Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.21 Bolehkah Aku Mencintainya?


__ADS_3

Sinar matahari menyapa memasuki celah-celah jendela kamar, seorang pria baru saja terbangun dari tidurnya ia memegang kepalanya yang terasa sakit itu lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan mengernyitkan keningnya bingung.


Axel menghela nafasnya kasar kepalanya terasa pusing ia pun bangkit dari tidurnya dan bersandar di ranjangnya dengan bantal, ia perlahan mencoba mengingat apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya.


“Kenapa aku bisa di sini?” gumamnya


Ia melirik pada piama yang melekat di tubuhnya dan celananya yang sudah terganti “Apa Bianca yang menggantikannya untukku?” pikirnya lalu saat itu juga dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


“Itu tidak mungkin, mana mungkin wanita itu mau melakukan hal seperti ini pasti itu Brandon” ucapnya.


Axel sedikit tersentak saat matanya tak sengaja melirik ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Seharusnya sekarang ia buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor tapi entah kenapa ia sangat enggan bangkit dari kasur empuknya itu, sepertinya hari ini pria si workaholic itu tidak pergi ke kantornya.


“Apa benar dia yang menggantikan ini?” gumam Axel


Axel memaksakan otaknya untuk mengingat kepingan demi kepingan kejadian tadi malam, butuh beberapa menit untuknya mengingat kejadian demi kejadian dan setelahnya ia menghela nafas kasar dan mengusap kasar wajahnya.


“Hah, dia pasti sangat ketakutan” ucapnya “Apa yang sudah kau lakukan bodoh!” ucapnya lagi merutuki dirinya.


Axel beranjak dari tempat tidurnya menuju lantai bawah untuk menemui Bianca. Ketika ia di bawah rumahnya menjadi ramai pelayan yang kemarin sempat di berhentikan sementara oleh ibunya kini kembali di perkerjakan bahkan sopir pribadinya pun kembali di perkerjakan. Ia tidak mengerti dengan jalan pikir ibunya kenapa harus memberhentikan mereka kalau akhirnya di suruh kembali lagi bekerja.


“Pagi tuan, kami sudah menyiapkan sarapan Anda di meja makan” ucap pelayan itu.


“Di mana Bianca?” tanya Axel


“Nyonya Bianca sudah pergi keluar tuan”


“Kapan? Apa dia sudah sarapan? Lalu ke mana dia pergi?”


“Sudah sekitar satu jam yang lalu tuan, nyonya sudah sarapan setelahnya langsung pergi ke kampus tuan” jelas pelayan itu.


Axel langsung pergi begitu saja ketika mendengar penjelasan pelayannya itu, ia kembali ke kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandinya. Ia membasuh wajahnya, matanya menatap tajam pantulan dirinya di kaca lalu terdengar helaan nafas kasar.

__ADS_1


“Kenapa kau kembali?!” teriaknya frustasi.


Tangannya mengepal sangat kuat, matanya memanas dan dadanya bergemuruh, ia sangat geram sekali ia kembali di ingatkan dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Kematian, Kepergian, Kehilangan, Pengkhianatan, semua itu ia rasakan dalam satu saat di hari yang sama. Hal itu membuatnya sangat marah dan menggila jika mengingat kejadian itu lagi


“Brengsek!!”


Axel meninju kaca di hadapannya itu sangat kuat hingga darah mengucur di tangannya namun ia tidak memperdulikan rasa sakit yang menjalar di tangannya bersamaan dengan darah yang mengalir itu. Kepalanya terasa akan pecah, nafasnya tersengal-sengal dan matanya memanas dengan tatapan tajamnya itu.


“Alexa, apa yang harus kulakukan sekarang” ucapnya lirih.


...***...


Bianca terlihat melamun di dalam kelasnya, mata kuliah sudah di mulai ia tidak memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan di depan sana dan ia hanya melamun dengan memainkan bolpoinnya.


“Bianca Shaenette” tegur dosennya


Bianca tersentak kaget “Ah, ya sir? Maafkan saya sir” ucap Bianca


“Ya sir, saya baik-baik saja” ucap Bianca


“Ya sudah, mari kita lanjut pembahasan materi lagi”


Setelah mata kuliah selesai, Alisya mengajak Bianca menuju taman belakang kampus. Meskipun tidak tahu pasti apa yang terjadi namun ia tahu jika ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu dan kini sahabatnya itu tengah punya banyak pikiran.


