Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.34 Apa Kalian Bertengkar?


__ADS_3

Bianca terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan lalu melirik ke samping pria itu terlihat masih tertidur lelap. Bianca memperhatikan wajah Axel tangannya terangkat ingin menyentuh wajah suaminya itu namun ia urungkan saat Axel menggeliat dalam tidurnya.


“Aku tidak bisa menghilangkannya meskipun aku mau karena semakin hari perasaan ini semakin menguat” gumamnya lirih.


“Aku mencintaimu. Memang benar ini semua hanya karena perjodohan tapi perasaanku tulus entah kenapa bisa seperti ini aku juga tidak tau karena ini hadir begitu saja” ucap Bianca menatap lirih Axel “Walaupun kadang kau bersikap kasar padaku dan menyakitiku dengan perkataanmu tetap saja perasaan ini tidak hilang”


Bianca terus bergumam sendiri sambil memandangi wajah tampan suaminya yang sedang terlelap itu. Meskipun kamarnya hanya diterangi oleh lampu tidur tapi ia bisa melihat wajah suaminya dengan jelas mungkin itu kekuatan cinta.


Bianca bergerak pelan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tunggu bukankah ini sangat lucu? Meskipun tadi malam mereka bertengkar tapi Bianca harus tidur di samping pria itu dan bangun lalu menatap pria itu dengan perasaan yang lebih kuat dari sebelumnya.


Ia membersihkan tubuhnya lalu keluar menuju dapur dan ya seperti biasa ia tidak membawa bajunya karena tidak tahu jika akan berakhir menginap di sini. Untung saja ada baju Axel yang tersisa di sini, meskipun kebesaran itu tetap terasa nyaman untuknya.


“Selamat pagi ma, pa” sapa Bianca saat melihat kedua mertuanya itu berada di dapur.


“Pagi sayang” sapa nyonya Kevlar balik.


Tuan Kevlar hanya tersenyum “Kau sudah bangun? Di mana suamimu nak?” tanyanya


“Axel masih tidur pa, dia tidur sangat lelap jadi tidak tega untuk membangunkannya”


Ibu mertuanya itu menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Bianca “Anak itu kebiasaan, selalu bangun lambat jika sudah berada di sini”


Bianca hanya terkekeh mendengar ucapan mertuanya itu yang sibuk dengan masakannya dan Bianca pun melangkahkan kakinya mendekati ibu mertuanya itu.


“Aku ingin melakukannya juga, apa boleh ma” tanya Bianca


Ibu mertuanya itu tersenyum hangat kepadanya “Tentu saja, dengan senang hati sayang” ucapnya.


Bianca mulai mengeluarkan bahan makanan dan peralatan masak yang dibutuhkannya. Ia membuat telur gulung ala Korea sesuai permintaan ayah mertuanya, terakhir kali ia juga pernah membuat itu dan ayah mertuanya itu menyukai telur gulung buatannya itu.


Bianca terlihat sibuk dengan kegiatan masak memasaknya namun dapur itu selalu terdengar suara tawa sebagian besar itu berasal dari Bianca karena ibu mertuanya itu selalu saja melucu hingga membuat Bianca tak dapat menahan tawanya.


Disisi lain Axel terlihat sedang menuruni tangga, ia dapat mendengar suara tawa yang memenuhi bangunan mewah ini. Pandangan matanya menangkap Bianca dan ibunya yang sedang memasak sambil tertawa bersama sedangkan ayahnya terlihat membaca koran dan tersenyum tipis mendengar candaan ibunya itu.


Axel mendekat ke arah dapur dan berdiri di samping ibunya “Pagi nyonya” bisiknya tepat di telinga ibunya


“Astaga!” pekik ibunya kaget dan ia di buat kaget lagi dengan penampilan anaknya yang berantakan.


“Ada apa dengan penampilanmu itu, kenapa kau belum mandi juga?” ucap ibunya itu.

