
Besok adalah hari peringatan kematian adik iparnya Alexa, Bianca sangat tidak sabar untuk pergi ke pemakaman Alexa ia ingin bertemu adik iparnya itu. Ibu mertuanya juga sudah mengabari orang tuanya untuk hadir ke acara peringatan besok, bagaimana pun juga kini keluarganya sudah menjadi bagian dari keluarga besar Kevlar.
Bianca duduk di bangku taman dan menengadahkan kepalanya menatap langit “Wah, langitnya juga indah sekali” ucapnya.
Bianca mengaitkan kedua tangannya sembari menatap langit “Tuhan, aku ingin bahagia tolong biarkan aku bahagia kali ini. Aku ingin pernikahanku baik-baik saja walaupun akan sulit tapi kumohon jangan buat pernikahan ini terpecah” ucapnya berdoa.
Bianca berdiri dari duduknya kemudian mendekati pepohonan yang tingginya lebih sedikit darinya dan ia menatap itu dengan senang sembari menjungkat-jungkitkan kakinya namun saat ia menjungkitkan kakinya keseimbangannya hilang membuat tubuhnya terhuyung ke belakang dan terbentur dada seseorang.
Pipi Bianca bersemu ketika melihat Axel ada di belakangnya sembari memegang bahunya. Mereka terlalu dekat namun Bianca bernafas lega karena yang menangkapnya adalah Axel bukan salah satu dari pengawalnya jika tidak maka itu akan terasa sangat canggung dan memalukan.
“Bodoh, berdiri yang benar”
Bianca menegakkan tubuhnya “Ah, m-maaf”
“Lain kali berdiri yang benar, jika tidak kau mungkin akan di bantu salah satu dari mereka untung saja hari ini aku yang menangkapmu” ucap Axel.
Bianca terdiam, Axel seperti bisa membaca pikirannya. Tapi ketika ia memikirkan ucapan Axel lagi, itu membuat pipinya semakin memerah kemudian ia berdehem menetralkan jantungnya yang berdebar.
“Di mana mama dan papa?” tanya Axel
“Ah, i-itu mereka pergi sebentar. Hem, pergi ke mananya aku kurang tau” jelas Bianca.
Axel menaikkan alisnya sebelah, bingung ketika melihat Bianca yang berusaha menghindari tatapannya “Kau ingin mandi? Biar kusiapkan dulu” ucap Bianca
“Sudah tidak perlu nikmati saja tamanmu” ucapnya.
Axel pergi meninggalkan Bianca di taman itu dan berjalan menuju kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya setelah selesai ia menggunakan bajunya sembari berjalan ke arah jendela kamarnya. Pria itu memandang keluar, ia dapat melihat bagian taman belakang rumahnya dan masih terlihat Bianca di sana. Axel memasukkan tangannya ke saku celananya dan tetap berada di posisi itu mengamati istrinya dari jendela kamarnya itu.
Wanita itu terlihat menikmati langit sore dan ia juga terlihat menikmati cookies dengan lahapnya. Tanpa sadar Axel tersenyum tipis saat memperhatikan Bianca, ia dapat melihat persamaan istrinya itu dengan Alexa adiknya mereka adalah wanita yang baik, lembut dan penyabar.
Axel membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia pikirkan “Bodoh! Dia berbeda dengan Alexa, tidak mungkin sama. Hah apa-apaan ini Axel?!” rutuknya.
Sore menjelang malam, mata hari pun ikut tenggelam seiring berjalannya waktu. Saat ini mereka tengah berada di depan meja makan untuk menyantap hidangan makan malam mereka, semuanya berkumpul di sana Bianca, suaminya dan kedua mertuanya juga.
“Mama dan papa akan menginap di sini” ucap nyonya Kevlar di sela-sela makannya.
Bianca tersenyum “Tentu saja mama dan papa harus menginap di sini” ucapnya senang.
“Kau yang terbaik” puji ibu mertuanya “Hem, kami akan menggunakan kamar yang di bawah” sambungnya.
Bianca tersedak, kenapa harus kamarnya? Kenapa tidak kamar lain saja, kan banyak kamar lainnya “Mama dan papa pakai kamar yang di atas aja”
“Tidak perlu yang di bawah saja, terlalu merepotkan untuk naik turun tangga di pagi hari” ucap nyonya Kevlar.
