
Bianca masih tertidur pulas di atas sofa namun tidurnya terganggu saat ponselnya berdering dan membangunkannya dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan lalu tangannya terulur ke atas meja mengambil ponselnya setelah melihat nama yang tertera di sana ia pun mengangkatnya.
[Mommy is Calling...]
“Halo ma”
“Kau di mana sayang? Kau tidur?” tanya ibunya di seberang sana
“Aku di rumah ma, iya tapi baru saja bangun ma. Ada apa ma?” tanya Bianca
“Mama merindukanmu, apa kau bisa pulang nak? Ajak suamimu juga”
“ . . . Ka-kapan ma?” tanya Bianca
“Akhir pekan ini pulanglah”
Bianca seketika bingung bagaimana caranya ia meminta Axel untuk mengunjungi orang tuanya bersamanya saat situasi mereka serumit ini.
“Ma... Axel sangat sibuk sepertinya itu akan sulit” ucap Bianca ragu
“Apa akhir pekan pun tetap harus bekerja? Katakan saja padanya jika dia tidak bisa biar nanti mama yang menghubunginya”
“Ba-baiklah ma”
“Ya sudah, lanjutkan saja tidurmu sayang” ucap ibunya sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.
Bianca menghela nafasnya kasar “Bagaimana ini? Apa aku benar-benar harus mengajaknya?”
Ia termenung selama beberapa menit hingga akhirnya ia pun bangkit dari sofa itu menuju kamarnya, ia membasuh wajahnya lalu kembali ke ruang tengah saat menatap bimbang ponselnya ia pun tersadar dengan jam yang sudah menunjukkan pukul enam sore.
__ADS_1
Dengan cepat Bianca melangkahkan kakinya menuju dapur dan mulai memasak hampir saja ia lupa memasak untuk hidangan makan malam, setelah berlama-lama di dapur dan akhirnya masakannya pun selesai ia kembali ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya lagi.
Biasanya jika tidak lembur Axel akan pulang jam delapan malam dan kini Bianca sudah berada di dapur selama lima belas menit pria itu belum juga pulang dari kantornya dan jujur saja hal itu membuat Bianca kecewa. Ia memakan masakannya sendiri lagi padahal ia sudah memasak sepenuh hati sambil memikirkan Axel yang pulang dari kantor langsung menyantap masakannya namun itu semua pupus sudah lewat lima belas menit dari jam biasanya dan sepertinya pria itu lembur lagi. Setelah selesai menyantap makan malamnya ia pun meletakkan masakannya yang masih banyak tersisa bahkan ada yang tidak tersentuh ke dalam kulkas.
Ada kalanya momen yang membuat Bianca sempat berpikir apa benar pria itu lembur? Atau hanya karena tidak ingin melihatnya saja? Pria itu terlalu sering lembur terlebih dia pemilik perusahaan. Ya memang benar meskipun begitu ia tidak boleh malas-malasan tapi apakah harus setiap kalinya lembur? Bahkan kadang saat pulang ke rumah ia kembali masuk ke ruang kerjanya.
Bianca memasuki kamarnya ia kembali menghadap ke laptopnya ia berniat untuk memperbaiki skripsinya yang masih ada beberapa yang perlu di revisi. Ia mengentakkan jari-jarinya di atas keyboard laptopnya dan beberapa kali ia terlihat menguap waktu berlalu begitu cepat, ia mematikan laptopnya lalu keluar menuju dapur.
Ia mengambil segelas air dingin dan meminumnya namun saat sedang minum ia tidak seperti mendengar suara langkah kaki seseorang jika itu Axel tapi ia tidak mendengar suara mobil atau suara pintu yang terbuka. Bianca waswas langkah kaki itu semakin mendekat dengan cepat ia bersembunyi di samping meja dapur, ia sangat takut beberapa kali ia berdoa dan berharap Axel pulang saat ini juga.
“Apa yang kau lakukan di sana?”
Bianca terkejut jantungnya terasa akan copot, ia kembali berdiri setelah mendengar suara itu lalu ia membalikkan tubuhnya menatap ke arah sumber suara itu.
