Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.86 Tuhan, Ku mohon...


__ADS_3

Pagi ini Axel bangun lebih awal, kiranya begitu namun setelah melihat ke samping istrinya sudah tidak ada di atas tempat tidur dengan spontan ia bangkit dari baringnya dan kebetulan istrinya itu baru saja keluar dari kamar mandi telah selesai membersihkan diri.


Ia menghela nafasnya lega sembari tersenyum menatap istrinya itu “Good Morning, Daddy” sapa Bianca senang.


Suasana hati Bianca sangat baik pagi ini bahkan ia bangun lebih awal dari biasanya padahal selama masa kehamilan ini ia selalu bangun telat dan banyak tidur tapi khusus hari ini karena dia akan pergi ke butik, ia menjadi semangat dan bangun lebih awal.


“Good morning, kenapa bangun pagi sekali?” tanya Axel


Bianca tersenyum “Kan hari ini boleh pergi ke butik” ucapnya senang.


“Ah, itu benar” ucap Axel menganggukkan kepalanya.


“Cepat bangun dan mandi, aku tidak sabar ingin kembali ke butik”


Axel turun dari ranjangnya mendekati Bianca yang masih menggunakan handuk itu lalu mengecup kening dan bibirnya singkat kemudian berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Bianca sudah selesai dengan pakaiannya dan kini tengah duduk di depan meja rias memoles sedikit wajahnya, ia ingin terlihat sedikit lebih cantik di hari pertama kembali ke butik karena sudah lama sekali ia sangat menyukai suasana saat ini.


Bianca duduk di meja riasnya sembari menunggu Axel selesai bersiap-siap, tak lama kemudian Axel keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet menggunakan pakaiannya. Setelahnya ia keluar dengan jas di tangannya dan dasi yang melingkar di lehernya belum terpasang, ia mendekat ke arah istrinya tanpa mengatakan apa pun Bianca membantunya untuk memasang dasi.


Bianca dan Axel pergi kerja di antar oleh sopir pribadi mereka sebelum ke kantor Axel terlebih dahulu meminta sopirnya mengantar Bianca ke butik dan setelahnya barulah ia pergi ke kantor dan saat tiba di kantor ia meminta sopirnya untuk kembali ke butik saja.


**


Di siang harinya Axel yang tengah sibuk berkutat di meja kerjanya di buat kaget dengan pintu ruang kerjanya yang terbuka tanpa ada ketukan sebelumnya terlebih yang sedang berjalan masuk ke ruangannya itu adalah ayahnya. Axel mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi wajah ayahnya yang terlihat sangat cemas seperti ketakutan dan gelisah akan sesuatu.


“Papa? Kau baik-baik saja, apa ada masalah?” tanyanya berdiri dari kursi kerjanya.


Ayahnya menatap Axel cemas dan memegang pangkal hidungnya kemudian menghela nafasnya kasar “Aku baru saja bertemu Sheryl Lee dan berbicara dengannya”


Axel menatap datar ayahnya, sungguh ia sudah tidak peduli dengan hal itu. Ia hanya menganggap remeh itu dan tidak ingin mengingat kembali masa lalunya.


“Tadi malam dia datang ke rumah memintaku menemuinya”


Axel sungguh malas jika membahas tentang penyihir itu “Papa tau ini bersangkutan dengan masa lalumu tapi papa ingin kau tau yang sebenarnya”


#Flashback On


Seseorang menekan bel rumahnya dan suara itu membuatnya sangat terganggu karena seseorang menekannya dengan tergesa-gesa, ini sudah larut malam bahkan para pelayan yang ada di rumah ini sudah terlelap dengan gerakan kasar tuan Kevlar membuka pintu dan setengah perjalanan menuju ke arah gerbang ingin melihat ada apa di luar sana, penjaga rumahnya berlari menghampirinya.