__ADS_1
Bianca diam menganggukkan kepalanya, ia melanjutkan makannya mencoba untuk bersikap tenang. Apa yang harus ia lakukan, barang-barangnya semua ada di kamar itu? Apa akhirnya semua ini akan terbongkar?
Setelah selesai makan malam, Bianca mengantarkan mertuanya menuju kamar tidurnya. Jantungnya berdegup sangat kencang ia tidak ingin ketahuan oleh mereka, ketika pintu kamar itu terbuka Nyonya Kevlar mengerutkan keningnya saat melihat kamar itu yang di penuhi barang-barang seperti ada yang menempati.
“Kenapa ada barang-barang di sini, apa ini punya istrimu?” tanya Nyonya Kevlar menyelidik.
Axel menganggukkan kepalanya “Ya, sebagian barang Bianca di letakkan di sini walk in closetku tidak muat lagi, barangku terlalu banyak” kilahnya.
Mendengar itu Bianca pun menganggukkan kepalanya setuju “Kau ini rumah sebesar ini tapi walk in closet kecil. Jika seperti ini orang lain yang melihatnya akan salah paham, mama saja hampir mengira kalian pisah ranjang” celetuk nyonya Kevlar.
Bianca tertawa canggung ibu mertuanya itu sangat peka “Itu tidak mungkin ma, mama istirahat saja lagi pasti lelah sekali” ucapnya.
“Baiklah, selamat malam sayang” ucap ibu mertuanya menatap Bianca penuh kehangatan.
Bianca berjalan mengekori Axel, ia ingin bertanya malam ini ia akan tidur di mana “Axel...”
“Kau tidur di kamarku” ucap Axel ia mengetahui apa yang ingin di tanyakan wanita itu.
Bianca hanya diam sembari menganggukkan kepalanya, ya itu benar di saat seperti ini tentu saja mereka harus tidur bersama jika tidak mereka akan ketahuan.
Bianca berjalan menuju tempat tidur suaminya itu, kamar ini pernah ia tempati bersama di awal-awal pernikahan mereka. Ia kemudian berbaring di samping Axel semerbak aroma suaminya menyeruak masuk ke indra penciumannya. Bianca masih menatap langit-langit kamar beberapa kali mengedipkan matanya berusaha menetralkan rasa gugupnya.
“Apa besok bisa mampir di tempat bunga langgananku?” tanya Bianca memecahkan keheningan yang menyelimuti kamar itu.
Bianca melirik sekilas ke samping “Pasti Alexa akan menyukainya” ucapnya.
Axel mengerutkan keningnya dan menoleh ke samping “Kau mengenal adikku?”
“Tentu saja, aku mengetahui semuanya”
“Bagaimana bisa?”
“Ah, terakhir kali mama yang memberitahuku”
Bianca memejamkan matanya kini rasa kantuk mulai menyelimutinya “Kau harus belajar untuk merelakan seseorang”
“Selamat malam” sambungnya
Axel masih memandangi Bianca yang perlahan mulai tertidur itu. Kata-kata itu membuatnya terdiam kaku, rasa sesuatu menghantam dadanya apa mungkin luka itu tidak akan pernah hilang karena ia tidak bisa merelakan kepergian adiknya itu? Axel menghela nafasnya kasar, di dalam benaknya hanya ada Alexa, adiknya itu tersenyum kepadanya untuk terakhir kali saat di rumah sakit membuat hatinya tersayat jika mengingat hal itu.
Pagi ini semuanya sudah siap, Bianca berada di mobil yang sama dengan suaminya sedangkan mertuanya menggunakan mobil mereka sendiri. Bianca dapat melihat dengan jelas suaminya yang menegang dan takut.
Bianca memegang lengan Axel “Tidak apa-apa, jadi tenanglah”
__ADS_1
Axel menoleh ke arah istrinya itu, entah kenapa setelah mendengar ucapan itu hatinya menjadi sedikit tenang. Axel mengendarai mobilnya ia mengarahkan mobilnya menuju tempat bunga langganan Bianca. Setelah sampai Bianca memesan satu buket bunga mawar dan setangkai bunga Lily.
“Cantik sekali” gumamnya saat memasuki mobil Axel.
