Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.87 Lepaskan Aku, Kumohon...


__ADS_3

Bianca membuka matanya kemudian menyipitkan matanya ketika lampu itu menyorot wajahnya, ia melihat ruangan ini dengan tubuh yang ketakutan dan gemetaran. Tubuhnya yang terikat di atas kursi dan ia tidak bisa bergerak sama sekali, Bianca mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ini yang terlihat seperti sebuah kamar.


Pandangannya terhenti pada dinding kamar tersebut yang tergantung beberapa foto di sana ada sebuah foto keluarga kecil bahagia kedua orang tua bersama seorang anak kecil dan saat ia mengedarkan pandangannya lagi di sana matanya tak sengaja menangkap sebuah foto yang membuatnya terkejut karena orang di dalam foto tersebut terlihat seperti Sheryl mantan kekasih suaminya itu.


“Kau sudah bangun” ucap seseorang


Bianca melihat pria yang berbicara padanya, ia membulatkan matanya "J-Johannes?"


Pria itu menyeringai dan duduk di hadapan Bianca "Kau masih mengingatku ternyata."


Bianca cemas dan menangis "Apa yang kau lakukan? Lepaskan ini, Jo” pintanya.


Pria itu menarik bangku dan memilih mendekat ke arah Bianca "Kau takut? Santai saja jika tidak kau mungkin akan melukai bayimu" bisiknya mengerikan.


Bianca menarik napasnya, ia sangat takut dan tidak mengerti dengan semua ini "Apa salahku padamu? Kenapa kau tega melakukan ini."


Johannes duduk kembali dan mengeluarkan pisau lipat di sakunya, ia kemudian melihat betapa tajamnya benda itu "Kau lihat ini? Benda ini sangat tajam, jadi jangan coba-coba membuatku marah”


Jantung Bianca berdebar dengan sangat kencang “Lepaskan aku, kumohon Jo” pintanya


Johannes menampar Bianca dengan sangat keras bukan merasa bersalah pria itu justru tersenyum melihat ada tanda merah di pipi Bianca, bukan itu saja ternyata sudut bibir Bianca terluka sedikit.


“DIAM! Jika tidak ingin aku berbuat kasar padamu lagi, diam dan duduk saja dengan tenang!”


Bianca menangis tertahankan ia menatap Johannes dengan takut, kejadiannya terjadi begitu cepat saat ia berada di butik tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundak ibunya dan langsung membiusnya. Bianca yang melihat ibunya di bius mengira ada perampokan ia sempat berontak tapi nihil justru ia juga ikut terbius begitu saja dan berakhir di tempat ini namun ia tak melihat keberadaan ibunya di sini.


Johannes bersedekap dan menatap Bianca "Tidakkah kau tau dari pertama kita bertemu sampai detik ini aku selalu mengawasimu, hingga akhirnya aku punya kesempatan semua ini terjadi karena suamimu itu terlalu bodoh”


“Apa yang kau mau dariku?”


Johannes tertawa pelan "Jangan terburu-buru, sayang. Aku belum selesai bercerita, sejak kapan kau berubah menjadi wanita membosankan seperti ini?”

__ADS_1


Pintu ruangan tersebut terbuka dan di sana menampilkan seorang wanita yang Bianca kenal, benar wanita itu adalah Sheryl wanita yang sama dengan foto yang baru saja ia lihat tadi. Bianca semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mereka menyekapnya di sini terlebih bagaimana bisa Sheryl mengenal Johannes?


Johannes menarik tangan Sheryl “Sayang” panggilnya.


Wanita itu membalas sapaan Johannes kemudian menatap tajam Bianca, "Hai Bianca Shaenette, sudah lama sekali bukan? Apa kau tidak merindukanku, hem?” sapanya


“Ah kau tidak melupakanku kan karena sudah bahagia bersama pria bodoh itu? Ah iya, perkenalkan dia kekasihku, Johannes" sapanya dengan senyuman liciknya sembari menunjuk ke arah Johannes


“A-apa?” ucap Bianca kaget.


Bianca sangat tidak bisa mempercayai kenyataan di depan matanya ini karena Johannes adalah teman yang baik untuknya bahkan pria itu tidak pernah sedikit pun menunjukkan gelagat aneh terhadapnya dan Johannes berteman dengannya sangat tulus pikirnya tapi ternyata hanya ia yang bodoh tak dapat membedakan yang mana ketulusan dan bukan.


"Kau tahu saat aku menerima kabar jika Axel memiliki istri aku mulai mencari tau tentangmu dan saat aku akan memulai aksiku, aku meminta kekasihku untuk menjadi mahasiswa di kampusmu dan mendekatimu” ucap Sheryl “Dan kau dengan bodohnya menerima dan mempercayai Johannes, aku sengaja melakukan itu semua agar rumah tanggamu berantakan. Aku ingin membalas dendamku pada Axel” geramnya.


Bianca semakin ketakutan ketika Sheryl memegang wajahnya, "Ck! Wanita malang” desisnya


“A-apa yang kalian inginkan dariku?”