__ADS_1


“Belum mandi saja aku setampan ini” ucap Axel memainkan alisnya menggoda ibunya itu.


Nyonya Kevlar memukul lengan anaknya itu “Apa kau tidak malu dilihat istrimu?”


Axel melirik ke arah Bianca ia dapat melihat ekspresi wajah wanita itu yang terlihat malu-malu “Dia mencintaiku apa adanya, seperti ini bukan masalah besar untuknya”


“Cepat sana pergi mandi” perintah nyonya Kevlar mendorong anaknya menjauh darinya.


Axel tertawa mendengar omelan ibunya itu. Ia melirik ke arah Bianca yang di sibukkan dengan masakannya “Aku ingin kopi seperti biasa” ucapnya ke arah Bianca.


Bianca menatap Axel kemudian menganggukkan kepalanya, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada suaminya itu. Ia menatap lekat Axel yang berjalan menjauh dari dapur, sudut bibirnya sedikit terangkat. Pria itu sangat hebat, bagaimana bisa dia bersikap biasa-biasa saja setelah kejadian tadi malam? Bianca juga ingin seperti itu tapi ia tidak bisa, ia tidak ingin bersandiwara saat ini moodnya sedang tidak baik.


“Apa kalian bertengkar?” tanya nyonya Kevlar membuyarkan lamunan Bianca.


Bianca yang tadinya menatap lekat Axel langsung mengalihkan pandangannya ke arah ibu mertuanya itu dan dengan cepat ia menggelengkan kepalanya “T-tidak ma, kami baik-baik saja”


“Syukurlah, melihatmu yang diam saja mama kira kalian bertengkar” ucap nyonya Kevlar tersenyum lega.


“Semuanya baik-baik saja ma” ucap Bianca tersenyum.


Bohong, ia berbohong lagi dan lagi. Dengan perasaan yang canggung ia melanjutkan kegiatan memasaknya dan setelahnya ia pun membuatkan kopi untuk Axel. Tepat setelah kopi itu dibuat orang yang punya pun berjalan menuju ruang makan dengan keadaan yang sudah berpakaian rapi, pria itu sepertinya akan pergi ke kantor.


Bianca duduk bersebelahan dengan suaminya itu, mereka menikmati sarapan mereka dengan tenang hingga akhirnya Tuan Kevlar memecah keheningan itu dengan pertanyaan yang mengejutkan.


Bianca tersedak mendengar pertanyaan itu dan Axel juga tersentak kemudian melirik satu sama lain “Papa!” ucap Axel.


“Kenapa? Aku hanya bertanya” ucap tuan Kevlar santai.


“Itu benar, mama juga tidak sabar ingin menggendong cucuku. Kira-kira jika kalian memiliki anak akan mirip siapakah? Mama berharap anak itu mirip Bianca agar tidak kaku sepertimu” ucap nyonya Kevlar berandai sedikit meledek anaknya.


“Istriku belum hamil, bersabarlah” ucapnya


Kedua orang tua Axel mengangguk mengerti “Apa kalian melakukannya setiap hari?” tanya nyonya Kevlar menatap menantunya.


Bianca gelagapan ia bingung harus menjawab apa dan pertanyaan itu terlalu vulgar untuk dirinya yang polos ini hingga seketika wajahnya merah merona saat mertuanya itu menatapnya dengan raut wajah yang ingin tahu.


Axel yang menyadari itu pun menyela “Ma, pertanyaan itu terlalu berlebihan untuk ditanyakan saat di meja makan” ucapnya


“Apa kau jarang melakukannya nak?” tanya ibunya, kini Axel yang menjadi sasaran pertanyaan konyol itu.

__ADS_1


Axel menghela nafasnya “Kenapa mama penasaran dengan urusan kami, kalian tidak perlu tau tentang itu”


“Eyy, lihatlah bocah ini” ucap nyonya Kevlar.


