Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.29 Meyakinkan Hati


__ADS_3

Di tengah jalanan yang ramai Axel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia melajukan mobilnya menuju ke arah kampus istrinya. Ia berniat menjemput Bianca karena sebelumnya ia sudah mengatakan bahwa dia akan menjemput istrinya itu.


Ia merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya dan ia mulai mencari kontak hingga akhirnya terhenti di nomor yang bertuliskan nama ‘Bianca’ setelah itu ia langsung menghubunginya.


“Kau di mana?” tanya Axel to the point saat telepon itu terhubung.


“Aku ada di...” ucapan Bianca terpotong


“Jangan ke mana-mana aku akan menjemputmu. Sebentar lagi aku sampai” ucap Axel ia bahkan tidak membiarkan Bianca untuk menyelesaikan ucapannya.


Axel mengakhiri panggilan itu, ia kembali memfokuskan dirinya menyetir mobilnya menuju kampus. Setelah sampai di depan gerbang kampus istrinya ia langsung keluar dari mobilnya dan bersandar di depan mobilnya. Meskipun ia benci di lihat banyak orang dan Bianca sudah mengatakan padanya untuk menunggu di dalam mobil saja tapi entah kenapa rasanya seperti ada yang berbeda saja.


Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mencoba menghubungi Bianca berkali-kali namun tidak tersambung “Apa dia sudah pulang?” gumam Axel menghela nafas kasar.


“Dia tidak mungkin pulang karena aku sudah menyuruhnya untuk menungguku di sini” sambungnya.


Axel tetap menunggu Bianca di sana. Hingga akhirnya ia melihat sosok istrinya berada tak jauh dari jangkauan matanya namun hal itu membuatnya menghela nafas kasar karena sosok yang berada di samping istrinya itu. Axel menatap lekat ke arah Bianca setelah beberapa menit menatap istrinya akhirnya Bianca menyadari kehadiran Axel dan langsung melangkahkan kakinya cepat menghampirinya.


“Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?” tanya Axel langsung saat Bianca baru saja tiba di hadapannya.


“Apa kau menghubungiku lagi? Maaf, baterai ponselku habis” ucap Bianca


“Habis baterai atau...” ucap Axel menggantung sembari melirik tajam ke arah Johannes.


Johannes yang memahami situasi itu langsung menyela “Ah, aku Johannes. Itu tidak seperti yang kau kira, kami hanya berteman” jelasnya tidak ingin ada kesalahpahaman antara Bianca dan suaminya.


“Kuharap tidak lebih dari itu” ucap Axel sinis


Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Bianca dan menatap tajam istrinya itu “Kita jadi pergi ke toko bunga kan sayang?” tanyanya.


Bianca sedikit terkejut mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut suaminya itu “A-apa?”


“I-iya” ucapnya dengan cepat mengubah tanggapannya saat Axel kembali menatap tajam dirinya.


Axel mengode Bianca dengan menolehkan kepalanya ke arah Johannes “Ah iya, aku duluan ya Jo” ucap Bianca pamit.


“Hem tentu, hati-hati”


Bianca menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ke arah Johannes. Ia memasuki mobil mewah Axel, ia duduk lalu memikirkan ucapan manis yang baru saja dikatakan Axel kepadanya dan hal itu membuat jantungnya berdebar kencang itu pertama kalinya Axel memanggilnya selembut itu.


Axel masuk ke dalam mobil dan memasang seatbeltnya, ia memandang tajam Bianca “Jauhi pria itu”


Bianca menolehkan kepalanya dengan keningnya yang mengerut “Kenapa?”


“Tidak apa-apa, jauhi saja”


Bianca menatap ke arah Axel lalu menahan senyumannya “Apa kau cemburu?” tanyanya.

__ADS_1


“Jangan mimpi!”


Bianca terdiam. Ia seharusnya tidak menanyakan hal yang sudah ada jawaban tepat di depan matanya, tidak mungkin pria yang tidak menganggapnya itu tiba-tiba cemburu kepadanya. Sudah jelas pria itu mengatakan bahwa dia tidak menyukainya tapi ia masih juga nekat bertanya, dasar bodoh.


“Aku tidak ingin sampai media menerbitkan beritamu dengan teman priamu itu” ucapnya lagi.


Bianca melirik sekilas ke arah Axel sambil tersenyum getir lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Lalu bagaimana dengan kekasihmu? Apa tidak ada media yang akan menerbitkan berita tentang kalian?” tanya Bianca tanpa melirik sedikit pun ke arah Axel.


“Sepertinya kau bermain dengan baik, kalau begitu aku juga bisa melakukannya bukan? Menyembunyikannya dan menutupinya dengan kebohongan, begitukan?” sambungnya.


Rahang Axel mengeras begitu saja saat mendengar ucapan Bianca, dengan cepat ia melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. Tidak ada lagi pembicaraan di mobil itu hingga akhirnya mereka pun tiba di salah satu toko bunga langganan Bianca. Bianca langsung keluar dari mobil itu dan melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Axel di belakang.


“Kau kembali lagi” sapa pemilik toko bunga


Bianca tersenyum malu “Iya tan, aku perlu sedikit banyak yang kemarin tidak cukup” jelasnya.


Wanita setengah paruh baya itu tersenyum ke arahnya “Kali ini kau ingin bunga apa?”


“Hem, mawar merah dan putih” ucapnya


“Baiklah tunggu sebentar”


“Tante, aku ingin melihat bunga lily” ucap Bianca.


Bianca mengikuti pemilik toko itu dengan senang hati. Setelah selesai melihat dan memilih-milih akhirnya Bianca pun kembali dengan beberapa pot bunganya dan Axel yang melihat itu langsung mengambil alih.


