
Waktu berlalu dengan cepat dan kini usia kandungan Bianca sudah memasuki delapan bulan lamanya, kini sepasang suami istri itu tidak sabar lagi menunggu kehadiran sosok kecil menggemaskan di antara mereka. Dan sekarang menjelang lahiran Bianca memiliki kebiasaan berjalan mondar-mandir di kamarnya untuk mempermudah persalinannya nanti.
Bianca menarik nafasnya dalam sesekali dan peluhnya terlihat membasahi keningnya, wanita itu berjalan sembari memegang pinggangnya. Perut besarnya itu membuatnya jadi sedikit sulit untuk bergerak terlalu banyak bahkan beban di perutnya itu membuatnya mudah lelah.
“Sayang”
Bianca menoleh ke arah suaminya yang berjalan memasuki kamar tidur mereka, ia tersenyum ke arah suaminya itu. Dapat di lihatnya dengan jelas suaminya itu terlihat kelelahan karena baru saja pulang dari bekerja.
Axel mendekat dan menopang tubuh istrinya itu “Sudah ya sayang?” ucapnya tak tega melihat istrinya yang bercucuran keringat itu.
“Tapi aku baru jalan sebentar, belum juga ada lima belas menit”
Pria itu dengan lembut mengelap peluh istrinya “Tidak apa itu sudah lama, lanjut besok lagi ya. Lihatlah kau sudah berkeringat seperti ini” ucapnya lembut.
Bianca tersenyum tak membantah “Ya, baiklah”
Axel menuntun istrinya itu menuju tempat tidur dan mereka duduk di tepi ranjang bersebelahan. Bianca memukul-mukul pelan kakinya yang terasa pegal itu dan Axel senantiasa mengangkat kedua kaki istrinya itu ke atas pahanya dan memijitnya pelan.
“Apa ini sakit?” tanya Axel
Bianca menggelengkan kepalanya “Tidak, hanya sedikit pegal saja” ucapnya.
Axel memijit kaki istrinya itu dengan lembut secara bergantian ketika merasa cukup ia pun menghentikan pijatannya dan tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah luar sana yang baru saja memasuki pagar kediaman mereka.
“Sepertinya mereka sudah datang” ucap Axel menatap ke arah balkon kamarnya.
Bianca duduk di teras balkon menikmati langit sore sembari memakan cookies buatan bi Asih dan membiarkan suaminya turun menemui kurir yang mengantarkan barang-barang keperluan untuk bayinya nanti.
Beberapa saat kemudian Axel kembali dan menghampiri istrinya itu, Axel berdiri dengan badan setengah membungkuk dan meletakkan dagunya di bahu istrinya itu.
__ADS_1
“Mau ke kamar bayi?” tawar Axel
Bianca memalingkan wajahnya menatap Axel dengan mata yang berbinar-binar “Apa sudah selesai?” tanyanya
Axel menganggukkan kepalanya dan tersenyum “Sudah, tapi belum aku rapikan” ucapnya
Bianca berdiri dari duduknya lalu menggandeng lengan suaminya itu “Ayo...”
Axel mengajak Bianca ke ruang bayi, ia membuka pintu penghubung kamarnya dengan kamar yang akan di tempati anaknya nanti. Axel tersenyum bangga ketika melihat istrinya itu juga senang sembari menatap kagum kamar bayi mereka nanti itu.
Sudah dua minggu sejak Axel merombak membuat pintu penghubung itu dan mengecat ruangan bayi yang terlihat lebih terang di banding warna kamar lainnya yang ada di rumahnya ini. Biru dan putih, perpaduan yang sangat menyenangkan mata walaupun masih tercium bau cat Bianca tetap tersenyum bangga.
Axel mengajak Bianca untuk duduk di sofa kecil “Baiklah Mommy, kau lebih baik duduk di sini dulu” perintahnya.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Axel tersenyum menatap istrinya itu “Mengatur tempat tidur untuk anakku”
“Kau lebih suka di sebelah mana?”
Bianca berpikir sejenak “Jangan dekat jendela”
Axel kembali menggeser box bayi tersebut “Di sini gimana?”
Bianca kembali menggelengkan kepalanya “Tidak, sedikit di tengah aja”
Axel menganggukkan kepalanya dan mengikuti keinginan Bianca, ia menggeser box tersebut sedikit ke tengah kemudian juga merapikan barang-barang lainnya agar terlihat lebih indah dan tidak berserakan.
Tak lama kemudian Axel pun menyudahinya “Bagaimana apa kau menyukainya?” tanya Axel
__ADS_1
Bianca menganggukkan kepalanya “Hem, aku menyukainya”
“Benarkah? Apa ada sesuatu yang ingin kau tambah?”
“Tidak, ini sudah cukup”
Axel mendekat ke arah Bianca dan berjongkok di hadapan istrinya itu, ia menopang dagunya di paha Bianca lalu mengecupi sesekali perut besar Bianca.
“Apa kau juga menyukainya, sayang?” tanya Axel pada anaknya itu sembari mengelus perut Bianca, ia tersenyum senang ketika merasakan pergerakan kecil dari calon bayinya itu yang menanggapi perkataannya.
“Sepertinya dia juga menyukainya” ucap Bianca
Axel menatap Bianca sekilas dan kembali menatap perut besar istrinya itu “Tumbuh dengan sehat, sayang. Daddy dan Mommy menunggumu dan kami akan merawatmu dengan baik” ucapnya.
“Besok sore apa aku boleh menemanimu pergi kontrol?” pinta Axel
Sudah lama sekali ia tidak menemani Bianca kontrol sejak terakhir kali karena kecemburuan istrinya itu, Bianca selalu pergi bersama ibunya atau jika tidak bersama ibu mertuanya.
Bianca menganggukkan kepalanya sembari tersenyum “Hem boleh, sudah lama sekali bukan? Itu pasti akan menyenangkan”
“Baiklah, ayo kembali ke kamar kita” ajak Axel dan di setujui oleh Bianca.
Axel menuntun istrinya dengan pelan untuk kembali ke kamar mereka karena perut besar Bianca membuat Axel menuntun istrinya itu dengan berjalan pelan terlebih sekarang jika berdiri terlalu lama atau berjalan terlalu lama kaki istrinya akan pegal-pegal mungkin karena beban besar di perut istrinya itu membuatnya sedikit sulit bergerak.
Axel menuntun Bianca hingga ke tempat tidur mereka “Ingin makan malam sekarang?” tawarnya
“Tidak, nanti saja”
“Baiklah”
__ADS_1
Axel dan Bianca bersandar di kepala tempat tidur mereka bersebelahan dan berbincang banyak hal, mereka berdua terlihat sangat senang dan tidak sabar untuk menyambut kelahiran anak mereka yang tidak akan lama lagi.