Sesampainya di area pemakaman Bianca bertemu dengan orang tuanya dan beberapa keluarga dari suaminya yang juga menghadiri upacara peringatan kematian Alexa. Mereka semua mendoakan Alexa dan memberikan buket bunga di makam Alexa, Bianca memperhatikan gerak-gerik suaminya tak sengaja ia melihat pria itu menitikkan air matanya tapi dengan cepat di hapus pria itu. Kehilangan, itu yang di tangkapnya saat memperhatikan suaminya itu.
Semuanya meninggalkan area pemakaman kecuali Bianca yang masih berdiam di sana, ia belum selesai masih banyak yang ingin ia katakan kepada Alexa dan ia pun belum memperkenalkan dirinya dengan baik kepada adik iparnya itu.
“Hai Alexa, aku Bianca Shaenette istri kakakmu. Maaf karena baru sekarang mengunjungimu aku bahkan terlambat tau tentangmu, tapi kau adalah wanita yang sangat cantik dan tentunya gadis yang baik”
“Apa kau tau saat mendengar cerita dari mama aku sedikit cemburu kepadamu, karena kau mendapatkan semua cinta dari kakakmu. Apa kau tau aku mencintainya tapi tidak dengannya, kau bisa mendengarku bukan? Kakakmu itu selalu bersikap dingin kepadaku apa dia seperti itu juga padamu?”
Di sisi lain ibunya menanyakan keberadaan Bianca kepada Axel, pria itu mengerutkan keningnya dan menoleh ke belakang. Ternyata istrinya itu tidak mengikutinya, dari jauh Axel dapat melihat punggung istrinya yang masih berada di makam Alexa ia melangkahkan kakinya menghampiri Bianca.
Axel berdiri beberapa langkah di belakang Bianca, ia tidak ingin mengganggu istrinya itu dan sepertinya ia sedang berbicara dengan adiknya.
“Aku ingin bertemu denganmu seandainya itu bisa pasti akan sangat menyenangkan. Apa aku boleh mengatakan ini, aku ingin mengatakannya setidaknya kepada seseorang dan aku harap kau mau mendengarkanku”
Bianca menceritakan semua keluh kesah dan rumitnya rumah tangga yang kini sedang ia jalani bersama Axel. Tanpa ia sadari Axel yang berada di belakang sana dapat mendengar semua ucapannya dan tubuh pria itu mendadak kaku seperti di hantam kenyataan.
“Semoga saja pernikahanku bisa bertahan selamanya jika tidak maka aku akan menjadi janda seumur hidupku” ucap Bianca tertawa miris.
Bianca menghela nafasnya kasar “Baiklah sepertinya sudah cukup, meski belum pernah bertemu sepertinya aku sudah menyayangimu” Bianca meletakkan bunga yang ia bawa di makan Alexa “Semoga kau juga menyukainya, ini bunga kesukaanku, aku akan kembali lain waktu sampai jumpa lagi” pamitnya.
Bianca berdiri ia berjalan menunduk menutupi wajahnya sembari menghapus air matanya, ini membuatnya sedikit lega karena sudah menceritakan semua keluh kesahnya.
“Kau bisa menubruk seseorang jika berjalan seperti itu”
Bianca mengangkat kepalanya betapa kagetnya dia saat melihat Axel berada di sini “Kau s-sejak kap...”
“Sejak tadi, ayo yang lainnya sudah menunggu” ucap Axel. Bianca hanya terdiam kini kepalanya di penuhi tanda tanya apa pria itu mendengar semua perkataannya kepada Alexa?
...***
...
Axel sedang berada di balkon kamarnya menikmati pemandangan langit malam, semua keluarganya sudah pulang termasuk kedua orang tuanya. Setelah dari makam tadi ia menjadi diam dan beberapa kali melirik ke arah istrinya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Axel menghela nafasnya pernikahan ini sulit, ia mendengar permintaan Bianca sebelumnya dan itu sangat sulit untuknya kabulkan. Dirinya tidak mencintai Bianca yang ia inginkan hanya Sheryl, wanita yang mengerti dirinya dan yang pasti wanita yang ia cintai.
Axel menghela nafasnya kecewa “Padahal aku ingin sekali Sheryl yang datang bukan istriku” gumamnya
“Kenapa harus Bianca?”
__ADS_1