Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.82 Drama Di Pagi Hari


__ADS_3

Semenjak Bianca hamil, Axel berubah menjadi pria yang over protektif padahal dirinya yang hamil tapi justru suaminyalah yang setiap harinya selalu terlihat kerepotan. Ia tidak habis pikir dengan kekhawatiran suaminya yang menurutnya itu sangat berlebihan itu, ya seperti yang kalian ketahui semenjak mendapat ancaman pembunuhan itu Axel benar-benar menjaga Bianca dengan ketat.


Kini sudah beberapa bulan berlalu namun tidak ada apa pun yang terjadi namun Axel tetap menjaga Bianca seperti sebelumnya karena ancaman pembunuhan atau keadaan yang membahayakan mungkin akan datang kapan saja. Hanya saja kini Axel sudah mulai kembali bekerja ke kantor selain karena tidak ada apa pun yang terjadi ini sudah terlalu lama ia meninggalkan perusahaannya.


“Habiskan susunya, vitaminnya juga jangan sampai lupa di minum” ucap Axel mengingatkan Bianca


Bianca menghela nafasnya lalu memutar bola matanya jengah, selalu seperti itu setiap paginya padahal ia juga tidak mungkin melupakan hal yang sudah menjadi kebiasaannya sejak mengandung itu. Bahkan sebelumnya Bianca sempat mengatakan kepada Axel untuk berhenti mengingatkannya hal-hal kecil seperti itu namun suaminya itu justru menanggapi dengan mengatakan jika tidak mengingatkan bisa saja ia melupakannya. Dan sejak saat itu Bianca hanya diam tidak lagi menanggapi ucapan suaminya itu yang selalu sama di setiap harinya, karena terlalu sering di ingatkan kini kegiatan itu sudah tertanam di otaknya.


Bianca turun dari kasurnya dan mendekat ke arah suaminya yang sedang mengancingkan lengan bajunya dan ia pun memutuskan untuk membantu suaminya itu untuk memasangkan dasinya. Axel menatap tajam Bianca ia tahu ocehannya itu membuat istrinya itu malas tapi ia tidak bisa untuk berhenti mengingatkan Bianca karena ini semua berhubungan dengan kesehatan anaknya dan juga demi kebaikan istrinya itu juga.


“Ingat itu, jangan sampai lupa” ucapnya lagi saat istrinya itu mengalungkan dasi di lehernya.


Bianca menghela nafasnya kasar sembari mendongakkan kepalanya dan tangannya bergerak memasangkan dasi pada suaminya itu “Hah baiklah, akan kuingat”


Axel melebarkan kakinya merendahkan tubuhnya agar istrinya itu tidak kesulitan memasangkan dasinya setelah selesai Axel duduk di tepi ranjang lalu menarik tangan Bianca dan berakhir duduk di pangkuannya. Axel mengecup pelan kening istrinya itu lalu pandangan matanya tertuju pada perut Bianca yang mulai membuncit, ia mengelusnya perlahan itu sangat menggemaskan baginya.


“Ternyata seperti ini wanita saat hamil, menggemaskan sekali” ucapnya.


Bianca tertawa geli mendengar ucapan suaminya itu “Tentu saja seperti ini, kau pikir akan seperti apa ketika memegangnya?” tanyanya ikut mengelus perutnya.


“Entahlah, ini sangat menakjubkan. Sepertinya dia ada di sini, ini terasa sedikit keras” ucapnya masih mengelus perut Bianca.


Bianca kembali tertawa karena menurutnya daripada perutnya itu suaminya lebih jauh menggemaskan dan menakjubkan baginya. Di detik selanjutnya makhluk kecil yang ada di dalam sana memberikan pergerakan kecil tepat mengenai tangan Axel yang masih setia mengelus perut istrinya itu dan pergerakan itu membuat Bianca kaget sekaligus terpekik pelan.


“Kau tidak apa sayang? Apa kau merasakan dia menanggapiku?” ucap Axel yang mendadak menjadi semakin bersemangat “Sepertinya dia sudah bisa mendengar kita dengan baik”

__ADS_1


Axel menatap takjub perut istrinya itu dan tetap mengelusnya seperti sihir makhluk kecil di dalam sana berhasil menarik perhatian Axel sepenuhnya dan benar saja telapak tangannya kembali merasakan pergerakan kecil dari dalam sana.


