, berhenti menatap suamiku!” kesal Bianca pada wanita yang tadi menatap suaminya bahkan sekarang pun masih.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu Bianca berlalu pergi, Axel menatap heran pada istrinya yang tiba-tiba bersikap blak-blakan seperti itu. Ia meminta maaf pada wanita tersebut karena tindakan istrinya kemudian menyusul istrinya itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku tidak mau kontrol lagi!” teriak Bianca marah pada Axel


“Kenapa sayang?”


Bianca menatap Axel kemudian menangis sembari memukul dada dan lengan suaminya itu berkali-kali “Bukankah aku sudah bilang aku bisa pergi dengan mama, kenapa memaksa ingin ikut?” bentaknya


Axel menahan tangan Bianca yang memukulinya itu “Hey, ada apa? Apa aku berbuat salah?” tanyanya


Bianca menganggukkan kepalanya “Wanita itu terus... terus menatapmu aku tidak suka, kau itu suamiku kenapa dia menatapmu seperti itu? Aku benci dia rasanya ingin aku congkel saja matanya” cerocosnya sembari terisak.


Axel tertawa pelan, hah sungguh istrinya ini terlihat sangat menggemaskan. Ia menarik Bianca ke dalam pelukannya “Hey dengar ini, aku tidak peduli dengan mereka dan aku sepenuhnya milikmu karena itu aku tidak akan pernah berpaling darimu apalagi meninggalkanmu. Itu tidak akan pernah terjadi, kau percaya padaku kan?”


Bianca membalas pelukan Axel “Kau harus menepatinya jika tidak aku akan mencari suami baru saja” ucapnya asal


Axel melepaskan pelukannya dan menatap tajam istrinya itu “Coba saja kalau kau berani, aku akan membunuh pria itu” ucap Axel tajam

__ADS_1


Bianca tertawa cengengesan sembari menghapus air matanya, Axel bernafas lega karena rasa cemburu Bianca itu sangat menakutkan apalagi ancamannya tadi. Suami baru? Astaga yang benar saja.


__ADS_2