
Akhir pekan tiba, kini Bianca tengah sibuk memasukkan beberapa lembar pakaiannya ke dalam koper kecil miliknya dan berniat pergi pagi ini. Setelah selesai menyiapkan pakaiannya Bianca keluar dari kamarnya menuju dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya dan juga dirinya. Bianca memasak seluruh bahan makanan yang tersisa di dalam kulkasnya ia juga membuat sandwich di masukkan ke dalam kotak bekal untuk ia camil nanti.
“Apa kau sudah selesai?”
Suara berat itu sedikit mengejutkannya, Bianca memutar tubuhnya menatap pria itu, ia memandang lekat Axel yang sudah berpakaian rapi di akhir pekan dan terlebih lagi sepagi ini.
“Sepertinya dia benar-benar sibuk” ucap Bianca dalam hatinya.
Bianca mengalihkan pandangannya lalu membelakangi Axel “Kau akan ke kantor sepagi ini? Tidak biasanya” ucap Bianca
“Tidak”
Mendengar jawaban singkat dari Axel Bianca pun hanya menganggukkan kepalanya, seharusnya ia sudah terbiasa dengan sikap dingin Axel tapi itu tetap sulit.
“Aku akan pergi denganmu” ucap Axel sembari menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
“Pergi denganku? Aku tidak bisa aku harus mengunjungi ibuku” ucap Bianca menatap sekilas ke arah Axel.
Sudut bibir Axel terangkat “Bodoh, maksudku aku akan menemanimu mengunjungi orang tuamu” ucapnya tertawa kecil.
Bianca terdiam sejenak saat melihat Axel yang tertawa “Bu-bukankah waktu itu kau menolaknya?”
“Ya, aku sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini semalam”
“Kenapa?”
Axel menatap lekat Bianca “Apa yang kenapa?”
“Ah, ti-tidak bukan apa-apa” ucap Bianca menggelengkan kepalanya cepat.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk sarapan bersama terlebih dulu, setelah selesai sarapan Bianca kembali ke kamarnya dan menarik kopernya menuju depan dan menaiki mobil Axel setelah meletakkan kopernya di bagasi mobil. Rasa bingung masih menyelimuti pikiran Bianca, kenapa pria itu berubah pikiran? Apa ibunya menghubungi pria itu? Padahal sebelumnya pria itu menolak ajakannya tanpa pikir panjang kini tiba-tiba malah ikut bersamanya.
“Bagaimana kuliahmu?” tanya Axel memecahkan keheningan di antara keduanya.
__ADS_1
“Semuanya berjalan dengan baik”
“Bukankah kau tinggal menunggu kelulusan saja?” tanya Axel dan di angguki oleh Bianca “Lalu kapan acara kelulusanmu?” tanyanya lagi.
“Hem belum tau pasti, tapi aku harap tahun ini sudah dapat surat sidang” jelas Bianca.
Pria itu tiba-tiba tidak bersuara lagi percakapan mereka berakhir di situ dan keheningan kembali menyelimuti keduanya, Bianca mengalihkan pandangannya ke arah luar lalu menghela nafasnya kasar.
“Seperti orang asing saja bahkan bersama orang yang benar-benar asing untukku dalam beberapa jam bisa menciptakan suasana nyaman, sedangkan ini padahal dia tidak sepenuhnya orang asing untukku. Apa benar dia itu suamiku?” keluh Bianca dalam hatinya.
Tak lama perjalanan akhirnya mereka pun tiba di kediaman orang tua Bianca, nyonya Veronica menyambut gembira anak dan menantunya itu.
“Ya ampun, akhirnya sampai juga” pekik nyonya Veronica bahagia langsung memeluk putri kesayangannya itu.
Bianca pun membalas pelukan ibunya dengan erat “Mama baik-baik saja bukan?” tanyanya
“Tentu saja, ayo masuk” ajak nyonya Veronica pada anak dan menantunya itu.
Bianca membantu ibunya menyiapkan minuman dan camilan untuk menemani bincang-bincang mereka sedangkan Axel masih berada di ruang tengah dengan ayah mertuanya membicarakan tentang pekerjaan mereka. Setelah berbincang cukup lama tanpa di sadari Bianca menguap kelelahan setelah kebanyakan tidur itu membuatnya terus menerus merasa mengantuk meski kelelahan sedikit saja.
“Bawalah istrimu itu istirahat, lihatlah bagaimana dia menguap” ucap nyonya Veronica pada Axel menggoda Bianca.
“Mama...” rajuk Bianca hal itu membuat orang tuanya dan Bianca sendiri tertawa kecuali Axel yang hanya menyunggingkan sedikit senyumannya.
“Ya sudah pergi sana, istirahatlah terlebih dulu” suruh nyonya Bianca pada anak dan menantunya itu.
