
Bianca menghela nafasnya kasar, ia duduk di bangku taman sendirian. Hari ini sangat melelahkan dan untungnya kini skripsinya sudah ada kemajuan setelah melakukan revisi, ia kemudian merogoh tasnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Halo” sapanya saat panggilan itu terhubung.
“Al, kau di mana?” tanya pada sahabatnya Alisya
“Ada apa? Semua baik-baik sajakan?”
“Tentu saja, aku hanya ingin ke kafe depan kampus, kau di mana biar kususul”
“Ah maafkan aku, aku di jalan pulang ada urusan mendesak” jawab Alisya di seberang sana.
“Tidak apa-apa lain kali saja, sampai ketemu lusa” ucap Bianca sebelum mengakhiri panggilan tersebut.
Bianca memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Ia kembali menghela nafasnya lalu terdiam sembari menatap langit sore hari namun ia di buat kaget dengan seseorang yang secara tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.
“Tidak ada bulan di sore hari” ucapnya.
Bianca yang mendengar suara itu pun langsung menolehkan kepalanya ke arah samping dan melihat seorang pria yang tidak ia kenal berada di sebelahnya dan mengajaknya bicara seakan sudah mengenalnya sebelumnya, ia sangat terkejut melihat ada seorang pria di sebelahnya.
“Ah maaf, apa aku membuatmu terkejut?” tanya pria itu.
Bianca masih terdiam, ia sama sekali tidak mengenal pria itu bahkan rasanya di kelasnya pun ia tidak pernah melihat pria ini.
“Apa kau tidak mengingatku?” tanya pria itu, Bianca hanya menggelengkan kepalanya.
“Astaga ternyata kau sudah lupa, kemarin kita bertemu aku tidak sengaja menabrakmu” jelas pria itu.
“Ah kau, tidak itu bukan salahmu. Aku yang jalan tidak melihat ke depan, maaf” ucap Bianca
“Aku Johannes” ucapnya sambil mengulurkan tangannya
Bianca menyambut uluran tangan tersebut “Bianca...”
“Omong-omong kau kenapa di sini sendirian? Apa kau masih ada kelas?” tanya Johan
__ADS_1
“Ah tidak, rencananya sebelum pulang ingin ke kafe depan bersama sahabatku tapi tidak jadi” jelas Bianca
Pria itu terdiam kemudian berdiri “Ayo!”
“Hem, ayo? Mau ke mana?” Bianca mengernyitkan keningnya
Pria itu tersenyum lalu menyentil kening Bianca pelan “Ayo ke tempat yang kau ingin kunjungi itu” ajak pria itu.
“Wah, serius? Kalau begitu ayo” ucap Bianca bersemangat, ia sangat ingin mengunjungi kafe yang ada di depan kampus itu tapi ia tidak ingin ke sana sendirian.
Mereka berdua memasuki sebuah mobil yang terparkir di parkiran kampus, dan Johannes membawanya ke kafe yang sangat ingin di kunjunginya itu. Setelah sampai mereka turun lalu memesan makanan mereka masing-masing, entah berapa kali Bianca tertawa saat bersama pria itu padahal mereka baru saja berkenalan tapi entah kenapa itu terasa sangat nyaman.
Pesanan pun datang, Bianca menatap pesanannya itu dengan mata yang berbinar-binar “Coklat panas dan Pancake?” tanya Johan memiringkan kepalanya.
“Hem, kenapa?”
“Tidak, hanya saja cuaca sepanas ini tapi kau malah memesan coklat panas” heran Johannes.
“Hahaha itu tidak jadi masalah, apa kau tidak tau coklat panas menu terlaris di sini” jelas Bianca
Bianca hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, mereka mulai menyantap makan mereka masing-masing.
“Sepertinya kau sudah sangat sering ke sini” tebak Johannes
“Itu benar, aku selalu ke sini bersama sahabatku”
Waktu berlalu begitu cepat, Bianca pulang ke rumah pada pukul tujuh malam tanpa mereka sadari mereka menghabiskan waktu bersama selama dua jam. Kini Bianca sedang dalam perjalanan pulang dan di antarkan oleh Johannes, setelah sampai Bianca pun keluar dari mobil itu dan mengucapkan terima kasih pada pria itu.
