
Axel berlari keluar dari kafe itu menyusul Bianca tapi ia terlambat karena istrinya itu sudah pergi menggunakan taksi dengan cepat ia memasuki mobilnya dan melajukannya menuju ke rumah istrinya itu.
Axel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh ia bahkan melewati taksi yang di naiki oleh Bianca itu dan ia sampai lebih dulu di depan rumah Bianca. Tak berselang lama akhirnya taksi yang ditumpangi Bianca pun sampai di depan rumahnya dengan cepat Axel keluar dari mobilnya menghalangi Bianca di pagar masuk rumahnya.
Wanita itu menangis seketika hatinya menjadi sangat perih dan sakit, pikirannya di penuhi dengan pertanyaan kenapa istrinya itu menangis seperti ini? Apa yang sebenarnya salah di sini?
Axel menarik tangan Bianca yang tidak memperdulikannya sama sekali itu hingga kini wanita itu berada di hadapannya “Kenapa menangis seperti ini?” tanyanya dengan lembut.
Bianca menyentak tangannya dari genggaman Axel “Cukup! Kumohon hentikan semua ini” ucapnya terisak
Axel mengernyitkan keningnya, ada apa sebenarnya? Apa yang di maksud oleh istrinya ini? Apa ada sesuatu yang ia lewatkan? Apa ini tentang pria itu? Seketika Axel menatap Bianca dengan raut wajah tak suka, apa yang harus dihentikan? Di lihat dari mana pun pria itu terlihat menyukai Bianca terlebih dengan keadaan tadi siapa pun akan tahu kalau pria itu benar menginginkan istrinya.
“Lebih baik kau pergi” ucap Bianca lirih dengan air mata yang masih mengalir.
“Tidak akan”
“Hentikan semua ini, aku lelah. Harus berapa kali lagi aku katakan aku butuh waktu, apa kau tidak bisa mengerti itu?!” ucap Bianca setengah berteriak.
“Berapa lama lagi, bukankah ini sudah cukup? Aku hanya ingin memperbaikinya sebelum semuanya menjadi semakin rumit”
Bianca menggelengkan kepalanya dan melangkah membuka pagar rumahnya saat ia mendengar langkah kaki Axel ia menghentikan pria itu.
“Berhenti di sana” ucapnya tapi Axel masih mendekatinya bahkan menggenggam tangannya.
__ADS_1
Bianca menyentak tangan Axel “Bahkan kau tidak pernah mendengarkan kata-kataku, apa sesulit itu? Sekali saja... tidak bisakah kau mendengarkanku?!” ucap Bianca berteriak frustrasi.
Axel kaget mendengar Bianca yang berteriak ke arahnya, sekarang ia sadar jika kesalahannya sangat besar sampai-sampai melihatnya saja istrinya itu tidak ingin. Di hantam kenyataan membuatnya secara naluriah melangkah mundur menjauh dari istrinya itu, ia membiarkan wanita itu bahkan terlihat jelas dimatanya tangan gemetar istrinya saat berusaha membuka kunci pagar tersebut.
“Aku akan menunggumu di sini sampai kau ingin bicara denganku, karena itu kumohon pikirkanlah sekali lagi” ucapnya.
Bianca tak memperdulikan ucapan Axel dan tetap masuk ke dalam rumahnya ia bahkan mengunci kembali pagar rumahnya dari dalam. Sedangkan Axel sesuai perkataannya ia tetap berada di sana menunggu Bianca, cuaca semakin mendung seperti hari sebelumnya hujan selalu turun tapi khusus hari ini hujan turun di saat yang tidak tepat.
Setelah satu jam berdiri di sana rintik air hujan perlahan turun Axel mengedarkan pandangannya hingga matanya tak sengaja melihat Bianca yang sedang berdiri mengintipnya dari jendela lantai atas, ia pun tersenyum ke arah wanita itu.
“Aku tau ini mengganggumu tapi ke depannya kau akan selalu melihat sisi burukku ini karena sepertinya tanpa kau itu akan sulit untuk terlihat seperti semula” ucapnya berteriak
Axel mengabaikan hujan yang membasahinya dan tetap berada di sana terlebih lagi saat mengetahui jika istrinya itu melihatnya setidaknya Bianca tidak sepenuhnya tak memperdulikannya lagi.