__ADS_1


“T-tuan ada yang ingin bertamu. Saya sudah menjelaskan sebaik mungkin tapi nona itu memaksa ingin bertemu tuan” jelas penjaga rumah itu.


Tuan Kevlar menghela nafasnya kasar “Baiklah, suruh saja dia menemuiku di teras rumah” ucapnya berbalik ke arah rumahnya.


Tuan Kevlar berdiri di sana menunggu tamu yang datang larut malam itu ia memasukkan tangannya ke dalam saku piyamanya, ia menguap dan mengusap-usap kasar wajahnya.


“Halo paman” sapa wanita itu.


“Kau...”


Wanita itu menatap tuan Kevlar dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan “Sudah lama sekali ya paman, apa tidak sebaiknya kita masuk ke dalam dulu paman?” ucapnya menyeringai.


“Sheryl Lee... Ada perlu apa kau di sini?” tanya tuan Kevlar tak suka.


Tuan Kevlar sangat terkejut dan tak percaya dengan kehadiran Bianca yang tiba-tiba seperti ini dan terlebih lagi setelah semua yang ia lakukan terhadap anak dan menantunya itu.


“Berani-beraninya kau menginjakkan kakimu di rumahku?!”


Sheryl menguap dan menepuk-nepuk bibirnya lembut dengan jemarinya tepat saat tuan Kevlar sedang berbicara “Aku ingin meluruskan sesuatu tapi sepertinya tidak bisa hari ini, aku sudah sangat mengantuk sekali” ucapnya menyeringai tipis.


Tuan Kevlar menatap Sheryl tajam dan tak suka “Kau...”


Sheryl kembali memotong perkataan tuan Kevlar “Aku mengantuk sekali, aku harap kau ingin menemuiku besok di kafe seberang kantor anakmu. Selamat malam paman” ucapnya penuh penekanan daripada permintaan itu lebih terdengar seperti perintah.


Tuan Kevlar kini tengah bercerita mengenai apa yang sebenarnya sudah terjadi antara hubungan keluarganya dan Sheryl Lee. Ia sangat terkejut atas informasi yang ia dengar saat ini, ternyata sejak awal wanita itu tidak pernah tulus kepadanya dan hanya ingin membalas dendam orang tuanya yang meninggal.


“Papa sungguh tidak membunuhnya, mereka bunuh diri sendiri bahkan papa tidak mengetahui jika mereka akan melakukan hal bodoh itu. Lagi pula untuk apa papa membunuh mereka?”


Axel mengernyitkan keningnya, raut wajah datarnya berubah menjadi marah rahangnya mengeras sempurna “Jadi dari awal ini hanya sandiwara? Dan saat kematian Alexa dia juga sengaja pergi meninggalkanku dan kembali ingin menghancurkan rumah tanggaku?” ucapnya marah.


Ayahnya menganggukkan kepalanya “Sepertinya...”


Axel mengepalkan tangannya kuat “Sialan!” makinya, ia menatap lekat ayahnya “Apa papa sungguh tidak ada hubungannya dengan kebangkrutan mereka?”


“Tidak nak, kau boleh bertanya ibumu jika kau tidak mempercayaiku” ucap tuan Kevlar dan mulai menjelaskan permasalahan awalnya sedetail mungkin.


“Di awal perusahaan kita berkembang pesat kedua orang tuanya datang kepada ayah berniat untuk menyuntikkan saham dan mengundang investor-investor lainnya. Ambisi mereka untuk menghasilkan uang banyak sangat besar hingga akhirnya mereka tertipu dan banyak hutang” ucap tuan Kevlar sembari membetulkan duduknya.


