Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.26 Menghargai?


__ADS_3

Bianca bangun dari tidurnya dengan keadaan yang acak-acakan dengan langkah berat ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya lalu tersenyum tipis jarinya bergerak menyentuh cermin lalu terisak saat pikirannya kembali terbayang kejadian kemarin sore.


Bianca membenci dirinya yang seperti ini, ia benci dirinya yang terus-terusan menangisi pria yang sudah jelas bukan untuknya, dia benci dirinya yang menyukai pria itu.


Ia mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya “Aku membencimu!” pekiknya tertahankan.


Bianca sempat mengira bahwa Axel memiliki perasaan yang sama dengannya karena perlakuan pria itu yang terkadang sangat lembut dan baik kepadanya. Ia pikir jika ia berusaha sedikit lebih banyak lagi pria itu juga pasti menyukainya, tapi ternyata itu tidak.


Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan? Berpisah? Itu sangat tidak mungkin mengingat pernikahan mereka yang masih terbilang baru, jika berpisah itu akan membuat malu keluarga saja dan itu tidak boleh sampai terjadi.


Lagi pula Bianca belum siap jika harus menceritakan semuanya kepada orang tuanya, ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya maupun mertuanya kecewa terhadapnya dan di sisi lain ia juga merasa takut jika orang tuanya sampai mendengar atau melihat berita mengingat Axel yang terang-terangan pergi berdua wanita itu.


Bianca membiarkan tubuhnya di guyur oleh air dingin, ia ingin menyegarkan tubuh dan pikirannya. Tangisannya bersatu dengan air yang jatuh mengguyurnya itu, ia tidak boleh seperti ini ia tidak boleh terlihat lemah. Apa pun yang terjadi Bianca harus bertahan walaupun rasa sakit menghantamnya, Bianca menghela nafasnya berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati semua ini.


“Tidak Bianca, kau tidak boleh larut dalam kesedihan seperti ini. Kau harus kuat, yakinlah semua ini akan baik-baik saja” gumamnya di bawah guyuran air dingin itu.


Setelah itu, Bianca bersiap-siap pergi ke kampus ia juga berdandan untuk menyamarkan matanya yang sembab. Ia berjalan keluar dan menghela nafasnya kasar, kejadian tadi malam masih terbayang jelas di pikirannya dan sekarang itu menghantuinya.


Bianca mengingat ketika Axel akan pergi untuk makan malam bersama selingkuhannya itu dengan wajah yang gembira, ia juga mengingat ketika Axel merangkul mesra wanita itu. Sulit untuknya melihat semua itu karena itu sangat menyakitkan untuknya.


“Hah, sudahlah” ucapnya kembali menghela nafas kasar


Bianca berjalan ke arah dapur lalu duduk di salah satu kursi di ruang makan, ia mengambil sepotong roti lalu mengoleskannya dengan selai nenas namun ketika hendak memakannya suara berat membuatnya terdiam kaku.


“Maaf...”


Bianca mendongakkan kepalanya menatap ke arah Axel yang tengah mengancingkan lengan bajunya kemudian jas hitam yang melekat di tubuhnya.


“Maaf tadi malam aku makan di luar” sambung Axel sembari duduk di hadapan Bianca.


Bianca hanya terdiam sejenak lalu memakan rotinya “Kupikir kau akan menyesali perbuatanmu, ternyata tidak” ucap Bianca dalam hatinya kemudian menghela nafasnya “Hah, apa yang kuharapkan darimu”


Bianca dan Axel menyantap roti mereka masing-masing sebagai pengganjal perut di pagi hari, keheningan menyelimuti keduanya. Bianca merasa sedikit risih karena saat di situasi seperti ini pun ia harus tetap berhadapan dengan pria itu dan terlebih lagi ia tidak bisa mengabaikan suaminya itu. Bianca memakan cepat rotinya lalu meneguk segelas susunya sampai habis dengan cepat ia bangkit dari kursinya membawa piring kotornya lalu mencucinya.


“Nyonya, biar saya saja yang mencucinya” ucap bi Asih yang menghampirinya.


“Tidak apa bi ini sudah selesai, tapi maaf bi meja makannya tolong bibi yang bersihkan ya. Aku harus berangkat sekarang” ucap Bianca tersenyum

__ADS_1


“Baik nyonya, tentu saja”


Setelah menyelesaikan sarapannya Bianca melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya dan beberapa menit kemudian ia keluar kamar tersebut dan kembali berjalan ke arah ruang makan saat melihat Axel masih berada di sana.


“Aku berangkat” pamit Bianca


Axel bangkit dari duduknya lalu menatap datar ke arah Bianca “Kau akan berangkat bersamaku” ucapnya.


“Tidak perlu aku bisa berangkat sendiri” ucap Bianca menolak tawaran Axel


“Jangan membantahku!”


Bianca menghela nafasnya kasar “Baiklah...”


