
Bianca terusik ketika seseorang mengganggu tidur nyenyaknya ia membuka matanya dan melihat Axel yang menatapnya sembari kepalanya ditumpu oleh sikunya, ia mengedipkan matanya berulang kali karena masih mengantuk.
"Good morning, mommy" ucap Axel tersenyum gemas menatap istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya itu.
Bianca memejamkan matanya dan memeluk Axel "Good morning, Daddy. Pukul berapa sekarang?"
"Sekarang sekitar pukul sepuluh”
Bianca membulatkan matanya dan bangkit dari tidurnya dan melihat jendelanya yang sudah tersorot matahari, lalu ia kembali menatap suaminya terkejut.
"Kenapa kau tidak bangunkan aku? Ayana bagaimana? Apa kau sudah sarapan? Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Bianca bertubi-tubi
Bianca hendak turun dari ranjang namun pergelangan tangannya di tahan oleh Axel, ia menolehkan kepalanya dan mengerutkan dahinya sembari memperhatikan suaminya itu bangkit dari kegiatan berbaringnya.
"Tenanglah istriku, sayang" ucap Axel kemudian memberi kode kepada Bianca untuk duduk di atas pangkuannya “Kemarilah” Bianca menurutinya ia mendekati Axel dan duduk di pangkuan pria itu, ia mengalungkan tangannya pada leher Axel.
"Aku tidak membangunkanmu karena kau tidur begitu nyenyak dan Ayana belum bangun" Axel melingkarkan tangannya di pinggang Bianca "Aku belum sarapan karena aku terlalu sibuk melihat wajahmu” jelasnya menjawab satu per satu pertanyaan istrinya itu.
Axel terkekeh ketika melihat istrinya yang tersipu malu dengan semburat merahnya yang mulai terlihat "Dan ya aku juga tidak masuk ke kantor hari ini”
Bianca mengerutkan dahinya "Kenapa? Ini kan bukan hari libur”
Axel mengedikkan bahunya “Tidak tau, papa menghubungiku dan menyuruhku untuk tetap di rumah saja menghabiskan waktu bersama kalian” jelasnya lagi.
“Benarkah?”
“Hem”
Bianca menghela napasnya dan hendak bangun dari pangkuan Axel "Kukira Ayana sudah bangun"
Axel menahan pergerakan Bianca ia tetap mengunci wanita itu, ia tersenyum ke arah istrinya itu lalu memeluknya "Bukankah kita sudah lama tidak punya waktu berdua?" tanya Axel.
Bianca terkekeh kemudian memukul punggung Axel "Hentikan itu”
__ADS_1
“Kenapa aku benar bukan?”
Bianca tertawa "Sudahlah, aku ingin mencuci wajahku”
Bianca berdiri dan meninggalkan suaminya itu, ia masuk ke dalam kamar mandi dan memperhatikan dengan detail wajahnya dan tubuhnya, ternyata timbangannya tadi malam tidak salah Bianca benar-benar berhasil menurunkan berat badannya.
Hingga tiba-tiba ia di kejutkan saat pintu tersebut terbuka dan terlihat Axel berdiri di sana kemudian menghela nafasnya kecewa “Kukira kau sedang mandi”
Bianca mencipratkan air ke arah suaminya itu "Heuh, dasar mesum!" desisnya.
Axel tertawa geli kemudian masuk dan ikut bergabung dengan Bianca, pria itu mengambil sikat giginya lalu melirik ke samping ia mengerutkan dahinya ketika Bianca tersenyum.
“Ada apa mommy?”
Bianca menatap suaminya itu dengan senyumannya yang mengembang menghiasi wajahnya, ia kemudian mendekati Axel dan lompat-lompat kecil "Aku berhasil menurunkan berat badanku" ucapnya bangga sembari menatap tubuhnya di pantulan cermin itu.
Axel mengerutkan keningnya tak mengerti “Lalu?”
Senyuman yang tadinya mengembang di wajah Bianca menghilang dengan cepat "Kau tidak suka tubuh langsingku?" ucap Bianca sedikit kecewa mendengar tanggapan Axel "Atau aku masih terlihat gendut? Kalau begitu aku akan diet lebih giat lagi”
“Tidak”
“Aku tidak langsing, benarkah?” ucapnya sedikit sedih namun tetap memaksakan untuk tersenyum “Ya tidak apa, aku akan berusaha lebih giat lagi” ucapnya
Axel menarik napasnya "Bukan itu yang aku maksud sayang”
“Lalu?”
Axel mengusap pipi Bianca pelan "Mau kau gendut atau kurus sekalipun aku akan tetap mencintaimu, aku tidak peduli jika berat badanmu bertambah, sayang. Bianca yang sekarang dengan Bianca yang gendut di masa depan atau Bianca yang langsing di masa lalu bukankah itu sama saja?"