“Wah sayang, ini sangat menakjubkan dia kembali bergerak. Apa di dalam sana tidak nyaman?” ucapnya dengan matanya yang perlahan mulai memanas.


Bianca dapat merasakan haru yang dirasakan suaminya itu meskipun sebenarnya ia risih dengan suaminya yang terus-terusan mengelus perutnya namun ia tidak ingin merusak suasana dan tetap membiarkan suaminya itu mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit itu.


“Sepertinya dia bergerak karena mengenali jika itu tangan ayahnya” ucap Bianca


Axel mengangguk setuju dan mendekap tubuh istrinya yang tengah duduk menyamping di pangkuannya itu, kebahagiaannya kini menjadi berlipat ganda seiring berjalannya waktu.


Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap istrinya itu “Besok jadwal kontrolmu bukan?” tanya Axel


Bianca berpikir sebentar lalu menganggukkan kepalanya hampir saha ia melupakan jadwal kontrolnya itu, ternyata ada untungnya juga punya suami yang sedetail ini.


“Oke, aku akan menemanimu”


Axel menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan usulan istrinya itu “Tidak boleh, kau harus pergi denganku lagi pula besok aku tidak terlalu sibuk”


“Hah baiklah, sebaiknya kau pergi ke kantor sekarang, kau akan telat” usir Bianca secara halus karena perlahan ia sudah mulai merasa kesal sekaligus sesak melihat Axel terlalu lama dari jarak dekat seperti ini.


Pria itu mendengus kesal “Hah, aku sangat benci pagi hari. Aku tidak suka jika harus meninggalkanmu rasanya aku ingin membawamu ke mana pun aku pergi” ucapnya.


“Jangan berlebihan, sekarang pergilah bekerja” ucap Bianca bangkit dari duduknya. Axel pun bangkit dari duduknya dan ia masih menatap Bianca lekat kemudian memajukan bibirnya sembari menunggu istrinya itu.


“Apa?” tanya Bianca sinis.

__ADS_1


“Aku butuh energiku”


Bianca memutar malas bola matanya kemudian berjinjit untuk mencium Axel dapat ia rasakan jika suaminya itu sedikit kesulitan ketika menciumnya karena berhati-hati tidak ingin menekan perutnya.


Axel berjongkok menatap perut Bianca “Hey jangan nakal ya, papa akan pergi sebentar jadi kau harus jaga mama ya. Jangan menyusahkan mama dan jangan bergerak terlalu sering” ucap Axel yang kembali berbicara pada anaknya itu.


Axel berdiri dan menatap istrinya kemudian menangkup wajah istrinya itu, bibirnya bergerak menciumi kening, mata, pipi, hidung dan bibir Bianca.


“Aku pergi dulu” ucap Axel pada Bianca “Ingat jangan melakukan pekerjaan berat, jangan terlalu banyak bergerak. Kalau butuh sesuatu katakan saja pada yang...”


Bianca menutup mulut Axel dengan telapak tangannya “Iya-iya, aku mengerti jadi pergilah sekarang”


“Tolong dengarkan dan ingat baik-baik perkataanku ini” ucap Axel sinis


Bianca hanya menganggukkan kepalanya mengerti, percuma saja ia berdebat, Axel pasti akan selalu menang bagaimana tidak pria itu bahkan tidak mendengarkan perkataannya dengan baik.


“Jika ada apa-apa cepat hubungi aku”


“Iya”


Axel mengecup kening Bianca lagi “Aku pergi, hati-hati di rumah”


“Hem, kau juga hati-hati”


Axel keluar dari kamar dan membawa jasnya, ia menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar dan berpaling menatap istrinya itu sebentar sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Bianca. Bianca tidak mengantarkan Axel hingga ke depan karena suaminya itu melarangnya untuk turun naik tangga terlalu banyak terlebih jika sendirian takutnya terjadi apa-apa dengan istrinya itu.

__ADS_1


“Ck! Pria itu” gumam Bianca sembari tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


__ADS_2