Axel berjalan meninggalkan Bianca yang berdiri diam di sana menuju depan kemudian ia berbincang dengan sopirnya bahwa hari ini ia akan membawa mobil. Bianca hanya mengikuti Axel dari belakang memandangi punggung pria itu, andai saja dunia tidak sekeras ini kepadanya mungkin kehidupannya akan baik-baik saja.


“Masuk” titah Axel


Bianca hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian masuk ke dalam mobil mewah milik Axel tersebut. Tidak biasanya Axel menawarkan diri untuk mengantarnya terlebih lagi tanpa sopir pribadinya padahal sejak hari pertama sopir pribadinya kembali di perkerjakan pria itu selalu pergi dengan di antar oleh sopirnya pribadinya.


Bianca melirik sekilas ke arah Axel yang berada di sebelahnya “Pasti dia ingin menjemput kekasihnya” ucap Bianca lirih dalam hatinya.


“Kau pulang jam berapa?” tanya Axel tiba-tiba memecahkan keheningan di antaranya.


Bianca menoleh sejenak ke arah Axel yang fokus menyetir “Entahlah, mungkin malam”


“Kenapa lama sekali?”


“Aku akan mampir ke toko bunga sebelum pulang”


“Untuk?”


“Membeli bunga”


Axel terdiam sejenak, ia cukup tersentak karena Bianca menjawab singkat dan cepat pertanyaannya. Ia menghela nafasnya pelan “Untuk apa? Bukankah di rumah sudah banyak” tanyanya.


“Tidak, itu masih kurang” jawab Bianca singkat.

__ADS_1


Bianca mencuri-curi pandang melirik Axel “Hah, kupikir karena ada kekasih dia tidak memperhatikanku. Itu cukup, setidaknya dia tahu tentang itu” ucap Bianca dalam hatinya.


“Lalu jam berapa kelasmu selesai?”


“Sore hari”


“Baiklah kalau begitu akan kujemput di sore hari”


“Tidak, aku bisa pulang sendiri” tolak Bianca


Axel menatap jengah Bianca “Kenapa kau selalu menolakku?”


Bianca tersenyum getir ke arah Axel “Bukankah itu yang kau mau? Apa perlu kuingatkan kembali perjanjian yang kau katakan terakhir kali saat berada di rumah orang tuaku?” tanya Bianca sinis “Aku sedang berusaha melakukannya, tidak mengganggumu dan tidak memperdulikanmu lagi” sambungnya.


Ucapan Bianca memang benar adanya tapi entah kenapa Axel merasa tersinggung dan sangat geram mendengarnya langsung dari mulut Bianca “Setidaknya kau harus menghargaiku sebagai suamimu!” ucap Axel geram.


Bianca menatap jengah Axel ia dapat melihat rahang pria itu yang mengeras akibat menahan amarahnya “Menghargai? Ck. Kau sendiri tidak mengerti apa makna dari kata menghargai”


“Apa yang kau bicarakan?” tanya Axel geram


“Sebuah fakta”


Axel mengerem mendadak mobilnya ketika sudah sampai di depan gerbang kampus Bianca, ia menatap Bianca yang tengah tersenyum getir dengan geram.


“Sebaiknya kau pahami dulu apa itu menghargai, kau saja tidak menghargaiku sebagai istrimu jadi jangan pernah mengatakan hal seperti itu”


“K-kau!”


“Kenapa kau ingin marah? Lakukan saja apa yang kau inginkan” pekik Bianca geram tertahankan.


Bianca menatap sinis Axel, hatinya sangat sakit jika harus bertengkar seperti ini matanya memanas “Kau tidak pernah mengerti jika berada di posisiku, aku harap suatu saat nanti hati dinginmu itu terbuka agar kau bisa melihatku dengan jelas” ucap Bianca sembari membuka seatbelt.


“Tapi jika itu yang kau mau, baiklah. Aku akan melakukan seperti yang kau mau, aku akan menghargaimu sebagaimana layaknya seorang istri” ucap Bianca menggebu-gebu matanya semakin memanas tanpa ia sadari air matanya pun jatuh mengalir di pipinya.


“Aku akan menurutimu karena tidak ingin kualat dengan suamiku. Terima kasih atas tumpangannya” ucapnya sambil mengusap kasar air matanya.


Bianca keluar dari mobil mewah suaminya itu, hatinya terhantam beberapa kali. Axel menatap lekat ke arah Bianca yang berlari cepat, ia hanya terdiam mengingat perkataan yang baru saja di lontarkan oleh Bianca.

__ADS_1


Ia berpikir sejenak tentang semua ini apa yang salah? Semua baik-baik saja bukan? Beberapa saat kemudian Axel memutuskan untuk meninggalkan area kampus tersebut dan melajukan mobilnya menuju ke kantor dari pada harus pusing memikirkan sikap istrinya itu lebih baik ia pergi bekerja.


__ADS_2