Tanpa ia sadari air matanya mengalir perlahan bersamaan dengan rintik hujan yang membasahi wajahnya “Aku mencintaimu, sungguh...” ucapnya.
Axel menarik nafasnya tubuhnya menggigil dan dadanya terasa sesak bahkan rasanya ingin mati saja. Rasanya ia tidak akan sanggup jika harus hidup dengan kenyataan di tinggal pergi semua orang yang ia cintai karena kesalahannya sendiri. Ia bahkan terdengar seperti pria bajingan yang tidak bertanggung jawab.
Bianca terus membuka tutup tirai jendelanya untuk memastikan keadaan Axel di luar sana, jujur saja ia ingin keluar menemui pria itu dan menghentikannya tapi entah kenapa egonya terlalu besar untuk mengalah. Ia juga samar-samar mendengar ucapan Axel yang bercampur dengan suara hujan itu, sungguh ia juga menginginkan pria itu kembali tapi ketakutannya untuk terluka kedua kalinya membuatnya dalam kebimbangan.
Bianca beranjak dari sana menuju kamarnya, ia menatap foto pernikahan dan cincin pernikahannya secara bergantian. Ia sangat khawatir dengan keadaan Axel di depan sana tapi jika ia keluar dan menerima pria itu kembali, ia tidak bisa membayangkan betapa terlukanya ia nanti.
“Apa kau gila?!” teriak Brandon dari belakang membawa payung di tangannya.
__ADS_1
Pria itu berlari mendekati Axel yang sudah dibasahi hujan bahkan tubuhnya bergetar karena kedinginan, ia sudah menduga ini semua pasti pria gila ini akan datang menemui Bianca.
Brandon menghela nafasnya kasar “Kau akan mati kedinginan, bodoh” ucapnya sembari memayungi sahabatnya itu.
Axel justru tertawa melihat ke arah Brandon “Aku tidak peduli itu, bukankah lebih bagus jika aku mati saja? Maka rasa bersalahku kepada Alexa dan Bianca akan lenyap bersama kematianku” ucapnya asal.
Brandon menggelengkan kepalanya ia sama sekali tak habis pikir dengan tindakan Axel yang kelewatan batas “Kau pikir dia akan memaafkanmu setelah kau mati?!” bentak Brandon tak suka.
Axel menepis tangan Brandon dan membuat payung itu terjatuh kini mereka berdua seperti anak kecil yang tengah menikmati hujan “Setidaknya dia akan datang menemuiku saat kumati” ucapnya sembari tersenyum.
Axel terlihat seperti pria tidak normal saat ini, salah-salah orang-orang akan menganggapnya gila. Brandon merasa sangat geram saat melihat Axel yang sama sekali tidak bercanda dengan perkataannya.
Tanpa ia sadari tangannya terulur memukul wajah Axel “Sadarlah brengsek! Mati tidak menyelesaikan masalah” bentaknya menggenggam erat kerah Axel.
“Hanya itu pukulanmu? Gunakan ototmu itu untuk hal seperti ini jangan terlalu berkutat dengan alat medismu itu” ucap Axel.
Brandon geram “Jangan seperti ini, kumohon...” ia kembali melayangkan pukulannya.
Setelah dua kali pukulan tubuh Axel terkulai lemas, ia sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Tubuhnya kedinginan bahkan pukulan Brandon tidak terasa lagi olehnya mungkin karena tubuhnya mati rasa, detik itu juga Axel kehilangan kesadarannya dan jatuh ke tanah.
Brandon panik ia mengguncang tubuh Axel, ia merasakan denyut nadi Axel yang lemah dengan cepat ia mengangkat Axel ke mobilnya lalu melaju menuju rumah sakit.
Sedangkan di dalam sana Bianca dengan terburu-buru berlari menuju keluar rumahnya setelah berpikir lama. Ia membuka pagar rumahnya namun nihil ia tidak melihat keberadaan Axel di sana lalu ia berlari menuju mobil Axel yang berada tak jauh dari rumahnya itu mencob memanggil dan menggedor kaca mobilnya namun nihil.
__ADS_1
Bianca melihat sekeliling dengan panik “Apa yang sudah kau lakukan, Bianca” ucapnya frustrasi dan menangis