Sheryl tertawa dengan keras, kemudian berhenti dan menatap tajam ke arah Bianca, "Kau adalah penghalang rencanaku, brengsek!" ucap Sheryl lalu memukul pipi Bianca dengan geram "Kau merusak semuanya! Kau tahu? Keluarga suamimu itu telah membunuh kedua orang tuaku dan kau dengan beraninya datang menghalangi jalanku apalagi Axel menjadi luluh dan kembali padamu."


Bianca memberontak dan berteriak ia sungguh ketakutan ia hanya bisa pasrah dan menangis, tubuh Bianca gemetaran ia takut bahwa Sheryl akan melukai bayinya.


Sheryl tersenyum licik “Bukankah rencanaku terdengar sangat bagus menghancurkan musuhku melalui orang yang di sayanginya dengan begitu ia akan menderita dengan sangat karena tidak hanya istri, dia juga akan kehilangan anaknya”


Tiba-tiba ponsel Sheryl berdering wanita itu berlalu dan mengambil ponselnya kemudian mengangkat panggilannya “Hey, tenanglah honey” ucapnya sembari melirik ke arah Bianca.


Bianca memberontak ketika Sheryl menerima panggilan tersebut, ia mengetahui jika itu suaminya dan kemudian berteriak memanggil suaminya itu dengan gerakan pelan Sheryl mendekat dan mengarahkan ponselnya pada Bianca.


“A-axel!”


“Sayang, kau...”

__ADS_1


Bianca menangis sesenggukan "Axel, tolong aku" Bianca tidak bisa berbicara ia terbata-bata karena tangisannya "A-aku takut."


Sheryl menempelkan ponselnya di telinganya lagi, ia tersenyum sangat senang melihat Bianca ketakutan seperti itu “Istri tercintamu ini tidak akan selamat! Jangan buang waktumu dan siapkanlah pemakaman untuk dua orang, ibu dan bayinya” ucapnya tertawa


Setelah selesai mengatakan hal yang ingin ia katakan dengan gerakan kasar Sheryl menutup panggilan telepon tersebut dan kemudian ia mendekat ke arah Bianca.


“Lepaskan ini kumohon” pinta Bianca


Sheryl hanya menatapnya dengan meledek kemudian tertawa “Tidak sampai aku selesai denganmu, waktuku untuk bermain denganmu masih panjang”


Sheryl terpekik geram "Argh, mendengar suara brengsek itu malah membuatku semakin ingin membunuhmu dengan segera!"


Sheryl mengambil pisau lipat yang di pegang Johannes yang kemudian ia tempelkan pada pipi Bianca, dengan gerakan lambat, dia menariknya ke bawah dan membuat guratan di pipi Bianca.


Bianca meringis ketika rasa perih dan ngilu saat pisau itu menggores wajahnya, Sheryl mengusap darah yang mengalir di bawah Bianca itu “Jika seperti ini kau jauh terlihat lebih cantik, benarkan sayang?” tanyanya pada Johannes dan kemudian tertawa.


Di menit berikutnya Sheryl melempar pisau tersebut dengan kasarnya dan membuat Bianca terkejut, ia bisa melihat bahwa kemarahan sekaligus kesedihan yang menyelimuti wanita itu.


"Aku sangat iri padamu!" Sheryl mengusap wajahnya gusar "Kenapa harus kau yang jadi istri pria bodoh itu? Seharusnya dari awal kau tidak ada maka semua ini tidak akan pernah terjadi dan aku tidak perlu bersusah payah seperti ini”


“A-aku tau apa yang kau rasakan meski aku tidak pernah berada di posisimu tapi aku dapat memahaminya” ucap Bianca mencoba menenangkan Sheryl.


"Tidak! Kau dan keluarga suamimu itu sama saja, kenapa orang yang kucintai harus pergi? Orang tuaku, bayiku, bahkan ragaku rasanya telah pergi" ucap Sheryl.


Bianca semakin ketakutan ketika arah pandangan Sheryl tertuju pada perut besarnya, Bianca menatapnya waswas ketika Sheryl mendekat "Berhenti, sialan! Jangan mendekatiku!" teriak Bianca


“Wah! Bahkan di situasi seperti ini kau masih berani memakiku?” ucapnya dengan gerakan kasar ia menjambak rambut Bianca dan melihatnya dengan geram "Lebih baik kau mati agar aku bisa melihat penderitaan pada keluarga suamimu."


Sheryl melepaskan genggamannya dari rambut Bianca “Haruskah kita bunuh saja, sayang?” tanyanya pada Johannes.


Sebenarnya rencana awal mereka Bianca hanya akan di jadikan umpan untuk Axel dan keluarganya, melihat Bianca sangat di sayang oleh keluarga Kevlar terutama oleh Axel membuat Sheryl memutuskan untuk menjadikan Bianca sebagai umpan. Namun semakin di pikirkan kehadiran Bianca sangat menyusahkan untuknya dan bahkan ia harus sampai ke titik saat ini semua karena Bianca, bukankah lebih baik di bunuh saja biar tidak ada lagi yang bisa menghalanginya.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dan pintu itu didobrak dengan kencang sampai terjatuh. Axel berdiri di sana dengan napas yang tersengal-sengal dengan beberapa polisi di belakangnya.


"Lepaskan istriku, Sheryl"


__ADS_2