“Kau sepertinya bukan anakku, lihatlah ayahmu ini sekali melakukannya langsung jadi. Ya kan ma?” ucap tuan Kevlar, kini giliran dirinya yang menyombong.


Bianca hanya tertawa geli melihat tingkah ayah mertuanya yang terlihat sedikit konyol itu. Kemudian ia melirik ke arah ibu mertuanya yang terlihat malu-malu dengan pipi yang merah merona. Ia pikir ibu mertuanya itu tidak akan malu-malu seperti ini karena ia yang memulai pembicaraan itu, ternyata dia salah mertuanya itu terlihat sangat menggemaskan.


“Hey! Kenapa malah mengatakan hal itu” ucap nyonya Kevlar malu-malu.


Tuan Kevlar yang melihat istrinya malu-malu dengan pipi yang merona itu hanya tertawa kecil “Astaga, kau lucu sekali” ucapnya lalu mengecup pipi istrinya.


Nyonya Kevlar memukul lengan suaminya itu, rasa malunya bertambah apalagi Tuan Kevlar melakukan hal seperti itu di depan anak dan menantunya.


“Hah, lihatlah apa yang terjadi sekarang ini? Kalian bermesraan di depan anak kalian?” ucap Axel kesal


Nyonya Kevlar menatap anaknya dengan tatapan meremehkan “Kenapa? Jika iri lakukan juga sana pada istrimu” ucapnya.


Bianca tertawa kecil, ternyata semenyenangkan ini memiliki mertua. Mungkin tidak semua mertua seperti ini tapi mertuanya adalah yang terbaik dan sangat mudah untuk Bianca menyesuaikan diri di antara mereka.


“Ck!” desis Axel


Acara makan mereka pun selesai. Axel dan Tuan Kevlar belum pergi menuju kantor mereka masih berada di rumah, pria itu terlihat berjalan menuju halaman belakang rumah ibunya. Axel menghela nafasnya kasar ucapan kedua orang tuanya itu sangat mengganggunya, mana mungkin ia bisa mengabulkan itu. Mungkin saja bisa tapi setelah perceraian mereka di urus dan saat itu baru ia bisa memberikan kedua orang tuanya cucu dengan wanita yang dia cintai tidak saat ini.


“Nak...” sapa nyonya Kevlar mendekat ke arah Axel.


Axel memalingkan wajahnya ke belakang “Iya ma?”


“Kau baik-baik saja nak?”


“Semua baik-baik saja, hanya saja terpikir perkataan mama tadi” ucap Axel tersenyum canggung.


Nyonya Kevlar tersenyum dan mengelus punggung anaknya “Hey, tidak apa. Mama dan papa akan menunggunya”


Axel menggenggam tangan ibunya dan tersenyum. Bianca yang tak sengaja melihat itu matanya perlahan memanas, hingga berkaca-kaca. Sandiwara yang menyakitkan, Bianca membatalkan niatnya yang tadinya ingin menghampiri mereka dan memutuskan untuk kembali ke dapur saja.


Bianca kembali duduk di ruang makan. Beberapa kali terdengar suara helaan nafas kasar darinya lalu ia mengusap kasar wajahnya hingga tanpa ia sadari air matanya yang tadi sudah menumpuk akhirnya jatuh tak bisa di tahan lagi kemudian dengan cepat ia menghapus air mata yang jatuh di pipinya agar tidak ketahuan oleh siapa pun.


Bianca belum bisa menetapkan hatinya, ia bingung harus melakukan apa. Perasaannya masih sangat plin-plan jika hari ini ia ingin menyerah maka keesokan harinya pasti ia ingin bertahan. Bahkan hanya karena perlakuan kecil tak berarti dari pria itu saja bisa membuat hatinya berubah sembilan puluh tujuh persen

__ADS_1


Sulit untuknya memutuskan semua ini “Ya Tuhan, bantu aku” gumamnya lirih.


__ADS_2