Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.102 Extra Part II


__ADS_3

Suara tangisan bayi memenuhi kamar pasangan Axel dan Bianca, hari masih gelap namun bayi berusia tujuh bulan setengah itu terbangun karena haus.


Bianca terbangun dan langsung bangkit menggendong sang buah hati dari box bayinya lalu segera memberikan asi sembari menimangnya agar terlelap kembali.


"Nio bangun sayang?" Tanya Axel dengan suara serak.


Antonio Kevlar adalah nama putra mereka yang kini berusia tujuh bulan setengah itu, Bianca melahirkan dengan aman tanpa banyak drama dan kesulitan untuk kelahiran keduanya ini.


Bianca masih ingat bagaimana paniknya Axel ketika ia mulai kesakitan padahal Bianca sudah menjelaskan sebelumnya dan membuat persiapan yang cukup matang meskipun ini pertama kalinya untuk Axel menemani Bianca proses kelahiran tapi ini kedua kalinya untuk Bianca.


Meskipun sebelumnya tidak dalam keadaan sadar, naluriah seorang ibu dapat ia rasakan. Melihat Axel yang panik saat itu bahkan membuat para suster dan dokter sempat mencandai jika Axel seperti yang akan melahirkan.


Lamunan Bianca buyar ketika sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang, ikut mengelus sayang putra mereka yang mulai terlelap dalam dekapan ibunya.


"Kenapa tidak tidur lagi, sayang?" Tanya Bianca berbisik pelan


"Nanti saja biar Nio nyenyak dulu” bisik Axel membuat Bianca tersenyum.


"Apa Ayana waktu kecil juga sering seperti ini?” ucap Axel sembari kembali mengingat kenangan lamanya


Bianca terkekeh pelan “Tidak sesering yang kali ini, mungkin karena dia anak kedua” ucapnya sembari mengangkat bahunya.


“Rasanya Ayana baru saja mencoba berjalan kini dia sudah bisa berlari bahkan dia menjaga adiknya dengan baik meskipun masih kecil” ucap Axel

__ADS_1


Bianca menganggukkan kepalanya setuju “Karena itu jika aku terlalu sibuk dengan Nio, kamu tolong perhatiin Ayana ya?” pintanya.


“Itu pasti”


Dari kelahiran Ayana, Axel dan Bianca memilih untuk tidak menggunakan jasa pengasuh dan merawat anak mereka sendiri bahkan sekarang pun sama. Karena itu ada kalanya Bianca merasa kasihan dan bersalah kepada Ayana karena ia terlalu sibuk mengurus Nio membuatnya mengabaikan Ayana yang ingin bermanja dengannya.


Padahal di umur tiga tahun adalah umur-umur balita mulai butuh perhatian lebih bahkan mereka mulai mencoba mencari perhatian orang tuanya namun Bianca kadang terlalu sibuk dan mengabaikan putri kecilnya itu. Dan ia sangat beruntung dan berterima kasih karena suaminya selalu ada di samping putrinya, menemaninya bahkan menjelaskan situasi Bianca yang sibuk mengurus adik kecilnya.


Tentu saja Ayana selalu memahaminya dan tidak mempermasalahkan hal itu bahkan sesekali ia berinisiatif membantu Bianca, jika melihat sisi Ayana seperti itu rasanya anak kecil itu menjadi dewasa dari umurnya. Bianca sangat merasa bersalah untuk hal itu kepada putri sulungnya yang cantik itu.


“Terima kasih sayang” ucap Axel


"Kau terlalu sering berterima kasih” ucap Bianca bercanda


“Kalau begitu aku juga ingin berterima kasih karena jika kau tidak membuka hatimu untukku mungkin aku tidak akan merasakan kebahagiaan seperti saat ini” ucapnya Bianca


"Aku mencintaimu, Bianca" ucapan Axel membuat senyum Bianca tak luntur.


Tak lama setelah itu, keduanya di buat saling berpandangan saat mendengar suara ketukan pintu “Sepertinya kekasihmu itu mendengar pernyataan cintamu barusan” bisik Bianca tertawa pelan.


Axel tersenyum dan berjalan ke arah pintu penghubung kamar mereka dengan kamar putri sulungnya itu yang kini sedang berdiri di depan pintu dengan piyama frozennya.


"Ada apa, sayang? Apa Princess kecilnya daddy mimpi buruk?” tanya Axel yang sudah menyejajarkan tingginya dengan Ayana.

__ADS_1


"Ayana udah banun, dedeknya angis telus. Aya tetini mau bobok sama dedek aja diusap-usap daddy” ucapnya dengan logat khasnya manja lalu memeluk Axel.


Axel tersenyum dan berdiri sambil menggendong Ayana menuju ranjang besarnya dan mereka akhirnya tidur berempat malam itu, tidak lebih tepatnya pagi itu karena waktu sudah menunjukkan lebih dari jam tiga pagi.


...****************...


Keluarga kecil itu kini sedang dalam perjalanan pulang menuju kediaman mereka setelah pergi berbelanja ke mall bersama-sama. Saat setengah perjalanan Ayana merengek ingin berada di pangkuan Axel padahal daddynya itu sedang menyetir namun Axel itu selalu memanjakan Ayana jadinya tetap di turuti.


Bianca yang duduk di kursi sebelah kemudi sembari memangku Nio terus memperhatikan putri kecilnya itu agar tidak banyak bertingkah supaya Axel tetap fokus menyetir.


Di tengah jalan Ayana meminta agar duduknya berbalik supaya bisa memeluk Axel karena gadis kecil itu merasa mulai mengantuk. Baru beberapa menit melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti akibat rengekan Ayana akhirnya gadis kecilnya itu tertidur di pelukkan Axel.


Axel akhirnya menyetir dengan satu tangan karena sebelah tangannya memeluk tubuh Ayana "Mau berhenti dulu, biar Ayana tidur di belakang?" tawar Bianca.


"Tidak perlu sayang nanti jika Ayana terbangun dia bisa mengamuk, lagi pula aku ini pengemudi yang handal jadi tenang saja" tolak Axel halus disambut senyuman Bianca.


Bianca memperhatikan pemandangan indah itu, Ayana sangat dekat dengan Axel bahkan mereka mempunyai banyak kemiripan. Kadang ia sempat berpikir mungkin putrinya itu bisa selengket itu dengan ayahnya karena dia adalah buah hati hasil perjuangannya dan terkadang juga saat melihat Axel dan Ayana, ia menjadi yakin bahwa kini pria itu tidak akan pergi jauh darinya lagi karena kini ia memiliki Ayana di sampingnya yang akan menjadi tamengnya untuk mengikat pria itu.


Perhatian Bianca kemudian teralihkan pada bayi kecilnya yang terjaga, putra tampannya itu seakan-akan mengajaknya berbicara ia pun mendekap putranya itu erat dan Bianca pun meladeninya untuk merangsang perkembangan anak keduanya itu.


Kini hidupnya menjadi lebih berarti ia menjadi mengerti tentang hangatnya sebuah cinta dan mengenai luka, mereka memang pernah merasakan betapa menyakitkannya sebuah penderitaan. Namun, semuanya sepadan ketika mereka saling memahami dan melengkapi satu sama lain.


Ini adalah awal dari kisah bahagia mereka, sebuah keluarga kecil yang mereka bangun bersama-sama dengan penderitaan dan luka yang menjadi bumbunya. Sebuah kehidupan yang kelabu berubah menjadi berwarna dengan adanya cinta di cerita pernikahannya ini.

__ADS_1


Kini dan nanti keluarga kecil mereka akan tetap hidup bahagia untuk waktu yang lama!


__ADS_2