
Bianca sampai di tempat tujuan, ia menurunkan koper-kopernya di bantu oleh sopir taksi itu. Ia menatap sejenak rumah neneknya ini, meskipun tidak berpenghuni tapi rumah itu masih terlihat rapi dan dari luar terlihat seperti berpenghuni karena ibunya selalu meminta seseorang untuk merawat rumah ini.
Bianca merogoh tas kecil yang ia sandang mengambil kunci rumah neneknya yang dari awal ia memang ia miliki. Waktu neneknya masih hidup Bianca sering datang ke sini dan diberi kunci cadangan agar mudah jika ia datang neneknya tidak ada di rumah ia bisa langsung masuk. Bianca tidak pernah berpikir bahwa kunci rumah itu akan berguna di saat seperti ini juga.
“Grandma, aku datang” ucapnya saat pintu itu terbuka.
Rumahnya tidak terlalu besar, sederhana dan nyaman untuk ditempati rumah itu juga terasa sangat hangat. Bianca menyalakan semua lampu di rumah itu lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tengah di samping televisi terdapat bingkai foto kecil mendiang nenek dan kakeknya, langkahnya terhenti dan menggapai foto itu.
“Aku merindukan kalian”
...****************...
Keesokan harinya Brandon terlihat mengunjungi rumah Axel, ia datang ingin memberikan bukti yang selama lima hari terakhir ini ia berusaha kumpulkan untuk membantu sahabatnya itu dan rumah tangganya yang berantakan. Tidak ada alasan lain untuk Brandon melakukan hal ini bukan karena tertarik dengan Bianca namun hanya karena tidak ingin sahabatnya itu jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sejak dulu Brandon memang tidak menyukai hubungan Axel dan Sheryl entah kenapa Axel selalu terlihat seperti orang bodoh jika bersama Sheryl bahkan ia juga tidak pernah hitung-hitung untuk mengeluarkan uangnya membelikan sesuatu untuk wanita itu.
Ia juga masih mengingat jelas bagaimana terpuruknya Axel saat Sheryl meninggalkannya pergi tanpa sepatah kata pun terlebih lagi saat itu Axek juga baru kehilangan adiknya. Dan lagi Brandon sangat tidak suka bagaimana cara Axel menyakiti istrinya, ia sama sekali tidak menyangka jika Axel akan membuat perjanjian seperti itu padahal sebelumnya ia menyuruhnya untuk memikirkan hal itu dengan serius.
Sebagai sahabat Axel sejak lama ia hanya berpikir harus ikut campur masalah ini terlebih lagi wanita yang bersamanya adalah Sheryl karena menurut pandangannya wanita itu sangat mencurigakan sejak dulu. Tak lama berdiri di depan rumah Axel akhirnya pintu itu pun terbuka dan terlihat Bi Asih yang membukakan pintu tersebut.
“Bianca ada di rumah?” tanya Brandon, ia sempat ke butik sebelumnya karena tutup ia langsung melajukan mobilnya kemari.
“Tidak ada tuan, nyonya kemarin pergi dinas ke Jepang tuan”
“Jepang? Lalu Axel apa dia sudah berangkat kerja?” tanya Brandon lagi.
“Kalau tuan sudah tiga hari tidak pulang ke rumah tuan”
“Tidak pulang, ke mana?” tanya Brandon menyelidik
“Saya kurang tau juga, tuan Axel tidak ada memberi kabar”
Brandon pamit dari sana kembali ke mobilnya, ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi Bianca namun nomor tersebut tidak dapat dihubungi dan saat ia ingin mengirim pesan teks ia melihat ada sebuah pesan masuk dari Bianca yang tidak terbaca olehnya kemarin.
__ADS_1
Matanya membulat sempurna saat membaca pesan itu dengan cepat ia kembali mencoba menghubungi nomor Bianca setelah tiga kali tak berhasil juga, ia mencoba menghubungi Axel berkali-kali tapi pria itu selalu menolak panggilannya.
“Sialan!” makinya.