“Mereka mendatangiku meminta bantuan karena mereka adalah rekan kerja papa jadi papa membantu mereka tapi entah bagaimana caranya mereka kembali tertipu dan menjadi terlilit hutang. Karena papa adalah pemimpin perusahaan tidak bisa untuk terus membantu mereka dan saat itu papa angkat tangan terhadap mereka dan mereka juga sudah pasti tidak bisa membayar kembali hutang mereka pada perusahaan”

__ADS_1


“Apa mereka bunuh diri karena terlilit hutang? Lalu apa hubungannya dengan papa?” tanya Axel tak mengerti


“Mereka terlilit hutang dan memohon pada papa untuk membantu mereka lagi karena saat itu papa menolaknya ia mencoba mengancam bahkan melakukan kekerasan pada ibumu. Aku yang melihat itu tanpa pikir panjang menghajar ayahnya dan Sheryl melihat kejadian itu karena dia ada bersama mereka hari itu”


“Beberapa hari setelah itu papa mendapat kabar tentang kematian mereka yang menabrakkan mobil mereka ke mobil besar karena tidak tahan terus-terusan di datangi orang yang berbeda setiap harinya. Orang yang ada di dalam mobil yang mereka tabrak hanya luka-luka kecil sedangkan mereka tidak terselamatkan karena itulah dia menganggap papa sebagai pembunuh orang tuanya”


Axel menatap ayahnya lekat “Jadi apa dia melaporkan papa sebagai tersangka?” tanyanya.


“Iya awalnya begitu tapi karena tidak memiliki bukti papa di bebaskan. Kan itu semua bukan kesalahan papa” jelasnya kemudian menggelengkan kepalanya cepat “Tidak nak, sekarang bukan ini yang paling penting. Di mana istrimu, apa kau masih menaruh bodyguard di rumahmu?” tanyanya.


Axel terdiam otaknya seperti berhenti berfungsi selama beberapa detik dan seketika menjadi kelabakan “Dia ada di butik bersama ibunya dan sopir pribadiku”


Tuan Kevlar langsung berdiri dan menatap cemas ke arah Axel “Kita tidak punya waktu untuk ini kita harus menemui mereka, kita tidak pernah tau apa yang akan di lakukannya”


Axel menuju meja kerjanya dan mengobrak-abrik laci mejanya mencari kunci mobil cadangannya yang sengaja ia letakkan di perusahaan. Setelahnya dengan cepat ia berlari menuju ke luar dan saat ia ingin membuka pintu mobilnya seseorang memanggil namanya.


“Hey, Axel!”


Axel memalingkan badannya ke arah sumber suara dan di sana ia melihat Brandon dan Mark berjalan ke arahnya.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Axel terburu-buru


Mark yang melihat itu langsung berbicara ke intinya “Ini jadwal meeting kita mengenai pengelolaan rumah sakit” jelasnya.


Axel bergerak gelisah dan mengacak-acak rambutnya kasar, ia melihat mobil ayahnya yang sudah melaju meninggalkannya.


“Tidak, aku tidak bisa sekarang tolong batalkan saja” ucapnya tergesa-gesa


Brandon menahan tangan Axel “Kau kenapa, apa yang terjadi?” tanyanya menyadari gelagat aneh dari sahabatnya itu.


“Sheryl mengancam keluargaku tidak itu tidak penting, Bianca kini sedang di butik bersama mertuaku. Aku harus ke sana sekarang tolong tunda saja meetingnya” jelasnya


Mereka membulatkan matanya dan Brandon berdecih tak suka “Wanita jalang itu, berani sekali ia kembali!”


“Aku akan menjelaskannya nanti, aku harus menemui istriku dulu” ucapnya langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan laju.


Di sisi lain, Mark dan Brandon memutuskan untuk mengikuti mobil Axel. Mereka berdua sama-sama melajukan mobil mereka dengan kecepatan penuh.


Sepanjang perjalanan jantung Axel tak hentinya berdetak sangat kencang dan pikirannya selalu di penuhi dengan hal-hal buruk, ia tidak bisa tenang saat ini.

__ADS_1


Jika terjadi sesuatu pada istrinya mungkin, tidak hal itu tidak boleh sampai terjadi Bianca harus baik-baik saja dan akan baik-baik saja.


Tuhan, kumohon.


__ADS_2