Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.15 Insiden Sehabis Mandi?


__ADS_3

Bianca menggeliat dalam tidurnya, ia membuka matanya perlahan dan hampir saja berteriak karena terkejut saat melihat seperti ada seseorang di balkon di dalam kamarnya. Kamar? Bukankah tadi ia berada di ruang keluarga? Bianca memperjelas pandangannya dan ternyata seseorang yang berada di balkon itu adalah suaminya Axel ia pikir itu adalah seorang penjahat.


Pria itu memutar tubuhnya lalu menangkap sosok Bianca yang sedang terduduk di atas kasurnya, ia menatap tajam ke arah Bianca lalu bersuara dari sana tanpa menghampirinya.


“Kau sudah bangun?” tanya Axel


“Hem, sudah” ucap Bianca dengan suara khas bangun tidurnya.


“Ini masih sangat pagi, tidur lagi saja”


“Aku pikir itu tidak akan bisa, ini sudah menjadi kebiasaanku” ucap Bianca tersenyum dan Axel hanya mengangguk mengerti.


Bianca menggulung rambut panjangnya, ia bangkir dari kasurnya saat ingin melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi keningnya mengerut dan tiba-tiba ia menatap ke arah Axel lagi yang masih menatapnya.


“Apa kau yang memindahkanku?” tanya Bianca


“Ya, jika aku biarkan saja tubuhmu pasti akan sakit setelah bangun nanti” jelas Axel


“Ah terima kasih, maaf merepotkanmu lagi”


Axel hanya menatap ke arah Bianca dengan tatapan tajamnya kemudian ia berdehem lalu mengalihkan pandangannya ke luar sana. Bianca melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya, Bianca menatap dirinya di pantulan kaca tersebut kemudian tersenyum kecil.


Bianca keluar kamar mandi, sebenarnya ia ingin mandi saat ini dengan air hangat namun karena mengingat ia tidak membawa pakaian ganti ia pun menundanya. Saat ia keluar terdengar Axel yang sedang berbicara di telepon, menelepon di jam empat pagi? Dengan siapa? Bianca penasaran tapi ia tidak bertanya karena sepertinya itu bukan urusannya.


“Lima belas menit lagi kau sudah harus sampai” ucap Axel pada seseorang yang berada di panggilan telepon itu.

__ADS_1


Setelah panggilan telepon itu berakhir Axel meletakkan ponselnya ke dalam saku celananya saat ia berbalik arah matanya tak sengaja bertemu dengan Bianca. Bianca menjadi kikuk, dengan cepat ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Axel.


Axel tersenyum melihat tingkah Bianca, ia menggelengkan kepalanya saat kembali mengingat tingkah wanita itu “Kenapa dia selalu bertingkah seperti itu saat aku menatapnya?” gumam Axel.


Bianca menuruni tangga, ia berjalan menuju dapur. Saat ia tiba di dapur ia hanya berdiri mematung ia bingung harus melakukan apa, ini masih terlalu pagi untuknya memasak yang ada masakannya keburu dingin menjelang pagi.


“Bianca” sapa seseorang dari arah belakangnya


Bianca membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara tersebut “Ah, mama sudah bangun?” tanyanya.


“Iya baru saja, apa yang kau lakukan di sini nak?” tanya ibu mertuanya berjalan mendekat ke arahnya.


“Ah ini ma... Sebenarnya tadi aku ingin memasak tapi tidak jadi karena ini masih terlalu pagi setelah itu aku bingung mau melakukan apa” ucap Bianca tersenyum kikuk ia terlihat seperti orang bodoh saat ini.


Bianca menjawab cepat “Tidak ma tidak perlu biar aku saja, mama duduk saja di sana. Aku akan segera” ucapnya sambil mengarahkan ibu mertuanya ke arah ruang keluarga.


Dengan cepat Bianca kembali ke dapur dan membuatkan teh untuk ibu mertuanya dan dirinya. Setelah selesai, ia membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir berisi teh dan setoples cookies.


Keduanya menikmati teh dengan berbincang-bincang banyak hal namun mertua dan menantunya itu di buat bingung saat bel rumah berbunyi. Siapa yang bertamu di pagi buta seperti ini? Pikir Bianca, saat ia ingin beranjak membukakan pintu langkahnya terhenti.


“Biar aku saja” ucap Axel sembari berlalu.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan minum teh dan berbincang-bincang dengan ibu mertuanya itu hingga saatnya suaminya itu kembali.


“Siapa nak?” tanya nyonya Kevlar

__ADS_1


“Suruhanku, aku dan Bianca membutuhkan pakaian ganti” jelasnya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Setelah lama berbincang dan tehnya pun sudah habis Bianca memutuskan untuk kembali ke kamar setelah ibu mertuanya juga memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia memutar gagang pintu lalu memutarnya saat pintu itu terbuka ia pun masuk ke dalamnya namun setelah beberapa langkah masuk ke dalam kamar ia dibuat terkejut dengan pemandangan di hadapannya saat ini.


Ia sangat terkejut melihat Axel yang baru saja keluar kamar mandi dan pria itu hanya keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya saja dan bertelanjang dada setelah beberapa detik menatap pemandangan di depannya itu dengan cepat ia membalikkan tubuhnya.


“Ma-maaf” ucap Bianca terbata


“Astaga Bianca, kau bodoh sekali!” rutuknya dalam hati.


Axel pun sama terkejutnya, ia tidak menyangka jika Bianca akan kembali secepat ini pikirnya Bianca akan lebih lama di bawah karena sedang berbincang dengan ibunya. Dengan cepat Axel memakai bajunya, setelahnya ia berjalan mendekat ke arah Bianca dan meletakkan handuknya di atas kepala Bianca lalu.


“Ketuklah dulu sebelum kau masuk” ucap Axel sembari mengacak-acak rambut Bianca gemas.


Axel menarik gagang pintu dan keluar dari sana meninggalkan Bianca yang masih mematung dengan wajahnya yang sangat merah, ia menuruni tangga sembari tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Bianca menutup wajahnya yang memerah itu lalu menggelengkan kepalanya kini jantungnya berdegup sangat kencang.


“Astaga” pekiknya dalam hati.


Bianca memasuki kamar mandi dengan wajah yang memerah, kemudian membersihkan dirinya dan mencoba melupakan kejadian tadi. Setelah selesai ia berdiri di depan kaca lalu melihat pantulan dirinya di kaca itu namun lagi-lagi kejadian tadi selalu terlintas di pikirannya.


“Astaga! Bianca apa kau gila? Kenapa selalu memikirkannya” rutuknya pada dirinya sendiri.


Kejadian itu selalu terlintas di pikirannya “Hah, memalukan sekali” teriaknya dan tanpa ia sadari seseorang mendengar teriakannya itu.


Di luar sana Axel yang kembali hanya untuk mengambil tabletnya tak sengaja mendengar teriakan dari dalam kamar mandi, ia menatap pintu kamar mandi itu lalu tersenyum geli mendengarnya. Setelah mengambil tabletnya ia pun keluar dari sana dengan senyuman yang masih tercetak jelas di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2