
Seorang pelayan terlihat berada di dalam kamar yang di tempati Bianca yang kini sedang terlelap, ia mengawasi Nyonya rumah ini sesuai perintah dari Tuannya. Pelayan itu menatap Bianca dengan iba, pasti sangat berat menjadi dirinya dan ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Bianca karena sejak tadi wanita itu tertidur dan belum bangun sejak saat ia menghubungi Axel tadi siang.
Ia sangat khawatir, karena tidak banyak hal yang di lakukan Bianca jika tidak tertidur wanita itu akan menangis lalu kembali tertidur. Bianca menggeliat dalam tidurnya, kemudian membuka kelopak matanya perlahan dengan cepat pelayan itu mendekatinya.
“Nyonya sudah bangun?”
Bianca sedikit kaget melihat ada pelayan yang mengawasinya “Jam berapa ini?” tanyanya.
“Jam lima sore, nyonya”
Bianca menghela nafasnya, ia terlalu lemah untuk berdiri butuh tenaga ekstra untuknya berdiri saat ini “Anda harus makan, nyonya. Saya akan membantu Anda”
“Tidak perlu, aku tidak ingin makan”
“Tapi Anda harus tetap makan nyonya, Anda melewatkan sarapan dan makan siang Anda jadi sekarang Anda harus makan”.
Bianca mengabaikan pelayan itu lalu mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan beranjak dari ranjangnya, yang pertama kali ia lihat adalah pintu kamarnya yang terkunci. Kakinya melangkah mendekati jendela dan melihat ke arah luar, ia sedikit terperangah saat melihat beberapa orang menjaga di dekat jendelanya, apakah Axel yang melakukan ini? Keterlaluan sekali.
“apa mereka suruhan suamiku?” tanya Bianca menoleh ke arah pelayan itu berdiri
Pelayan yang mengerti itu hanya bisa menganggukkan kepalanya “Iya nyonya, tuan Axel mengirim mereka untuk mengawasi Anda”
“Untuk apa?”
“Saya kurang tau nyonya, tapi itu perintah dari tuan”
Dadanya terasa sesak, ia tidak sanggup lagi. Kenapa harus ini yang terjadi ketika dirinya ingin bebas? Kenapa pria itu selalu menghalanginya, apakah menjadi tidak bahagia itu adalah takdirnya?
Bahkan rencananya yang akan kabur di saat pelayan memasuki kamarnya Pun hancur saat melihat pengawal yang mengelilingi kamarnya, Bianca menutup tirai jendelanya dengan kasar
“Keluarlah” ucapnya
“Saya akan membantu Anda makan terlebih dulu, nyonya”
“Kubilang keluar!” benak Bianca sembari menangis.
__ADS_1
Pelayan itu membungkukkan badannya dan berlalu pergi meninggalkan Bianca. Ia kembali menangis, tubuhnya merosot di dekat ranjangnya, tangannya sibuk memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit
“Aku ingin keluar!” teriaknya frustrasi dalam tangisnya.
Bianca menggapai ponselnya yang berada di atas nakas, dengan cepat tangannya mencari nomor ponsel Johannes dan menghubunginya.
“Halo Jo” sapa Bianca saat sambungan ponsel itu terhubung.
Pria di seberang sana terkejut mendengar suara Bianca yang bergetar “Bianca? Halo, kau menangis?”
“Jo, bagaimana ini?”
“Ada apa? Kau kenapa menangis?”
“Aku tidak bisa keluar, Jo. Dia mengurungku dan dia bahkan mengirim orang-orang untuk mengawasi ku”
“Suamimu mengurung mu, kenapa bisa?”
Bianca terisak “Karena aku mencoba untuk pergi dari sini”
“Maksudmu?”
“Hey dengar ya, wajar saja dia mengawasi mu. Karena apa? Karena kau ingin meninggalkan rumahnya. Coba kau pikir suami mana yang akan membiarkan istrinya Pergi begitu saja, tidak ada bukan?”
Bianca hanya terdiam sambil terisak mencoba mencerna perkataan Johannes “Suamimu melakukan itu semua karena tidak ingin kau pergi” singkatnya.