“Kau datang dengan pria tampan ini? Siapa dia, kekasihmu?” tanya wanita pemilik toko bunga tersebut.


“Aku suaminya” ucap Axel memperkenalkan dirinya.


“Kau sudah menikah?” pekik pemilik toko bunga itu tertahankan


“Ah, aku tidak menyadarinya kau terlihat masih muda” ucapnya dan Bianca hanya tertawa kecil mendengarnya.


“Semoga kau di berkati dan selalu bahagia” sambungnya.


Bianca hanya tersenyum tipis, ia sudah muak dengan sandiwara ini entah sudah berapa banyak orang yang tertipu dengan statusnya saat ini padahal mereka mendoakannya dengan tulus tapi itu sia-sia. Ia juga muak dengan Axel yang selalu memperkenalkan dirinya sebagai suami tapi tidak pernah berlaku selayaknya suami jika tidak di hadapan orang lain.


“Terima kasih, tan” ucapnya.


Setelah itu Bianca memasuki mobil Axel dan duduk menyandarkan tubuhnya. Ia sudah lelah dengan semua ini, entah sampai kapan lagi ia harus bersandiwara seperti ini. Ia ingin mengakhiri semua ini ia tidak bisa, ia harus bertahan demi orang tuanya dan kedua mertuanya.


Mobil mereka pun perlahan mulai bergerak meninggalkan toko bunga tersebut. Bianca hanya berdiam diri sepanjang jalan menatap langit yang mulai senja dari arah jendela kaca mobil. Ia memegang jari manisnya lalu memutar-mutarkan cincin pernikahannya yang melingkar indah di jarinya.


“Kau harus bertahan, Bianca” ucapnya dalam hati menguatkan hatinya agar tidak goyah.

__ADS_1


Bianca keluar dari mobil ketika sudah sampai di kediaman suaminya, ia di bantu oleh pelayan di rumah itu mengangkut semua tanamannya yang baru saja ia beli ke taman belakang rumah.


“Letakkan saja di sana, aku akan mengerjakannya besok pagi” ucap Bianca


“Baik nyonya”


Setelah semua tanamannya di pindahkan, Bianca masuk menuju kamarnya lalu membersihkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia keluar dan berjalan menuju arah dapur dan ia pun mengeluarkan bahan makannya.


“Nyonya, biar saya saja. Katakan saja jika ada yang ingin Anda makan” ucap Bi Asih.


“Tidak apa bi, biar aku aja”


“Tapi ini memang sudah tugas saya, nyonya”


“Tidak apa bi, bibi istirahat saja” ucap Bianca


Bukan tidak menyukai masakan bi Asih atau apa, tapi Bianca tidak terbiasa menunggu seseorang untuk menghidangkannya makanan, di rumahnya pun ia selalu membantu ibunya jika dia berada di rumah saat ibunya memasak.


Bianca sudah terbiasa melakukan hal itu karena meskipun keluarga mereka mampu tapi mereka tetap hidup sederhana dan tidak memiliki pembantu rumah tangga.


Setelah berdebat dan tidak pernah menang akhirnya Bi Asih kembali ke kamarnya di belakan dan beristirahat. Setelah jadi, ia membawa masakannya ke meja makan dan tak sengaja matanya menangkap sosok Axel yang turun dari tangga dan berjalan menuju ke arahnya dengan tangannya yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


“Ayo makan” ajak Bianca


Axel meletakkan handuk kecilnya di kursi sampingnya, ia duduk berhadapan dengan Bianca. Mereka makan bersama, cacing di perut Axel sudah tidak sabar lagi ingin di isi apalagi wangi masakan istrinya yang sangat menggiurkan itu.


Bianca menatap Axel dengan heran suaminya itu menyantap makan malamnya dengan lahap dan cepat hingga menyebabkan dirinya tersedak makanannya dan dengan cepat Bianca menyodorkan segelas air putih pada suaminya itu.


“Pelan-pelan saja, kau akan tersedak jika makan secepat itu” ucap Bianca.


Axel meneguk air minumnya dengan cepat “Aku kurang makan tadi” ucapnya.


Bianca hanya diam dan melanjutkan makannya, sesekali ia melirik ke arah Axel yang menyantap makan malamnya dengan lahap. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir di bibir Bianca, ia tidak tahu jika Axel memiliki sisi seperti ini dan itu terlihat menggemaskan.


Setelah selesai Bianca membereskan semuanya, ia meninggalkan Axel yang masih berada di ruang makan.


“Selamat malam” ucap Bianca


“Itu, aku ingin kau menyiapkan makan siangku untuk dibawa ke kantor dan kopi di pagi hari” ucap Axel tiba-tiba.


Bianca terdiam langkahnya terhenti dan ia membalikkan tubuhnya menatap heran ke arah Axel, tidak biasanya.


“Aku tidak suka makanan di kantin perusahaan, masakan kau lebih enak” ucapnya lagi mengatur suaranya berusaha agar tetap terdengar dingin.


Bianca terdiam mendengar ucapan Axel barusan “Apa dia baru saja memuji masakanku?” tanya Bianca dalam hati.


“Baiklah” ucap Bianca menyetujui permintaan Axel.

__ADS_1


Bianca membalikkan badannya dengan tersenyum senang, ia melangkahkan kakinya kembali menuju kamar tidurnya. Apakah perhatian kecil itu bisa di katakan sebagai harapan untuknya memperbaiki hubungan pernikahan mereka? Apakah itu terlalu berlebihan?


“Hah, apa pun itu aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini” gumamnya pelan saat berada di balik pintu kamarnya.


__ADS_2