Bianca tetap berada di sana sampai mobil yang di kendarai Johannes hilang dari pandangannya, setelah itu barulah ia membuka gerbang rumahnya masuk ke dalam lalu menutupnya kembali.
“Siapa pria itu?”
“Astaga!” ucap Bianca terkejut
Bianca dengan cepat membalikkan tubuhnya dan benar saja kini Axel berada tepat di belakangnya.
__ADS_1
“Oh k-kau” ucap Bianca
“Siapa pria tadi?”
“Bukankah kau pulang larut hari ini?” tanya Bianca bingung tak biasanya Axel jam segini sudah berada di rumah.
“Apa maksud pertanyaanmu itu? Ah kau berharap aku pulang larut agar kau bisa leluasa pergi bersama kekasihmu itu?” ucap Axel sinis.
“Apa maksudmu?” ucap Bianca tersinggung dengan ucapan yang baru saja di lontarkan Axel padanya.
“Pria tadi bukankah dia kekasihmu? Jadi kau ingin bermain di belakangku karena pernikahan ini tidak akan bertahan lama jadi kau memacari pria lain, begitu?” ucap Axel sinis lalu menatap tajam ke arah Bianca.
“Hey aku sedang bertanya padamu, apa kau mengambil keuntungan dari pernikahan ini? Setelah menerima hartaku lalu berpisah denganku lalu setelah itu kau kembali pada kekasihmu itu? Atau dia hanya satu dari beberapa pria yang kau mainkan saja?”
Axel tidak bisa menyetop mulutnya untuk berkata-kata, entah kenapa ia sangat tidak suka melihat Bianca bersama pria lain apa lagi wanita itu pulang di malam hari bersama pria lain. Ia tidak ingin jika nanti ada yang melihat Bianca dan itu akan menjadi masalah besar, bisa-bisa berita itu akan di muat di beberapa media mengingat pernikahan mereka yang masih seumur jagung itu.
“Ck! Memangnya berapa hargamu sampai mempermainkan banyak pria”
*PLAAKKK*
Sebuah tamparan yang begitu nyaring Bianca layangkan ke wajah Axel, ia berusaha memendam amarahnya karena sebagian besar itu juga salahnya namun perkataan pria itu sangat menyakiti hatinya sampai-sampai ia tidak tahan lagi untuk menahan amarahnya.
“Aku tidak serendah itu TUAN! Aku ingat perjanjian itu, ya itu salahku pulang bersama pria tapi pria itu bukanlah kekasihku dan aku tidak memiliki kekasih” ucap Bianca menggebu-gebu
Axel tersenyum miring “Cih, kau sangat pandai berkilah”
Bianca berjalan mendahului Axel, air matanya yang sudah memupuk akhirnya gugur juga. Ia berjalan sambil menyeka kasar air matanya lalu tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap tajam ke arah Axel dengan matanya yang berkaca-kaca itu.
“Aku tidak tau kenapa TUAN berpikir seperti itu tapi aku harap ke depannya TUAN jangan menuduh orang sembarang tanpa bukti dan satu lagi setelah perjanjian itu berakhir aku tidak membutuhkan harta TUAN” ucap Bianca menekankan kata tuan sambil menyeka air matanya yang menetes.
Hatinya sangat sakit, pria itu menyakitinya. Perkataan pria itu sangat keterlaluan, ia tau pernikahan ini hanya sebuah perjanjian bahkan tidak satu pun dari perkataan yang dituduhkan pria itu yang pernah terlintas di pikirannya.
Bianca membalikkan tubuhnya, ia melangkahkan kakinya tergesa-gesa memasuki rumah itu. Tubuhnya bergetar, air matanya terus berjatuhan ia tidak menyangka akan mendapat tuduhan seperti itu. Pria itu sangat tidak berperasaan sekali.
"Padahal beberapa hari ini kau membuatku menjadi nyaman berada di dekatmu tapi apa sekarang ini kau malah menyakitiku"keluh Bianca dalam hatinya.
__ADS_1