Bianca cemberut dan menatap ke bawah "Aku hanya ingin tampil cantik di depanmu" cicitnya pelan
Bianca sebenarnya tidak mempermasalahkan penampilannya yang gemuk ini tapi ia hanya merasa sedikit tidak pantas jika harus berada di samping Axel yang selalu terlihat sempurna itu. Padahal semalam sebelum tidur saat ia menimbang berat badannya sudah turun 8kg tapi tampaknya itu tidak berdampak banyak pada tubuhnya. Dan yang paling mengganggu pikirannya untuk menurunkan berat adalah suaminya ini, keluarga kecil mereka memang terlihat baik-baik saja tapi di jauh di lubuk hati Bianca, ia masih waswas terhadap segala hal yang bersangkutan dengan rumah tangganya.
__ADS_1
Semua ini bukan berarti segala yang ia jalani hingga kini tidak membuatnya bahagia, tentu saja ia bahagia hanya saja ia sedikit takut jika hal yang sudah ia lalui kembali terjadi. Ia juga ingin menjadi orang yang selalu ‘be positive' ia juga sedang berusaha semaksimal mungkin untuk itu.
Axel tersenyum lembut dan mengecup kening Bianca “Kau selalu cantik di mataku, Mommy."
Bianca menghela nafasnya kasar "Di luar sana pasti banyak wanita yang lebih indah tubuhnya dan tentunya sangat cantik, aku hanya takut jika kau berpaling" ucap Bianca enggan menatap suaminya itu, inilah salah satu ketakutan terbesarnya saat ini meski hari-harinya selalu di penuhi kebahagiaan.
Axel mengangkat tubuh Bianca dan mendudukkannya di wastafel itu kedua lengannya bertengger disial tubuh Bianca dan mengunci wanita itu, Axel tersenyum melihat istrinya yang cemberut dan memainkan jarinya.
"Hey, tatap aku” ucapnya sembari mengangkat dagu Bianca.
Bianca mengikuti ucapannya dan meniup suaminya itu, ia melihat suaminya tersenyum dengan lembut ke arahnya senyuman yang selalu menyenangkan hati Bianca dan selalu memberinya semangat.
"Jangan berkata seperti itu, oke? Harus berapa kali aku mengatakannya?” tanya Axel kemudian mendekatkan wajahnya sontak istrinya itu memundurkan kepalanya "Kau selalu saja berkata seperti itu, ada apa? Apa kau tidak percaya padaku?"
Bianca menggelengkan kepalanya cepat membantah ucapan Axel “Tidak, bukan seperti itu. Aku mempercayaimu sungguh”
"Lalu, kenapa selalu berkata begitu?"
Bianca menghela napasnya dan memainkan jarinya “Aku selalu takut jika kau meninggalkanku” ucap Bianca kemudian menggigit bibirnya pelan "Bukan aku ingin mengingat atau mengulang masa lalu tapi itu selalu menghantuiku dan menggangguku. Aku berusaha untuk percaya diri dengan keadaanku, waktu kau bersama Sheryl aku selalu menciut karena dia terlihat sangat cantik, elegan, dan auranya sangat memikat berbeda denganku”
Ia menatap suaminya itu sejenak dan seketika dada Bianca terenyuk ketika melihat ekspresi wajah Axel yang seketika berubah menjadi datar karena dia menyebut nama wanita itu "B-bukan maksudku untuk... Ah tidak lupakan saja, maafkan aku” ucapnya lirih berniat hendak turun dari sana.
Axel menahan tubuhnya “Lanjutkan” perintahnya
Bianca terdiam sejenak lalu menarik napasnya pelan "Aku takut kau meninggalkanku untuk kedua kalinya terlebih dengan penampilanku saat ini... Jadi, kumohon berjanjilah untuk tetap di sisiku meskipun aku tidak cantik lagi” ucap Bianca dengan mata yang berkaca-kaca, akhirnya ia mengatakan isi lubuk hatinya yang paling dalam.
Axel mengecup bibir Bianca singkat "Maaf karena aku pernah meninggalkanmu” Pria itu mengecupnya lagi "Dan maaf aku pernah menyakitimu, aku juga selalu ingat bagaimana menderitanya kamu saat itu”
Bianca menjadi tidak enak hati bukan maksudnya untuk membalas penderitaannya namun ia sebenarnya ingin membahas soal fisiknya yang kurang.
“I-itu...”
Axel tersenyum lembut dan menangkup wajah Bianca "Demi Tuhan, aku bersumpah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi dan aku juga tidak peduli soal wanita yang terlihat cantik atau apa pun itu"
__ADS_1
Pria itu mencoba menenangkan Bianca "Karena apa? Karena aku sudah memiliki satu wanita yang harus kujaga dan kubahagiakan wanita hebat yang selalu sabar dengan sikapku yang menjengkelkan dan wanita yang selalu mengerti dengan keadaanku. Wanita itu kamu sayang, hanya kamu jadi berhentilah berpikiran kalah aku akan meninggalkanmu karena itu tidak akan pernah terjadi”