Di sisi lain Axel kini tengah melajukan mobilnya menuju kantor setelah mengantar Sheryl ke agensinya. Hari ini masuk tiga hari ia bersama kekasihnya itu dan tidak pulang ke rumah setelah bertengkar dengan Bianca dan menuduh istrinya itu menyukai Brandon sahabatnya. Saat itu tanpa pikir panjang ia pergi meninggalkan istrinya dan menemui Sheryl untuk sekedar menghilangkan beban pikirannya tapi setiap kali pulang kantor ia selalu bersama Sheryl dan berakhir di rumah kekasihnya itu.
Axel mengusap wajahnya kasar sebelum turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Axel tidak bisa menghilangkan perkataan Brandon yang mengatakan bahwa dia telah memperlakukan istrinya dengan kasar dan dirinya adalah pria paling brengsek di dunia ini.
Jujur saja ia juga tidak tega setiap kali melihat istrinya itu menangis dan hatinya juga terasa nyeri saat melihat itu tapi ia menyangkal perasaan aneh itu. Dan juga sebenarnya ia tidak ingin mengucapkan kata-kata kasar kepada istrinya itu karena dia bukan pria yang seperti itu. Awalnya ia pikir dengan menerima pernikahan ini dan tidak memperdulikan Bianca akan membuatnya bahagia, dan ia bahkan berharap agar ini bisa menghilangkan luka dimasa lalunya.
Tapi ternyata tidak luka dimasa lalu karena perasaan bersalah terhadap adiknya semakin membesar dan sekarang ia kembali menambah luka baru. Dadanya seakan di remas kuat saat kembali mengingat semua perlakuannya terhadap Bianca terlebih lagi raut wajah istrinya itu. Axel terlalu larut dalam egonya sehingga ia tidak bisa membatasi hatinya, saat menyetujui pernikahan ini ia bahkan tidak punya sedikit pun niatan untuk bersama wanita lain dan hanya akan menjalani pernikahan ini seperti sebelum-sebelumnya hingga jangka waktunya tapi ia tidak menyangka hatinya kembali melemah saat melihat wanita yang ada di masa lalunya kembali menggoyahkan hatinya.
Siapa yang harus di perjuangkan Bianca yang menjadi istrinya atau Sheryl wanita dimasa lalunya yang kembali menggoyahkan hatinya itu?
Axel menopang dagunya dan memejamkan matanya erat hingga akhirnya pintu ruangannya itu terbuka dan menampakkan sahabat-sahabatnya yang tanpa pemberitahuan datang secara bersamaan dan di sana juga terlihat Brandon pria yang membuatnya melampiaskan kemarahannya kepada Bianca.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan terhadap Bianca?” tanya Mark
Axel menghela nafasnya kasar, sepertinya Brandon sudah menceritakan yang sebenarnya dan tidak ada gunanya lagi ia berbohong “Maafkan aku karena membohongi kalian, aku hanya tidak ingin kalian kecewa kepadaku”
Mark memegang bahu Brandon memintanya untuk tenang “Sudahlah kita selesaikan ini dengan baik, kau semalam menginap di mana? Di sini atau di rumah wanita itu?” tanya Mark.
“Di rumah kekasihku”
Brandon berdecih tak suka bagaimana bisa pria itu mengatakan wanita itu dengan sebutan kekasihnya di saat seperti ini, bukan hanya Brandon saja tapi Mark, Dave dan Kevin juga menatap terperangah mendengar jawaban Axel. Meskipun tidak menyukai sikap Axel tapi Brandon harus menyelesaikan ini dengan cepat karena bagaimana pun Axel adalah sahabatnya sejak dulu, ia mendekat ke arah meja kerja Axel dan melemparkan sebuah amplop coklat yang berisi bukti yang ia dapatkan selama ini.
Tangannya bergerak meraih amplop itu dan mengeluarkan isi di dalamnya yang terdapat beberapa lembar foto dan sebuah alat perekam suara yang saat ia putar ia dapat mendengar dengan jelas suara wanita yang ia kenali mengatakan bahwa ia tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh.
