
Axel melangkah maju dengan cepat Johannes menghadangnya dengan pistol "Berhenti! Jika kau maju, aku akan menembakmu” ucap Johannes tak memperdulikan siapa yang datang bersama Axel.
Axel menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah Bianca yang sangat ketakutan, istrinya itu menggeleng-gelengkan kepalanya melarangnya untuk melangkah maju.
“Aku tidak peduli itu, lakukan saja jika itu keinginanmu tapi jangan pernah melukai istriku”
Sheryl memandang jijik ke arah Axel “Jangan melukainya? Kau pikir untuk apa aku membawanya ke sini jika tidak untuk di lukai? Selangkah saja kau berani maju aku akan melukainya!” ancamnya marah.
Axel menatap cemas ke arah istrinya itu, Sheryl itu wanita gila ia tidak boleh sampai salah langkah “Aku tau kau terpuruk karena kematian orang tuamu tapi aku bersumpah itu semua tidak ada hubungannya dengan kedua orang tuaku” ucap Axel mencoba untuk menjelaskan semuanya.
“Bohong! Tutup mulutmu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri ayahmu memukuli ayahku hingga terluka! Jika kau tidak mengetahui apa pun tutup saja mulutmu itu!” pekiknya marah
Tuan Kevlar menyela dan menatap ke arah Sheryl penuh kecemasan “Tidak nak, kau salah paham”
__ADS_1
“Persetan dengan itu semua! Pergi kalian dari sini, pergi!” teriak Sheryl tak henti-hentinya.
Sheryl yang terlihat seperti orang kesetanan itu pun menggapai kursi yang di duduki Bianca dengan gerakan cepat ia mendorong kursi itu jatuh, ia tersenyum melihat Bianca yang meringis kesakitan akibat benturan pada perut besarnya itu.
Bianca menjerit dan menangis ketika merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perutnya itu, ia menatap lemah ke arah suaminya itu dan jantungnya berdetak semakin kencang.
“S-sayang” panggilnya lirih
Axel mendekat tak memperdulikan Johannes yang menghadangnya dengan pistol itu, tepat saat ia bergerak Johannes menembakkan peluru dari pistolnya untung saja peluru itu meleset dan hanya mengenai lengannya bersamaan dengan itu polisi yang datang bersama Axel itu menembakkan pelurunya tepat mengenai tangan Johannes.
“Lepaskan aku! Aku harus membunuhnya, lepaskan ini brengsek!” makinya berteriak kepada polisi-polisi itu.
Axel melepaskan tali yang meliliti tubuh istrinya itu, ia di buat semakin takut ketika melihat air bercampur darah keluar mengotori lantai ruangan itu. Axel terkejut dan menatap Bianca yang terlihat sangat kesakitan itu, ia menjadi sangat bersalah atas apa yang sudah menimpa istrinya itu.
__ADS_1
“A-apa kau baik-baik saja, sayang?”
Bianca menggeleng pelan, ia benar-benar sedang tidak baik-baik saja saat ini “Sakittt, sayang...” lirihnya tak tertahankan.
Air matanya tak tertahankan ia sangat terpukul ketika melihat istrinya yang meringis kesakitan tak berdaya itu, ia berteriak frustrasi karena tali itu sangat sulit untuk di buka. Dan hingga akhirnya tali itu pun terbuka dengan cepat ia mengangkat tubuh lemah istrinya itu, darah yang mengotori baju istrinya yang basah itu membuatnya semakin ketakutan dan ia mengabaikan sakit di lengannya akibat luka tembak itu.
Axel berlari dan menatap Bianca dengan cemas, napasnya terengah-engah dan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia menangis hatinya sangat sakit melihat kondisi istrinya yang seperti ini, dia telah gagal menjaga istrinya itu.
“Bertahanlah sayang, kumohon” pintanya lirih
Bianca meringis kesakitan, ia mengalungkan tangannya di leher suaminya itu dengan erat “Sayang...” panggilnya lemah.
Bianca menatap Axel dengan mata yang mulai berkabut, ia tersenyum lemah “Selamatkan bayiku, kumohon...” pintanya dengan mata yang perlahan menutup.
__ADS_1
Pegangan Bianca melemah hingga akhirnya terlepas dari leher suaminya itu, Axel yang melihat itu melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari mempercepat langkahnya menuju mobil.
“Tidak sayang, aku akan menyelamatkan kalian berdua. Jadi kumohon kau bertahanlah juga” gumamnya lirih