“Hah, jadi apa masalahmu?” ucap Alisya sambil duduk di samping Bianca yang sudah duduk duluan.


Bianca melihat ke arah Alisya “Entahlah, aku hanya tidak mengerti dengan perasaanku saja” ucap Bianca lalu menghela nafasnya kasar “Semakin kesini aku semakin tidak mengerti dengan perasaanku, memikirkannya saja sudah membuatku pusing”


“Apa ini tentang suamimu?”


Bianca menganggukkan kepalanya pelan bersamaan dengan helaan nafas yang keluar dari mulutnya “Al, apa aku boleh mencintainya?”

__ADS_1


“Hey, apa maksudmu? Tentu saja kau boleh, kalian kan sudah menikah tentu saja harus saling mencintai” ucap Alisya sedikit terperangah mendengar pertanyaan tak menduga dari Bianca.


“Kau tidak mengerti Al, ini tidak semudah itu” ucap Bianca ambigu.


“Apa maksudmu?”


“Aku akan menceritakannya tapi berjanjilah padaku untuk tidak mengatakannya pada siapa pun” pinta Bianca menatap lirih Alisya.


Alisya menganggukkan kepalanya mengerti, Bianca menggenggam erat tangan sahabatnya itu. Ia memejamkan matanya dalam sebelum mengutarakan semua apa yang sebenarnya sudah terjadi kepadanya.


“Al, pernikahan ini bukan pernikahan yang terjadi karena saling cinta apalagi suka semua ini terjadi hanya karena sebuah perjodohan... Ya, awalnya aku menolak ini tapi karena tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku, aku memilih untuk menerimanya dan mencoba untuk membuka hatiku untuk calon suamiku”


Bianca menghela nafas dan matanya mulai memanas “Aku meyakinkan hatiku untuk mencobanya saja karena aku pikir karena akan hidup bersama rasa suka, cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu tapi semua itu hanya harapanku saja”


“Saat pertemuan pertama keluarga, saat semuanya sudah di tentukan dia mengatakan padaku kalau dia di paksa oleh ibunya untuk menerima pernikahan ini lalu dia juga mengajukan perjanjian pernikahan padaku setelah satu tahun menikah kita akan berpisah...”


Bianca terisak ia tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi kini ia sudah mengatakan inti dari semua permasalahan yang menumpuk di dadanya. Bianca menangis dan Alisya memeluk erat tubuhnya, ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini yang dapat ia lakukan hanyalah memeluk sahabatnya itu bahkan rasanya untuk menghibur itu sedikit tidak pantas saat ini karena ia ingin membiarkan Bianca itu mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya.


“Al, apa ada harapan untukku mempertahankan pernikahan ini? Dia tidak mencintaiku” ucap Bianca terisak dalam pelukan Alisya


“Dengar, jika kau mencintainya dan yakin akan hatimu maka kau bisa mempertahankan itu semua. Meski dia tidak mencintaimu, kau bisa memberinya cinta sampai dia merasakan itu” ucap Alisya memeluk erat sahabatnya itu, untunglah ia memilih untuk mengajak Bianca ke taman belakang setidaknya di sini cukup tenang dan tidak ada orang.


“Kau sudah berjuang, aku tahu itu menyakitkan tapi kau tidak punya pilihan selain meninggalkannya atau mempertahankan dan merasakan sakit itu. Jika kau terus berusaha aku yakin suamimu pasti akan mencintaimu juga” ucap Alisya


“Aku tidak yakin itu” ucap Bianca terisak


“Suamimu pasti mencintaimu, itu pasti. Untuk sekarang cukup percaya saja pada hatimu”


Bianca kembali duduk tegap sembari menganggukkan kepalanya “Terima kasih sudah mendengar ceritaku”


“Tentu saja, kapan pun itu aku selalu ada untukmu. Karena itu sekarang tersenyumlah” ucapnya mencoba meyakinkan dan menguatkan hati sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2