Pada akhirnya Axel dan Bianca memasuki kamar yang akan mereka tempati dan beristirahat. Ah tidak lebih tepatnya hanya Bianca lah yang beristirahat sedangkan Axel tidak, pada awalnya setelah sampai di kamar kantuk Bianca hilang namun melihat Axel yang terus fokus pada laptopnya dan keheningan yang menyelimuti kamar itu membuatnya tertidur saat bermain ponselnya.
...***...
Kini malam telah tiba, Bianca sudah selesai membersihkan dirinya dan bersiap-siap. Malam ini ia terlihat cantik dengan gaun putih selutut dan rambut yang di gerai sedikit bergelombang di bawahnya, ia juga memoleskan sedikit make up di wajahnya. Malam ini kedua orang tuanya menyiapkan pesta sambutan untuknya dan Axel di halaman rumah mereka yang hanya di hadiri oleh mereka berempat.
Kini Bianca masih berada di kamarnya menunggu Axel yang masih berada di kamar mandi, sembari menunggu suaminya itu Bianca berjalan menuju jendela kamarnya yang memperlihatkan taman belakang rumah mereka dan di sana juga terlihat sepasang suami istri tengah menyiapkan persiapan pesta sambil bercanda ria.
__ADS_1
Bianca tertawa geli melihat tingkah kedua orang tuanya itu meskipun mereka bukan remaja lagi tapi mereka tetap romantis, ketika fokus melihat orang tuanya tiba-tiba saja pikirannya melayang mengingat pernikahannya dengan Axel. Perlahan senyuman yang tercetak di wajahnya memudar, matanya memanas dan wajahnya memerah lalu dadanya juga terasa sesak mengingat betapa menyedihkannya pernikahan yang sedang ia jalani saat ini.
“Bisakah aku merasakan kebahagiaan itu?” gumam Bianca pelan kembali menatap lekat kemesraan kedua orang tuanya itu si bakik jendela kamarnya.
“Mama, papa, aku juga ingin merasakan kebahagiaan itu. Aku ingin menikah hidup bersama suamiku hingga akhir dan aku juga ingin punya anak yang menggemaskan. Aku ingin merasakan itu semua, ingin sekali...”
“Apakah semua itu mungkin untukku ma, pa?” gumamnya lirih.
Tanpa ia sadari cairan bening menetes dari kedua matanya dan ketika suara kamar mandi terbuka dengan cepat ia menghapus air matanya lalu memalingkan wajahnya agar tidak melakukan kontak mata dengan Axel.
“Ah jika sudah selesai langsung saja ke halaman belakang, aku akan tunggu di sana” ucap Bianca
“Sebentar” cegah Axel, Bianca membalikkan tubuhnya menatap ke arah Axel.
“Ada apa?”
“Ada yang ingin aku sampaikan tapi tidak sempat karena terlalu sibuk” jelas Axel
“Tentang apa?”
“Kemarilah” ucap Axel sambil menepuk kasur menyuruh Bianca untuk duduk di sebelahnya.
Bianca duduk di pinggiran kasur tepat di sebelah Axel dan seperti biasa lagi dan lagi jantungnya berdegup kencang dan ia pun merasa kecanggungan menerpa dirinya.
“Tentang perjanjian yang pernah kita buat dulu” ucap Axel membuat Bianca menolehkan kepalanya menatap ke arahnya
“Aku akan menyiapkan surat perceraian itu nanti, jadi untuk saat ini dan kedepannya bersikaplah saling tidak mengenal satu sama lain kecuali saat berada di hadapan keluarga kita. Kau bisa melakukan itu bukan? Lalu tentang perjanjian ini aku akan menuliskannya nanti” ucap Axel dengan wajah datarnya.
Bianca terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya menyetujui setiap perkataan yang diucapkan Axel padanya, setelah itu ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar kamar meninggalkan Axel. Di setiap beberapa langkahnya helaan nafas kasar terdengar dari mulut Bianca, kini semua angan dan harapannya pupus.
Pria itu membuat batasan yang jelas tentang hubungan mereka bahkan ia tidak membiarkan Bianca untuk sekedar berharap dan berangan. Tidak ada sedikit pun harapan untuknya menumbuhkan rasa suka dan cinta dalam pernikahan mereka pria itu menempatkan tembok besar di antara mereka dan kini Bianca hanya harus menjalani pernikahan ini hingga berakhir dan menerima kenyataan yang dari awal sudah jelas akhirnya itu.
Pesta sambutan Axel dan Bianca yang di siapkan nyonya Veronica dan Tuan Frans berjalan dengan baik hingga akhir, Bianca berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya dan tetap mencoba tertawa. Ia tidak ingin menangis saat ini karena itu akan membuat orang tuanya khawatir dan bertanya-tanya, ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
__ADS_1