Bianca menghapus air matanya dan tertegun “Jadi maksudmu...” ucapannya terpotong
“Ya, dia sepertinya mulai membuka hatinya untukmu”
“Tidak mungkin”
“Well, aku tidak tau pasti tapi aku percaya kalau dia mencintaimu juga. Hati seseorang akan berubah. Jangan menyesal nanti jika kau tetap keras kepala seperti ini, cobalah bertahan sedikit lagi. Aku yakin pernikahanmu akan baik-baik saja”
Bianca menghela nafasnya kasar, ia terdiam memikirkan ucapan Johannes “Halo? Bianca, kau masih di sana?”
__ADS_1
“Ah ya, maaf Jo aku tutup dulu ya. Terima kasih”
Bianca memutuskan sambungan telepon itu, ia masih menatap layar ponselnya. Ini tidak mungkin, Axel tidak akan pernah membuka hati untuknya karena pria itu sangat mencintai kekasihnya. Bianca menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya, entah apa yang ia rasa saat ini haruskah ia senang atau bersedih? Tapi kenapa ini membuat dadanya sesak kembali.
Bianca merasa pusing, ia mengangkat kepalanya dan melihat sekitarnya yang sedikit berputar ia bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Bianca mengusap menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa aku jadi pusing?” ucapnya menghela nafasnya kembali ”Lebih baik aku mandi air hangat saja” ucapnya.
Bianca berjalan dengan lemah dan memegang wastafel kuat, ia melihat dirinya di cermin wajahnya mengerikan, matanya yang sembab, hidungnya merah dan bibirnya yang kering membuatnya tertawa remeh.
“Pantas saja dia tidak mencintaiku ternyata aku tidak menarik sama sekali” lirihnya
“Sangat lucu” gumamnya lirih.
Bianca tersenyum dan suaranya melemah “Lebih baik aku mati”
Isakan tangis kembali terdengar, Bianca berjalan pelan ke arah shower lalu menyalakannya hingga air hangat mengguyur tubuhnya dan bajunya yang masih melekat pun menjadi basah. Rasa pening di kepalanya tidak hilang, ia memegang kepalanya dan beberapa kali menggelengkan nya.
Pandangannya kabur, hingga tubuh ya merosot dan tergeletak di lantai kamar mandi. Perlahan pandangannya menjadi gelap gulita Bianca memejamkan matanya, tubuhnya masih terkena guyuran air hangat dari shower.
Sedangkan di luar sana terdengar suara pintu kamarnya yang terbuka dengan kasar. Axel mendengus kesal ia memasuki ruangan Bianca, tirai jendelanya yang tidak dibuka membuat ruang kamar itu sedikit redup. Ia melangkahkan kakinya menuju jendela dan membuka tirai itu barulah sinar matahari mencuri masuk menyinari ruang kamar tidur Bianca itu.
Axel mengedarkan pandangannya dan ia melihat makanannya hang sama sekali tidak di sentuh oleh Bianca, melihat hal itu membuat Axel menjadi semakin geram.
“Dasar wanita keras kepala” ucapnya dengan rahang yang mengeras sempurna.
Axel mendekati kamar mandi, ia dapat mendengar suara air di dalam sana kemudian ia mengetuk pintu itu beberapa kali dengan pelan. Mungkin dia sedang mandi pikirnya.
“Jika sudah selesai temui aku di ruang kerja” ucap Axel sedikit keras dari depan pintu kamar mandi.
Axel mengerutkan keningnya karena tidak ada tanggapan sama sekali dari dalam sana. Hah masa bodoh lah, kenapa ia harus peduli. Setelah menyampaikan hal itu Axel pun beranjak pergi dari sana menuju ruang kerjanya di lantai atas.
Hari ini ia pulang lebih awal sebenarnya pekerjaan di kantor masih banyak tapi ia memutuskan untuk pulang lebih awal saat pelayannya menghubungi dirinya mengatakan bahwa Bianca tidak menyentuh makanannya sama sekali sejak tadi lagi.
Aneh bukan? Kenapa juga ia harus repot-repot memikirkan wanita itu sampai membuatnya tidak bisa fokus bekerja. Memangnya siapa wanita itu untuknya? Dia sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
“Ya, itu benar. Apa peduliku terhadapnya”