[Rek•] 'Tenang saja sayang, aku hanya akan menemaninya beberapa hari ini saja, aku juga sudah melakukan yang ingin kulakukan. Kamu tenang saja aku tidak mungkin memberi tubuhku untuk pria bodoh itu, kamu bisa pulang saat dia kembali ke rumahnya, aku sangat-sangat merindukanmu”
Ekspresi wajahnya berubah saat mendengar pengakuan kekasihnya itu yang tidak mencintainya dengan tulus dan beberapa lembar foto yang ada di hadapannya ini sudah menjadi bukti yang kuat untuknya bahkan Sheryl tinggal bersama kekasihnya itu.
__ADS_1
“Well, aku sudah memperingatkanmu saat itu tapi kau lebih memilih untuk mempercayai wanita itu. Tapi aku tetap mencari semua ini karena kau sahabatku dan ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku. Aku harap kau tak salah paham lagi tentang Bianca karena aku tidak memiliki rasa terhadapnya” jelas Brandon panjang lebar dan Axel hanya bisa terdiam menatap tak percaya bukti-bukti yang ada di hadapannya saat ini.
Axel tertawa kaku ia masih tak percaya semua ini “Apa kau harus melakukan semua ini?” tanyanya tanpa menatap ke arah Brandon.
“Terserah kau mau percaya atau tidak dan juga kenapa kau tidak ikut dengan kami menemuinya untuk memastikan siapa yang benar di sini” ucap Brandon.
Axel terdiam kemudian mencoba untuk menghubungi kekasihnya namun tidak bisa “Aku akan menemui istriku dulu” ucapnya.
“Baru sekarang kau ingat kepadanya? Tidak perlu lakukan itu lagi sudah sangat terlambat” ucap Brandon sinis, ia sedikit tak suka menghadapi Axel di saat seperti ini baru dia mengingat istrinya padahal beberapa hari ini ia sibuk bersama kekasihnya dan mengabaikan istrinya itu.
Axel tak suka mendengar ucapan Brandon sedari tadi pria itu selalu saja bicara sinis kepadanya “Apa maksudmu?!”
“Dia pergi”
Tidak hanya Axel yang kaget sahabatnya yang lain pun ikut kaget karena sebelumnya Brandon tidak mengatakan tentang ini. Brandon memberikan ponselnya yang menunjukkan pesan teks yang di kirim oleh Bianca semalam.
“Kenapa kau ti...” ucapnya terhenti, dengan cepat ia menghubungi rumahnya.
Tak lama berdering akhirnya sambungannya itu terhubung “Di mana Bianca?” tanyanya to the point.
“Nyonya pergi dinas ke Jepang tuan” ucap Bi Asih di seberang sana.
“Kapan?”
“Kemarin siang tuan, nyonya bilang dia sudah izin ke tuan. Jadi saya...”
Axel mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak, Axel memejamkan matanya erat entah kenapa di saat seperti ini rasa takut kehilangan itu menguat. Bukankah ini sudah sangat terlambat untuknya? Ia sudah terlalu menyakiti istrinya itu, sekarang di mana dia akan menemukan istrinya itu?
Kali ini ia dapat menyadari dengan benar ke mana tujuan hatinya yang sebenarnya. Bahkan di saat seperti ini ia tidak lagi dapat menyangkalnya karena wanita yang membuatnya goyah itu mengkhianatinya dan perasaan ini sangat terlambat untuk disadarinya.
Pintu ruangan itu di ketuk oleh seseorang, Axel membuka matanya dan melihat sekretarisnya berjalan dengan raut wajah panik di antara sahabat-sahabatnya itu.
__ADS_1
“Tuan, artikel tentang Anda dan model Sheryl Lee tersebar di sosial media” ucap sekretarisnya itu.
Axel tertegun, kini dia benar-benar hancur bukan hanya kehilangan istrinya kini ia juga kehilangan yang selama ini selalu ia jaga. Ia selalu mengingatkan istrinya untuk tidak merusak nama baiknya tapi malah dirinya sendiri yang merusak nama baiknya itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya ia hanya akan menerima semua konsekuensinya karena ia benar-benar bersalah.