“Tolong beri tanda jika kau pulang setidaknya bersuaralah” ucap Bianca terengah
Seseorang itu adalah Axel pria dingin tak berperasaan yang sudah sedari tadi ia tunggu. Axel hanya menatap tajam ke arah Bianca dengan raut wajah datarnya “Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau belum tidur ini sudah larut” tanya Axel.
“Apa kau sudah makan?” tanya Bianca
“Belum”
“Mau makan dulu?” tawar Bianca
“Aku akan menghangatkan masakannya dulu kau bisa membersihkan tubuhmu terlebih dulu” ucapnya lagi dan Axel hanya menganggukkan kepalanya berlalu menuju kamarnya.
Di luar ekspektasi Bianca pikir ia akan kesal dan marah ketika melihat Axel tapi kini rasanya seolah-olah ia sudah melupakan semua kejadian kemarin padahal tadi pagi ia masih merasa kecewa, marah dan kesal kepada pria itu namun sekarang saat berada di hadapannya ia malah terlihat biasa saja.
Bianca mengeluarkan makanan tadi yang ia simpan dari dalam kulkas lalu memanaskannya dan beberapa kali terdengar helaan nafas darinya sambil termenung sembari menunggu.
__ADS_1
Jujur saja Bianca sedikit takut kepada pria itu ia selalu menatap tajam ke arah Bianca dan akhir-akhir ini pria itu bersikap lembut kepadanya namun kejadian kemarin membuat pria itu kembali menatap tajam dan dingin kepadanya. Tapi jika di pikir-pikir bukankah yang seharusnya bersikap seperti itu adalah dirinya? Karena pria itu sudah mengatainya dengan sangat kasar dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak hanya karena ia di antar pulang oleh Johannes.
Ya, Bianca tau jika di sini ia juga salah jika Axel marah dengannya karena pulang bersama pria lain di malam hari Bianca akan menerimanya tapi pria itu sudah melewati batas sampai melontarkan kata-kata yang menyakitinya. Pria dan wanita itu berbeda, mungkin dia tidak akan merasa terhina jika di katai seperti itu namun Bianca merasa sangat terhina dan hatinya juga sangat sakit. Bianca menghela nafasnya kembali kenapa ia malah mengingat kejadian itu lagi pikirnya.
Bianca telah selesai, ia kembali menata makanan itu di atas meja dan kebetulan sekali pria itu tiba saat Bianca selesai menata semuanya. Axel duduk di kursinya dan mulai menyantap makan malamnya yang di masak oleh istrinya itu sedangkan Bianca hanya duduk terdiam di kursi seberang Axel sebenarnya ia ingin mengatakan permintaan ibunya tadi sore tapi ia ragu.
“Kau tidak makan?” tanya Axel saat menyadari jika Bianca dari tadi memandanginya.
“Ti-tidak aku sudah makan”
“Jika kau di sini menemaniku makan itu tidak perlu, pergi tidurlah hari sudah larut” ucap Axel memakan makanannya.
“I-itu juga tidak”
Axel mengalihkan pandangannya ke arah Bianca yang menundukkan kepalanya, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu dan Axel menyadari itu.
“Katakanlah”
“Ha? Oh itu, ibuku menyuruh aku mengunjunginya bersamamu juga” ucap Bianca ragu
“Kapan?”
“Akhir pekan ini”
“Jadwalku padat” jawab Axel singkat tanpa menatap ke arah Bianca.
Bianca sebenarnya sudah mengetahui jawaban itu sudah pasti pria itu menolaknya karena sibuk namun tetap saja ia merasa sangat kecewa dengan tanggapan pria itu. Bianca bangkit dari kursinya sembari menghela nafasnya lalu tersenyum menatap sekilas ke arah Axel.
“Baiklah, piring kotornya letakkan saja di wastafel aku akan mencucinya besok” ucap Bianca “Aku sudah mengantuk, selamat malam” jelasnya Bianca berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melakukan kontak mata dengan Axel.
__ADS_1
Axel terdiam saat Bianca meninggalkannya sendiri di ruang makan ini, ketika ia ingin memanggil wanita itu ia urungkan karena Bianca kini sudah masuk ke dalam kamarnya. Axel mengurungkan niatnya padahal ada hal penting tentang perjanjian pernikahan mereka yang ingin Axel bahas.
“Ya sudahlah besok saja” gumamnya